Menghabiskan Jatah Gagal: Perjalanan Panjang Menggapai PTN Impian

"Setiap orang punya jatah gagal. Habiskan jatah gagalmu selagi muda." — Dahlan Iskan. Kalimat itulah yang menjadi pegangan saya selama fase mengejar PTN impian. Di saat kegagalan demi kegagalan datang menghampiri, saya memilih untuk percaya bahwa setiap kegagalan yang saya alami hanyalah bagian dari proses menuju keberhasilan.

Saat duduk di bangku kelas 12, saya sempat merasa bingung menentukan PTN dan program studi yang akan saya pilih. Sama seperti kebanyakan siswa lainnya, saya juga memiliki kampus impian, yaitu Universitas Airlangga dengan Program Studi Kesehatan Masyarakat. Saya tertarik pada jurusan tersebut karena ingin mempelajari bagaimana meningkatkan kesehatan masyarakat secara luas dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Namun, perjalanan menentukan pilihan tidak semudah yang saya bayangkan. Di tengah semangat untuk mengejar kampus impian, orang tua saya memiliki pandangan yang berbeda. Mereka tidak menyarankan saya untuk melanjutkan pendidikan di Surabaya. Dengan berbagai pertimbangan, mulai dari biaya hidup, hingga kenyamanan, orang tua lebih mengarahkan saya untuk berkuliah di Malang.

Perbedaan pandangan tersebut membuat saya berada dalam dilema. Di satu sisi, saya ingin memperjuangkan kampus impian yang telah lama saya idamkan. Di sisi lain, saya juga ingin menghargai dan mempertimbangkan masukan dari orang tua yang selalu menginginkan yang terbaik untuk masa depan saya. Dari situlah perjalanan saya dalam menentukan pilihan PTN yang tepat benar-benar dimulai.

Namun, di balik dilema tersebut, saya menyadari bahwa Malang juga menyimpan kampus impian yang tidak kalah menarik bagi saya. Kota pendidikan itu menjadi rumah bagi beberapa PTN ternama yang memiliki kualitas pendidikan yang sangat baik. Karena itu, perlahan saya mulai membuka diri untuk mempertimbangkan pilihan-pilihan yang ada di Malang. Meskipun awalnya hati saya tertuju pada kampus di Surabaya, saya percaya bahwa impian tidak selalu harus diwujudkan di tempat yang sejak awal kita bayangkan. Terkadang, jalan terbaik justru datang dari pilihan yang sebelumnya tidak pernah kita rencanakan.

Pada akhirnya, langkah saya berlabuh di Universitas Negeri Malang. Kampus inilah yang kemudian menjadi tujuan saya untuk melanjutkan perjalanan meraih mimpi. Meski bukan pilihan yang sejak awal saya bayangkan, saya percaya bahwa setiap perjalanan memiliki jalannya sendiri, dan mungkin inilah jalan terbaik yang telah dipersiapkan untuk saya.

Saat pengumuman siswa eligible diumumkan, saya merasa sangat bersyukur karena berhasil menjadi salah satu siswa yang masuk dalam pemeringkatan tersebut. Hasil itu menjadi buah dari usaha yang telah saya lakukan selama lima semester di bangku SMA. Dengan penuh harapan, saya mendaftarkan diri melalui jalur SNBP tahun 2024 ke Universitas Negeri Malang dengan pilihan Program Studi Kesehatan Masyarakat.

Saya menaruh harapan yang sangat besar pada jalur ini. Bagi saya, SNBP bukan hanya sekadar jalur seleksi, tetapi juga kesempatan untuk membuktikan bahwa kerja keras selama ini tidak sia-sia. Hari demi hari saya lalui dengan penuh rasa optimis sambil menunggu hasil pengumuman.

Namun, kenyataan tidak berjalan sesuai dengan harapan saya. Saat pengumuman hasil SNBP diumumkan, layar yang saya lihat justru menampilkan warna merah, tanda bahwa saya tidak lolos seleksi. Seketika perasaan kecewa, sedih, dan hampa bercampur menjadi satu. Itulah kegagalan pertama yang saya rasakan dalam perjalanan menuju PTN impian. Saya sempat berpikir bahwa seluruh usaha yang telah saya lakukan selama lima semester di SMA, mulai dari menjaga nilai, mengikuti berbagai kegiatan akademik, hingga mengorbankan waktu untuk belajar, berakhir sia-sia. Saat itu, saya merasa impian yang telah saya bangun sejak lama seakan runtuh dalam sekejap.

Gambar 1. Pengumuman SNBP 2024
(Sumber: Tangkapan layer laman resmi SNPMB, 2024.)

Meski demikian, setelah beberapa waktu merenung, saya mulai menyadari bahwa kegagalan tersebut bukanlah akhir dari segalanya. Justru kegagalan pertama itulah yang menjadi titik awal bagi saya untuk belajar bangkit dan melanjutkan perjuangan menuju impian yang masih menunggu untuk diwujudkan.

Setelah mengalami kegagalan pada jalur SNBP, saya memutuskan untuk kembali bangkit dan mencoba kesempatan berikutnya melalui jalur UTBK-SNBT. Saya menyadari bahwa masih ada peluang untuk mewujudkan impian masuk PTN, sehingga saya tidak ingin larut terlalu lama dalam kekecewaan.

Untuk mempersiapkan diri menghadapi UTBK, saya mulai menyusun strategi belajar yang lebih terarah. Saya mempelajari materi UTBK secara bertahap berdasarkan setiap subtes yang diujikan, mulai dari Tes Potensi Skolastik hingga literasi. Selain itu, saya juga rutin mengikuti berbagai try out yang diselenggarakan oleh beberapa platform belajar. Melalui try out tersebut, saya dapat mengukur kemampuan diri, mengetahui kelemahan yang perlu diperbaiki, serta membiasakan diri dengan suasana dan tekanan saat mengerjakan soal UTBK.

Ketika hari pelaksanaan UTBK akhirnya tiba, saya merasakan tantangan yang cukup besar. Selama mengerjakan soal, ada beberapa bagian yang menurut saya cukup sulit dan tidak berjalan semulus yang saya harapkan. Saat itu, saya mulai menyadari bahwa persiapan yang telah saya lakukan mungkin masih belum maksimal. Meskipun sudah belajar dan mengikuti berbagai try out, saya merasa masih ada banyak hal yang seharusnya bisa saya persiapkan dengan lebih baik.

Perasaan ragu sempat muncul ketika ujian selesai. Saya terus mengingat kembali soal-soal yang telah dikerjakan dan membayangkan berbagai kemungkinan hasil yang akan saya peroleh. Namun, apa pun hasilnya, saya berusaha meyakinkan diri bahwa saya telah memberikan kemampuan terbaik yang saya miliki pada saat itu.

Benar saja, ketika hari pengumuman hasil UTBK-SNBT tiba, saya kembali mendapatkan hasil yang tidak sesuai harapan. Untuk kedua kalinya, saya harus menerima kenyataan bahwa saya belum berhasil lolos ke PTN impian. Saat melihat hasil tersebut, rasanya seperti kehilangan arah dan harapan. Saya mulai berpikir bahwa mungkin impian saya untuk berkuliah di PTN impian di Malang tidak akan terwujud.

Gambar 2: Pengumuman SNBT 2024
(Sumber: Tangkapan layar laman resmi SNPMB, 2024.)

Hari-hari setelah pengumuman menjadi masa yang cukup berat bagi saya. Hampir setiap hari saya menangis karena merasa kecewa dengan diri sendiri. Berbagai pertanyaan terus muncul di benak saya. Mengapa saya belum berhasil? Apakah usaha yang saya lakukan masih kurang? Atau memang jalan saya bukan melalui jalur tersebut?

Di tengah kekecewaan itu, saya menyadari bahwa kesempatan yang tersisa hanyalah jalur seleksi mandiri. Namun, ada satu hal yang menjadi pertimbangan besar bagi saya, yaitu besarnya biaya uang pangkal atau Iuran Pengembangan Institusi (IPI) yang harus dibayarkan jika diterima melalui jalur tersebut. Nominalnya tidaklah sedikit dan menjadi beban yang cukup berat bagi kondisi ekonomi keluarga saya. Saya merasa tidak tega jika harus membebani orang tua dengan biaya yang besar hanya demi mengejar impian saya. Karena itu, saya mulai mempertimbangkan berbagai alternatif lain yang lebih sesuai dengan kemampuan finansial keluarga tanpa harus mengubur harapan untuk melanjutkan pendidikan di PTN.

Karena itu, saya mulai mencari berbagai alternatif. Saya mencari PTN yang masih membuka jalur mandiri dengan biaya uang pangkal/IPI yang lebih terjangkau, meskipun lokasinya berada di luar Jawa Timur. Bagi saya saat itu, yang terpenting adalah tetap memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri.

Dengan harapan yang masih tersisa, saya kembali mendaftarkan diri dan mengikuti proses seleksi. Saya mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin inilah kesempatan yang selama ini saya tunggu. Namun, ketika hari pengumuman tiba, saya kembali dihadapkan pada kenyataan yang pahit. Untuk ketiga kalinya, saya harus menerima kegagalan. Nama saya kembali tidak tercantum dalam daftar peserta yang lolos.

Gambar 3. Pengumuman Seleksi Mandiri UNY 2024
(Sumber: Tangkapan layer resmi laman pengumuman mandiri UNY, 2024.)

Saat itu, saya benar-benar merasa berada di titik terendah. Seolah-olah setiap pintu yang saya coba ketuk selalu tertutup. Namun tanpa saya sadari, mungkin inilah bagian dari "jatah gagal" yang harus saya habiskan sebelum akhirnya menemukan jalan menuju tujuan yang telah lama saya impikan.

Akhirnya, setelah melalui berbagai pertimbangan, saya memutuskan untuk mengambil jalan yang tidak banyak dipilih oleh teman-teman saya, yaitu gap year. Keputusan ini tentu tidak mudah, tetapi saya merasa masih memiliki semangat dan kesempatan untuk kembali memperjuangkan PTN impian melalui UTBK di tahun berikutnya.

