Menunda Bukan Berarti Batal: Jejak Perjuanganku Menuju Bangku Kuliah
Bagi sebagian orang, lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah garis start untuk langsung berlari mengejar cita-cita di perguruan tinggi. Masa-masa itu biasanya diisi dengan euforia memilih kampus, membeli perlengkapan kos, atau sekadar berkhayal tentang indahnya menjadi mahasiswa. Namun, bagi saya, kelulusan SMA bukanlah garis *start*, melainkan sebuah persimpangan jalan yang mengharuskan saya berhenti sejenak, menelan kekecewaan, dan belajar tentang arti kata ikhlas.
Ini adalah kisah saya. Kisah tentang sebuah mimpi yang sempat terkubur oleh realita, namun akhirnya berhasil saya gali kembali.
Mimpi yang Kandas di Depan Mata
Semuanya bermula ketika saya baru saja menyelesaikan pendidikan SMA. Saat itu, ada secercah harapan yang membuat hati saya berbunga-bunga. Saya mendapatkan tawaran untuk melanjutkan kuliah di STIE Medan, mengambil jurusan Ekonomi. Tidak tanggung-tanggung, saya ditawarkan beasiswa sebesar 75%. Bagi anak dengan latar belakang seperti saya, itu adalah sebuah keajaiban. Saya sudah bisa membayangkan diri saya duduk di bangku kuliah, membaca buku tebal, dan melangkah selangkah lebih dekat menuju masa depan yang lebih baik.
Namun, kebahagiaan itu nyatanya hanya mampir sebentar. Di rumah, saya tinggal bersama ipar yang selama ini menjadi wali saya. Merekalah yang telah membiayai sekolah saya sejak SMP hingga tamat SMA. Hubungan kami saat itu sedang tidak baik. Sering terjadi percekcokan di antara kami, yang akar masalahnya sebenarnya sederhana: saya dinilai selalu banyak kekurangan dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Puncaknya, tawaran beasiswa yang sangat berharga itu diabaikan begitu saja oleh wali saya. Alih-alih mendapatkan restu untuk berangkat kuliah, saya justru dihadapkan pada sebuah kenyataan yang pahit. Saya diminta untuk menganggur. Tidak hanya setahun, tapi tiga tahun lamanya.
Selama tiga tahun itu, tugas saya adalah tinggal di rumah dan membantu seluruh pekerjaan rumah tangga. Hal itu diminta sebagai wujud balas budi dan rasa terima kasih saya karena mereka telah bersedia menyekolahkan saya dari bangku SMP hingga SMA. Sebagai seorang anak yang merasa berutang budi, saya tidak punya daya untuk menolak. Mulut saya terkunci, meski hati saya menangis pilu. Hari demi hari, saya harus melihat teman-teman sebaya saya mengemasi barang mereka, berangkat ke kampus, dan membagikan cerita bahagia mereka, sementara saya harus puas memegang sapu, kain pel, dan peralatan dapur.
Akhirnya, dengan dada yang terasa sesak, saya harus mengurungkan niat saya untuk kuliah. Mimpi itu saya lipat rapi-rapi, saya simpan di sudut hati yang paling dalam, entah sampai kapan.
Pulang dan Berpeluh di Ladang
Waktu terus berjalan. Tiga tahun berlalu dengan rutinitas yang sama. Tiga tahun yang melatih kesabaran, sekaligus tiga tahun yang menguji ketahanan mental saya. Setelah masa “pengabdian” itu selesai, sebuah kabar kurang baik datang dari rumah ibu kandung saya. Ibu saya mulai sakit-sakitan.
Tanpa berpikir panjang, saya memutuskan untuk kembali pulang ke rumah ibu kandung saya. Saya ingin merawat beliau, menebus waktu-waktu yang hilang selama saya tinggal bersama wali. Namun, kepulangan ini juga membawa tantangan baru. Kondisi ekonomi keluarga kami sedang tidak baik-baik saja, dan saya harus mencari cara untuk bertahan hidup sekaligus membantu ibu.
Saya menganggur lagi. Kali ini selama satu tahun penuh. Untuk menyambung hidup, saya akhirnya bekerja di ladang. Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar terik, saya sudah berada di tengah hamparan tanah, bergelut dengan cangkul, tanah, dan keringat. Penghasilan dari ladang benar-benar pas-pasan, seringkali hanya cukup untuk makan hari itu saja. Terik matahari membakar kulit, namun entah mengapa, lelah fisik di ladang terasa lebih ringan karena saya bisa berada di dekat ibu.
Meski begitu, saat lelah mendera di malam hari, bayangan tentang kampus dan buku-buku kembali hadir. Saya sering menatap langit-langit kamar, bertanya pada diri sendiri, ”Apakah hidup saya akan terus seperti ini? Apakah saya tidak pantas menjadi seorang pendidik seperti yang selalu saya impikan?”
Titik Terang yang Mengubah Segalanya
Tuhan tidak pernah tidur, dan Dia selalu tahu kapan waktu yang tepat untuk memberikan jalan keluar. Setelah satu tahun bergelut dengan lumpur dan peluh di ladang, sebuah tawaran pekerjaan datang menghampiri saya. Saya ditawari untuk bergabung di PPA COMPASSION sebagai seorang mentor.
Pekerjaan ini terasa seperti embun di tengah musim kemarau. Saya menerima pekerjaan itu dengan penuh rasa syukur. Gaji yang saya terima saat itu adalah Rp 1.500.000 per bulan. Bagi sebagian orang mungkin nominal itu tidak seberapa, tapi bagi saya yang sebelumnya berpenghasilan tidak menentu di ladang, angka itu sangatlah besar.
Menjadi mentor di PPA COMPASSION ternyata membangkitkan kembali sesuatu yang telah lama tertidur dalam diri saya: jiwa seorang pendidik. Berinteraksi dengan anak-anak, membimbing mereka, dan melihat perkembangan mereka membuat hati saya penuh. Saya sadar, saya ingin menjadi seorang guru. Saya ingin menginspirasi lebih banyak orang. Dan untuk mewujudkan itu, saya harus kembali pada mimpi awal saya: Saya harus kuliah.
Universitas Terbuka: Kesempatan Kedua untuk Mimpi yang Sama
Satu tahun bekerja di PPA COMPASSION memberi saya sedikit ruang untuk bernapas dan menabung. Semangat untuk melanjutkan pendidikan kembali membara, bahkan lebih besar dari sebelumnya. Namun, saya dihadapkan pada dilema baru. Saya tidak mungkin meninggalkan pekerjaan saya, karena dari sanalah saya bisa menghidupi diri dan membantu ibu. Saya butuh kampus yang bisa beradaptasi dengan kondisi saya.
Pencarian saya akhirnya bermuara pada Universitas Terbuka (UT). Ketika saya membaca tentang sistem perkuliahan di UT, saya merasa kampus ini seolah diciptakan untuk orang-orang seperti saya. Jam belajarnya sangat fleksibel, biaya kuliahnya terjangkau dan tidak mencekik, serta yang paling penting: saya bisa kuliah dari mana saja, bahkan dari rumah.
Ini adalah jawaban dari doa-doa panjang saya. Ini adalah jalan keluar yang membuktikan bahwa masih ada harapan bagi saya untuk meraih gelar dan menjadi seorang guru. Tanpa ragu lagi, saya memantapkan hati dan mendaftarkan diri. Hari itu, saat saya resmi mendapatkan Nomor Induk Mahasiswa, saya menangis. Empat tahun setelah saya menamatkan SMA, empat tahun setelah mimpi saya sempat dipaksa mati, saya akhirnya resmi menjadi bagian dari Mahasiswa Universitas Terbuka.
Perjuangan Nyata Seorang Mahasiswa Pekerja
Menjadi mahasiswa yang juga seorang pekerja purna-waktu bukanlah hal yang mudah. Tidak ada kata “santai” dalam kamus hidup saya. Pagi hingga sore, pikiran dan tenaga saya curahkan sepenuhnya untuk anak-anak di PPA COMPASSION. Ketika malam tiba, saat kebanyakan orang merebahkan diri untuk beristirahat, itu adalah waktu bagi saya untuk memulai “kehidupan kedua” saya.
Saya membuka modul-modul tebal, menatap layar untuk membaca materi, dan mengerjakan tugas-tugas kuliah. Mata yang perih karena mengantuk, tubuh yang menuntut untuk diistirahatkan, harus saya lawan setiap malam. Kadang, saat rasa lelah berada di puncaknya, saya teringat kembali pada masa tiga tahun saat saya hanya bisa memegang sapu sambil melihat orang lain pergi kuliah. Ingatan itu menjadi bahan bakar yang membuat saya kembali tegak. Saya berjanji pada diri sendiri, saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua ini.
Saya mengusahakan untuk mengerjakan seluruh tugas dengan maksimal, mengikuti diskusi online dengan aktif, dan tidak pernah membiarkan kesibukan bekerja menjadi alasan untuk nilai yang buruk. Semua keringat, kurang tidur, dan pengorbanan itu akhirnya terbayar lunas. Saat lembar hasil studi keluar, saya melihat angka yang membuat seluruh lelah di pundak saya menguap begitu saja: IPK 3.61
Angka itu bukan sekadar deretan nilai akademik. Bagi saya, 3.61 adalah bukti dari air mata selama tiga tahun mengabdi di rumah wali, keringat selama satu tahun di ladang, dan malam-malam tanpa tidur di depan modul perkuliahan.
Pesan untuk Kamu yang Sedang Berjuang
Jika hari ini kamu sedang membaca tulisan ini, dan kamu merasa jalanmu tertutup, saya mohon, jangan pernah mematikan mimpimu.
Mungkin hari ini kamu harus menunda mimpimu demi tanggung jawab keluarga. Mungkin hari ini kamu harus bekerja kasar hanya untuk bisa makan. Atau mungkin, kamu merasa sudah tertinggal sangat jauh dari teman-temanmu yang sudah berlari lebih dulu.
Ketahuilah, hidup ini bukanlah sebuah perlombaan lari cepat. Setiap orang memiliki zona waktunya masing-masing. Terlambat empat tahun untuk masuk kuliah tidak lantas membuat masa depan saya lebih gelap daripada mereka yang langsung kuliah. Justru, penundaan itu membentuk mental saya menjadi baja. Penundaan itu mengajarkan saya betapa berharganya arti sebuah pendidikan, sehingga saya menghargai setiap detik waktu belajar yang saya miliki.
Tidak ada kata terlalu tua untuk belajar. Tidak ada kondisi yang terlalu mustahil jika kita mau mencari jalan. Universitas Terbuka telah membuktikan kepada saya bahwa akses pendidikan itu selalu ada bagi mereka yang menolak untuk menyerah pada keadaan.
Jika kamu harus mengubur mimpimu sementara waktu, kuburlah di tempat yang tanahnya subur. Rawatlah dengan kesabaran, sirami dengan doa dan kerja keras. Karena percayalah, pada waktu yang tepat, mimpi itu akan tumbuh kembali, berbunga lebih indah dan berbuah lebih lebat dari yang pernah kamu bayangkan.
Teruslah melangkah, walau pelan. Teruslah berharap, walau keadaan menekan. Karena masa depan yang cerah, selalu menjadi milik mereka yang percaya pada keindahan mimpi-mimpinya, dan berani membayarnya dengan kerja keras yang nyata.
