Dari Jalan Kaki 20 Kilometer Menuju Kampus Impian

Oleh: Mohan Pasha W.

https://i.pinimg.com/736x/46/49/da/4649dadc3ce70122fe3e269ca6378e60.jpg

Hujan deras sore itu masih saya ingat jelas. Tas sekolah basah kuyup, sepatu penuh lumpur, dan kaki terasa mati rasa setelah berjalan kaki hampir 1,5 kilometer dari pertigaan menuju rumah. Itu rutinitas yang saya jalani hampir setiap hari selama tiga tahun di SMK Negeri 3 Purworejo, karena saya tidak tahu ada asrama gratis tepat di samping sekolah.

Sejak kelas 9 SMP, saya sudah berpikir bagaimana memajukan kampung halaman. Saya sempat tertarik jurusan Pertanian karena ingin meningkatkan pemahaman lingkungan. Tapi jurusan itu sulit ditemukan di SMK Purworejo, dan biayanya tidak mungkin ditanggung keluarga. Di sekitar kota, saya melihat banyak bengkel tradisional dan SMK yang membuka jurusan Teknik Mesin. Saya merasa itu sudah terlalu jenuh dan kurang mampu memberikan inovasi besar bagi peradaban desa. Akhirnya, saya memilih jurusan Tata Boga sebagai langkah kedua.

Keputusan itu lahir juga dari cerita guru Prakarya yang kreatif, serta dukungan ibu saya. Beliau melihat saya sebagai anak mandiri yang suka bereksperimen dengan masakan. Padahal, memasak bagi saya adalah cara memuaskan rasa ingin tahu saya tentang inovasi rasa dan bumbu. Karena nilai SMP saya cukup baik, saya diterima di SMKN 3 Purworejo.

Namun, keterbatasan informasi membuat saya harus pulang-pergi hampir 20 kilometer setiap hari. Uang saku sering hanya cukup untuk angkot. Sisanya saya tempuh berjalan kaki. Banyak kesempatan akademik terlewat karena waktu yang habis hanya untuk perjalanan. Tapi justru dari situ saya belajar mandiri dan tangguh.

Setelah lulus, kondisi keluarga semakin berat. Saya memutuskan merantau ke Malaysia selama lebih dari dua tahun. Di sana, saya tidak hanya bekerja, tapi juga belajar banyak hal baru. Saya mempelajari teori kepribadian seperti MBTI untuk memahami rekan kerja yang beragam. Saya menyadari betapa berbedanya latar belakang hospitality saya dengan orang lain. Banyak tantangan muncul, termasuk kesulitan berkomunikasi dan perbedaan cara berpikir. Pengalaman itu sempat membuat saya stres, tapi juga memperkuat mental saya.

Salah satu pelajaran terbesar adalah ketika saya bertemu seseorang yang sempat memberi harapan, tapi akhirnya mengajarkan saya untuk lebih mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Pengalaman pahit itu akhirnya mendorong saya untuk kembali ke jalur pendidikan. Saya sadar, saya tidak ingin terjebak sebagai pekerja biasa selamanya. Saya ingin menciptakan dampak yang lebih besar.

Itulah mengapa saya memilih Program Studi Sistem Informasi di Universitas AMIKOM Yogyakarta. Saya ingin menggabungkan semua pengalaman saya yaitu kreativitas dari Tata Boga, ketangguhan dari perjalanan, dan pemahaman tentang manusia menjadi kemampuan merancang sistem informasi yang solutif, terutama untuk daerah-daerah seperti Purworejo yang masih tertinggal akses informasinya.

Perjuangan menuju kampus impian ini memang tidak mudah. Dari jalan kaki puluhan kilometer, merantau ke negeri orang, hingga berbagai kekecewaan. Tapi semua itu membentuk saya menjadi pribadi yang lebih kuat dan visioner. Saya yakin, AMIKOM adalah tempat yang tepat untuk mengubah cerita perjuangan saya menjadi kontribusi nyata bagi bangsa.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *