“Kisahku, Inspirasiku”
Oleh: Anastasya Miracle Mamentu
“Janganlah takut mencoba sesuatu yang baru, tetapi takutlah kehilangan kesempatan untuk mencoba sesuatu yang baru”. Kalimat ini selalu menjadi prinsip kehidupan saya dan menjadi sebuah pengingat ketika saya takut untuk mencoba hal-hal yang baru. Inilah saya Anastasya Miracle Mamentu merupakan anak kedua dari dua bersaudara, yang memiliki semangat dan tekad yang besar untuk meraih segala harapan dan impian saya dalam pendidikan. Menurut Paus Fransiskus “Pendidikan yang sejati tidak hanya berfokus pada pengetahuan, tetapi harus menyatukan pemikiran, perasaan, dan tindakan melalui integrasi bahasa kepala, hati, dan tangan sehingga seseorang berkembang secara utuh.” Kutipan ini diungkapkan oleh Paus Francis ketika menyambut Presiden dan Dewan Pengawas Universitas Notre Dame di Vatikan pada 1 Februari 2024. Dalam pernyataannya, beliau menjabarkan tiga aspek pendidikan, yaitu pikiran (head), perasaan (heart), dan tindakan (hands) yang perlu bersinergi untuk membentuk individu yang utuh. Kalimat tersebut membuat saya lebih mengerti akan makna dari pendidikan itu sendiri. Sedari kecil kedua orang tua saya selalu mengajarkan banyak hal dalam kehidupan saya dan salah satunya adalah sebuah keberanian. Saya menyadari bahwa memiliki sebuah keberanian merupakan sebuah anugerah dari Tuhan kepada setiap manusia.
Saat ini saya tengah menjadi mahasiswa Universitas Indonesia Jurusan Ilmu Keperawatan menuju semester 3. Sampai saat ini saya begitu tidak menyangka bahwa saya bisa sampai di titik ini yang dari dulu selalu saya doakan. Tentunya proses memasuki perguruan tinggi ini banyak sekali rintangan, masalah, dan pergumulan yang saya rasakan bersama keluarga saya. Sejak kelas 2 SMK, saya sudah membuat rencana persiapan saya untuk memasuki Universitas Indonesia ketika saya lulus nanti. Pada masa SMK, saya diberikan kepercayaan untuk mengikuti berbagai lomba, yaitu cerdas cermat kesehatan, berpidato, berpuisi, dan masih banyak lagi. Salah satunya adalah lomba FLS2N menyanyi solo, yang merupakan hobi saya juga yaitu menyanyi. Kepercayaan diri dan mental saya diuji ketika mengikuti lomba tersebut, karena dua tahun pertama saya gagal sebanyak dua kali di lomba FLS2N. Namun, selain saya mengikuti lomba, saya tetap mempertahankan nilai akademik saya agar tetap baik dan meningkat karena itu adalah hal yang penting dan sangat dibutuhkan untuk pendaftaran perguruan tinggi melalui jalur SNBP.
Menjelang pendaftaran SNBP, orang tua saya sudah mempersiapkan diri untuk mendaftarkan saya ke kampus swasta yang ada di domisili saya, yaitu Kota Manado. Namun saya berkali-kali menolak karena saya sangat ingin masuk Universitas Indonesia melalui jalur SNBP. Setiap harinya orang tua saya selalu menanyakan “Kamu sudah pikir mau kuliah di mana?” dan saya selalu terdiam saat orang tua saya mempertanyakan hal tersebut. Pada saat pendaftaran SNBP saya mendaftarkan diri secara diam-diam tanpa sepengetahuan kedua orang tua saya. Namun perlahan orang tua saya mengetahui bahwa saya sudah mendaftar SNPB tetapi sayangnya mereka selalu tidak mendukung pilihan saya, dan mereka selalu mengatakan berkali-kali bahwa lebih baik berkuliah di sini saja tidak perlu ke tempat yang jauh untuk berkuliah. Saya sangat memahami kekhawatiran dari orang tua saya untuk menjadi anak rantau nantinya. Namun selain kekhawatiran mereka saya juga mengetahui keadaan finansial kedua orang tua saya saat itu yang sedang tidak baik-baik saja. Setiap harinya saya selalu berpikir dan bertanya “Bisa nggak yah aku kuliah di UI? Bisa nggak yah aku lolos SNBP nanti? Pertanyaan itu selalu berputar dalam pikiran saya saat saya menunggu hasil pengumuman SNBP itu. Setiap harinya saya selalu menyelipkan doa-doa saya agar diberikan kesempatan untuk lolos seleksi, dipermudah, dan selalu meminta kepada Tuhan untuk meluluhkan hati orang tua saya. Tepat pada tanggal 18 Maret Tahun 2025 yaitu jadwal pengumuman SNBP, Puji Tuhan, saya sangat bersyukur atas lolosnya seleksi SNBP di Universitas Indonesia Jurusan Ilmu Keperawatan. Perasaan terharu, bahagia, dan bangga pada diri saya tercampur aduk saat itu, namun di sisi lain saya sedih apa yang harus saya katakan kepada orang tua saya atas hasil ini, karena saya mengetahui bahwa kedua orang tua saya pasti tidak menyetujui hal ini.
