Bukan Garis Lurus Menuju Kampus Impian

Catatan Perjalanan Maya Risqi Pratiwi

Bagi sebagian orang, jalan setelah lulus sekolah mungkin terlihat seperti garis lurus yang tinggal diikuti. Namun buat saya, jalan itu justru penuh dengan kelokan tajam, benturan ego, dan kejutan yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Nama saya Maya Risqi Pratiwi. Kisah ini dimulai pada tahun 2025, saat saya baru saja menyelesaikan pendidikan dari SMKN 2 Purworejo.

Waktu itu, nama saya masuk dalam daftar siswa yang eligible untuk mengikuti jalur SNBP. Rasanya senang sekali, tapi justru di sinilah letak kesalahan terbesar saya. Karena terlalu egois dan merasa di atas angin, saya langsung membidik jurusan-jurusan di kampus yang masuk jajaran peringkat sepuluh besar nasional tanpa strategi yang matang. Hari pengumuman pun tiba, dan kenyataan pahit langsung menampar saya. Layar monitor menampilkan warna merah: saya dinyatakan tidak lolos.

Rasa stres dan kecewa sempat membuat pikiran saya kacau. Namun, saya tahu waktu tidak mau menunggu. Di depan mata sudah ada jalur SNBT yang harus dihadapi. Dengan sisa waktu yang sangat mepet

—hanya berkisar antara dua minggu sampai satu bulan—saya mencoba memaksa diri untuk belajar materi UTBK. Berkejaran dengan waktu dalam kondisi mental yang belum sepenuhnya pulih tentu bukan hal yang mudah.

Ujian mental yang sesungguhnya ternyata terjadi tepat di hari tes. Pagi itu, saya berencana berangkat menuju lokasi ujian di Universitas Gadjah Mada. Namun saat hendak mencetak tiket kereta yang sudah dibeli jauh-jauh hari, sistem justru memunculkan keterangan invalid. Tiket saya tidak bisa keluar. Dalam kondisi panik yang luar biasa, saya terpaksa merogoh kocek lagi untuk membeli tiket baru demi bisa mengejar waktu ke Yogyakarta.

Sesampainya di UGM, kendala belum juga usai. Kali ini ada masalah teknis dari pusat yang membuat pelaksanaan ujian harus diundur. Ruangan yang seharusnya sudah steril sejak pukul tujuh pagi, baru benar-benar memulai ujian pada pukul sembilan. Kami baru selesai sekitar jam dua belas siang. Menunggu berjam-jam dalam ketidakpastian membuat energi saya terkuras habis. Akibatnya, saat menghadapi lembar soal, pikiran saya benar-benar kosong dan ngeblank. Semua persiapan singkat yang saya lakukan menguap begitu saja. Ketika hasil UTBK diumumkan pada tanggal 25 Mei, saya kembali menghadapi kegagalan.

Dua kali ditolak oleh perguruan tinggi membuat saya harus mengambil keputusan realistis. Saya memilih untuk mengambil jeda atau gapyear dan mulai mencari pekerjaan. Selama setahun penuh, hari-hari saya dihabiskan dengan bekerja. Sampai akhirnya, musim UTBK berikutnya kembali tiba.

Tantangan di tahun kedua ini jauh lebih berat. Jam kerja saya yang sangat padat membuat waktu yang tersisa untuk membuka buku menjadi sangat minim. Jadwal belajar saya berantakan dan sama sekali tidak konsisten. Sering kali saya sudah terlalu lelah saat pulang kerja untuk sekadar membaca rangkuman materi. Hingga akhirnya hari ujian itu datang lagi, dan saya mengerjakannya dengan sisa-sisa ingatan yang ada.

Karena banyak soal yang tidak saya kuasai, saya terpaksa menggunakan teknik "silang indah" atau menghitung kancing baju. Keluar dari ruang ujian, saya sudah sepenuhnya pesimis dan pasrah jika harus gagal lagi.

Namun, hidup selalu punya cara sendiri untuk mengejutkan kita. Saat hari pengumuman tiba, saya membuka situs seleksi dengan perasaan tanpa beban karena sudah yakin tidak akan diterima. Begitu layar terbuka, pandangan saya terpaku pada pengumuman yang ada. Saya dinyatakan lolos di salah satu dari empat kampus pilihan saya. Meskipun itu adalah pilihan ketiga, jurusan tersebut tetap merupakan jurusan yang memang saya minati sejak awal.

Perjalanan ini akhirnya menyadarkan saya bahwa kegagalan demi kegagalan kemarin adalah cara semesta untuk menempa diri saya agar lebih tangguh. Kadang kita harus ditolak terlebih dahulu, diturunkan egonya, dan dibawa memutar jauh, hanya untuk menyadari bahwa apa yang kita dapatkan di waktu yang tepat adalah hadiah terbaik yang sesungguhnya.

* * *

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *