Bukan Karena Sempurna, tapi Karena Berani
Kisah Perjalanan Menuju Kampus Impian
Terima kasih. Mungkin terdengar sederhana, tetapi kemunculan postingan lomba ini di beranda Instagram-ku datang pada saat yang tepat—ketika aku sedang merasa stuck dan melihat orang-orang di sekelilingku terus melangkah maju. Mungkin itu bukan kebetulan. Mungkin memang waktunya aku bercerita.
Namaku Andin. Saat ini aku merupakan mahasiswi semester 2 dari Fakultas Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Pendidikan Dasar, Universitas Pendidikan Ganesha atau yang akrab disebut Undiksha. Universitas yang dulu selalu aku anggap jauh dari asal ku, dengan kalimat, "Ngapain kuliah jauh-jauh? Ambil yang kakakku ambil saja, nggak perlu mikir berat." Haha. Jebakan yang akhirnya makan tuan sendiri.
Kisah ini bermula saat aku duduk di bangku kelas 3 SMA. Aku adalah tipikal orang yang tidak berani keluar dari zona nyaman. Jika suatu hal terasa aman dan nyaman untukku, aku akan diam di sana dan tidak akan bergerak. Aku memiliki seorang kakak yang berhasil meraih IPK 3,9 saat lulus kuliah, dan seorang adik yang berprestasi di banyak bidang non-akademik. Sedangkan aku? Aku selalu berada di tengah-tengah, layaknya anak tengah dalam cerita sinetron—perjalanan SMA pun terasa biasa saja. Tidak menonjol, tidak tenggelam. Seperti air yang mengalir tenang tanpa hambatan.
Namun di kelas 3 SMA, aliran itu tiba-tiba terhantam batu besar. Aku bingung, seakan jatuh ke dalam kubangan yang tidak tahu cara keluarnya. Aku tumbuh di keluarga yang berprofesi di lingkungan ekonomi yakni lulusan akuntansi, perpajakan, perbankan. Hal ini memunculkan stigma dalam benakku bahwa suatu hari nanti aku pun akan menjadi seperti kakakku: seorang sarjana ekonomi.
Namun satu hal yang aku sadari adalah aku lemah di matematika. Penalaran kuantitatifku tidak begitu kuat. Bukan berarti bodoh karena aku percaya tidak ada yang bodoh di dunia ini, yang ada hanyalah yang malas belajar. Tapi aku melihat ke depan, ke realita yang nyata. Bukan soal keberanian, melainkan soal tanggung jawab. Aku tidak bisa memilih jalan yang aku tahu bahwa aku tidak akan bisa mempertanggungjawabkan sepenuhnya.
Sampai suatu hari, di ulang tahun sekolahku, aku menjadi panitia kegiatan. Ada satu rangkaian acara yang tidak pernah kubayangkan akan mengubah segalanya: bakti sosial ke sekolah dasar terdekat. Saat itu aku sedang tidak baik-baik saja. Hatiku sedang gundah—semacam rasa galau yang tidak bisa kuungkapkan dengan kata-kata, layaknya seseorang yang sedang menjalani masa pendekatan yang harus berakhir. Tapi aku tetap harus profesional, tetap menjalankan tanggung jawabku sebagai panitia. Aku tetap tersenyum, seolah tidak ada apa-apa. Dan tidak ada yang menyadarinya.
Sampai seorang anak kecil datang menghampiriku.
Dia mengajakku foto. Tentu saja aku menyanggupi. Dan saat kamera diarahkan, anak itu memandangku dengan mata dan senyum yang begitu polos—tanpa beban. Ia tidak tahu apapun tentang apa yang sedang aku rasakan. Tapi tatapan itu membuatku tertegun. Ada sesuatu yang tersentuh jauh di dalam hatiku. Rasa terenyuh yang aneh namun hangat.
Foto: Momen kegiatan bakti sosial—inspirasi awal perjalanan menuju dunia pendidikan
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Momen kecil itu, yang mungkin tidak berarti apa-apa bagi orang lain tetapi menjadi salah satu titik balik dalam hidupku.
Hari-hari berlalu, dan tibalah aku di semester genap, masa-masa di mana aku harus benar-benar mematangkan pilihan. Banyak pertimbangan, banyak pendapat yang aku dengar, terutama dari keluarga. Karena apapun saran yang mereka berikan, aku yakin sepenuhnya bahwa mereka hanya ingin yang terbaik untukku.
Di suatu waktu senggang, kakakku tiba-tiba berceletuk santai saat kami sedang bersantai: "Ndin, kamu jadi guru saja kayak Niang."
Niang—begitu kami memanggil nenek dalam bahasa Bali—adalah seorang wanita yang luar biasa. Seorang guru. Orang-orang bilang jadi guru gajinya kecil, tapi aku selalu menepis pernyataan itu ketika mengingat beliau. Ditinggalkan suaminya karena sakit, ia mampu menghidupi empat orang anak sendirian. Ia bisa menyekolahkan, bahkan menguliahkan anak-anaknya. Hingga kini, anak-anaknya bekerja di perusahaan, perhotelan, dan perbankan. Ia selalu menjadi orang yang sederhana namun tidak pernah berhenti memberi. Bahkan untuk kami, para cucunya.
Ia selalu memasak makanan yang hangat. Bukan hanya hangat di perut, tapi hangat juga di hati. Dan ia adalah salah satu alasan terbesar mengapa profesi guru mulai terasa seperti sesuatu yang ingin aku lanjutkan.
