# Perjalanan Meraih Mimpi: Empat Kegagalan yang Mengantarkan Saya pada Jalan Terbaik
"Ya Allah, mudahkanlah jalan anak kami. Jadikan ia anak yang salehah, berilmu, bermanfaat bagi banyak orang, dan berikanlah ia kesempatan untuk melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya. Jika bukan di tempat yang ia inginkan, maka tempatkanlah ia di tempat terbaik menurut-Mu. Lapangkanlah rezekinya, mudahkan setiap langkahnya, dan jangan pernah biarkan ia menyerah dalam mengejar cita-citanya."
Doa itu bukan sekadar rangkaian kata. Doa itu adalah harapan yang hampir setiap hari saya dengar mengalir dari lisan kedua orang tua saya setelah mereka menunaikan salat. Setiap sujud mereka selalu menyelipkan nama saya, Aura Syakhilla, dengan satu harapan sederhana: agar anak pertama mereka dapat mengenyam pendidikan tinggi, meraih cita-cita, dan kelak menjadi pribadi yang membanggakan keluarga serta bermanfaat bagi banyak orang.
Saya adalah seorang siswi dari SMA Negeri 1 Solok Selatan, sebuah sekolah yang telah menjadi saksi perjalanan saya dalam mengejar mimpi. Sejak duduk di bangku sekolah menengah atas, saya selalu percaya bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk mengubah masa depan. Karena keyakinan itu, saya berusaha memberikan hasil terbaik dalam setiap kesempatan. Saya termasuk siswa eligible peringkat lima besar, beberapa kali menjadi juara kelas, aktif mengikuti berbagai perlombaan akademik, serta memperoleh sejumlah prestasi, salah satunya adalah Sertifikat Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI).
Banyak orang mengatakan bahwa siswa yang berprestasi akan lebih mudah diterima di perguruan tinggi negeri impian. Saya pun sempat mempercayai hal itu. Saya berpikir bahwa seluruh kerja keras selama bertahun-tahun akan mengantarkan saya menuju kampus yang saya cita-citakan.
Namun, ternyata Allah memiliki rencana yang berbeda.
Sejak kecil saya memiliki satu mimpi besar, yaitu menjadi mahasiswa Universitas Indonesia. Saya ingin membuktikan bahwa seorang anak dari daerah 3T di Solok Selatan juga mampu berdiri sejajar dengan mahasiswa terbaik dari seluruh Indonesia. Saya ingin membawa nama baik sekolah, membanggakan orang tua, dan menunjukkan bahwa keterbatasan tempat lahir tidak pernah membatasi besarnya mimpi seseorang.
Melalui jalur SNBP, saya memberanikan diri memilih Akuntansi Universitas Indonesia sebagai pilihan pertama dan Akuntansi Universitas Andalas sebagai pilihan kedua. Saya menunggu hari pengumuman dengan penuh doa dan harapan.
Namun, nama saya tidak ada dalam daftar peserta yang lolos.
Saat itu, rasanya seluruh harapan yang saya bangun selama bertahun-tahun runtuh dalam sekejap. Saya menangis dan bertanya-tanya mengapa semua usaha yang telah saya lakukan belum mampu mengantarkan saya ke tujuan yang saya impikan.
Saya tidak ingin menyerah. Saya kembali bangkit dan mempersiapkan diri menghadapi SNBT. Hari-hari saya dipenuhi dengan belajar. Saya belajar hingga larut malam, mengulang materi berulang kali, bahkan ada saat-saat ketika saya terlalu fokus belajar hingga lupa makan. Saya percaya bahwa kerja keras pasti akan membuahkan hasil.
Pada SNBT saya memilih Akuntansi Universitas Andalas, Statistika Universitas Negeri Padang, dan Teknik Informatika sebagai pilihan saya. Namun kembali, saya harus menerima kenyataan bahwa saya belum berhasil. Kegagalan kedua terasa jauh lebih berat dibandingkan yang pertama. Saya kemudian mencoba jalur Seleksi Mandiri ITB (SSU ITB) dengan memilih Fakultas Teknik Industri. Saya kembali menaruh harapan besar, Tetapi saya kembali gagal. Saya mencoba lagi melalui Seleksi Mandiri ITS dengan memilih Teknik Industri dan Manajemen. Dan lagi-lagi, saya harus menerima kegagalan untuk keempat kalinya.
Empat kali kegagalan berturut-turut membuat saya berada di titik terendah dalam hidup saya. Saya mulai merasa tidak percaya diri. Saya merasa malu kepada teman-teman saya. Ada teman-teman yang secara akademik berada di bawah saya selama di sekolah, tetapi mereka berhasil diterima di universitas impian mereka melalui SNBP maupun SNBT. Melihat mereka mengenakan almamater kampus impian, tentu saya ikut bahagia atas keberhasilan mereka. Namun, di sisi lain saya bertanya dalam hati, "Mengapa bukan saya?".
Saya sempat merasa bahwa jalan hidup mereka begitu mulus, sedangkan saya harus berkali-kali menerima penolakan. Rasa insecure itu pernah membuat saya meragukan kemampuan diri sendiri. Saya yang selama ini selalu menjadi juara kelas, selalu berusaha menjadi murid terbaik, dan memiliki banyak mimpi besar, justru belum berhasil mencapai tujuan yang selama ini saya perjuangkan.
Namun perlahan saya menyadari bahwa" hidup bukanlah perlombaan tentang siapa yang lebih cepat sampai, melainkan tentang siapa yang tetap berjalan meskipun berkali-kali terjatuh".
Sesungguhnya, cita-cita saya sangat sederhana. Saya hanya ingin menjadi anak yang mampu membanggakan kedua orang tua saya. Saya ingin menjadi anak yang kelak bisa memberikan manfaat bagi banyak orang. Saya hanyalah seorang anak kampung dari daerah 3T yang memiliki mimpi sangat besar untuk melanjutkan pendidikan di kota besar, bertemu dengan banyak orang hebat, belajar dari mereka, dan suatu hari nanti kembali untuk memberikan manfaat kepada daerah tempat saya berasal.
Yang paling membuat saya sedih bukanlah karena saya gagal masuk universitas impian.
Saya sedih karena saya takut mengecewakan kedua orang tua saya. Saya tahu betapa besar harapan mereka kepada saya sebagai anak pertama. Saya tahu mereka selalu mendoakan saya di setiap sujudnya. Saya takut perjuangan saya yang belum berhasil akan membuat mereka ikut bersedih.
Namun ternyata saya salah. Di saat saya merasa paling gagal, justru kedua orang tua saya menjadi orang yang paling kuat menopang saya. Mereka tidak pernah menyalahkan saya sedikit pun. Mereka terus menguatkan saya, meyakinkan saya bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh nama universitas tempat ia diterima.
Mereka selalu mengatakan kepada saya bahwa saya harus tetap kuliah. Saya harus terus melanjutkan pendidikan. Menurut mereka, ekonomi tidak boleh menjadi alasan bagi seseorang untuk berhenti belajar. Selama masih memiliki niat yang tulus, kemauan yang kuat, serta doa yang tidak pernah putus, Allah pasti akan membukakan jalan.
Dari merekalah saya belajar bahwa kegagalan bukanlah akhir dari kehidupan.
Saya juga semakin memahami makna kalimat "Pressure is a privilege." Tekanan yang saya rasakan lahir karena saya memiliki impian besar dan orang-orang yang sangat percaya kepada saya. Tekanan itu bukan beban yang harus saya hindari, melainkan amanah yang harus saya perjuangkan.
Akhirnya saya memutuskan untuk membuka lembaran baru dengan mendaftar di Universitas Bung Hatta, salah satu universitas swasta terbaik di Sumatera Barat. Saya memilih Program Studi Teknik Rekayasa Energi Terbarukan.
Saya memilih program studi tersebut karena saya ingin menjadi seorang engineer yang mampu menciptakan inovasi di bidang energi terbarukan. Saya ingin berkontribusi dalam menjaga lingkungan dan membantu mengurangi ketergantungan terhadap sumber daya alam yang semakin menipis. Saya juga memiliki harapan besar suatu hari nanti dapat mengabdikan ilmu saya di PT Supreme Energy yang beroperasi di Kabupaten Solok Selatan dalam pengembangan energi panas bumi, sehingga saya dapat memberikan manfaat bagi daerah tempat saya dilahirkan.
Dan di sanalah Allah akhirnya menunjukkan jalan yang telah Dia siapkan untuk saya. "Saya dinyatakan lulus di Program Studi Teknik Rekayasa Energi Terbarukan Universitas Bung Hatta".
Saat itu saya benar-benar memahami bahwa setiap kejadian selalu memiliki alasan. Mungkin kampus yang selama ini saya kejar bukanlah tempat terbaik bagi saya. Mungkin Allah sedang mempersiapkan tempat yang akan membawa saya menuju masa depan yang jauh lebih baik daripada yang pernah saya bayangkan.
Kini saya tidak lagi memandang empat kegagalan itu sebagai luka, melainkan sebagai bagian dari proses yang membentuk diri saya menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih sabar, dan lebih bersyukur. Saya memiliki harapan besar agar selama menjalani perkuliahan nanti saya dapat memperoleh beasiswa penuh. Saya ingin meringankan beban ekonomi keluarga dan membalas setiap pengorbanan kedua orang tua saya. Sebagai anak pertama, saya menyadari bahwa ada harapan besar yang mereka titipkan di pundak saya. Harapan itulah yang setiap hari menjadi alasan saya untuk terus bangkit ketika gagal, terus belajar ketika lelah, dan terus bermimpi ketika keadaan berkata sebaliknya.
Saya percaya bahwa kesuksesan bukan diukur dari seberapa cepat seseorang mencapai tujuannya, tetapi dari seberapa besar keberanian yang ia miliki untuk bangkit setiap kali jatuh. Empat kali saya gagal, tetapi empat kali pula saya belajar bahwa Allah tidak pernah salah dalam menentukan arah hidup hamba-Nya.
Hari ini saya mungkin tidak berada di universitas yang dulu saya impikan. Namun saya yakin, saya sedang berada di tempat yang telah Allah pilihkan untuk saya. Dan saya akan membuktikan bahwa di mana pun saya belajar, saya tetap bisa berprestasi, berkarya, serta menjadi anak yang membanggakan kedua orang tua saya dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Karena pada akhirnya, mimpi yang sesungguhnya bukanlah tentang nama sebuah universitas, melainkan tentang bagaimana ilmu yang kita miliki dapat menjadi jalan untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Dan saya selalu percaya bahwa doa kedua orang tua saya lah yang selalu menyertai saya hingga saya bisa mencapai keberhasilan yang saya rasakan sekarang ini.
