BEKERJA USAI LULUS SMA UNTUK MEMAHAMI DIRI MELALUI PKB (PANTANG MENYERAH, KONSISTEN DAN BERANI)
DALAM MENGEJAR KAMPUS IMPIAN DAN RESTU ORANG TUA
Oleh: Anjel Laura
PENDAHULUAN
“It Always Seems Impossible Until It’s Done” – Nelson Mandela
Setiap manusia pasti memiliki mimpi namun seringkali mimpi tersebut harus di bungkam karena faktor ekonomi. Tidak jarang kita melihat banyaknya kasus putus sekolah, banyaknya anak yang kekurangan fasilitas pendidikan dan tidak jarang kita melihat bahwa banyak anak yang harus mengusahakan mimpi nya tetapi sebenarnya dia tidak tau arahnya mau di bawa kemana. Pendidikan itu merupakan aspek penting yang harus di usahakan dalam kehidupan, dari kalimat Nelson Mandela, kita belajar bahwa tidak ada yang mustahil selagi diri kita Mampu dan Yakin untuk melalukan usaha tersebut dalam meraih “Apa yang kita inginkan dan apa yang kita harapkan”.
Dunia itu berjalan dan dia tidak akan berhenti hanya karena satu orang sedang merasakan kesedihan “Your Sadness Doesn’t Matter To Other People” . Hidup itu terkadang butuh jeda, jeda yang mungkin maknanya banyak yang tidak paham? Jeda itu rehat, rehat dari hari yang melelahkan namun bukan artinya lari atau berhenti, terkadang kita harus memberikan self reward buat diri untuk merenung, merefleksi dan merefresh pikiran agar kembali ke situasi normal.
Hal itu bukan hanya sekedar Praktik yang membuat kita untuk selalu ingat namun itu adalah Prinsip dan itu sebenarnya Mindset, terkadang kita memang harus melepaskan apa yang tidak bisa kita genggam tapi akan kita ganti dengan hal yang bisa kita lakukan, sama seperti mimpi banyak orang yang bermimpi untuk bisa kuliah di top ptn, banyak orang yang bermimpi ingin meraih apapun tanpa harus memikirkan ekonomi dan banyak orang yang bermimpi bahwa menjadi dewasa itu cukup menyenangkan.
Dan itu merupakan pikiran yang normal pasti dialami oleh setiap orang, benar bukan?? After Graduation kita sudah memasuki fase hidup dengan arah yang kita ambil dan berjalan dengan apa yang sudah kita rancang, Oleh karena itu di kehidupan yang sangat panjang ini “Aku tidak mau sampai salah dalam melangkah”, salah itu wajah tapi bagaimana kita bisa memahami apa sebenarnya sedang kita kejar?? Inilah perjalanan dari seorang Anak Perempuan Pertama yang ingin memutus rantai kemiskinan keluarga
Proses Meraih Mimpi Tanpa Dukungan
Selama di bangku SMA aku belajar banyak hal mulai dari “Kita harus tetap hidup meskipun kadang dunia jarang berpihak pada kita”, mengikuti banyak perlombaan, melalukan banyak aksi sosial dan kadang sampai lupa bahwa aku ini juga Manusia. Keluargaku tidak menuntut tetapi mereka hanya ingin aku meraih sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Terdengar cukup sederhana padahal kenyataan nya sangat berat, aku bergelut dengan isi pikiranku “Akankah tetap melanjutkan mimpi ke PTN atau Sekolah Kedinasan?”.
Setiap hari perbincangan antara aku dan orang tua ku disudut ruang keluarga mungkin jika dinding bisa berbicara dia sudah berkata “Hentikan Pembicaraan yang tidak ada hentinya yang malah membuat keharmonisan keluarga berkurang”, aku memahami bahwa Sekolah Kedinasan itu menjamin hidup kita tetapi akan kah kita sadar terhadap fisik kita yang kurang kuat? Perbincangan yang sangat menentukan nasib ini timbul pada satu perkataan “Kalau kuliah uang darimana? banyak lulusan sarjana tetapi tidak berhasil sampai sekarang bahkan hanya menjadi penjual es”. Hati ku cukup hancur mendengar perkataan itu, aku diam dan hanya bisa menangis tapi tidak lama kemudian aku merasa menangis itu bukan solusi, aku kembali untuk mendiskusikan dengan orang tua ku “Aku berjanji ketika aku ingin kuliah aku akan mengusahakan uang pembayaran ukt dengan cara bekerja part time setelah jam mata kuliah”.
