Ibu dan Penuntunnya
Rasanya seperti anak kecil yang mematung di depan sebuah toko baju. Tangan mungilku berkali-kali berusaha meraba dari balik jendela kaca. Membayangkan indahnya gaun impian melekat pada tubuhku. Namun, pada akhirnya aku hanya melewatinya, mengikuti tarikan lembut tangan Ibu. Entah gaun itu cukup untuk badanku, cocok untuk warna kulitku, atau justru bukan untukku. Hanya redupnya binar mata yang tertinggal di ujung bangunan toko. Itulah yang terlintas saat membayangkan Universitas Gadjah Mada.
Aku gagal masuk bahkan saat sebelum mencobanya. Gagal yang bagiku justru menjadi awal kisah panjang. Seperti renda di ujung gaun yang disobek dalam satu tarikan, perih itu membuat telapak tanganku harus menekan dada berulang kali. Gazebo sekolah siang itu terasa begitu sesak, padahal hanya ada tiga meja batu yang diisi oleh tiga kelompok siswa. Ada yang sedang membahas beasiswa, universitas pilihan mereka, dan rencana akan tinggal di kos seperti apa.
Aku tidak duduk sendirian, tetapi bersama dua siswi yang sedang membahas berkas untuk pengajuan beasiswa. Meski beberapa siswi mengenalku, tidak ada satu pun yang mengajakku mengobrol dan justru itu yang aku syukuri. Sebab satu kata saja keluar dari mulutku, mungkin bulir air mata juga tidak ingin diam saja di penampungan yang sudah terasa penuh. Lagipula, kondisiku tidak masuk ke obrolan meja mana pun.
Universitas Gadjah Mada. Dari seberang gedung Fakultas Kesehatan aku kembali mengeja dan letupan di hatiku masih sama seperti saat masih duduk di sekolah dasar. Saat pertama kalinya aku mendengar cerita-cerita besar tentang tempat itu, yang setelahnya sering merasuk dalam mimpi malamku. “Kelak, aku tidak perlu repot-repot menempuh perjalanan jauh untuk berobat, karena aku akan tinggal di sekitar sini juga,” batinku barangkali seriang hati Ibu ketika melihat anak-anaknya mengenakan baju baru hasil jerih payahnya. Pupil mataku melebar penuh binar, selaras dengan tarikan bibirku kala itu.
Pendambaan yang aku sendiri sudah tak ingat dari mana asalnya. Karena setelah mencetuskan mimpi itu, langkahku sedikit gagap. Begitu banyak persimpangan antara kesehatan dan pendidikan. Berkali-kali aku rakus memilih keduanya, merasa sanggup meniti dengan segala keterbatasan yang ada. Namun, pada akhirnya aku tak pernah sehebat tokoh-tokoh dalam cerita inspirasi, antara hancur salah satunya atau justru keduanya.
“Jangan kuliah keluar kota, ya, nanti kalau sewaktu-waktu kambuh, mau bagaimana?” Kalah telak. Nilai-nilai dalam rapor yang rasanya tidak ingin kulihat lebih dari satu menit itu rasanya lebih ringan daripada harus memprotes Sang Pemilik Takdir mengapa selalu ada persimpangan ini. Seperti wujud nyata dari persimpangan yang selalu kubayangkan dalam kepala, sore itu saat aku duduk di boncengan motor Bapak dalam perjalanan pulang setelah kontrol, takdir seolah sengaja mengejekku dengan memperlihatkan gerombolan anak yang sepertinya baru saja pulang dari acara penerimaan mahasiswa baru, beberapa di antaranya tertawa bersama sambil menenteng kotak nasi. Aku hanya berharap telinga Bapak dimanjakan suara jalan raya agar tak mendengar isak yang tak dapat kutahan.
Andai aku masih anak kecil yang mendambakan gaun di balik kaca toko baju itu, Ibu membawaku pada toko lain. Tidak ada gaun impianku di sana. Dengan setengah murung kuraba satu per satu, hanya demi membuat Ibu lega. Sesekali menempelkannya pada badanku. Hanya mencari ukuran yang tepat pada tubuhku saja, tidak lagi kuamati renda-renda yang melekat pada ujung gaun atau payet-payet di sekitar dada. Begitulah aku memilih Universitas Terbuka satu setengah tahun kemudian.
