“Kalau Bukan Aku, Siapa Lagi yang Memulai?”
Oleh: Aura Danella Harvani
Sebuah kalimat bermakna sering kali lahir dari pertanyaan yang mendesak di dalam dada. “Kalau bukan aku, siapa lagi yang memulai?” bukan sekedar untaian kata. Kalimat itu adalah manifesto kecil, sebuah genderang perang melawan keraguan yang kerap berbisik lirih di telinga. Manusia sering kali terjebak dalam ruang tunggu kehidupan, menanti hingga rasa takut menguap.
Tapi sampai kapan?
Sampai kapan harus berada di antrean ruang tunggu?
Sampai kapan keraguan ini dibiarkan menahan langkah?
Sejatinya rasa takut tidak pernah benar-benar raib. Ia selalu jalan beriringan dengan keputusan-keputusan hidup. Hingga aku menyadari satu hal. Keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan keputusan untuk terus melangkah bersama takut. Jangan menanti takut untuk hilang. Lakukanlah meski dengan tangan yang gemetar. Jemputlah meski dengan hati yang berdegup.
Kuliah adalah salah satu impianku. Lahir dan tumbuh di tempat dimana pendidikan masih menjadi hal asing, terutama bagi anak perempuan. Stereotip bahwa perempuan pada akhirnya akan berada di dapur nyata adanya. Kuliah seringkali dianggap sebagai opsi sekadar pengisi waktu, bukan sebuah prioritas. Beruntungnya, aku memiliki Ayah dan Bunda yang tidak pernah membatasi mimpiku.
Ayah dan Bunda selalu percaya bahwa pendidikan adalah hal yang utama. Ketika banyak orang menganggap kuliah bukan prioritas, apalagi bagi perempuan, mereka justru mendorongku untuk terus bermimpi dan melanjutkan sekolah setinggi mungkin.
Perkenalkan, aku Aura Danella Harvani, gadis yang kini tengah mekar bertumbuh. Melalui jalur SNBP tahun 2026, langkahku resmi berlabuh di Universitas Brawijaya sebagai mahasiswa baru Program Studi Perpajakan, Fakultas Ilmu Administrasi. Sebuah jawaban atas doa-doa telah dipanjatkan.
Melipat seragam putih abu-abu yang penuh cerita terasa seperti menutup satu babak kehidupan dan membuka lembaran baru. Kini, aku mengenakan jaket almamater dengan rasa bangga dan tanggung jawab yang besar. Bukan hanya membawa nama baik kampus, tetapi juga membawa harapan yang tumbuh di rumah kecilku.
Ada satu mimpi yang kini menggantung tinggi di sana, dan aku ingin menjadi orang yang mewujudkannya.
Menjadi sarjana pertama di keluargaku.
Tanggung jawab yang tidak ringan. Tetapi, alih-alih merasa terbebani, aku memilih menjadikannya sebagai amanah yang aku jemput dengan rasa syukur dan kebanggaan. Sebab aku percaya, setiap perubahan besar selalu dimulai oleh seseorang yang berani mengambil langkah pertama.
Selama duduk di bangku SMA, aku bukan tipe orang yang bisa diam di satu tempat. Rasa penasaran membuatku sering mencoba hal-hal baru. Awalnya hanya ingin mencari pengalaman, tetapi tanpa kusadari setiap kesempatan yang kuambil justru mengajarkanku banyak hal dan membawaku pada berbagai pencapaian yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
Selain belajar di kelas, aku juga senang mengisi masa SMA dengan berbagai kegiatan di luar akademik. Kompetisi dan organisasi menjadi dua tempat yang paling banyak memberiku pengalaman.
Aku aktif menguji ketajaman berpikir kritis di berbagai arena kompetisi nasional. Berbagai prestasi berhasil kuraih, baik secara tim maupun individu:
- Juara 1 Olimpiade Perpajakan HSTC 2025 di Universitas Negeri Surabaya
- Juara 1 Lomba Business Plan Sharia Youth Economic Competition 2025 di Universitas Muhammadiyah Malang.
- Juara 1 Lomba Infografis & Reels Agroindustry 2025 di Universitas Gadjah Mada
- Juara 2 Lomba Storytelling ESA FEST 2025 di UIN Gusdur Pekalongan
- Juara 2 Lomba Esai INTELIGHT CHAMPIONS 2025 di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
- Juara 3 Olimpiade Perpajakan TGTS 2025 di Universitas Airlangga
- Peserta Top 50 Olimpiade Kebanksentralan & Ekonomi GenBI Jawa Timur 2025 oleh Bank Indonesia
- Semi Finalis Lomba Business Plan CBC-BMC 2025 di Universitas Negeri Surabaya
Gambar 1. Tim peraih Juara 3 ajang Olimpiade Perpajakan Universitas Airlangga, 26 Oktober 2025 (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Gambar 2. Peraih Juara 1 Business Plan Sharia Youth Economic Competition 2025 di Universitas Muhammadiyah Malang, 14 Juni 2025 (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Menolak menjadi siswa yang pasif, aku melengkapi perjalanan putih-abu-abu dengan menceburkan diri ke riuhnya dunia organisasi. Kepercayaan besar membawaku mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Ekstrakurikuler Teater sekaligus menjadi Chief of Communication Division English Club. Puncaknya, aku mengambil tanggung jawab besar sebagai ketua pelaksana Workshop seni ludruk serta mentor drama musikal pada Milad MAN 2 Kota Kediri. Mengoordinasikan ratusan anggota, menyusun alur kepanitiaan, hingga memecahkan masalah langsung di lapangan menjadi .
Gambar 3. Kepanitiaan Lomba Cipta Baca Puisi MANTARA, 27 Februari 2025 (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Gambar 4. Mengikuti Evaluasi Tahunan Purna Tugas Ekstrakurikuler, 14 November 2026 (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Berbagai prestasi dan pengalaman organisasi yang aku jalani bukan sekadar deretan pencapaian, melainkan perjalanan yang membentuk diriku menjadi pribadi yang lebih tangguh, disiplin, dan terbuka terhadap tantangan. Dari setiap kompetisi yang kuikuti hingga setiap amanah yang kuemban dalam organisasi, aku belajar bahwa keberhasilan tidak lahir dari keberuntungan semata, melainkan dari kerja keras, ketekunan, serta keberanian untuk terus berkembang. Semua proses tersebut menjadi bekal berharga yang semakin menguatkan langkahku untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.
Perjalanan panjang untuk meraih cita-cita impian tentu tak mudah. Proses panjang yang aku lalui tentu tak luput dari dukungan orang-orang tersayang. Ayah dan Bunda adalah pendukung utama dalam hidupku, mereka selalu hadir dalam setiap proses baik dalam kondisi senang maupun sulit.
Dukungan yang Ayah dan Bunda berikan tidak selalu dalam bentuk kata-kata, tetapi juga melalui tindakan nyata. Setiap kali aku mengikuti perlombaan di luar kota hingga harus menginap, Ayah dan Bunda selalu mendukung dengan semangat. Doa mereka yang tak pernah putus selalu menggiring langkahku. Perhatian kecil seperti menanyakan kabar, mengingatkan untuk menjaga kesehatan, hingga memberi semangat.
Aku pernah gagal lomba. Berkali-kali mencoba, dan berkali-kali pula hasilnya belum sesuai harapan. Rasa kecewa tentu ada. Sampai Bunda pernah berkata,
“Menang po kalah itu sama aja, yang penting kamu sama-sama belajar toh gak ada yang sia sia.”
Hingga aku mengerti satu hal. Hasil bukanlah satu-satunya tujuan. Jika gagal pasti ada pelajaran berharga yang tertinggal, dan jika berhasil itu bonus dari ketekunan yang telah dipupuk sejak awal. Berkat kalimat itulah aku belajar untuk tak mudah menyerah.
Ayah dan Bunda menjadi sumber inspirasi, tempatku bercerita, sekaligus alasanku untuk terus berjuang. Selain dukungan moral, mereka juga berusaha memenuhi kebutuhanku secara finansial semampunya. Aku juga tak menyerah mencari peluang beasiswa yang bisa membantu secara finansial di dunia perkuliahan nanti.
Berkat dukungan Ayah dan Bunda, aku bertekad untuk membuktikan bahwa setiap doa dan pengorbanan yang mereka berikan tidak sia-sia. Dukungan itulah yang mendorong aku untuk terus melangkah dengan sungguh-sungguh dalam meraih cita-cita.
