Berdiri di Antara Hujan dan Harapan

Kisah Mahasiswi Tanpa Beasiswa yang Menolak Menyerah

Dulu, kuliah itu rasanya seperti sesuatu yang belum pasti bisa aku raih. Aku lahir dan tumbuh di keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah — bukan serba kekurangan, tapi juga tidak berlebih. Setiap kali ada pembicaraan soal masa depan, satu pertanyaan selalu muncul di kepalaku sendiri: dengan kondisi seperti ini, apakah aku benar-benar bisa kuliah sampai selesai?

Tapi nyatanya, aku di sini sekarang — sebagai mahasiswi Komunikasi Penyiaran Islam di UIN Imam Bonjol Padang, yang baru saja berada di penghujung semester dua. Bukan karena beasiswa, karena sampai hari ini pun aku belum pernah mendapatkannya. Bukan juga karena semuanya berjalan mulus. Aku di sini karena aku memilih untuk tetap melangkah, walau dengan langkah yang harus diatur sedemikian rupa agar tetap seimbang.

Hidupku sebagai anak kost cukup sederhana. Dalam seminggu, aku biasa dikasih sekitar dua ratus lima puluh sampai tiga ratus ribu rupiah untuk semua kebutuhan. Tapi ada minggu-minggu tertentu, biasanya saat hujan turun terus-menerus dan rezeki di rumah ikut seret, jumlah itu menyusut jadi seratus lima puluh ribu saja. Untuk kebutuhan dasar sehari-hari, alhamdulillah masih bisa terpenuhi. Tapi kepala ini sering pusing sendiri kalau harus menghitung ongkos ojek yang kadang terasa mahal, beli sambal atau lauk tambahan, uang jajan di kampus, sampai token listrik yang tiba-tiba “bunyi” minta diisi ulang. Soal kosmetik atau barang yang sedikit mahal pun harus menabung pelan-pelan dulu, tidak bisa asal beli — setiap keinginan harus dipikirkan dua kali: ini perlu, atau hanya ingin? Beberapa kali, uang kost juga sempat telat dibayar, dan rasa tidak nyaman saat menjelaskannya ke ibu kost itu nyata. Tapi soal mengatur keuangan, kadang ayah suka berkata, “Kak, jangan boros.” Padahal kalau dipikir-pikir, aku sendiri bingung, hal apa sebenarnya yang aku boroskan? Karena yang sering aku rasakan justru sebaliknya — aku lebih sering kekurangan dalam hal materi, daripada boros dalam hal perasaan.

Selain urusan keuangan, ada beban lain yang aku bawa sendiri di pundak: sebuah harapan besar dari orang tua dan keluarga, bahwa aku harus lulus tepat waktu. Aku masih ingat bagaimana keluarga sering menjadikan pengalaman sepupuku sebagai pengingat — beliau baru menyelesaikan kuliahnya di tahun kesembilan. Tidak ada yang menyalahkannya, tapi dari sana keluargaku berharap aku tidak mengulang jalan yang sama panjangnya. Harapan itu menjadi semacam kompas yang selalu aku bawa, sekaligus juga beban yang harus aku jaga agar tidak luntur di tengah jalan.

Karena itulah, satu amanah selalu terngiang di kepalaku: IPK tidak boleh di bawah 3,5 selama aku kuliah, dan aku harus lulus sesuai waktu yang seharusnya. Tugas kuliah yang datang bertubi-tubi menjelang akhir semester, tanggung jawab di organisasi, ditambah target itu, membuat aku harus pintar membagi diri. Di tengah semua itu, semester ini untuk pertama kalinya aku dipercaya menjadi koordinator — bahkan sampai empat kali dalam satu semester, padahal semasa sekolah aku tidak pernah sekali pun ikut OSIS.

Dari semua peran koordinator itu, ada satu yang benar-benar menguji diriku sampai ke titik dilema yang dalam: menjadi koordinator untuk sebuah acara besar di kampus, yang justru akan dilaksanakan saat libur semester nanti. Ketika teman-teman lain bersiap pulang kampung dan beristirahat, aku masih harus memutar otak menyiapkan acara itu. Posisi itu jauh lebih rumit dari yang aku bayangkan. Kalau aku terlalu berani bicara, aku bisa kena tegur dosen karena dianggap lancang. Kalau aku terlalu vokal mengatur tim, ketua acara menegurku karena dianggap terlalu berisik. Tapi kalau aku terlalu lunak dan baik, anggota tim malah mengabaikan instruksiku. Dan kalau aku mencoba tegas serta keras, aku dianggap salah dari sisi yang lain lagi. Rasanya seperti berdiri di ruangan yang dindingnya bisa runtuh dari segala arah. Malam-malam tertentu aku sampai bertanya dalam hati, “Ya Allah, aku harus bersikap bagaimana lagi?”

Tapi justru dari titik dilema itulah aku belajar sesuatu yang tidak diajarkan di ruang kelas mana pun. Aku belajar bahwa menjadi pemimpin bukan soal menyenangkan semua orang sekaligus, karena itu mustahil. Aku belajar membaca situasi — kapan harus tegas, kapan harus melunak, dan kapan cukup diam. Aku belajar bahwa semua orang punya kesibukan dan kepentingannya masing-masing, sama seperti aku, sehingga aku tidak bisa memaksakan kehendak sendiri kepada siapa pun. Dan aku belajar untuk tidak baperan — tidak semua hal berjalan sesuai harapan, tidak semua orang berkontribusi dengan cara yang sama, tapi tugasku adalah tetap fokus menyelesaikan bagianku dengan sebaik-baiknya, sekalipun waktu liburku sendiri harus dikorbankan.

Ada hari-hari di mana aku duduk sendirian di kamar kost, menatap tugas akhir semester yang menumpuk, sementara isi dompet menipis dan pikiran dipenuhi banyak hal sekaligus — dari ujian, dari tanggung jawab organisasi, dari dilema sebagai koordinator, dan dari harapan keluarga agar aku lulus tepat waktu. Di momen seperti itu, rasa ragu sesekali datang menyapa. Tapi setiap kali itu terjadi, aku selalu bertanya pada diriku sendiri: kalau bukan sekarang aku berjuang dan belajar, kapan lagi aku punya kesempatan seperti ini?

Di tengah semua tekanan itu, aku juga menyadari satu hal: kuliah ternyata tidak hanya menguji kepintaran, keuangan, atau strategi dalam memimpin dan berorganisasi, tapi juga menguji rasa kemanusiaan dalam diri sendiri — bagaimana tetap peduli, tetap berkarya, di tengah keterbatasan yang ada. Dan di semester yang penuh tantangan ini, aku bersyukur masih diberi kesempatan untuk berkarya lebih jauh. Sebagai salah satu Duta Inisiatif Indonesia, aku berhasil menerbitkan tujuh buku Puisi dari berbagai instansi dalam satu semester ini saja. Pencapaian itu menjadi pengingat bagiku, bahwa di tengah dompet yang menipis dan kepala yang penuh tanggung jawab, aku tetap bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat — bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya, justru bisa menjadi bahan bakar untuk terus produktif.

Kadang, ketika rasa lelah itu memuncak, aku mengeluh sebentar kepada teman dekat. Tapi tidak jarang jawaban yang aku dapatkan justru membuatku tersadar: “Aku juga sama, pusing, kok. Bukan cuma kamu aja.” Jawaban sederhana itu mengingatkanku bahwa aku tidak sendirian menghadapi tekanan seperti ini — semua orang punya bebannya masing-masing, hanya bentuknya yang berbeda. Dari situ aku belajar untuk tidak terlalu lama tenggelam dalam keluhan, dan kembali fokus mencari jalan keluar, karena pada akhirnya semua orang sedang berjuang dengan cara dan porsi masing-masing.

Aku juga menyadari, tidak semua orang benar-benar memahami diriku seutuhnya. Aku ini orangnya ceroboh, blak-blakan, terlalu ambisius, keras kepala, dan kadang agak konyol — isi kepalaku sendiri kadang tidak bisa dipahami oleh teman-teman di sekitarku. Tapi di balik itu, aku bersyukur diberi fisik yang kuat dan tidak mudah sakit, juga keberanian yang kadang membuatku tidak banyak berpikir soal jarak atau status. Aku pernah dengan santainya menjewer telinga seorang senior yang menjabat sebagai pimpinan tertinggi di fakultas, saat kami bersama-sama turun ke lokasi bencana alam di daerah Malalak, Limau Badak, dan Toboh Gadang. Bagiku, pertemanan tidak harus dibatasi oleh jabatan atau senioritas — begitu juga hubunganku dengan pimpinan fakultas di periode sekarang, dengan presiden mahasiswa periode sebelumnya, maupun dengan direktur DKTV baik di periode lalu maupun sekarang. Semuanya aku jalani sebagai pertemanan yang setara, tanpa sekat yang kaku.

Tapi di balik semua keberanian dan kedekatan itu, aku juga pernah merasakan kegagalan. Aku sempat mencoba menjadi fungsional di DKTV, namun gagal di seleksi akhir. Rasanya tidak mudah menerima kenyataan itu, terutama karena aku sudah berusaha sejauh yang aku bisa. Tapi meskipun gagal menjadi bagian resmi di dalamnya, aku tetap berteman baik dengan semua anak DKTV, tanpa ada rasa canggung atau jarak di antara kami. Bagiku, kegagalan dalam seleksi tidak harus memutus hubungan baik yang sudah terjalin. Dari kegagalan itu aku belajar, bahwa tidak semua hal yang aku perjuangkan akan berakhir dengan hasil yang aku inginkan, dan itu tidak menjadikanku gagal sebagai pribadi — hanya berarti ada jalan lain yang sedang menungguku.

Aku percaya, kuliah bukan hanya soal mengejar gelar. Bagiku, kuliah adalah cara untuk membuktikan bahwa keterbatasan finansial dan beban yang menumpuk tidak berhak menentukan sejauh mana seseorang boleh bertumbuh. Setiap kali aku berhasil menyelesaikan satu tugas di tengah kondisi yang serba diperhitungkan, setiap kali aku tetap berdiri dan mengambil keputusan walau berada di posisi yang serba salah, aku merasa sedang memenangkan pertarungan kecil yang tidak terlihat oleh orang lain — sembari terus menjaga langkah agar tetap berada di jalur yang diharapkan keluargaku: lulus tepat waktu, dengan hasil yang baik.

Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam yang aku pilih juga mengajarkanku banyak hal — bagaimana menyampaikan pesan kebaikan, bagaimana sebuah cerita bisa menjadi cahaya bagi orang lain, dan bagaimana mengelola diri sendiri saat bekerja dan memimpin bersama orang lain. Mungkin perjuanganku sendiri inilah pesan yang ingin aku sampaikan: bahwa hidup sederhana, beban yang banyak, dan posisi yang serba dilematis bukan penghalang untuk terus bertumbuh, melainkan tempat di mana ketahanan, kedewasaan, dan keyakinan ditempa.

Aku belum tahu kapan semua proses ini akan benar-benar selesai. Bahkan saat semester dua ini berakhir, perjuangan belum sepenuhnya usai, karena acara besar itu masih menungguku di hari-hari libur nanti. Tapi aku tahu satu hal pasti — aku tidak ingin berhenti berjuang, dan aku ingin membuktikan bahwa aku bisa lulus tepat waktu, sesuai harapan orang tua dan keluarga. Karena pada akhirnya, kisah ini bukan tentang seberapa besar uang yang aku punya atau seberapa banyak tanggung jawab yang aku pikul, tapi tentang seberapa besar aku percaya bahwa aku layak untuk terus melangkah, sejauh dan setekun apa pun jalannya, sampai pada akhirnya aku bisa berdiri di hari kelulusan dengan kepala tegak.

Jika hari ini aku masih berdiri di penghujung semester, di antara tugas akhir dan tanggung jawab acara, di antara tegas dan lunak yang sama-sama berisiko disalahkan, aku ingin percaya bahwa suatu hari nanti, perjuangan ini akan membawaku ke tempat yang lebih baik — bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi juga untuk siapa pun yang sedang berjuang dalam diam seperti aku.

Tinggalkan Komentar