Berani Bermimpi Saja Sudah Jadi Sebuah Modal
Aisyah Tsania Tushifa Putri Fuadi
Begitu tidak lolos masuk SMK Negeri dengan satu-satunya jurusan Broadcast di kota saya, salah satu kota kecil di pulau Sumatera, saya kira saya tak akan melanjutkan mimpi berjalan di dunia penyiaran. Rupanya, saya diberi kesempatan melalui kemenangan pada lomba teater perdana begitu memasuki kelas sebelas. Sehingga ini bisa menjadi semacam bensin yang membakar semangat saya untuk mengejar kehidupan penyiaran di kampus seni terbaik di Indonesia, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Tetapi, kemampuan berlakon pun tak datang begitu saja secara otodidak seperti sebuah keajaiban dalam dongeng. Ada proses panjang dari hobi lain yang menghubungkan saya dengan dunia panggung yang kemudian juga terhubung dengan dunia penyiaran. Karena cita-cita untuk masuk dunia penyiaran pula datang dari proses belajar itu sendiri dibandingkan permintaan maupun titah orang tua.
Sejak dini, saya menyadari bahwa saya menggemari buku-buku yang Ibu simpan di lemari kaca. Membaca buku membuat saya melihat dunia lebih banyak dari tempat-tempat yang saya pijak karena imajinasi bisa terbang lebih jauh dari mata saya yang terbatas. Karena ini, begitu diberi kepercayaan memegang gadget oleh orang tua, saya mengelolanya untuk membaca lebih banyak karya daripada yang tersedia di lemari kaca. Saya mulai mencoba mengolah imajinasi yang saya punya lewat tulisan yang awalnya bermula pada harapan: “Kalau saya jadi A, apa jadinya saya? Apa yang saya rasakan?”, atau “Kalau saya menjadi seorang pelaut, saya akan menemukan apa saja?”. Platform menulis daring pada saat itu menjadi sebuah keajaiban untuk saya. Karena dari sana saya turut menemukan orang-orang yang mendukung saya untuk terus menulis.
Saya melanjutkan hobi ini sampai duduk di bangku SMP dan bertemu mentor sekaligus guru Bahasa Indonesia yang baik hati. Beliau meminta saya bergabung ke komunitas literasi dan dari sana akhirnya saya diperkenankan mengenal dunia yang lebih luas lagi. Dari komunitas literasi itu, saya mengetahui di luar sana ada berbagai jenis orang, pekerjaan, hobi dan kegiatan. Saya berusaha menyamakan langkah saya dengan semua orang, mengejar apapun yang mungkin membuat saya merasa tertinggal.
Saya melatih diri untuk berani bicara dan bertanya sebelum saya tak berjalan kemana-mana. Ketiga gagal sekali, dunia memaksa saya untuk mencari kesempatan itu sendiri daripada menunggunya.
Ketika hari-hari saya dipenuhi dengan pencarian ruang untuk belajar berkarya lebih jauh, saya menemukan ada tawaran menulis dari Kantor Bahasa Provinsi Jambi untuk terbit di rubik. Maka, pada 2022, saat masih duduk di bangku SMP, saya mulai menulis cerita pendek pertama saya dan berkonsultasi pada guru yang mengajak saya bergabung dengan komunitas. Mungkin, seperti apa yang dikatakan Paulo Coelho dalam bukunya yang berjudul Sang Alkemis, dunia akan bahu membahu membantu siapapun yang mendengarkan kata hati dan ingin mengejar mimpi, cerita pendek pertama saya itu lolos. Meski mungkin kemampuan saya menulis pada saat itu masih terhitung belum cukup baik, tapi mereka memberi kesempatan pada muda-mudi untuk merasakan bagaimana karya lolos pada suatu rubik, masuk koran, yang memberi sebuah kebahagiaan dan kebanggaan tak terhingga.
Sehingga, saya seperti sebongkah kayu dan hobi menulis adalah bensinnya. Ketika karya itu terbit, seperti ada korek yang dilemparkan dan membuat saya menggebu-gebu mengejar lebih jauh mimpi sebagai seorang pengkarya. Saya mengikuti berbagai workshop, mengirim puluhan tulisan, dan mengikuti berbagai lomba. Imajinasi saya terus berkembang liar. Kemanapun saya berkelana, ide akan muncul dan mendorong saya terus bergerak, mengirim, dan mencari lagi.
Saat kenaikan kelas sebelas, ada sebuah sayembara yang dibagikan di grup obrolan komunitas. Sayembara teater musikal sebagai perayaan tahunan Museum Perjuangan Rakyat Jambi. Saya tak pernah berlakon, ataupun menulis naskah untuk teater.
Tapi ketertarikan untuk merangkai sebuah kisah yang bisa dipertontonkan dalam bentuk seni pertunjukkan mendorong-dorong bahu saya untuk mengikutinya meskipun pengalaman saya nol besar. Berbekal pembelajaran cara berlakon dari internet, mencari-cari teman yang bisa bermusik di sekolah, dan kemampuan menulis fiksi, saya nekat mengikuti lomba yang dalam 10 hari akan tiba itu. Saya tidak pernah tau apa yang menunggu saya di depan, tapi saya memilih berjalan dulu tanpa tahu keberanian membimbing saya menuju sebuah jalan tak terduga.
Pada saat itu saya hanya berpikir, barangkali kalau bukan kemenangan yang saya raih, setidaknya saya membawa pulang pengalaman. Tapi, waktu itu, semesta lagi-lagi menopang bahu saya, dan menyatakan saya siap membawa pulang kemenangan meskipun berada di posisi terakhir, harapan tiga. Meskipun begitu, sebuah korek dilemparkan lagi pada api yang sedang berkobar, meledakkan semangat saya sampai titik tertinggi. Saya tidak berhenti berlakon di sana. Semua pembelajaran tentang seni pertunjukkan yang satu itu saya cari kemana-mana. Cara menulis naskah teater, cara berlakon dengan baik, cara mengontrol suatu tim.
Saya menyadari, bahwa menulis dan menciptakan suatu kisah untuk dibaca adalah sesuatu yang luar biasa. Menumpahkan imajinasi saya dalam bentuk karya sastra adalah sesuatu yang besar. Tapi, mewujudkannya dalam bentuk yang bisa disaksikan banyak orang adalah lain hal.
Saya kira, mimpi masuk dunia penyiaran sudah padam. Rupanya, mimpi itu hanya redup sementara karena saya sempat terpuruk akibat dipukul keras oleh kegagalan. Saya mulai menyadarinya lagi lewat ketertarikan luar biasa dalam dunia panggung sandiwara. Karena tidak selalu ada panggung untuk tampil, saya mulai berpikir dan tergerak menciptakan panggung itu lewat kamera.
Kali itu, saya merasa butuh bekal tambahan. Jadi, saya mulai menyelami media rekam. Konten promosi, videografi, siniar, musik video, dan film pendek mulai saya pelajari. Saya ikuti tiap kompetisi. Saya biarkan diri saya berkali-kali disiram pahitnya kekalahan, sebab itu aka menjadi bukti telah berkali-kali pula saya mencoba. Dari setiap kekalahan, saya ditempeli pembelajaran yang takkan saya lupakan.
Prinsip saya adalah tetap berjalan, saya manfaatkan berbagai peluang yang ada sebagai siswa SMA. Sampai akhirnya terlintas pemikiran, lepas sekolah mau melanjutkan apa saya? Saya senang berkarya, tapi kemampuan saya tentu belum ada apa-apanya dibandingkan kawan-kawan yang sudah belajar di akademisi di kota-kota besar. Pembelajaran yang ada juga sebatas mengutip dari perjalanan. Mungkin, saya belum selesai ditempa. Saya jelas masih kurang bekal untuk menghadapi dunia yang lebih besar.
Maka saya mencari lagi, apa bidang yang bisa memadukan kesenangan pada menulis dan berlakon? Apa bidang yang bisa membuat saya bergerak sepanjang waktu dan tidak menunggu ada panggung untuk dipijak?
Film! Kegiatan yang saya lakukan setiap akhir pekan, mendekam di rumah dan menonton puluhan film maupun series.
Di tingkat akhir sekolah saya akhirnya menentukan saya akan pergi kemana. Saya tentukan Institut yang digadang-gadang merupakan institut seni terbaik di Indonesia.
Bermimpi itu gratis, maka saya menetapkan mimpi tanpa tahu malu. Kalau di kelas sepuluh saya begitu asyik menulis, mengejar ilmu kepenulisan dimanapun saya bisa tergabung, di kelas sebelas ajang saya memenuhi tangki keinginan untuk berlakon, maka di kelas dua belas saya berambisi mengejar dan menciptakan berbagai karya media rekam untuk menjadi bekal saya masuk institut seni terbaik.
Katanya masuk kampus seni harus punya portofolio dan pengalaman. Jadi, dimanapun ada kesempatan, saya berlari mengejarnya. Meskipun banyak ketakutan menggelayuti kaki bahwa saya akan kalah dengan kawan-kawan yang telah menempuh ilmu langsung dari SMK Penyiaran dan Film, mental saya harus tangguh. Saya tak boleh merasa kecil meskipun bukan dari kota besar.
Berkat keras kepala saya mengejar apapun yang bisa saya dapat di kota saya ini, berkat berbagai kesempatan dari komunitas literasi, sastra, taman budaya, dan ambisi belajar di kota pelajar itu, saya mendapat kata selamat dalam tes.
Betapa bahagia kali itu menyiram saya tak bisa saya jabarkan dengan kata-kata. Mungkin tulisan ini belum cukup untuk menggambarkan seluruh perjalanan saya dalam mengejar dunia penyiaran, mencari bekal-bekal yang bisa saya bawa ke sana, menekan takut-takut saya dalam mencoba segala yang ada. Redam sudah seluruh ketakutan saya ketika kata lolos itu sudah mampu saya gumamkan dalam hati maupun bibir.
Maka sesungguhnya, tanpa bantuan orang sekitar, mungkin saya bukan apa-apa. Tapi tanpa diri saya yang yakin dan berani, saya pun takkan melangkah kemana-mana. Mungkin, bidang penyiaran dan ISI selamanya takkan pernah saya sentuh kalau saya tak bergerak menemui guru Bahasa dan bertanya pada saat itu. Maka, terima kasih untuk semua orang yang menjadi bagian dari semesta yang mendorong saya untuk sampai dan melangkahkan kaki di kampus seni terbaik di Indonesia ini.
