Hai Kampus Hijau
Siswa kelas 12 – ralat, mungkin semua orang– pernah mempunyai impian yang sama: masuk eligible, mendaftar ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) impian, dinyatakan lolos. Ini adalah salah satu dari sekian banyaknya mimpi yang disusun, seoalah tinggal menunggu untuk menjadi nyata. Namun, realita tak seindah ekspetasi.
Satu pepatah yang cocok, jauh panggang dari api: Harapan yang dibangun tinggi ternyata bisa melenceng jauh di hasil akhir yang dicapai.
Sejak SD hingga SMA, aku selalu berada di dua besar. Di bangku kelas 10-12, aku berhasil mempertahankan peringkat satu di kelas dan peringkat satu paralel. Tiga tahun berturut-turut.
Bangga? Oh, tentu! Terima kasih kepada Tuhan atas kemampuan yang diberikan ini…
Namun ternyata, prestasi akademik yang bagus tidak berarti memudahkan segalanya.
Tiba masanya menentukan masa depan. Kuliah? Bekerja? Gap year?
Kalaupun kuliah, di mana? Ekonomi tidak memadai. Bekerja dulu kah, sambil mengumpulkan uang untuk kuliah? Berarti harus gap year? Ternyata menentukan jurusan dan kampus bukanlah perkara sepele yang bisa diputuskan dalam tiga hari atau seminggu. Menurutku, putusan ini harus sudah dipikirkan sejak awal masuk SMA bahkan sebelum itu.
Ironisnya, aku masuk eligible. Aku tau, banyak orang yang mau di posisi dan kesempatan ini.
Akupun mendatangi ruang BK untuk berkonsultasi. Dengan harapan bisa mencari jawaban atas kebingungan yang selalu berputar di kepalaku.
Dan Keputusanku sudah bulat. Aku harus kuliah.
Dengan segala keterbatasan, aku akhirnya mendaftar jurusan Bimbingan dan Konseling (BK) serta PGSD di Universitas Lampung (UNILA) lewar jalur SNBP. Dan sejujurnya, aku menaruh harapan besar di sana. Nilai terjaga, peringkat bertahan, eligible berhasil diraih. Mungkin ini jalanku, pikirku waktu itu.
Sampai hari pengumuman tiba.
Pukul 16:00 WIB, kubuka dan kutatap lama halaman pengumuman itu, tidak ada kata “selamat”seperti yang kuharapkan. Merah.
Tidak lolos. Gagal. Ditolak.
Terdiam cukup lama. Rasanya campur aduk – sedih, kecewa, dan bingung. Jika jalur yang terasa mudah saja gagal, harus bagaimana aku? Pilihan lainnya adalah SNBT. Namun persiapannya harus dilakukan dalam waktu yang singkat, sementara keadaan ekonomi membuatku terus memikirkan kemungkinan lain: bagaimana jika nantinya aku lolos tapi biaya menjadi hambatan? Haruskah bekerja terlebih dahulu? Atau gap year?
Namun, selalu ada jalan menuju UIN.
Kali ini aku selangkah lebih maju. Di sisi lain, aku juga mendaftar melalui jalur SPAN-PTKIN di UIN Raden Intan Lampung. Saat itu, pendaftarannya hampir bersamaan dengan SNBP. Jujur saja, walaupun sama besarnya, aku tidak terlalu berani berharap lolos.
Dan mungkin kali ini benar-benar jalanku.
Aku masih mengingatnya dengan jelas. Saat itu suasana sudah mendekati Hari Raya Idul Fitri. Hari sebelumnya, aku menghadiri buka bersama. Tidak ada firasat apa-apa, tidak ada perasaan bahwa sesuatu besar sedang menunggu esok hari. Semuanya terasa biasa saja.
Namun, keesokan harinya, pengumuman itu tiba.
Hijau.
Lolos.
Aku tidak salah membaca kan? Sempat terdiam lama, akhirnya senyumanku terbit disertai tangisan haru dipelukan ibunda. Setelah semua rasa takut, kecewa, dan kebingungan yang sempat mengisi pikiranku, akhirnya ada satu jawaban yang terasa begitu menenangkan.
Entah mengapa, momen itu terasa sangat bermakna. Seolah Ramadan mengajarkanku bahwa tidak semua doa dijawab lewat jalan dan tempat yang kita rencanakan. Kadang, sesuatu yang terasa seperti kegagalan serta tidak diharapkan ternyata hanya sedang mengarahkan kita menuju tempat yang memang sudah menunggu.
Dan mungkin, sejak saat itu aku mulai percaya – kampus hijau ini bukan sekadar tempat untuk kuliah, melainkan tempatku bertumbuh. Banyak hal yang aku pelajari di tempat ini. Hal-hal yang aku syukuri ditengah ekonomi yang kurang memadai. Tempatku bertemu banyak orang baru.
Aku mulai belajar memahami bahwa gagal tidak selalu berarti akhir. Kadang, ia hanya sedang mengubah arah perjalanan. Jika saat itu aku diterima di pilihan awal, mungkin jalan yang membawaku bertumbuh hari ini, tidak akan pernah kukenal.
Dan ada makna tersendiri mengapa aku masuk jursan BK serta harus di kampus hijau ini
Untuk siapa pun yang sedang merasa gagal karena SNBP, SNBT, atau bahkan gagal di hal lain, jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa semuanya selesai. Tidak semua pintu pertama akan terbuka untuk kita, terkadang pintu yang kita anggap “hanya pilihan lain” justru menjadi tempat terbaik untuk bertumbuh.
