Allah Tidak Mengubah Mimpiku, Hanya Jalannya
Sejak lulus SMP, aku pernah bermimpi masuk SMK kesehatan. Saat itu aku ingin sekali menjadi bagian dari dunia kesehatan. Namun, keadaan berkata lain. Jarak sekolah yang terlalu jauh dan kondisi ekonomi keluarga yang belum memungkinkan membuatku harus mengubur keinginan itu. Akhirnya aku memilih bersekolah di SMK Pembangunan Bandung Barat dengan jurusan Multimedia.
Meski jurusanku berubah, mimpiku tidak pernah berubah. Aku tetap ingin menjadi tenaga kesehatan, tepatnya seorang bidan. Dalam hati aku selalu berkata bahwa suatu hari nanti aku akan kuliah di bidang kesehatan.
Saat mendekati kelulusan SMK, aku mulai mencari berbagai informasi tentang beasiswa. Aku sadar kondisi ekonomi keluargaku tidak memungkinkan untuk membiayai kuliah sepenuhnya. Aku banyak bertanya kepada seorang kakak tingkat yang berhasil lolos beasiswa. Semua informasi yang kudapat membuatku semakin yakin untuk mencoba mendaftar ke salah satu kampus kesehatan di Yogyakarta.
Namun, ternyata perjalanan menuju mimpi tidak semudah yang kubayangkan.
Orang tuaku belum mengizinkanku merantau. Di sisi lain, keadaan ekonomi juga menjadi tembok besar yang harus kuhadapi. Bahkan, ada perkataan seseorang yang sampai hari ini masih kuingat, “Masa mau kalah sama si Cici?”
Aku tidak marah. Aku juga tidak dendam. Kalimat itu justru membuatku sedih. Selama ini aku tidak pernah merasa lebih hebat dari siapa pun, tetapi mengapa aku harus dibandingkan dengan orang lain?
Hari-hari menjelang penutupan pendaftaran terasa sangat berat. Persiapanku hampir tidak ada. Aku berusaha mencari berbagai jalan bersama kakak-kakakku. Namun semuanya belum berpihak kepadaku. Aku bahkan tidak memiliki uang untuk membayar biaya pendaftaran.
Di titik itu, aku harus menerima kenyataan bahwa impianku untuk kuliah tahun itu harus tertunda.
Selama empat hari aku menangis. Tangisan itu hanya berhenti ketika aku keluar kamar untuk mandi atau menunaikan salat. Setiap kali mengingat cita-citaku yang harus tertunda karena keadaan ekonomi dan belum adanya izin dari orang tua, dadaku terasa sesak. Tangisku tidak pernah bersuara, tetapi rasa sakitnya begitu menusuk hingga bahkan sampai hari ini aku masih mampu mengingatnya dengan sangat jelas.
Aku memutuskan bekerja agar bisa mengumpulkan biaya kuliah. Aku selalu meyakinkan diriku sendiri, “Kalau bukan diri sendiri, siapa lagi?”
Namun enam hari bekerja, aku menyadari mentalku belum siap. Aku sering terlambat salat karena pekerjaan dan kondisi fisikku ikut menurun. Aku akhirnya memilih berhenti, tetapi tetap bertanggung jawab dengan mencarikan pengganti.
Saat pulang, aku masih berharap akan menerima gaji karena bosku berkata, “Tunggu saja.” Aku menunggu, tetapi hingga hari ini gaji itu tidak pernah datang. Rasanya bukan hanya fisikku yang lelah, tetapi mentalku pun benar-benar habis. Namun aku tetap percaya, Allah pasti sedang menyiapkan jalan lain.
Karena bekal ilmu Multimedia, aku mulai membuat konten, menerima endorsement, mengedit video, hingga membantu pekerjaan affiliate. Dari sanalah Allah perlahan membuka pintu rezeki.
Dengan hasil kerja keras itu, aku kembali berani mendaftar kuliah di STIKes Budi Luhur Cimahi. Aku mengurus semua berkas dengan hasil usahaku sendiri.
Aku berhasil sampai tahap wawancara. Namun ujian belum selesai. Tinggi badanku hanya berada tepat di batas minimal. Padahal selama satu tahun aku rutin berlari, skipping, bergelantungan, dan berolahraga demi mengejar syarat tersebut.
Saat menunggu keputusan, tanganku bergetar menahan tangis. Dalam hati aku terus mengulang, “Fa inna ma’al ‘usri yusrā.”
Aku memilih percaya kepada takdir Allah.
Lalu keputusan itu keluar.
Aku diterima.
Dengan syarat aku tetap harus berolahraga untuk meningkatkan tinggi badan.
Aku terdiam beberapa saat. Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan. Aku hanya mampu mengucapkan, “Alhamdulillah.”
Sesampainya di rumah, aku langsung mengambil wudu, salat, lalu bersujud sambil menangis.
“Ya Allah… terima kasih karena Engkau masih memberiku kesempatan untuk terus berjuang.”
Hari ini aku resmi menjadi mahasiswa kebidanan. Perjalananku mengajarkanku bahwa Allah tidak pernah mengubah mimpiku. Allah hanya mengubah jalan yang harus kulewati untuk mencapainya. Selama kita terus berusaha, berdoa, dan tidak menyerah, tidak ada perjuangan yang sia-sia di hadapan Allah.
