Ketika Rencana Tak Seindah Bayangan

Kisah Perjuangan Meraih Kampus Impian

Oleh: T

Pernahkah kamu merasa sudah merancang segalanya dengan sempurna, lalu dalam sekejap semuanya runtuh?

Aku pernah. Dan rasanya bukan sekadar kecewa; itu sakit yang menusuk jauh ke dalam dada.

Bermula dari Dua Ketertarikan

Sebelum berbicara tentang kampus, aku perlu bercerita tentang dua jurusan yang pernah singgah di hatiku.

Yang pertama adalah Ilmu Komunikasi. Sejak awal aku selalu tertarik pada bagaimana manusia menyampaikan pesan, membangun narasi, dan memengaruhi satu sama lain. Rasanya jurusan itu berbicara tentang dunia yang aku kenal.

Tapi kemudian datang ketertarikan yang lebih kuat, yaitu Ilmu Gizi. Bukan tanpa alasan. Kala itu, isu stunting sedang ramai dibicarakan. Anak-anak kekurangan gizi, tumbuh tidak optimal, dan masa depan mereka terancam bukan karena malas belajar, tapi karena tubuh mereka tidak mendapat cukup asupan sejak dini. Sesuatu dalam diriku bergejolak. Gelar S.Gz sudah terbayang indah di benakku.

Maka kubulatkan tekad: SNBP Ilmu Gizi Universitas Brawijaya, pilihan tunggal, tanpa cadangan, tanpa keraguan.

Plan A sampai Plan E: Logika yang Polos

Tapi di balik keyakinan itu, ada suara kecil yang berbisik: bagaimana kalau tidak lolos? Maka lahirlah sistem perencanaan ala kadarku: Plan A SNBP, Plan B UTBK, Plan C Mandiri, Plan D Gap Year, dan Plan E, yaitu IT Del jurusan Sistem Informasi.

Mengapa Sistem Informasi jadi plan terakhir? Karena sejujurnya aku sama sekali tidak tertarik dunia IT. Tapi ada satu kata yang membuatku mempertimbangkannya, yaitu “Informasi.” Pikiranku saat itu sederhana: sistem informasi pasti mirip ilmu komunikasi, kan? Ada kata informasinya. Aku tidak banyak riset. Aku hanya tahu SI bisa jadi System Analyst, Business Analyst, Software Developer; ada kata business, ada kata sistem, aku pikir ini tidak jauh dari manajemen dan komunikasi. Polos? Sangat.

Di tengah masa-masa galau memilih itu, teman-teman sempat menyarankan UNDIP sebagai opsi. Tapi satu video TikTok, yang bercerita soal lokasi kampus yang jauh, panas, dan susah diakses, sudah cukup bagiku untuk mencoretnya dari daftar. Keputusan besar berdasarkan konten 60 detik. Aku tahu itu keliru. Tapi itulah kenyataannya.

Maka dengan semua rencana itu tersusun, aku melangkah mantap mendaftarkan diri ke SNBP.

Hari yang Paling Sakit

Pengumuman SNBP tiba. Dengan tangan gemetar aku buka portal SNBP, masukkan ID dan password. Layar berganti merah. "Anda dinyatakan tidak lulus Seleksi SNBP 2024." Sudah. Selesai. Semua rencana indah itu runtuh dalam satu warna.

Aku menangis. Bukan tangisan biasa; ini tangisan yang lahir dari tekad yang sudah lama dirawat, dari bayangan masa depan yang tiba-tiba direnggut. Ditambah lagi, sebelum mendaftar pun aku sudah tidak mendapat restu penuh dari keluarga. Bahkan ada yang terang-terangan bilang aku tidak akan lolos. Dan kini, seolah-olah aku baru saja memberi makan ego dari omongan mereka.

“Aku eligible peringkat 9, tapi terasa sia-sia saja.”

Aku lanjut ke UTBK, nekat menembak kampus terbaik: UNAIR, UGM, UNS, UNY, yang saat itu tingkat penolakannya sedang tinggi-tingginya. Hasilnya? Nihil semua. Jalur Mandiri pun kuambil untuk Ilmu Komunikasi. Tetap tidak lolos. Satu per satu pintu tertutup.