Aku pun memberanikan diri bicara kepada orang tua. Aku menyampaikan alasanku, kejujuranku, kemampuanku bahwa aku tidak bisa menjadi versi lain dari kakakku. Dan yang paling aku syukuri: mereka mendengarkan. Mereka menerima. Aku beruntung memiliki orang tua yang mau memahami, memaklumi, dan mendukung.
Saat pengumuman eligible keluar, aku tidak berharap banyak. Namun ternyata kuasa Tuhan selalu melampaui ekspektasiku—aku masuk ke dalam daftar eligible. Titik itulah yang membuatku semakin serius dan yakin dengan pilihan ini. Banyak alumni dari sekolahku yang berkuliah di Undiksha, dan itu menguatkan langkahku.
Saat SNBP, aku sudah berpikir matang. Namun tetap menyusun strategi: tidak mengandalkan satu jurusan saja. Aku memilih Pendidikan Guru Sekolah Dasar sebagai pilihan pertama, dan Pendidikan Ekonomi sebagai pilihan kedua dengan persetujuan dari orang tua dan keluarga. Logikanya sederhana: jika dunia pendidikan tidak menerimaku, mungkin dunia ekonomi bisa.
Lalu tibalah hari pengumuman SNBP. Itu adalah hari-hari yang paling menegangkan. Rasanya seperti masa depanku bergantung pada satu halaman web. Karena rasa takut membuatku tidak bisa berpikir jernih, aku meminta kakakku untuk membuka laman pengumuman. Aku terus menekankan pada diri sendiri: jangan berekspektasi. Sudah ada plan cadangan—berkuliah di universitas swasta.
Tepat pada 18 Maret 2026, pukul 16.00, warna biru itu muncul di layar. Warna yang aku tunggu-tunggu. Warna yang aku harapkan diam-diam. Dan di momen itu, satu kalimat terlintas dalam benakku: ternyata bisa, ya.
Foto: Layar pengumuman SNBP—hari yang mengubah segalanya, 18 Maret 2026
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Setelah diterima, banyak persiapan yang aku lakukan. Tapi manusia memang tidak pernah merasa cukup—begitu juga aku. Melihat teman-teman lain yang diterima di PTN luar daerah atau PTN top nasional, aku tidak merasa iri. Aku hanya bertanya-tanya: jika dulu aku lebih berani, apakah kini aku bisa ada di sana?
Ayahku adalah lulusan Universitas Brawijaya. Aku selalu mengaguminya karena berani keluar dari zona nyaman. Tapi aku tidak berani mengambil langkah yang rasanya terlalu jauh dari jangkauanku karena takut membuang waktu, takut gagal. Meski begitu, aku selalu berpegang pada satu prinsip: apapun yang kulakukan, boleh aku sesali tapi dari penyesalan, apa yang aku dapatkan? Lebih baik jadikan itu pelajaran. Setidaknya, walau aku tidak bisa ke Brawijaya, aku akan memaksimalkan semua yang aku punya di Undiksha ini.
Kini aku sudah berada di semester 2. IPK semester pertamaku: 3,9. Tapi ini bukan akhir justru inilah awal. Karena itu, aku mulai mendorong diri untuk keluar dari zona nyaman yang selama ini menjadi pelabuhanku. Aku mendaftar ke organisasi kemahasiswaan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan dan kini dipercaya menjabat sebagai Wakil Kepala Departemen Kaderisasi dan Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa (KPSDM). Bagiku, ini adalah langkah awal untuk berkembang, untuk menemukan jati diri yang sebenarnya.
Foto: Bersama rekan-rekan BEM FIP Undiksha—langkah pertama keluar dari zona nyaman
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Hidup di lingkungan yang penuh dengan teman-teman berprestasi memang kadang terasa mengintimidasi. Ada yang menjadi duta kampus, ada yang memenangkan lomba nasional. Sementara aku? Aku belum punya ‘gelar’ itu. Mencoba lomba duta? Mungkin itu hal terakhir yang ingin kulakukan karena pengalamanku sebagai panitia penyelenggara ajang duta membuatku sadar bahwa itu bukan duniaku. Tapi bukan berarti aku berhenti mencari ruang untuk berkembang. Lomba menulis ini adalah salah satunya. Sejak SD aku sudah pernah mengikuti lomba menulis, dan menulis selalu menjadi caraku berbicara.
Kisah ini mungkin tidak semenarik cerita dalam novel. Tidak ada plot twist yang dramatis, tidak ada pencapaian gemilang yang bisa dipamerkan. Tapi aku harap siapapun yang membaca ini bisa mengambil satu hal: kalau tidak sekarang, mau kapan?
Dan apapun yang sudah kamu lakukan hingga sejauh ini—rasa bangga itu bukan soal di mana kamu berada sekarang. Rasa bangga itu ada pada seberapa jauh usaha yang kamu lakukan untuk sampai di titik ini. Karena tidak semua orang bisa melewati jalan seperti dirimu. Setiap orang punya batu hantamannya sendiri, punya kubangan yang harus dilewatinya sendiri.
Kamu harus bangga. Bukan karena kamu sudah sempurna melainkan karena kamu sudah berani.
~ Andin ~
Mahasiswi PGSD, Universitas Pendidikan Ganesha
