Di Balik Satu Tahun Penantian, Perjuangan Aku Menemukan Mimpiku
Sumber foto pribadi
"Terkadang Tuhan tidak mengubah tujuan kita. Ia hanya mengubah jalan yang harus kita tempuh untuk sampai ke sana."
Tidak pernah terbayang sebelumnya bahwa satu tahun dalam hidup saya akan mengubah cara pandang saya terhadap arti perjuangan. Ketika teman-teman seangkatan mulai mengenakan jaket almamater kampus impian mereka, saya justru berada di persimpangan jalan, mencoba menerima kenyataan bahwa impian yang telah saya perjuangkan selama bertahun-tahun belum juga menjadi kenyataan.
Namun, justru dari titik terendah itulah saya belajar bahwa setiap mimpi memiliki waktunya sendiri.
Semua berawal ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Suatu sore saya duduk sendirian di kamar. Mata saya menatap dinding yang dipenuhi berbagai poster, tetapi pikiran saya melayang jauh memikirkan masa depan. Saya mulai bertanya kepada diri sendiri, "Apa yang akan terjadi setelah lulus nanti?"
Sebagai anak laki-laki, saya merasa memiliki tanggung jawab yang besar. Saya ingin suatu hari nanti mampu mengangkat derajat keluarga dan membalas segala pengorbanan kedua orang tua saya.
Di tengah keheningan itu, saya teringat nasihat mama yang selalu beliau ulang sejak saya kecil.
"Belajarlah sungguh-sungguh supaya hidupmu lebih baik daripada orang tuamu."
Kalimat sederhana itu menjadi pengingat sekaligus penyemangat dalam setiap langkah yang saya ambil.
Sejak kelas X SMA, saya mulai mengubah kebiasaan. Saya berusaha mengerjakan setiap tugas dengan penuh tanggung jawab, aktif bertanya kepada guru ketika belum memahami materi, dan mempersiapkan diri sebaik mungkin menghadapi setiap ujian. Ketika rapor dibagikan, saya cukup terkejut melihat hasil yang saya peroleh. Nilai saya jauh lebih baik daripada yang saya bayangkan.
Saat saya menunjukkan rapor itu kepada orang tua, mereka hanya tersenyum sambil berkata, "Bagus, terus tingkatkan."
Dua kata sederhana itu justru menjadi motivasi terbesar saya untuk terus berkembang.
Memasuki kelas XI, saya mulai menyadari bahwa prestasi akademik saja tidak cukup. Dunia membutuhkan seseorang yang mampu bekerja sama, berkomunikasi, dan memimpin. Karena itulah saya memutuskan mengikuti seleksi Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).
Proses seleksi tersebut menjadi pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan. Selama masa pembekalan hingga kegiatan Persami, saya bersama teman-teman harus mengikuti berbagai tantangan yang menguji keberanian dan kerja sama. Salah satunya adalah berjalan melewati area pemakaman pada tengah malam untuk menyelesaikan sebuah misi.
Saat itu rasa takut benar-benar menguasai diri saya. Saya sempat ingin menyerah. Namun saya kembali mengingat alasan mengapa saya memulai semua ini. Saya ingin menjadi pribadi yang lebih kuat.
Saya terus melangkah.
Keesokan harinya saya resmi dilantik menjadi pengurus OSIS pada bidang informasi dan seni budaya. Di organisasi inilah saya belajar bahwa setiap orang memiliki karakter yang berbeda. Saya belajar mendengarkan, menghargai pendapat, menyelesaikan konflik, dan bekerja sama dalam berbagai kegiatan sekolah.
Pengalaman itu membuat saya semakin percaya bahwa relasi bukan sekadar mengenal banyak orang, melainkan tentang bertumbuh bersama orang lain.
Di tengah kesibukan organisasi, saya tetap menjaga prestasi akademik. Bahkan pada periode berikutnya saya dipercaya menjadi Wakil Ketua OSIS. Amanah tersebut mengajarkan saya arti kepemimpinan, disiplin, serta tanggung jawab yang jauh lebih besar.
Menjelang kelulusan SMA, saya mulai mencari informasi mengenai berbagai perguruan tinggi dan beasiswa. Saya memahami bahwa biaya kuliah bukanlah sesuatu yang ringan bagi keluarga saya. Saya mencari berbagai peluang, mulai dari Beasiswa Djarum, BCA, hingga berbagai beasiswa dari perguruan tinggi.
