MATAHARI TIDAK SELALU TERBIT DARI TIMUR

Sebuah Essai Perjalanan Menembus Kampus Negeri Impian

Karya : Pahrudin

Dunia seperti panggung sandiwara. Sebagian orang lahir di atas red carpet dengan lampu sorot menyala dari sejak dini. Tapi aku? Aku lahir di belakang panggung, di tempat yang bahkan cahaya matahari pun enggan singgah terlalu lama.

Namaku bukan siapa-siapa. Tapi kisah ini bukan tentang namaku. Ini tentang bagaimana aku belajar bahwa matahari—entah mengapa—tidak selalu terbit dari timur.

Aku tumbuh dalam keluarga yang ukuran ‘mampu’ tidak pernah masuk dalam kamus kehidupan kami. Bukan karena ayah dan ibuku tidak mau memberi, mereka hanya tidak punya. Ada perbedaan tipis namun tegas antara tidak mau dan tidak punya. Orang tidak mau masih menyisakan pilihan, orang tidak punya hanya menyisakan pasrah. Setiap pagi, aku pergi ke sekolah dengan nasihangat yang dibungkus daun pisang. Tidak ada uang saku. Tidak ada seragam baru setiap tahun. Hanya ada semangat yang entah terus bertahan dari mana.

Lantas, bagaimana caranya seorang anak miskin, tanpa kendaraan, tanpa koneksi, dan tanpa paras rupawan, bisa bertahan di rimba persaingan bernama pendidikan? Jawabannya satu: aku harus cerdas. Bukan pilihan, itu keharusan.

Aku mulai ikut lomba. Setiap ada pengumuman lomba dari matematika, fisika, sampai keagamaan sekalipun aku ikuti. Dan anehnya, Tuhan seolah memberi jalan. Satu per satu piala kecil mulai menghiasi rak bambu di rumahku. Bukan karena aku jenius, tapi karena aku tidak punya pilihan selain menang. Orang miskin tidak diberi ruang untuk kalah.

Tapi, di balik deretan prestasi, ada harga yang tak terlihat mataku. Aku jelek, setidaknya itu yang sering kudengar. Tidak ada yang menatapku dua kali. Tidak ada yang mengirim surat cinta rahasia. Tidak ada yang tersipu ketika aku lewat. Aku hanya bayangan di koridor sekolah yang terlalu sibuk diurus oleh orang-orang dengan paras lebih berseri dan dompet lebih tebal. Laki-laki seusia kerap haus perhatian, tapi aku sudah belajar bahwa perhatian adalah barang mewah yang takkan pernah kumiliki.

Teman-teman datang hanya saat ada ulangan susulan, atau saat mereka lupa membawa rumus yang sebentar lagi akan diuji. Mereka memanggilku dengan nada manis ketika butuh sesuatu. Tapi ketika semua keperluan selesai, aku kembali menjadi angin lalu yang bisa diabaikan. Tidak ada yang benar-benar ingin berteman denganku. Apalagi jika menyangkut kegiatan di luar jam sekolah. Aku tidak punya motor. Tidak punya sepeda. Sementara mereka semua melaju dengan kendaraan berasap dan tawa riuh. Aku hanya bisa berjalan kaki, atau jika beruntung, menumpang bus kota yang sering mogok di tengah jalan.

Karena itu, aku dijauhi. Bukan dengan terang-terangan, tetapi dengan cara yang lebih halus dan lebih menyakitkan. Tidak ada yang mengajak nongkrong. Tidak ada yang mengikutsertakanku dalam kerja kelompok kecuali jika gurunya memaksa. Bahkan beberapa kali, cemoohan terlontar di belakang punggungku. "Dia sombong sih, mentang-mentang pintar," padahal aku hanya tidak punya biaya untuk ikut arisan kopi mereka.

Dan guru-guruku? Anehnya, mereka juga tidak menyukaiku. Atau mungkin aku hanya terlalu peka. Tapi setiap kali aku mengangkat tangan, seolah ada beban di wajah mereka. Setiap kali aku menang lomba prestasiku tidak pernah diapresiasi sekolah. Mungkin karena aku anak yang tidak membawa nama baik sekolah dengan cara yang ‘bergengsi’. Pialaku kecil. Lomba-lombaku tidak glamor.

Malam-malam, aku sering menangis. Meneteskan air mata di atas bantal yang sudah bertambal. Air mata itu tidak pernah mengubah apa pun. Tapi setidaknya, ia mengingatkanku bahwa aku masih punya perasaan. Bahwa meskipun dunia seolah menolak, aku masih bisa merasakan sakit dan rasa sakit itu, perlahan-lahan, menjadi bahan bakar.

Hingga suatu siang, di sela-sela angin yang berembus tak menentu di beranda sekolah, aku membuka pengumuman jalur prestasi. Layar ponsel bututku menyala lambat. Jari yang sedikit gemetar menggeser layar. Aku tidak menyiapkan hati untuk bahagia, karena bahagia adalah hal yang terlalu mahal untuk anak sepertiku. Tapi saat kata "DITERIMA" muncul di samping nama kampus negeri impian dan jurusan yang dari dulu hanya bisa kumimpi dalam sunyi, sesuatu pecah di dadaku. Bukan suara, bukan teriakan, tapi semacam pintu yang terbuka pelan-pelan setelah bertahun-tahun dikunci.

Aku menangis lagi, tapi kali ini berbeda, air mata ini tidak jatuh karena cemoohan, tidak jatuh karena kesepian atau rasa tak diinginkan, air mata ini jatuh karena aku akhirnya tahu, bahwa selama ini aku tidak salah. Bahwa perjuangan seorang anak yang hanya bermodalkan tekad dan lomba-lomba sederhana, ternyata cukup untuk mengubah peta hidupnya sendiri.

Sore itu, untuk pertama kalinya aku sadar bahwa matahari tidak selalu terbit dari timur. Matahari bisa terbit dari arah mana pun, bahkan dari tempat yang paling tidak disangka sekalipun. Dan saat matahari itu benar-benar datang, ia tidak meminta izin pada siapa pun yang dulu meragukanmu.

Aku masih miskin.
Aku masih tidak punya motor.
Aku masih jelek di mata banyak orang.

Tapi aku, seorang anak yang dulu tidak punya apa-apa, sekarang memiliki satu hal yang tak bisa dicuri siapa pun sebuah kursi di kampus negeri impian dan dari sana, cahaya baru mulai menyapa. Bukan untuk membalas dendam, melainkan untuk membuktikan bahwa Tuhan suka memberi kejutan pada anak-anak yang bertahan di tengah gelap pada saat semua lampu seolah padam untuk mereka.

Tinggalkan Komentar