Bukan sekadar menginginkan gelar atau selembar kertas ijazah, aku pernah mencoba mencari peluang, tetapi mencari yang cocok dengan kondisiku rasanya seperti menarik resleting berkarat. Sebab ada masanya pekerjaan yang aku inginkan mensyaratkan pendidikan sarjana. Lagipula aku merasa lebih utuh saat ada tujuan pendidikan dalam hidupku.
Universitas Terbuka. Bukan universitas yang asing bagiku, tetapi juga bukan yang pernah aku cari tahu. Tak pernah kusangka, nama universitas yang pernah kubaca pada stiker yang ada di sepeda motor guru sekolah dasarku akan menjadi tempat bernaungku dalam menempuh pendidikan sarjana. Saat itu hanya selintas lewat dalam kepalaku, “Universitas Terbuka? Mungkin belajarnya di taman-taman yang terbuka begitu ya?” Itu saja. Kepalaku yang selalu riuh oleh kata tanya, bahkan tidak pernah menanyakannya pada guru pemilik motor itu. Namun, ternyata itu adalah petunjuk yang kulewatkan.
Mungkin memang benar jika kekuatan hati seorang ibu itu lembut sekaligus tajam. Sejak awal mendaftar, kesehatanku memang sudah memburuk, tetapi sesuatu yang paling tidak kusangka radangku kambuh, terutama pada lutut, hingga membuatku tidak bisa berjalan. Bagian terbaiknya adalah Universitas Terbuka membuatku tetap dapat memberikan tanda centang dalam daftar mimpiku, meski hanya menggenggam ponsel di atas kasur. Takdir yang tertulis untuk kesehatanku sudah tak lagi mengundang rutukan.
Saat aku berpikir sudah memasuki pijakan awal yang menenangkan, ternyata salah. Jurusan pendidikan guru yang sudah menjadi daftar paling atas dalam anganku hanya untuk mereka yang telah memiliki pengalaman. Tidak mengapa. Jika gaunku tak dapat kuikat ke belakang, masih bisa kupita manis di samping. Selalu ada pilihan lain bagiku yang mempunyai mimpi sebanyak warna benang. Antara sastra atau manajemen, pada akhirnya rasa penasaranku pada dunia ekonomi dan bisnis lebih unggul. Akan tetapi, tidak seperti bayanganku saat pertama melihat nama universitas ini, aku tidak belajar di atas rumput hijau yang lembut. Melainkan di atas kasur empuk yang tidak pernah mempermasalahkan kondisi kakiku. Memang benar, firasat seorang ibu tidak boleh diremehkan.
Langkahku belum selesai, titianku masih panjang. Namun, aku menjalaninya dengan hati seringan ujung gaun yang tertiup angin sore. Awalnya memang begitu, hingga memasuki semester kedua, aku mendengar kabar yang membuatku cukup kesal, mungkin seperti saat tidak sengaja mengaitkan kancing kedua pada lubang kancing pertama. Tepat berjalan satu semester, binar mataku perlahan memudar seiring meredupnya layar ponsel di tanganku saat mengetahui jurusan pendidikan sekarang tidak harus memiliki pengalaman mengajar. Lagi-lagi aku diingatkan, hidupku tak pernah benar-benar dalam genggamanku sendiri.
Helaan napasku semakin panjang saja rasanya. Aku dengan keterbatasanku sebagai manusia, kembali kususuri jalan takdirku selayaknya jemari menyusuri jahitan pada ujung-ujung kain. Kini aku menyadarinya, jurusan pendidikan sudah pasti akan ada praktiknya dan jelas aku akan lebih menangis jika dulu peraturannya sudah sama seperti sekarang.
Jika aku tetap gadis kecil di toko baju itu, gaun yang aku ambil memang bukan yang awalnya aku impikan, tetapi ia melekat dengan sangat anggun hingga membuatku ingin terus menari di hadapan Ibu yang senyumnya merekah. Aku tidak tahu, ternyata selain menuntun tanganku, tangan Ibu juga dituntun oleh Yang Maha Tahu. Aku menatap ke arah toko tempat gaun idamanku sembari menyentuh dadaku. Entah sampai kapan akan terus kurawat anganku, apakah gaun itu dapat kupakai senyaman gaunku sekarang, suatu saat nanti. Entah apakah ia mau menantiku menyelesaikan tarianku dengan gaun yang kukenakan sekarang.
