Muhammad Kahfi
Jurnalistik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Ini Arahnya Kemana?
Saya Muhammad Kahfi. Ini adalah kisah perjalanan saya bagaimana seorang anak SMK yang sempat dihantui ketakutan akan masa depan, akhirnya mampu melangkah pasti menuju bangku Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
Semua bermula di kelas 10 Layaknya anak SMK pada umumnya orientasi saya saat itu hanya satu lulus dan langsung bekerja. Namun, roda waktu berputar. Saat duduk di bangku kelas 11, sebuah tamparan realitas menghampiri lewat berita di media sosial. Saya membaca bahwa angka pengangguran di Indonesia justru didominasi oleh lulusan SMK. Seketika, pikiran saya berkecamuk. Pikiran cemas mulai menghantui setiap malam: “Apakah saya akan bernasib sama? Ke mana arah tujuan saya setelah ini? Bekerja atau kuliah?”
Di Tengah kegelisahan itu saya menemui guru di sekolah. Lalu saya bertanya "Pak setelah lulus nanti sebaiknya saya langsung bekerja atau kuliah?". jawaban beliau justru melemparkan kembali kendali itu kepada saya, "Terserah kamu. Kamu yang memegang kemudi arah hidupmu." Jawaban itu sempat membuat saya makin bingung. Akhirnya, saya berdiskusi dengan orang tua. Di sanalah saya menemukan titik terang. Beliau menyampaikan bahwa melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah adalah langkah terbaik yang bisa saya ambil.
Restu orang tua menjadi bahan bakar baru. Keputusan saya bulat saya harus kuliah. Orang tua mengizinkan saya berkuliah di Jakarta dengan tiga opsi ptn yaitu Universitas Negeri Jakarta, Universitas Veteran Jakarta, atau Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Sebagai anak SMK saya sadar diri. Banyak PTN yang secara tidak langsung lebih memprioritaskan lulusan SMA. Oleh karena itu, saya melakukan riset mendalam untuk mencari kampus yang memiliki tingkat keketatan yang realistis bagi peluang saya.
Pilihan akhirnya jatuh pada Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, dan saya langsung jatuh cinta dengan kampus tersebut. Namun, jatuh cinta saja tidak cukup; saya harus memantaskan diri. Saat itu, nilai rapor saya masih di bawah rata-rata. Saya pun memacu diri untuk mengejar ketertinggalan. Perjuangan itu membuahkan hasil. Sejak semester tiga hingga akhir, saya berhasil mempertahankan posisi 3 besar di kelas.
Puncaknya terjadi di semester 5 saat pengumuman siswa eligible. Jantung saya berdegup kencang melihat nama saya bertengger di peringkat ke-3 paralel dengan nilai rata-rata 90-an. Kesempatan emas itu tidak saya sia-siakan; saya mantap memilih Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Hari-hari setelahnya penuh dengan doa yang tidak putus dan tentunya harapan.
Hingga akhirnya, hari pengumuman tiba. Saat melihat warna biru yang menyatakan saya DITERIMA, seluruh beban di pundak saya rasanya lega seketika. Saya langsung melakukan sujud syukur, menangis penuh terima kasih kepada Allah SWT, orang tua, dan guru-guru saya.
Di sekolah banyak guru guru yang memberikan ucapan selamat. Karena dari seluruh siswa, hanya saya satu-satunya yang berhasil menembus PTN tahun itu. Kepala sekolah dan para guru sangat bangga, sebab selama tiga tahun terakhir, tidak ada satu pun alumni dari SMK kami yang lolos karena notabene bukan sekolah Top 1000 yang berhasil lolos ke PTN. Perjuangan yang saya mulai dari ruang kelas 11 yang penuh keraguan itu, akhirnya membawa saya berdiri di atas podium kelulusan sebagai lulusan terbaik sekaligus pembicara. Status SMK bukanlah batasan, melainkan tantangan untuk membuktikan bahwa kita juga bisa bersinar.