Namun sayangnya orang tua ku tetap tidak setuju, aku hampir kehilangan separuh semangatku, aku hampir menyerah dan aku kehilangan jati diriku.
Langkah Awal Untuk Mimpi Yang Indah
Kehilangan jati diri itu membuat pikiran terasa “Hampa” seperti hanya ingin mengikuti alur kehidupan tetapi tidak mau terjebak oleh waktu.Tiga tahun hampir usai tepat pada bulan desember pada saat pembagian lapor dan aku di umum kan peraih peringkat 1 di kelas unggulan, ibuku mengambil laporku dengan wajah yang berseri gembira, ia berkata ““Kamu pasti bisa meraih ikatan dinas tersebut”. Dengan wajah bingungku sesampainya di rumah aku bertanya kembali “Apakah aku tidak bisa untuk mencoba 1x kesempatan berkuliah di kota? dan keluar dari zona kabupaten yang membuat potensi ku hanya stuck disini saja”.
Ibuku menangis ia berkata “Mimpi itu mahal dan kita tidak ada biaya, jika kamu mau kamu boleh kuliah tetapi dikabupaten ini saja”, dan aku kembali hancur ketika mendengar perkataan tersebut, aku berucap SMA impian sudah ku relakan dan apakah saat ini harus merelakan mimpi berkuliah juga?. Tanpa pantang menyerah aku memberanikan diri untuk tetap melanjutkan mimpiku ke universitas impian Universitas Indonesia, aku meminta izin untuk terakhir kalinya dan aku berjanji aku akan tetap memperjuangkan ikatan dinas tersebut setelah lulus kuliah, namun sangat di sayangkan orang tua ku hanya merestui aku kuliah di kabupaten dengan beasiswa.
Kebingungan ini menyelimuti pikiranku untuk tetap bertahan dengan mimpi ku atau aku harus mengikuti restu dan doa orang tua ku. Hari demi hari berlalu pengumuman eligible pun sudah keluar dan posisi ku teratas di eligible, teman ku datang menghampiriku sambil memeluk dan berkata “Kamu serius dengan prestasi itu mau kuliah di kabupaten?”. Aku sedih tetapi aku tidak bisa menangis dan aku tidak bisa tidur sampai hari pendaftaran SNMPTN, aku menyelesaikan berkas satu persatu dan mencoba mendaftar KIP-Kuliah.
Proses pemberkasan selesai di selah kesedihanku aku mendapatkan notifikasi bahwa aku terpilih menjadi Brand Ambbasador Di event Nasional. Kesedihan itu tertunda aku mengalihkan pikiran untuk Zoom bersama menyiapkan event, setiap malam dan setiap hari sampai aku terpilih menjadi Moderator pada acara Festival Cipta Prestasi dimana tamu undangan yang akan ku dampingi adalah dari Abang None Jakarta Barat dan Clash Of Champions Session 1 Ruang Guru. Terasa di dalam mimpi anak dari kabupaten di salah satu provinsi lampung bisa terpilih dan di percayai untuk
menghandle acara besar.
Tahap Diri Menghadapi Rasa Takut
Memberitahukan kepada orang tua bahwa aku diberikan kesempatan, orang tua bahagia namun mereka tidak bisa mengantarkan ku ke darmaga, aku bahagia karena mereka sangat senang dengan informasi keberhasilan ini. Sesampainya di jakarta aku mulai menyiapkan semuanya dan tidak mau membuat mereka kecewa dengan kepercayaan yang diberikan kepadaku. Satu hari berlalu, founder menghampiriku dan berkata “Anjel nanti jadi perwakilan BA untuk sambutan ya”. Aku bersyukur dan bahagia diselah kesedihan ada kebahagiaan yang Allah titipkan. Masih terasa seperti mustahil bisa sambutan di depan orang penting dan di depan 300 peserta tapi dengan keberanian itu “Aku bisa” .
