KISAH PERJUANGAN MERAIH KAMPUS IMPIAN: EMPAT KALI GAGAL, SATU KALI CUKUP
Saat SMA, aku memiliki satu mimpi yang cukup besar yakni untuk masuk jurusan Aktuaria di UGM. Entah dari mana asalnya, tapi angka dan perhitungan selalu terasa menarik, dan jurusan itu seperti puncak dari semua yang aku bayangkan. Tapi di suatu titik, setelah aku duduk sendiri dan benar-benar jujur dengan diri sendiri, aku sadar bahwa mimpi itu mungkin bukan tempatku. Bukan karena menyerah, tapi karena aku menemukan sesuatu yang terasa lebih pas: aku ingin jadi guru. Bukan sekadar mengerjakan angka, tapi berbagi ilmu, berdiri di depan kelas, dan melihat orang lain paham karena penjelasanku. Dari situ, pilihanku jatuh ke Pendidikan IPA di Universitas Negeri Yogyakarta.
Tapi jalan ke sana tidak mudah, dan perjalananku mencari kampus impian ternyata lebih panjang dari yang aku bayangkan. Aku sempat mendaftar STAN juga. Latihan fisik sudah aku persiapkan dengan serius, kondisi badan sudah siap. Tapi gugur di administrasi karena skor UTBK-ku kurang dua poin dari batas minimum. Dua poin. Rasanya nyesek bukan main, bukan karena aku tidak siap, tapi justru karena aku merasa sudah cukup siap di semua hal kecuali di angka yang paling kecil itu.
Lalu aku tidak lolos SNBP. Tidak lolos SNBT. Tidak lolos jalur skor UTBK. Kalau dihitung, itu berkali-kali ketidaklolosanku dalam satu musim penerimaan mahasiswa baru, dan setiap kali itu terasa seperti pukulan yang harus aku terima sambil tetap berdiri.
Bukan soal kegagalannya yang paling berat. Justru kondisi di sekitarku waktu itulah yang membuat segalanya terasa lebih berat dari biasanya. Saat aku sedang mempersiapkan jalur terakhir, jalur mandiri CBT domisili, ayahku jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Hari-hariku waktu itu terbagi dua: pagi mengurus ayah, sore pulang, malam buka buku. Ada momen di mana aku duduk di depan soal latihan dengan kepala penuh pikiran lain, bertanya-tanya apakah semuanya akan baik-baik saja, baik ayah maupun usahaku sendiri.
Tapi justru di titik itu sesuatu bergeser dalam diriku. Aku tidak lagi belajar hanya karena ingin masuk UNY. Aku belajar karena ingin membuktikan kepada diri sendiri bahwa aku bisa bertahan di tengah kondisi yang tidak ideal sekalipun.
Ketika pengumuman CBT domisili keluar dan namaku ada di sana, aku menangis. Bukan karena dramatis, tapi karena di balik satu baris nama itu ada cerita yang panjang. Ada ayah yang sedang berjuang di rumah sakit. Ada ibu yang tidak pernah berhenti mendoakan. Ada aku yang hampir habis tapi memilih untuk tidak berhenti.
Menjadi mahasiswi baru di UNY membuka banyak hal yang tidak aku duga sebelumnya. Salah satu yang pertama kali menarik perhatianku adalah sosok mahasiswa berprestasi tingkat universitas. Waktu maba, aku melihat mereka, mendengar cerita perjalanan mereka, dan ada satu kalimat yang aku bisikkan diam-diam kepada diri sendiri: aku juga mau.
Itu bukan sekadar kalimat yang lewat begitu saja. Aku menjadikannya komitmen yang aku pegang dari semester pertama. Aku mulai aktif di organisasi, terlibat dalam kepanitiaan, bahkan mencoba hal-hal yang dulu terasa jauh dari zona nyamanku. Termasuk berdiri di depan mikrofon sebagai MC di acara-acara departemen. Jujur, deg-degan itu nyata, apalagi waktu pertama kali memandu ospek mahasiswa baru. Tapi dari situ aku belajar bahwa keberanian itu bukan soal tidak takut, melainkan soal tetap melangkah meskipun takut. Di luar itu, aku juga aktif mengikuti berbagai kompetisi dan program mahasiswa tingkat nasional. Di sisi akademik, aku tetap jaga ritme belajar dan tidak membiarkan keaktifan di luar kelas jadi alasan untuk kendur di dalam kelas.
Dua tahun berturut-turut, aku berhasil menjadi Mahasiswi Berprestasi UNY. Waktu pertama kali dapat gelar itu, rasanya campur aduk antara haru, lega, dan tidak percaya. Waktu kedua kalinya, aku merasa sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang lebih tenang tapi lebih dalam, semacam rasa bahwa apa yang dulu aku bisikkan kepada diri sendiri sewaktu maba ternyata bukan sekadar harapan kosong.
Kini, saat aku menengok ke belakang, aku tidak melihat perjuangan sebagai beban yang dulu aku tanggung. Aku melihatnya sebagai investasi, investasi pada diri sendiri yang tidak pernah sia-sia. Karena setiap malam panjang yang aku habiskan dengan buku-buku itu, setiap kali aku hampir menyerah tapi memilih untuk tetap duduk dan mencoba lagi, semuanya membentuk siapa aku sekarang.
Kepada siapa pun yang sedang di titik yang dulu pernah aku berada, yang memegang hasil tryout dengan tangan gemetar, yang ragu apakah kampus impian itu sungguh-sungguh bisa menjadi miliknya, aku ingin bilang bahwa “mimpi yang baik memang terasa berat sebelum jadi kenyataan. Tapi bukan berarti ia mustahil. Ia hanya sedang menunggu kamu yang cukup gigih untuk menjemputnya.”
Kampus impian bukan hadiah yang jatuh begitu saja. Ia adalah hasil dari ribuan pilihan kecil, memilih untuk tidak menyerah, memilih untuk terus belajar, memilih untuk percaya bahwa usahamu layak mendapat tempat. Dan ketika kamu akhirnya tiba di sana, kamu akan tahu bahwa semua perjuangan itu bukan sia-sia. Itu adalah bagian dari kisahmu, kisah yang hanya bisa ditulis oleh kamu sendiri.
Penulis: Dewi Indah Mustika mahasiswi S1-Pendidikan IPA FMIPA UNY