Dengan semua pintu yang tertutup, plan E akhirnya menjadi nyata. Aku mendaftar lewat USM 3 dan gagal. Lalu kucoba lewat nilai UTBK, ditambah USM 4 sebagai cadangan, karena orang tuaku khawatir nilai UTBK tiba-tiba tidak berlaku (padahal jalur itu sudah jelas tersedia, tapi mereka sepertinya kurang percaya).

Firasat Anak Pertama Jarang Meleset

Hari pengumuman tiba. Namaku tidak ada di papan utama. Tapi anehnya, aku tenang. Ada bisikan kuat dalam diri: aku lulus di dua jalur sekaligus, makanya namaku tidak muncul di sana. Mama tidak percaya. Aku hanya tertawa.

Sekitar pukul 10 pagi, ada panggilan masuk dari admin PMB IT Del. Aku tidak sempat mengangkat. Panik, tapi firasat itu semakin kuat. Tak lama, telepon masuk lagi.

“Selamat, kamu diterima di dua jurusan: Manajemen Rekayasa lewat UTBK, dan Sistem Informasi lewat USM.”

Tanpa ragu, aku jawab: “Sistem Informasi saja, Kak.”

Di sore harinya, aku mengerjai bapak, berpura-pura bilang tidak lolos. Beliau diam. Wajahnya menyimpan lelah yang dalam. Malam harinya aku jujur dan barulah semuanya terbuka.

Ketika Bapak Hampir Menjual Depot Air

Di sanalah aku baru benar-benar menyadari mengapa gap year tidak pernah menjadi pilihan nyata. Malam setelah aku jujur kepada bapak bahwa itu semua hanya candaan, bahwa aku sebenarnya lolos, beliau berkata dengan nada lega, "Syukurlah. Bapak sudah stres, sampai kepikiran mau jual depot air biar bisa menghidupi kalian."

Kalimat itu menghantamku. Bukan rasa bersalah, melainkan rasa syukur yang dalam. Inilah alasan sesungguhnya aku tidak jadi gap year: bukan karena menyerah, tapi karena ada orang-orang di rumah yang bebannya sudah cukup berat. Terlebih, sebagai anak pertama, aku tahu mereka berharap besar padaku. Mereka ingin aku menjadi contoh yang baik bagi adik-adikku yang masih kecil. Saat itu, sebagian besar dari mereka masih duduk di bangku SD, satu sudah menginjak SMP, dan satu lagi masih balita.

Pesan untuk Kamu yang Sedang di Persimpangan

Perjalananku tidak indah. Tidak ada momen dramatis di mana semua tiba-tiba terasa pas. Bahkan sampai hari ini, aku masih menemukan diriku belajar mencintai jurusan yang dulu sama sekali tidak aku rencanakan.

Tapi ada yang aku sesali; bukan pilihan kampusnya, melainkan caraku mengambil keputusan. Aku membuang UNDIP karena satu video TikTok. Aku memilih Sistem Informasi karena kata “informasi” terdengar mirip “komunikasi.” Aku tidak riset cukup, tidak tanya ke orang yang tepat, tidak membaca lebih jauh.

Kalau kamu sekarang sedang di persimpangan yang sama, jangan lakukan itu. Rasa penasaran dan rasa takut itu wajar, tapi selesaikan dulu. Cari informasi sebanyak-banyaknya. Tanya ke kakak tingkat, alumni, atau siapa pun yang pernah ada di jalan yang ingin kamu tempuh. Jangan biarkan satu konten singkat menentukan keputusan besar dalam hidupmu.

Dan jika pun kamu sudah terlanjur berada di jalan yang tidak kamu pilih sepenuhnya, jalani saja. Kita semua pasti bisa melewati apa yang menjadi bagian kita, meskipun awalnya terasa asing.

Karena pada akhirnya, bukan hanya kampus impian yang membentukmu, tetapi juga perjuangan panjang untuk sampai ke sana, bahkan ketika “sana” bukan tempat yang kamu bayangkan sejak awal.

T, mahasiswa Sistem Informasi yang dulu mengira SI itu mirip Ilmu Komunikasi.

Tinggalkan Komentar