MENEMBUS BATAS: PERJUANGANKU MERAIH BANGKU KULIAH
Rike Nur Syafitri
"Bagi sebagian orang, kuliah adalah pilihan. Namun bagiku, kuliah adalah mimpi yang harus diperjuangkan mati-matian."
Sejak duduk di bangku kelas 10 SMA, aku sudah mengetahui apa yang ingin kulakukan di masa depan. Saat teman-temanku masih mencari-cari jurusan yang sesuai dengan minat mereka, aku sudah mantap memilih Ilmu Gizi. Ketertarikanku terhadap kesehatan, gizi, dan perannya dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat membuatku yakin bahwa itulah bidang yang ingin aku pelajari lebih dalam. Sejak saat itu, aku memiliki satu tujuan besar: kuliah di jurusan Ilmu Gizi.
Namun, memiliki mimpi ternyata jauh lebih mudah daripada memperjuangkannya.
Aku lahir dan tumbuh dalam keluarga dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas. Sejak kecil, aku terbiasa hidup sederhana dan memahami bahwa orang tuaku harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena kondisi tersebut, kuliah terasa seperti sesuatu yang sangat jauh dari jangkauanku. Bahkan, ada masa ketika aku berpikir bahwa setelah lulus SMA, aku mungkin harus langsung bekerja seperti banyak orang di sekitarku. Meski demikian, aku tidak pernah benar-benar melepaskan impian itu. Aku percaya bahwa pendidikan dapat menjadi jalan untuk memperbaiki masa depan, bukan hanya untuk diriku sendiri, tetapi juga untuk keluargaku.
Berbeda dengan banyak teman yang mengikuti bimbingan belajar atau les persiapan masuk perguruan tinggi, aku belajar secara otodidak. Aku mengandalkan buku pelajaran, materi dari sekolah, dan berbagai sumber belajar yang bisa kuakses secara gratis. Setiap kali menemukan materi yang sulit dipahami, aku berusaha mencari jawabannya sendiri. Aku sadar bahwa keterbatasan yang kumiliki tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berusaha.
Gambar 1. Capaian prestasi selama SMA
Sumber: Dokumen pribadi
Selama bersekolah, aku juga aktif mengikuti berbagai perlombaan. Aku ingin membuktikan bahwa aku memiliki kemampuan dan prestasi yang layak untuk diperjuangkan. Setiap sertifikat dan penghargaan yang kudapat bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan bentuk keyakinanku bahwa aku pantas mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Namun, perjuangan terberat justru datang bukan dari soal pelajaran atau persaingan akademik, melainkan dari keadaan ekonomi keluargaku sendiri.
Gambar 2. Bukti pesan pengunduran diri
Sumber: Dokumen Pribadi
Pada kelas 11 semester dua, menjelang penentuan siswa eligible untuk Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), aku mengambil keputusan yang sangat berat. Aku mengundurkan diri dari proses persiapan kuliah karena merasa tidak mungkin melanjutkan pendidikan. Orang tuaku saat itu tidak mengizinkanku kuliah karena keterbatasan biaya. Aku memahami alasan mereka. Mereka bukan tidak mendukung pendidikanku, tetapi keadaan memang tidak memungkinkan. Saat itu, aku berusaha menerima kenyataan bahwa mungkin mimpiku harus berhenti sampai di bangku SMA.
Keputusan tersebut ternyata menarik perhatian pihak sekolah. Guru Bimbingan dan Konseling memanggil orang tuaku untuk berdiskusi. Mereka mempertanyakan alasan mengapa aku tidak melanjutkan kuliah, padahal aku memiliki prestasi akademik yang baik dan peluang yang besar untuk diterima di perguruan tinggi negeri. Dukungan dari sekolah menjadi titik balik penting dalam perjalanan hidupku. Untuk pertama kalinya, aku merasa ada orang lain yang juga percaya bahwa aku layak mendapatkan kesempatan tersebut.
Setelah berbagai pertimbangan, orang tuaku akhirnya memberikan izin untuk melanjutkan kuliah. Namun, ada syarat yang harus kupenuhi: aku harus lolos program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah). Tanpa bantuan tersebut, biaya pendidikan akan menjadi beban yang terlalu berat bagi keluargaku. Selain itu, setelah lulus sekolah aku juga harus segera bekerja agar dapat membantu perekonomian keluarga. Syarat itu tidak membuatku mundur. Justru sebaliknya, aku menjadikannya sebagai motivasi untuk berjuang lebih keras.
Ketika pengumuman SNBP tiba, aku diliputi rasa cemas yang luar biasa. Aku tahu bahwa hasil tersebut akan menentukan banyak hal dalam hidupku. Saat melihat namaku dinyatakan lulus, aku tidak mampu menahan rasa haru. Perjuangan yang selama ini kujalani akhirnya membuahkan hasil. Aku berhasil diterima di jurusan yang selama ini kuimpikan.
Namun perjuangan itu belum selesai.
Gambar 3. Kegiatan bekerja
Sumber: Dokumen pribadi
Setelah lulus SMA, aku tidak menghabiskan waktu dengan berlibur seperti kebanyakan teman sebayaku. Aku memilih untuk bekerja. Selama kurang lebih empat bulan sebelum perkuliahan dimulai, aku bekerja untuk mengumpulkan uang sebagai bekal memasuki dunia kampus. Aku ingin meringankan beban orang tuaku semampuku. Setiap hari kerja yang kulalui mengingatkanku bahwa kesempatan untuk kuliah adalah sesuatu yang sangat berharga dan tidak boleh kusia-siakan.
Di tengah perjalanan tersebut, kabar yang paling kutunggu akhirnya datang. Aku dinyatakan lolos sebagai penerima KIP Kuliah. Saat mengetahui hal itu, aku merasa seperti mendapatkan secercah harapan yang selama ini kucari. Program tersebut membuka jalan yang sebelumnya terasa tertutup rapat. Bantuan itu tidak hanya membantu secara finansial, tetapi juga memberikan keyakinan bahwa mimpiku untuk menjadi mahasiswa benar-benar dapat terwujud.
Gambar 4. Kegiatan selama di perkuliahan
Sumber: Dokumen pribadi
Kini, ketika aku telah berhasil melangkah ke dunia perkuliahan, aku sering mengingat kembali perjalanan yang telah kulewati. Perjalanan itu mengajarkanku bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya. Tidak memiliki biaya, tidak mengikuti les, bahkan hampir kehilangan kesempatan untuk kuliah tidak membuatku berhenti bermimpi. Justru dari keterbatasan itulah aku belajar tentang kerja keras, ketekunan, dan pentingnya memperjuangkan apa yang diyakini.
Bagiku, diterima melalui SNBP bukan hanya tentang keberhasilan masuk perguruan tinggi. Lebih dari itu, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa mimpi seorang anak dari keluarga sederhana juga layak untuk diperjuangkan. Bahwa keadaan ekonomi tidak selalu menentukan sejauh mana seseorang bisa melangkah. Dan bahwa di balik setiap keberhasilan, selalu ada perjuangan yang tidak terlihat oleh banyak orang.
Perjalananku masih panjang. Namun satu hal yang pasti, aku akan terus belajar dan berusaha sebaik mungkin. Sebab aku tahu, kesempatan yang hari ini kumiliki adalah hasil dari perjuangan, doa, dan pengorbanan banyak pihak yang percaya bahwa aku mampu meraih masa depan yang lebih baik.
