Perjalanan Menuju Kampus Impian

Oleh Mezaluna Diazuri Retno Ningtyas

Namamku Mezaluna Diazuri Retno Ningtyas. Saat ini aku berkuliah di Universitas Sebelas Maret (UNS). Namun, untuk sampai tahap ini bukanlah hal yang mudah. Ada banyak air mata, kegagalan, perjuangan, dan pelajaran berharga yang aku lalui. Saat duduk dibangku SMA kelas 10, tidak terlintas dalam pikirankaku untuk memikirkan setelah SMA akan melanjutkan kuliah di mana setelah lulus. Hari-hariku di sekolah kuhabiskan dengan belajar seperti biasa dan bermain bersama teman-teman. Aku menjalani masa SMA dengan santai tanpa memiliki tujuan yang jelas untuk masa depan. Semua itu berubah ketiaka aku memasuki kelas 12. Orang tuaku menyarankanku agar aku mengikuti bimbingan belajar persiapan masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur tes. Aku mengikuti saran tersebut dan mulai mengikuti bimbel setiap hari selasa, kamis, dan Jumat setelah pulang sekolah. Suatu hari, teman-temanku di tempat bimbel bertanya, “kamu mau ambil jurusan apa ?”

Aku menjawab dengan asal, “Hukum di UGM.” Anehnya, jawaban yang awalnya asal terucap itu perlahan berubah menjadi sebuah impian. Sejak saat itu, aku mulai membayangkan diriku menjadi mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas Gajah Mada. Aku belajar lebih giat dari pada sebelumnya. Aku rajin bertanya kepada tentor ketika menemukan soal yang sulit. Suatu hari aku bertanya kepada tentorku apakah aku memiliki peluang masuk Hukum UGM melalui SNBT. Beliau menjawab bahwa rata-rata nilai raporku tergolong rendah untuk jurusan di univeristas tersebut. Menurutnya, peluanku masih kecil, meskipun masih ada kesempatan jika aku memilih universitas lain. Jawaban itu tidak membuatku menyerah. Justru aku semakin yakin untuk berjuang. Dalam pikiranku saat itu, sebelum aku mencoba, aku tidak akan pernah tahu hasilnya.

Beberapa bulan kemudian, pengunguman siswa eligibel SNBP pun tiba. Aku merasa sangat gugup. Ketika melihat namaku termasuk dalam siswa eligibel, aku merasa sangat senang dan bersyukur. Setelah pengunguman tersebut, guru BK memanggilku bertanya mengenai jurusan dan universitas yang akan kupilih. “Mbak ambil jurusan apa dan di universitas mana, mbak?” tanya beliau. “Saya mau ambil Hukum di Univeristas Gajah Mada, Bu,” jawabku. Namun, respon yang kudapat tidak seperti yang kuharapkan, “kalau memilih jurusan dan universitas harus realistis, mbak. Dengan nilai seperti itu akan sangat sulit masuk ke sana.” Perkataan itu memang benar, tetapi aku tidak ingin menyerah begitu saja. Aku tetap memilih jurusan Hukum di UGM untuk SNBP. Sambil menunggu pengunguman, aku belajar lebih giat, mengikuti les, mengerjakan latihan soal dari YouTube, dan tidak pernah lupa untuk berdoa.

Hari pengunguman SNBP akhirnya tiba. Saat itu aku sedang berada di tempat les. Aku ingin membuka hasil pengunguman saat itu juga, tetapi rasa takut membuatku mengurunkan untuk membuka pengunguman itu, aku memutuskan untuk membuka pengunguman itu saat di rumah. Sesampainya di rumah, aku membuka laman pengunguman dengan penuh harapan. Aku berharap lolos menjadi mahasiswa hukum di UGM. Namun, takdir berkata lain, aku dinyatakan tidak lolos. Saaat itu aku hanya menangis. Aku merasa gagal, sedih, kecewa, dan marah pada keadaan. Untungnya, kedua orang tuaku selalu ada disampingku dan menguatkanku. Mereka mengatakan bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya dan masiha da kesempatan melalui jalur SNBT.

Aku segera mendaftarkan diri untuk mengikuti UTBK dan kembali memilih jurusan yang sama. Sejak saat itu, aku menyusun jadwal belajar yang lebih teratur. Setiap hari aku belajar dari siang hingga malam, mengikuri bimbingan belajar, dan mengerjakan latihan soal. Hari UTBK pun tiba, pagi-pagi sekali aku diantar ayahku menuju UNS yang menjadi lokasi ujianku saat itu. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam. Sepanjang perjalanan aku terus berdoa agar kali ini aku diberi hasil yang terbaik. Sesampainya dilokasi, aku langsung menuju ruang ujian. Sebelum masuk ruangan, para peserta diperiksa untuk memastikan tida ada kecurangan. Ketika duduk di dalam ruangan perasaanku campur aduk antara takut, tegang, dan cemas. Aku mengerjakan setiap soal sambil terus berdoa dalam hati. Setelah ujian elesai, aku merasa lega karena telah memberikan yang terbaik dalam mengerjakan soal. Namun, aku juga merasa khawatir terhadap hasil yang keluar.