Selama masa gap year, saya sempat mencoba bekerja sebagai penjaga outlet minuman. Awalnya, saya ingin membantu meringankan beban orang tua sekaligus mengisi waktu sambil menunggu periode seleksi berikutnya. Namun, ayah saya memiliki pandangan lain. Beliau meminta saya untuk fokus mempersiapkan diri menghadapi UTBK dan tidak membagi konsentrasi dengan pekerjaan. Setelah mempertimbangkan nasihat tersebut, saya akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dan mengarahkan seluruh perhatian saya pada persiapan masuk perguruan tinggi.

Pada bulan November 2024, saya mulai kembali menyusun strategi belajar. Saya mengikuti bimbingan belajar online dan rutin mengerjakan berbagai try out untuk mengukur perkembangan kemampuan saya. Berbeda dengan persiapan sebelumnya, kali ini saya bertekad untuk belajar dengan lebih serius dan lebih terarah. Saya tidak hanya mengandalkan materi dari bimbingan belajar, tetapi juga memanfaatkan berbagai platform YouTube untuk memperdalam pemahaman saya terhadap setiap subtes UTBK.

Hari demi hari saya habiskan untuk belajar, mengulas materi, dan memperbaiki kelemahan yang masih saya miliki. Saya berusaha memahami konsep-konsep yang sebelumnya sulit saya kuasai, bukan sekadar menghafal rumus atau jawaban. Saya percaya bahwa pemahaman yang kuat akan membantu saya menghadapi berbagai tipe soal yang mungkin muncul saat ujian nanti.

Enam bulan berlalu dengan penuh perjuangan, kedisiplinan, dan pengorbanan. Hingga akhirnya, tibalah masa pendaftaran UTBK tahun 2025. Dengan bekal persiapan yang telah saya lakukan selama masa gap year, saya kembali memberanikan diri untuk mendaftar dan mencoba sekali lagi. Saya tetap memilih Universitas Negeri Malang sebagai tujuan utama, karena kampus tersebut masih menjadi bagian dari impian yang ingin saya wujudkan.

Namun, kali ini saya mengambil keputusan yang berbeda. Setelah mempertimbangkan berbagai faktor, saya memilih Program Studi Pendidikan Biologi sebagai pilihan saya. Meskipun kuota yang tersedia pada program studi tersebut terbilang tidak banyak, saya tidak ingin rasa takut menghalangi langkah saya. Saya percaya bahwa usaha yang telah saya lakukan selama enam bulan terakhir tidak akan mengkhianati hasil. Semua waktu, tenaga, air mata, dan kegagalan yang pernah saya alami telah membentuk saya menjadi pribadi yang lebih siap untuk menghadapi kesempatan ini.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya merasa lebih tenang. Apa pun hasil yang akan saya terima nanti, saya tahu bahwa kali ini saya telah memberikan usaha terbaik yang benar-benar maksimal.

Hari yang saya tunggu-tunggu akhirnya tiba. Dengan perasaan campur aduk antara cemas, takut, dan penuh harap, saya membuka laman pengumuman hasil UTBK-SNBT 2025. Jantung saya berdebar begitu kencang, mengingat berbagai kegagalan yang pernah saya alami pada seleksi-seleksi sebelumnya.

Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda. Untuk pertama kalinya, saya melihat kata yang selama ini hanya menjadi harapan dalam doa-doa saya: "Selamat!". Saat itu juga, saya merasa apa yang selama ini saya impikan akhirnya menjadi nyata. Setelah berkali-kali menghadapi kegagalan, air mata kecewa, dan keraguan terhadap diri sendiri, akhirnya saya berhasil mendapatkan hasil yang saya perjuangkan selama ini.

Ya, saya dinyatakan lolos pada Program Studi Pendidikan Biologi di Universitas Negeri Malang. Rasanya sulit untuk digambarkan dengan kata-kata. Saya tidak hanya merasa bahagia, tetapi juga sangat bersyukur. Semua perjuangan selama masa gap year, waktu belajar yang panjang, berbagai try out yang saya ikuti, serta kegagalan yang pernah saya alami seolah terbayar lunas pada hari itu.

Gambar 4: Pengumuman SNBT 2025
(Sumber: Tangkapan layar laman resmi SNPMB, 2025.)

Momen tersebut mengajarkan saya bahwa tidak ada usaha yang benar-benar sia-sia. Kegagalan yang saya alami sebelumnya bukanlah tanda bahwa saya tidak mampu, melainkan bagian dari proses yang harus saya lalui untuk mencapai tujuan. Benarlah apa yang pernah dikatakan Dahlan Iskan, "Setiap orang punya jatah gagal. Habiskan jatah gagalmu selagi muda." Setelah menghabiskan jatah gagal saya, akhirnya saya menemukan keberhasilan yang selama ini saya perjuangkan.

Kini saya percaya bahwa terkadang mimpi memang membutuhkan waktu lebih lama untuk terwujud. Namun, selama kita terus berusaha, belajar dari kegagalan, dan tidak menyerah pada keadaan, akan selalu ada jalan yang mengantarkan kita pada tujuan yang telah lama kita impikan.

1 Komentar

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *