Dari Celengan Ibu ke Kampus Impian
"Bu, uang UKT-nya dari mana?"
Ibu tidak langsung menjawab pertanyaanku. Beliau hanya melangkah menuju lemari, kemudian mengambil sebuah celengan yang sudah lama tersimpan di pojok kamar. Dengan penuh kehati-hatian, beliau membukanya dan mengeluarkan lembar demi lembar uang yang telah dikumpulkan bukan dalam waktu yang sebentar.
Ketika itu aku tak sanggup bersuara.
Yang ada di hadapanku bukan sekadar sejumlah uang untuk melunasi biaya perkuliahan. Yang ada di hadapanku adalah wujud nyata dari pengorbanan, harapan, dan kasih sayang seorang ibu yang selama ini dengan sunyi memperjuangkan masa depan anaknya.
Momen itu menjadi salah satu kenangan yang rasanya tidak akan pernah bisa aku hapus dari perjalanan panjang menuju kampus impian.
Sejak duduk di bangku SMP hingga SMA, sejujurnya aku tidak pernah benar-benar menyimpan rencana untuk melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi. Bukan karena aku tidak memiliki cita-cita, melainkan karena aku cukup memahami bagaimana kondisi ekonomi keluarga. Ayah dan ibu mengandalkan penghasilan dari pekerjaan yang tidak tetap dan hasil pertanian di kampung. Karena itulah, kuliah terasa seperti sesuatu yang terlalu jauh untuk bisa diraih.
Aku kerap menyaksikan teman-teman membicarakan masa depan mereka dengan penuh semangat. Ada yang bercita-cita menjadi guru, dosen, tutor bahasa, bahkan tentara. Sementara aku hanya memikirkan bagaimana caranya menyelesaikan sekolah dengan hasil yang baik tanpa harus menambah beban orang tua.
Namun semuanya mulai berubah ketika aku memasuki kelas XII.
Lingkungan pertemanan yang sebagian besar memiliki semangat untuk melanjutkan pendidikan perlahan-lahan membuatku ikut merenungkan arah masa depanku sendiri. Aku mulai membayangkan diriku duduk di bangku kuliah seperti mereka. Untuk pertama kalinya, aku berani mengizinkan diri untuk memiliki mimpi yang sebelumnya terasa mustahil.
Dengan keberanian yang kutekadkan dalam hati, aku akhirnya menyampaikan keinginan itu kepada ibuku.
Namun jawaban beliau membuatku terdiam sejenak.
"Alhamdulillah kalau teman-temanmu bisa kuliah. Mereka punya biaya untuk melanjutkan."
Kalimat yang sederhana itu tak pernah benar-benar pergi dari benakku. Aku tahu ibu tidak sedang melarangku untuk bermimpi. Beliau hanya merasa cemas dengan kondisi keuangan keluarga yang memang serba terbatas.
Sejak saat itu aku tidak lagi banyak mengangkat topik kuliah di rumah. Meski begitu, aku juga tidak menyerah begitu saja. Aku membawa harapan itu ke dalam setiap doa yang kupanjatkan kepada Allah.
Selama tinggal di asrama, aku berupaya memperbaiki kualitas ibadahku. Aku menjaga salat wajib agar selalu tepat waktu, memperbanyak salat sunnah, meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an, dan menutup setiap malam dengan salat witir. Setiap malam aku selalu memanjatkan doa yang sama.
"Ya Allah, jika kuliah memang merupakan jalan terbaik untukku, tolong bukakanlah jalannya meskipun aku sendiri tidak tahu dari mana biaya itu nantinya akan datang."
Ketika pendaftaran SNBP resmi dibuka, aku memberanikan diri untuk mendaftar tanpa banyak orang yang mengetahuinya. Aku memilih Program Studi Psikologi di UIN Sunan Gunung Djati Bandung sebagai pilihan pertama dan Psikologi Universitas Padjadjaran sebagai pilihan kedua.
Alasan aku memilih psikologi adalah karena aku ingin menjadi seseorang yang benar-benar mampu mendengarkan dan membantu orang lain. Aku ingin memahami manusia secara lebih mendalam serta memberikan kontribusi nyata bagi mereka yang tengah menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupannya.
Setelah proses pendaftaran rampung, aku akhirnya memberanikan diri untuk memberi tahu kedua orang tuaku.
Seperti yang sudah aku perkirakan sebelumnya, mereka tidak langsung memberikan izin.
Bandung dinilai terlalu jauh dari rumah. Mereka khawatir apabila suatu saat aku jatuh sakit, kehabisan biaya, atau terjebak dalam masalah tanpa ada satu pun keluarga yang bisa membantu.
Selama hampir satu bulan penuh aku terus berusaha meyakinkan mereka. Aku menjelaskan bahwa peluang untuk menempuh pendidikan tidak akan datang dua kali. Aku ingin belajar dengan sungguh-sungguh, tumbuh dan berkembang, serta suatu hari nanti mampu mengangkat martabat keluarga agar tidak lagi dipandang sebelah mata oleh orang-orang di sekitar kami.
Sedikit demi sedikit, hati mereka mulai melunak.
Akhirnya aku mendapatkan restu untuk melanjutkan pendidikan.
Hari yang paling aku nantikan sekaligus paling aku takutkan pun akhirnya tiba.
Hari pengumuman SNBP.