Sambil menunggu pengunguman SNBT, aku tetap belajar dan mempersiapkan diri untuk jalur mandiri. Aku mencari informasi berbagai universitas negeri yang membuka seleksi mandiri. Semua jadwal aku catat satu persatu dimulai dari pendaftaran hingga pelaksanaan. Akhirnya, hari pengunguman SNBT tiba. Hari itu menjadi salah satu hari paling menegangkan dalam hidupku. Pengunguman dapat dibuka jam 3 sore. Setelah salat Asar, aku membuka hasil pengunguman dengan harapan besar. Sebelum melihat hasilnya, aku berdoa, “Ya Allah, jika ini memang jalanku, izinkan aku lolos, jika bukan berikanlah kemudahan dan jalan terbaik untukku.’’ Aku membuka pengunguman bersama adikku. Dengan penuh harapan, aku melihat hasilnya. Namun sekali lagi, bahwa aku dinyatakan tidak lolos. Saat itu aku merasa sangat sedih, marah, dan kecewa. Aku menyalahkan diriku sendiri dan bertanya-tanya mengapa semua usahaku yang aku lakukan tetap tidak lolo. Namun, kedua orang tuaku kembali menguatkanku. Mereka berkata, “kalau tidak lolos, mungkin ada yang lebih indah dan lebih baik di depan sana.’’

Mereka menyarankan agar aku mencoba jalaur mandiri di UNS dengan memilih program studi di FKIP. Awalnya, aku tidak pernah membayangkan akan masuk di dunia pendidikan. Namun, kali ini aku memutuskan untuk mengikuti saran mereka. Aku memilih Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. aku tertarik karena menyukai kegiatan menulis dan melihat prospek kerja yang baik di masa depan. Untuk mengikuti ujian mandiri, aku memperiapkan diriku dengan belajar dan aku mengerjakan latihan soal di You Tube dan terus berdoa semoga kali ini diberikan kesempatan untuk diterima. Hari ujian mandiri pun tiba. Aku kembali diantar ayahku menuju kampus. Aku mengikuti ujian di Fakultas Teknik dari siang hingga sore hari. Setelah ujian selesai, ada perasaan yakin dalam diriku bahwa kali ini aku memiliki peluang yang lebih besar. Beberapa hari kemudian, pengunguman mandiri UNS diumumkan. Dengan perasaan berdebar, aku membuka hasilnya setelah shalat Asar, dan benar saja aku dinyatakan lolos.

Saat melihat hasil itu, aku merasa sangat bersyukur dan bahagia. Semua perjuangan, air mata, dan kegagalan yang pernah kualami seakan terbayar. Aku memberi tahu kedua orang tuaku. Mereka ikut merasa bahagia dan bangga. Meskipun demikian, di hati masih tersimpan keinginan kuliah di UGM. Karena mengetahui impianku sejak lama, orang tuaku menyarankanku agar tetap mencoba mengikuti seleksi mandiri UGM. Aku sempat bimbang, aku takut mengalami kegagalan lagi. Namun, akhirnya aku memutuskan untuk mencoba. Aku tidak ingin menyesal di kemudian hari karena tidak berani mencoba. Saat ujian mandiri UGM berlangsung, aku kembali diantar ayahku. Ketika memasuki runag ujian, aku merasa tegang seperti sebelumnya. Namun, kali ini aku pasrah. Aku hanya berusaha semampuku dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Sambil menunggu pengunguman mandiri UGM, aku mulai mengurus berbagai berkas registrasi di UNS. Hingga akhirnya pengunguman mandiri UGM tiba. Aku membuka hasilnya bersama ibuku, dan aku tidak lolos. Anehnya, kali ini aku tidak menangis. Aku sudah belajar menerima kenyataan. Aku mulai memahami bahwa mungkin UGM memang buka tempat yang ditakdirkan untukku. Mungkin Allah menyiapkann jalan lain yang lebih baik. Kini aku telah menjadi mahasiswa semester dua di Universitas Sebelas Maret. Aku merasa nyaman berkuliah di sini. Aku memiliki teman-teman yang baik dan dua sahabat yang selalu menemani perjalanan perkuliahanku.

Dari seluruh perjalanan ini, aku belajar bahwa tidak semua hal yang kita inginkan akan menjadi milik kita. Terkdang, kita harus menerima bahwa ada rencana yang lebih baik dari apa yang telah kita susun sendiri. Aku juga belajar bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Setelah kesedihan, akan selalu ada keindahan yang menunggu. Mungkin aku tidak berhasil menjadi mahasiswa Hukum UGM seperti dulu yang kuimpikan. Namun, aku berhasil menemukan tempat terbaik untuk bertumbuh dan berkembang. Kini aku percaya bahwa jika sesuatu memang bukan takdir kita, sekuat apa pun kita mengejarnya, kita tidak akan mendapatkannya. Sebaliknya, apa yang telah ditakdirkan untuk kita akan menemukan jalannya sendiri pada waktu yang tepat.

Tinggalkan Komentar