Aku menelpon orang tua ku bahwa aku telah selesai menyelesaikan tugas, respon mereka membuat ku makin semangat dan setelah acara malamnya hari trakhir penutupan SNBP aku memberanikan diri untuk memilih “Universitas Indonesia di pilihan 1” dan besok nya aku langsung pergi ke universitas tersebut menggunakan KRL untuk menunjukan kepada orang
tua bahwa UI seindah itu dan aku juga pergi ke STAN untuk berdoa agar aku bisa diberi kesempatan dalam mengabulkan keinginan orang tua ku
Gambar 1. Febuari 2026
Langkah Awal Menuju Kehidupan Baru
Sepulang dari jakarta saya memberitahukan mereka bahwa kemarin waktu pendaftaran SNBP, saya mengambil Universitas Indonesia sebagai pilihan, mereka tidak berkata apapun, mereka hanya diam dan berkata “Terserah kamu kamu sudah pasrah . Aku memikirkan bagaimana caranya supaya apa yang aku inginkan tidak bertolak belakang dengan restu orang tua, rasa berasalah terus menyelimuti, kehangatan keluarga pun terasa berkurang. Aku memutuskan untuk deeptalk dengan diri sendiri, setelah satu hari berlalu yang aku habis kan aku sadar dan menemukan bahwa “ Caraku tidak salah untuk mimpi tersebut hanya saja keadaan dan kekhwatiran rasa sayang orang tua lebih besar”.
Dihari itu saya mulai merelakan kampus tersebut dan merubah plan keberhasilan di universitas kota yang saya tempati yaitu Universitas Lampung, sembari menunggu pengumuman aku kembali meminta izin untuk mencari tambahan uang sebelum kuliah, dan aku merasa takdir seketika sedang berada di pihak ku. Orang tua ku berkata ““Kalau snbp tidak lulus jangan
dipaksa lagi ya, ayah ibu mengizinkan untuk ke unila saja” . Pada saat itu aku menangis setelah perdebatan panjang oleh pikiran akhir nya ada titik temu.
Selang tiga hari cafe di dekat rumah ku memberikan tawaran kerja dan tanpa berpikir panjang aku memberitahukan orang tua dan mereka memperbolehkan untuk bekerja.
Gambar 2. Hostes Maknyusscaferesto
Setelah masa belajar selesai aku langsung bekerja menikati masa dewasa meskipun pada saat pertama bekerja banyak sekali tantangannya tapi itulah titik keseruan dalam kehidupan. Berangkat pagi pulang malam, di complaint customer, di marahin atasan itu adalah makanan sehari-hari, mungkin disaat teman-teman lain menikmati masa liburan sebelum perpisahan, saya justru memilih untuk mencari uang sebagai tabungan kuliah dan mengorbankan waktu tidur demi
masa depan yang cemerlang.
Ada satu hari yang membuat saya merasa lelah yaitu dimana kita harus tetap professional dalam bekerja bm meskipun badan sedang sakit, berjalan kaki ke tempat kerja dan menahan lapar demi bisa berkuliah, ayah dan ibuku memang tidak memaksa namun ketika mereka sudah berbicara mengenai ekonomi sebagai anak perempuan rasanya sakit sekali maka hal itulah yang membuat aku untuk tetap bertahan demi menjadi sarjana pertama di keluarga.
Detik Sebelum Kekecewaan Tiba
Setelah melewati drama overthinking setiap malam akhirnya tanggal 31 Maret saya mendapatkan sebuah kekecewaan, kekecewaan yang sebelumnya belum pernah saya rasakan “Anda tidak dinyatakan lulus snbp”. Hidup terasa berhenti sejenak bingung harus memilih kemana tetapi karena belajar dari kesalahan saya tidak mau terlalu berlaru-larut lagi dalam kesedihan, tepat pada tanggal 1 April 2026 saya langsung meminta restu dan berbincang dengan orang tua saya, untuk mereka merelakan say dan mendoakan saya menepati janji menjadi sarjana pertama di universitas lampung, kampus pilihan mereka.
Sedih rasanya gagal di pilihan yang kita harapkan namun kegagalan kemarin itu adalah pelajaran beharga bahwa terkadang kita memang perlu mengikhlaskan sesuatu dan mencari jalan lain untuk tetap meraihnya, dan benar jalan lain itu adalah restu orang tua. Setelah kegagalan kemarin babak baru di mula, bekerja sembari belajar, lebih mengorbankan waktu tidur lebih besar untuk menghindari kegagalan dan mendapatkan keberhasilan, berhari-hari dijalani, cukup sulit dan cukup berat tetapi harus tetap tersenyum.
Ada satu hari after snbp yang terasa berat banget dimana orang tuaku berdebat mempermasalahkan dunia perkuliahan, bersamaan itu juga aku di marahi oleh customer dan sepulang kerja pun hari apes masi menghampiri, uang terakhir ku di dompet hilang, rasanya benar-benar sangat sakit seperti tertusuk jarum tanpa henti tetapi ketika aku hanya merenung itu tidak akan merubah keadaan. Aku belajar lagi dan terus belajar, pulang kerja jam 10, belajar hingga jam 3 subuh dan bekerja lagi dari jam 10 pagi.
Setiap hari seperti itu sampai tanggal tes pun aku pikir setelah berpamitan dan meminta restu ayah ku bisa mengantarkan ku namun ternyata ada tugas yang lebih penting, aku harus mengalah lagi meskipun sedih rasanya tapi inilah aku dan duniaku, sesampainya dibandar lampung, saya di tolak maxim 2x dengan alasan tujuan terlalu jauh, tapi meskipun gitu akhirnya aku mendapatkan 1 maxim. Dan besoknya ketika ke lokasi tes banyak sekali orang tua yang menemani anaknya, menahan tangis melihat sekeliling dan pada saat ibuku menelpon untuk tetap semangat.
Tes pun dimulai rasa pesimis ada karena merasa belajar belum maksimal hanya mengandalkan waktu subuh dan waktu istirahat di tempat kerja dalam mengerjakan Try Out, untuk les pun biaya tidak ada dan hanya mencari pemahaman belajar melalui chanel gratis. After UTBK rasanya takut banget, takut gagal dan takut ga bisa kuliah, tapi di balik itu aku percaya ketika orang tua sudah merestui dan mendoakan, pasti jalur langit akan berpihak pada kita.
Setelah utbk selesai aku kembali ke kabupaten ku, menjalani hidup dengan bekerja. Hari demi hari berlalu, ibuku
berkata ““jika tanggal 25 kamu lolos snbt, itu kado terbaik mamah”, mendengar perkataan tersebut aku merasa harus berjuang lebih untuk membahagiakan orang tuaku, aku mencari berbagai beasiswa kuliah mulai dari swasta dan negeri, mencari loker dan terus mencari informasi yang bisa memberikan ketenangan.
Akhirnya aku mendapatkan pengumuman dari “ ITSB & President University, bahwa aku lolos mendapatkan beasiswa” namun ternyata orang tua ku tidak berani melepasku sejauh itu dan bahkan untuk biaya hidup pun belum bisa dicover, di fase ini aku merasa benar-benar hilang, hilang rasa untuk bahagia dan hanya berpikir bagaimana caranya untuk sukses. Pada saat tanggal 11 Mei ternyata aku di umum kan sebagai Best Student di SMA ku uang cukup membuat orang tua ku tersenyum lagi dan tepat sebelum pengumuman aku ingin meminta doa kepada orang-orang sekitarku
supaya jalanku di perlancar dan dipermudah dengan membagikan sedikit rezeki untuk mereka sesuai dengan angka “25”.
Dan tiba hati yang dinanti, tepat pukul 15.00 ibuku berkata ““jika lolos langsung beri tau aku ya” dia menelpon ku dan aku bilang bahwa aku akan membuka nya setelah dhika t ashar, disini aku langsung izin break sebentar untuk menenangkan diri dan setelah sholat, alhamdulillah berkat doa dan kuasa dari Allah, aku lolos di universitas impian orang tua ku.
Orang tua ku sangat bahagia dan senang sekali, setelah perdebatan panjang dan setelah proses panjang akhirnya aku bisa melanjutkan pendidikan.
Babak Yang Akan Dimulai
“terkadang kita hanya butuh waktu untuk memahami situasi apa yang sedang kita hadapi”
maki belajar banyak hal dalam pendewasaan ini, mulai dari emosional, kesedihan hingga kekhawatiran uang selalu ada di pikiran. namun hari ini, selesai 1 babak dan akan dimulai banyak baru uang lebih rumit dan lebih indah untuk mengukir masa depan.