Akhirnya saya memberanikan diri untuk memberitahukan hasil seleksi saya kepada orang tua saya saat itu juga. Namun responnya tidak begitu terlihat bahagia akan hasil saya dan orang tua saya sempat berkata itu hanyalah sebuah editan yang dibuat oleh saya sendiri, dan saya sedikit tertawa membaca pesan itu namun saya menangis dan berpikir bagaimana caranya agar saya bisa meluluhkan hati orang tua saya. Hari demi hari saya lewati dengan perasaan kebingungan, harus menggunakan cara apalagi untuk meluluhkan hati kedua orang tua saya. Orang tua saya selalu meminta saya untuk mengundurkan diri saja karena orang tua saya takut jika mereka tidak mampu membiayai kuliah saya, karena orang tua saya memiliki tanggungan lain yang cukup besar. Perasaan sedih mendengarkan hal itu ada karena saya juga berpikir apakah nanti orang tua saya memiliki biaya untuk membayar keperluan kuliah nantinya. Saya sempat merasa bersalah akan diri saya sendiri yang mungkin tidak mengikuti perkataan kedua orang tua saya, namun di sisi lain saya sangat berharap untuk berkuliah di Universitas Indonesia. Keadaan finansial keluarga saat itu sangat buruk namun yang bisa saya lakukan saat itu hanyalah berdoa setiap hari, karena saya selalu percaya bahwa Tuhan senantiasa memiliki jalan untuk saya berkuliah dan membantu keadaan finansial keluarga saya serta meluluhkan hati kedua orang tua saya. Setiap hari saya menjalani hari dengan sangat berat karena saya dipenuhi oleh ketakutan dan kekhawatiran untuk biaya kuliah dan izin orang tua.
Berkat ketekunan doa saya, perlahan orang tua saya sudah mulai membantu saya untuk mempersiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan, pakaian yang akan saya gunakan saat saya tiba di Depok nanti, dan semuanya itu disiapkan oleh kedua orang tua saya. Menyadari hal itu, saya sangat bersyukur karena orang tua saya luluh dan mengizinkan saya untuk berkuliah di kampus yang selama ini saya doakan. Kedua orang tua saya bekerja keras untuk memenuhi biaya kuliah saya saat itu, saya sadar bahwa Tuhan Yang Maha Esa akan senantiasa mencukupi hidup saya ditengah ketakutan dan kekhawatiran saya akan masa depan. Saya sangat percaya bahwa kuasa doa dan ketekunan seseorang pasti tidak akan kembali dengan tangan yang kosong. Sampai saat ini saya masih sangat terharu bahwa saya bisa berkuliah di Universitas Indonesia dan sebentar lagi saya akan memasuki semester 3. Sudah 1 tahun saya menjalani kehidupan perkuliahan saya yang bisa dibilang berat, melelahkan tetapi inilah hasil doa-doa saya yang selalu saya langitkan kepada Tuhan.
Jadi, menurut saya, ketika kita memiliki harapan dan impian yang besar, janganlah takut untuk mencoba menggapai impian kita. Soal gagal atau tidak itu adalah hal yang tidak harus kita fokuskan sekarang, tetapi yang harus kita fokuskan adalah keberanian diri kita dan niat untuk mau berani memulai dan mencoba. Tetap percaya sesulit apa pun jalanmu, seberat apa pun bebanmu tetaplah setia pada tujuanmu dan teruslah berdoa untuk masa depanmu. Karena orang yang mau berusaha bekerja dan berdoa tidak akan kembali dengan tangan yang kosong.
Saya akan terus berkomitmen pada diri saya untuk memanfaatkan pendidikan saya dengan sebaik-baiknya, banyak belajar, mencari relasi dalam berbagai kegiatan dan menjadi pribadi yang jujur, bertanggung jawab serta berpendidikan. Saya akan terus berjuang untuk masa depan saya yang cerah untuk membantu para masyarakat di luar sana melalui profesi saya, yaitu sebagai seorang perawat.
Inilah kisahku dan inspirasiku. Terima Kasih.
REFERENSI
Pope Francis. (2024, February 1). Pope to Notre Dame University: Help students dream with head, heart, hands. Vatican News. Vatican News Article
