Di Mana Ada Kemauan, Di Situ Ada Jalan

뜻이 있는 곳에 길이 있다.

"Di mana ada kemauan, di situ ada jalan."

Pepatah Korea tersebut selalu mengingatkanku pada perjalanan yang membawaku menuju kampus impian. Dulu, aku bukanlah siswa yang selalu mengejar peringkat atau bercita-cita menjadi yang terbaik. Bagiku, sekolah hanyalah tempat untuk belajar, lulus, lalu melanjutkan hidup seperti biasa. Aku tidak pernah berpikir untuk mendapatkan nilai tertinggi atau menjadi siswa berprestasi. Namun semuanya berubah ketika aku memiliki satu mimpi yang benar-benar ingin kuperjuangkan.

Saat SMA, aku mulai tertarik untuk melanjutkan pendidikan ke jurusan Bahasa dan Kebudayaan Korea Universitas Indonesia. Aku memang menyukai bahasa asing. Sebagai siswa jurusan Bahasa, aku belajar Bahasa Jepang dan menikmati proses mempelajari bahasa serta budaya yang berbeda. Ketertarikan itulah yang membuatku ingin mengenal lebih jauh Bahasa Korea dan menjadikannya sebagai tujuan pendidikan berikutnya. Saat itulah aku mulai menyadari bahwa kuliah berbeda dengan sekolah. Ada persaingan yang harus dihadapi, ada kuota penerimaan mahasiswa baru yang terbatas, dan ada banyak orang lain yang memiliki mimpi yang sama. Jika aku tidak berjuang, maka aku tidak akan pernah sampai ke sana.

Sejak memiliki mimpi tersebut, aku mulai mempersiapkan diri dengan lebih serius. Aku membuat sebuah bucket list berisi target-target yang ingin kucapai dan menempelkannya di pintu kamar. Setiap kali membuka atau menutup pintu, aku akan membacanya. Mungkin bagi orang lain itu hanyalah selembar kertas biasa, tetapi bagiku setiap tulisan di sana adalah doa yang terus kuucapkan setiap hari. Aku percaya bahwa mimpi yang dituliskan akan selalu mengingatkanku pada tujuan yang ingin diraih.

Perjuanganku tentu tidak berhenti pada sebuah tulisan. Aku mulai belajar lebih giat dibandingkan sebelumnya. Aku bahkan meminta bantuan seorang teman untuk mengajariku beberapa pelajaran yang belum kupahami. Tiga kali dalam seminggu kami belajar bersama, dan aku benar-benar bersyukur karena ia selalu sabar membantuku. Aku belajar siang dan malam karena aku ingin memahami materi, bukan sekadar menghafal jawaban. Aku percaya bahwa jika memahami konsepnya, maka soal seperti apa pun akan tetap bisa dihadapi.

Selain belajar, aku juga berusaha memperbaiki hubunganku dengan Tuhan. Aku menjaga salat lima waktu, berusaha berjamaah, dan lebih rajin mengaji. Bagiku, usaha dan doa harus berjalan beriringan. Aku sering bercanda pada diri sendiri bahwa aku sedang "merayu" Tuhan agar mengabulkan mimpi yang kuinginkan. Namun di balik candaan itu, aku benar-benar percaya bahwa tidak ada perjuangan yang bisa berjalan tanpa pertolongan-Nya.

Ada satu pengorbanan kecil yang hingga kini masih membuatku tersenyum ketika mengingatnya. Aku sangat menyukai K-Pop, drama Korea, dan berbagai hal yang berhubungan dengan Korea. Namun tiga bulan menjelang Ujian Nasional, aku memutuskan untuk "berpuasa" dari semuanya. Aku berhenti menonton drama, mendengarkan lagu, menonton variety show, bahkan berhenti belajar bahasa Korea untuk sementara waktu. Semua waktu dan perhatianku kualihkan untuk persiapan ujian. Rasanya tidak mudah, tetapi saat itu aku tahu apa yang harus menjadi prioritas.

Ketika Ujian Nasional berlangsung, aku mengerjakan setiap soal dengan sebaik mungkin. Setelah selesai, aku membaca doa dan menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Bahkan ada pemikiran lucu yang muncul dalam benakku saat itu. Aku sempat berdoa dalam hati, "Kalau memang jawabanku ada yang salah, semoga ada keajaiban dan tiba-tiba berubah menjadi benar." Tentu saja itu tidak mungkin terjadi, tetapi pikiran sederhana itu justru membuatku lebih tenang menghadapi hasil yang belum pasti.

Sumber: Antara Jatim.

Aku hanya berharap mendapatkan nilai yang baik. Namun ternyata Tuhan memberiku sesuatu yang jauh lebih besar dari yang kubayangkan. Aku berhasil meraih peringkat ketiga nilai Ujian Nasional tertinggi jurusan Bahasa di Jawa Timur. Saat melihat hasil tersebut, aku tidak percaya bahwa semua usaha yang kulakukan selama berbulan-bulan akhirnya membuahkan hasil. Satu per satu impian yang kutulis di bucket list mulai menjadi kenyataan.

Namun perjalanan menuju kampus impianku ternyata belum selesai. Aku mengikuti SNMPTN dengan penuh harapan. Dalam pikiranku, nilai yang baik tentu akan membantuku mewujudkan mimpi berikutnya. Akan tetapi kenyataan berkata lain. Saat membuka pengumuman, warna merah yang muncul di layar. Aku tidak lolos. Aku menangis, ibuku menangis, dan banyak teman yang juga tidak menyangka hasilnya akan seperti itu. Rasanya seluruh usaha yang telah kulakukan belum cukup untuk membawaku sampai ke tujuan.

Meski kecewa, aku tidak ingin menyerah. Aku mencoba jalur berikutnya dan kembali menaruh harapan. Aku masih ingat malam pengumuman itu. Hasil seleksi sebenarnya sudah bisa dilihat sejak sore, tetapi aku tidak langsung membukanya. Aku memiliki nazar bahwa aku harus mengkhatamkan Al-Qur’an terlebih dahulu sebelum melihat hasilnya. Setelah salat malam dan menyelesaikan khataman, barulah aku membuka pengumuman dengan tangan yang gemetar.

Kali ini warna hijau yang muncul di layar.

Aku terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berlari menemui ibuku yang sedang berdoa. Aku memeluknya sambil menangis karena akhirnya aku berhasil diterima di Universitas Indonesia, jurusan Bahasa dan Kebudayaan Korea. Jurusan yang selama ini hanya berani kutuliskan dalam bucket list kini benar-benar menjadi kenyataan. Hari itu menjadi salah satu titik balik terbesar dalam hidupku.

Perjuangan yang kulakukan untuk masuk ke kampus impian ternyata tidak berhenti sampai di sana. Selama menjadi mahasiswa Universitas Indonesia, aku terus berusaha memberikan yang terbaik. Aku menikmati setiap proses belajar yang kulalui dan bersyukur bisa mempelajari bidang yang benar-benar kusukai. Semua usaha itu akhirnya membawaku lulus dengan predikat cum laude dan meraih peringkat pertama di fakultas untuk kelas paralel. Saat itu aku semakin yakin bahwa perjuangan tidak pernah mengkhianati hasil.

Pendidikan yang kutempuh di Universitas Indonesia juga membuka jalan menuju pekerjaan yang sesuai dengan passion-ku. Kecintaanku terhadap bahasa dan budaya Korea membawaku bekerja sebagai penerjemah. Aku pernah bekerja di beberapa perusahaan Korea dan berkesempatan berinteraksi langsung dengan orang-orang Korea setiap hari. Hingga saat ini aku masih aktif sebagai penerjemah lepas untuk novel dan drama Korea. Salah satu novel yang telah kuterjemahkan dan diterbitkan adalah Black Dog. Bagi diriku yang dahulu hanya berani menuliskan mimpi di selembar kertas yang ditempel di pintu kamar, semua itu terasa seperti hadiah yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

sumber : kios-perpustakaan.jakarta.go.id

Namun hidup selalu memiliki caranya sendiri untuk membawa kita ke pengalaman baru. Setelah menikah, prioritas dalam hidupku perlahan mulai berubah. Jika dahulu aku bisa bekerja di berbagai perusahaan Korea dan menikmati lingkungan kerja yang dinamis, kini aku juga memiliki peran sebagai seorang istri dan ibu. Aku tetap mencintai dunia penerjemahan, tetapi aku juga ingin tetap dekat dengan keluarga dan memiliki waktu yang lebih fleksibel untuk menjalankan tanggung jawab di rumah.