Sebelum membuka hasil seleksi tersebut, aku memilih untuk melaksanakan salat terlebih dahulu. Aku ingin mengkondisikan hati agar benar-benar siap menerima apa pun keputusan yang telah Allah tetapkan.
Sore itu, setelah mengikuti pengajian di asrama, aku membuka laman pengumuman.
Layar berwarna merah muncul di hadapanku.
Aku tidak lolos.
Aku hanya terdiam memandangi layar ponsel selama beberapa saat. Dalam hati, aku masih menyimpan secercah harapan agar tulisan itu entah bagaimana bisa berubah. Namun kenyataannya tetap sama saja.
Aku gagal.
Saat itu rasanya seperti kehilangan satu-satunya jalan menuju mimpi yang selama ini sudah kuperjuangkan dengan sepenuh hati. Aku benar-benar tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Air mata mengalir begitu saja tanpa bisa kucegah.
Yang membuatku tetap kuat saat itu adalah pelukan hangat dari teman-teman sekamar. Mereka berusaha menghiburku dan meyakinkanku bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya.
Meski duka itu masih terasa, aku mencoba untuk kembali bangkit.
Ketika jalur SPAN-PTKIN resmi dibuka, aku mendaftarkan diri kembali bersama beberapa teman yang juga tidak lolos melalui jalur SNBP. Kali ini aku hanya fokus berusaha semaksimal mungkin dan menyerahkan seluruh hasilnya kepada Allah.
Hari pengumuman pun kembali tiba.
Alhamdulillah.
Aku dinyatakan lolos.
Tangis yang sebelumnya hadir karena kegagalan kini berubah menjadi tangis syukur yang mengalir deras. Aku segera menyampaikan kabar gembira itu kepada kedua orang tuaku. Mereka turut merasakan kebahagiaan yang sama, namun kebahagiaan itu kembali diuji ketika kami harus menghadapi kewajiban membayar UKT pertama.
Aku sangat memahami kondisi keluarga kami.
Karena itulah aku sempat dilanda kekhawatiran apakah kuliah ini benar-benar bisa terwujud atau tidak.
Namun di luar semua dugaanku, ibuku melakukan sesuatu yang hampir membuatku menangis lagi.
Beliau membuka celengan yang selama ini beliau simpan dengan penuh perjuangan.
Dari celengan itulah biaya UKT pertamaku akhirnya bisa dibayarkan.
Ketika menyaksikannya, aku menyadari satu hal yang sangat dalam: perjalanan ini bukan lagi semata-mata tentang diriku sendiri. Di dalamnya tersimpan kerja keras orang tua, rangkaian doa yang tidak pernah putus, dan harapan besar yang mereka titipkan kepadaku.
Namun ternyata perjuangan belum benar-benar usai.
Menjelang keberangkatanku ke Bandung pada Agustus 2023, ibuku jatuh sakit dan harus menjalani perawatan selama beberapa minggu. Aku sempat merasa sangat bimbang antara tetap melanjutkan kuliah atau memilih untuk tinggal di rumah menemani beliau.
Namun ibu tetap memintaku untuk berangkat.
Beliau menegaskan bahwa kesempatan untuk belajar tidak boleh disia-siakan begitu saja.
Dengan hati yang berat aku pun berangkat menuju Bandung dan mulai menjalani kehidupan baru sebagai seorang mahasiswa.
Belum lama aku menjalani perkuliahan, kabar yang lebih berat kembali datang, ibu harus menjalani operasi pengangkatan rahim akibat penyakit miom.
Sebagai anak yang berada jauh dari rumah, aku merasakan kesedihan yang luar biasa dan merasa tidak berdaya. Ada keinginan kuat untuk pulang dan menemani beliau melewati masa-masa sulit itu.
Namun setiap kali keinginan untuk menyerah itu muncul, aku selalu kembali teringat pada celengan ibu.
Aku teringat bagaimana beliau mengumpulkan uang sedikit demi sedikit demi membiayai pendidikanku.
Aku teringat bagaimana beliau tetap memberikan dukungan penuh untukku meskipun dirinya sendiri sedang berjuang melawan rasa sakit.
Dari situlah aku menemukan kekuatan yang cukup untuk bertahan dan terus melangkah.
Hari ini aku masih menjalani perkuliahan sebagai mahasiswa aktif. Perjalanan ini belum selesai. Masih banyak tantangan yang harus dihadapi dan masih banyak mimpi yang harus terus diperjuangkan.
Namun ada satu hal yang sudah pasti tertanam dalam diriku, bahwa keterbatasan ekonomi bukan sebuah alasan yang cukup untuk berhenti bermimpi. Mimpi yang besar bisa tumbuh dari keluarga yang paling sederhana sekalipun. Harapan bisa lahir dari keadaan yang paling sulit sekalipun. Dan pertolongan Allah bisa datang dari arah yang tidak pernah kita duga sebelumnya.
Setiap kali aku melangkahkan kaki menuju ruang kuliah, selalu ada satu hal yang aku ingat.
Kampus impian ini tidak dibangun oleh kemewahan.
Kampus impian ini dibangun oleh doa yang tidak pernah terputus, pengorbanan luar biasa dari orang tua, dan sebuah celengan kecil milik ibu yang di dalamnya tersimpan harapan besar untuk masa depan anaknya.