Namun kenyataan tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Saya sangat yakin bisa lolos melalui jalur SNBP karena berhasil masuk empat besar di angkatan. Saya percaya semua kerja keras selama tiga tahun akan membuahkan hasil.
Ternyata saya gagal.
Rasa kecewa sulit saya ungkapkan dengan kata-kata. Saya mulai mempertanyakan kemampuan diri sendiri. Semua usaha yang telah saya lakukan terasa sia-sia.
Meski demikian, saya memilih bangkit. Saya mendaftarkan diri pada jalur SNBT sambil terus belajar.
Di tengah masa penantian itu, kakak saya memperkenalkan saya pada Program Beasiswa FLATS dari Yayasan Kaki Dian Emas. Saya mencoba mendaftar tanpa memiliki ekspektasi yang tinggi. Seleksi demi seleksi saya jalani, mulai dari tes akademik, psikotes, pemeriksaan kesehatan, hingga wawancara.
Puji Tuhan, saya dinyatakan lolos.
Saya kemudian menjalani masa pelatihan di Lawang selama satu tahun. Saat itulah saya resmi menjadi seorang gap year.
Awalnya saya menganggap gap year sebagai kegagalan. Saya merasa tertinggal dibanding teman-teman yang sudah lebih dahulu kuliah.
Namun perlahan saya menyadari bahwa saya tidak sedang tertinggal. Saya hanya sedang dipersiapkan.
Selama pelatihan, saya dibentuk dalam tiga aspek utama, yaitu karakter, kerohanian, dan pendidikan. Saya belajar mengenai kedisiplinan, kepemimpinan, pengendalian diri, serta semakin mengenal Tuhan dalam setiap proses kehidupan. Selain itu, saya juga mengikuti bimbingan belajar sebagai persiapan menghadapi SNBT kembali.
Saya belajar satu hal yang sangat berharga.
Kegagalan tidak pernah benar-benar gagal apabila kita mau belajar darinya.
Hari pelaksanaan SNBT akhirnya tiba. Saya mengikuti ujian di Universitas Brawijaya dengan perasaan yang jauh lebih tenang dibanding tahun sebelumnya. Saya mengerjakan setiap soal sebaik mungkin, kemudian menyerahkan seluruh hasilnya kepada Tuhan.
Beberapa bulan kemudian, pengumuman yang saya nantikan akhirnya keluar.
Dengan tangan yang gemetar saya membuka hasil seleksi.
Saya dinyatakan lolos sebagai mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Hukum Universitas Negeri Surabaya.
Air mata saya tidak terbendung. Semua perjuangan selama bertahun-tahun akhirnya terbayarkan. Saya teringat setiap malam ketika belajar hingga larut, setiap doa yang dipanjatkan orang tua, setiap kegagalan yang sempat membuat saya ingin menyerah, dan satu tahun penantian yang ternyata bukan hukuman, melainkan proses pembentukan.
Hari ini saya percaya bahwa kampus impian bukanlah hadiah bagi mereka yang paling pintar, melainkan bagi mereka yang tidak berhenti berjuang ketika gagal.
Perjalanan saya mengajarkan bahwa nilai yang baik memang penting, organisasi membentuk karakter, relasi membuka kesempatan, tetapi ada satu hal yang jauh lebih penting: ketekunan untuk terus melangkah meski hasil belum sesuai harapan.
Kini saya menjadi mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Negeri Surabaya dengan rasa syukur yang mendalam. Saya ingin menggunakan pendidikan yang saya peroleh bukan hanya untuk membangun masa depan pribadi, tetapi juga untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
Bagi siapa pun yang sedang membaca tulisan ini dan mungkin sedang mengalami kegagalan, izinkan saya mengatakan satu hal.
Jangan menyerah hanya karena impianmu tertunda.
Kadang Tuhan tidak mengatakan "tidak", melainkan "belum."
Dan ketika waktu itu tiba, kita akan memahami bahwa setiap air mata, setiap doa, dan setiap perjuangan ternyata sedang menuntun kita menuju tempat yang memang telah dipersiapkan sejak awal.
Karena pada akhirnya, kampus impian bukan sekadar tempat untuk belajar. Kampus impian adalah hadiah bagi mereka yang tetap percaya, tetap berusaha, dan tetap berjalan, bahkan ketika jalannya terasa paling berat.