Karena itulah aku memilih untuk lebih banyak mengambil pekerjaan penerjemahan secara remote. Di saat yang bersamaan, aku juga ikut terlibat dalam usaha keluarga yang dijalankan suamiku. Suamiku adalah seorang apoteker dan memiliki usaha apotek. Melihatku yang selalu senang belajar hal-hal baru, ia mengajakku untuk tidak hanya membantu dari sisi administrasi, tetapi juga memahami bidang yang menjadi dasar usahanya. Dari situlah muncul sebuah tantangan baru yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya: kembali menjadi mahasiswa.

Kali ini bukan di bidang bahasa yang selama ini begitu dekat denganku, melainkan di bidang Farmasi yang berbeda hampir seratus delapan puluh derajat dari latar belakang pendidikanku. Awalnya tentu tidak mudah. Dari seseorang yang terbiasa berkutat dengan kata, kalimat, budaya, dan terjemahan, kini aku harus memahami istilah kesehatan, nama obat, serta berbagai ilmu kefarmasian yang sama sekali baru bagiku. Namun seperti saat dahulu memperjuangkan kampus impianku, aku memilih untuk menjalani proses itu dengan sungguh-sungguh. Karena aku percaya bahwa belajar tidak mengenal batas usia, dan setiap ilmu yang dipelajari dengan niat baik akan selalu memiliki manfaat di kemudian hari.

Di tengah peran sebagai istri, ibu, penerjemah, karyawan apotek, sekaligus mahasiswa, aku belajar bahwa perjuangan tidak berhenti ketika sebuah mimpi berhasil diraih. Bentuknya saja yang berubah. Jika dahulu aku berjuang untuk masuk ke kampus impian, kini aku berjuang untuk tetap bertahan, terus belajar, dan memberikan hasil terbaik dalam setiap peran yang kujalani.

Menariknya, ada saat-saat ketika dua dunia yang berbeda itu bertemu dalam satu momen yang sederhana. Suatu hari, seorang pelanggan asal Korea datang ke apotek tempatku bekerja. Saat itulah ilmu yang dahulu kuperjuangkan dengan susah payah kembali hadir dalam kehidupanku. Aku bisa berbincang dengannya, membantu menjelaskan informasi yang dibutuhkan, dan melihat senyum lega di wajahnya ketika ia menemukan seseorang yang dapat memahami bahasanya. Momen itu mungkin berlangsung singkat, tetapi meninggalkan kesan yang mendalam. Saat itu aku tersadar bahwa tidak ada usaha yang benar-benar sia-sia. Apa yang pernah kita pelajari, perjuangkan, dan korbankan akan menemukan waktunya sendiri untuk kembali memberi manfaat.

Perjalanan menuju kampus impian telah mengajarkanku banyak hal. Aku belajar bahwa mimpi membutuhkan keberanian untuk dimulai, kesabaran untuk diperjuangkan, dan keteguhan untuk dipertahankan. Aku belajar bahwa kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan bagian dari proses menuju tujuan yang lebih baik. Aku juga belajar bahwa hasil terbaik tidak lahir dari keberuntungan semata, melainkan dari usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Jika ada satu pesan yang ingin kubagikan melalui kisah ini, maka pesan itu adalah jangan takut untuk memiliki mimpi yang besar.

Karena pada akhirnya, yang mengubah hidupku bukanlah status sebagai mahasiswa Universitas Indonesia semata. Yang benar-benar mengubah hidupku adalah proses perjuangan menuju ke sana. Proses itulah yang mengajarkanku untuk berani bermimpi, berani gagal, dan berani mencoba lagi. Proses itulah yang masih menemaniku hingga hari ini, saat aku menjalani berbagai peran yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

고생끝에 낙이 온다.

"Setelah kesusahan, kebahagiaan akan datang."

Kini aku memahami bahwa kebahagiaan itu bukan hanya saat diterima di kampus impian. Kebahagiaan itu adalah ketika aku dapat melihat bagaimana setiap doa, setiap air mata, setiap kegagalan, dan setiap perjuangan perlahan membentuk hidup yang dahulu hanya berani kutuliskan dalam sebuah bucket list di pintu kamarku.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *