BUKAN KAMPUS YANG MENGUBAH MIMPIKU, MELAINKAN IBU
Jujur, saya tidak tahu harus mulai dari mana.
Sudah berkali-kali saya coba tulis kisah ini, tapi selalu terasa kurang pas. Entah terlalu dramatis, atau malah terlalu datar. Sampai akhirnya saya sadar mungkin memang begini caranya. Apa adanya saja.
Ini bukan kisah tentang seseorang yang berhasil masuk kampus impiannya. Ini kisah tentang seseorang yang tidak berhasil dan justru karena itulah hidupnya berubah.
Waktu SMA, satu nama kampus itu terus muncul di kepala saya setiap kali belajar: Teknik Informatika, Universitas Airlangga. Bukan karena tekanan atau karena teman-teman juga mendaftarkan diri ke sana. Tapi karena dari dulu saya memang suka ngulik hal-hal yang berbau teknologi. Penasaran kenapa sebuah aplikasi bisa membantu begitu banyak orang. Dari rasa penasaran itu saya mulai belajar coding sendiri, otodidak, dari tutorial yang saya tonton malam-malam.
Pelan-pelan terbentuk sebuah gambaran di kepala saya: suatu hari menjadi AI Engineer. Bikin teknologi yang beneran berguna. Dan Unair, di mata saya waktu itu, adalah gerbang menuju gambaran itu.
Maka saya belajar. Beneran belajar, bukan sekadar buka buku lalu tidur.
Waktu SNBP diumumkan dan nama saya tidak ada di daftar, saya bilang ke diri sendiri: "Tenang. Masih ada SNBT." Malah dari situ saya makin serius. Bukan hanya soal mimpi — ada alasan lain yang lebih berat. Saya sadar kondisi keluarga kami tidak mudah. Orang tua harus mikirin banyak hal sekaligus, termasuk biaya pendidikan adik saya. Saya ingin kuliah tanpa menambah beban itu.
Hari pengumuman SNBT, saya pilih buka sendiri. Di kamar. Pintu ditutup.
Tangan saya gemetar waktu tekan tombol "Lihat Hasil". Entah kenapa beberapa detik itu terasa lama banget.
"Anda dinyatakan tidak lulus."
Saya diam.
Saya refresh halaman itu beberapa kali. Siapa tahu sistemnya error, pikir saya. Tapi hasilnya tetap sama. Mata mulai panas. Bukan cuma karena gagal tapi karena saya merasa sudah gagal meringankan sesuatu yang harusnya bisa saya bantu.
Saya tidak cerita ke siapa pun malam itu. Hanya duduk di tepi kasur, menatap layar yang sudah mati.
Tapi ibu saya masuk kamar.
Beliau tidak tanya apa-apa. Beliau cuma duduk di sebelah saya. Diam sebentar. Lalu bilang pelan:
"Kamu jangan terlalu mikirain biaya kuliah. Yang penting kuliahnya bener, sukses. Kalau udah sukses, bantu adikmu."
Hanya itu.
Tapi saya tidak bisa berhenti memikirkan kalimat itu sampai sekarang.
Ibu saya tidak ngerti coding. Tidak paham apa itu algoritma atau machine learning yang sering saya ceritakan dengan semangat. Tapi beliau tahu tanpa perlu saya jelaskan apa yang sedang saya butuhkan malam itu. Bukan solusi. Bukan motivasi dari buku self-help. Hanya… seseorang yang duduk di sebelah saya dan bilang bahwa semuanya masih bisa baik-baik saja.
Malam itu saya buat janji ke diri sendiri: kegagalan ini tidak akan jadi akhir dari cerita.
Ada satu hal yang jarang saya ceritakan. Setelah lulus SMA, sebetulnya saya sempat pengen jadi anggota Polri. Serius. Tapi waktu itu usia saya baru 16 tahun — belum memenuhi syarat umur. Daripada nunggu tanpa kejelasan, ibu bilang kuliah dulu saja.
Nasihat itu yang akhirnya bawa saya ke sini: Program Studi Teknik Sipil, UPN Veteran Jawa Timur, masuk lewat jalur mandiri.
Jujur, waktu pertama tahu di mana saya diterima, ada campur aduk yang susah saya jelaskan. Teknik Sipil? Saya yang dari dulu kepingin ngoding dan bikin AI?
Tapi lama-lama saya berhenti bertanya-tanya. Yang berubah cuma jalannya. Tujuan saya tidak kemana-mana.
Buktinya, saya ikut Program Beasiswa Coding Camp, jalur AI Engineer. Di sana saya ketemu lagi sama hal-hal yang sudah lama saya kangenin logika pemrograman, kecerdasan buatan, cara mikir berbasis data. Tiap sesi terasa seperti pengingat bahwa mimpi saya belum mati, cuma sempat tidur sebentar.
Dan di Teknik Sipil sendiri, saya nemu sesuatu yang nggak pernah saya bayangkan: dunia konstruksi modern itu sudah pakai teknologi di mana-mana. BIM, digitalisasi, analisis data struktural semua ada. Dari situ muncul sebuah pikiran yang nggak bisa saya abaikan — dan ini mungkin kedengarannya agak aneh — apa jadinya kalau ilmu bangunan dan kecerdasan buatan itu bisa jalan berdampingan? Saya tidak tahu apakah itu realistis. Tapi saya tidak bisa berhenti memikirkannya.
Saya belum sampai ke tujuan itu. Masih banyak yang harus dipelajari. Masih sering ada momen di mana saya ngerasa belum cukup. Masih banyak yang belum selesai, jujur. Ada hutang yang susah saya ukur nilainya buat bapak dan ibu yang nggak pernah sekalipun complain soal biaya. Buat adik yang saya harap jalannya nanti nggak serusuh punya saya.
Tapi satu hal yang sekarang saya yakini lebih dari sebelumnya:
Yang mengubah arah hidup saya bukan kegagalan itu sendiri.
Yang mengubah saya adalah satu kalimat pendek dari ibu — di malam yang paling berat yang pernah saya lalui yang membuat saya mau berdiri lagi dan coba sekali lagi.
Saya memang tidak pakai almamater yang dulu saya impikan.
Tapi mimpi itu masih ada. Masih hidup. Dan saya masih terus mengejarnya.
Karena pada akhirnya kampus mengajarkan ilmu. Tapi ibu yang mengajarkan saya artinya untuk tidak berhenti.
