Perjalanan Mengetuk Pintu yang Sama

Salah satu momen yang sangat berkesan dalam perjuangan hidupku sejauh ini adalah saat-saat mendaftarkan perkuliahan. Setelah lulus SMA tentu saja kita bahagia, dan lega. Karena kita sudah berhasil lulus, kita tidak perlu mengerjakan PR lagi, tidak perlu berangkat pagi lagi, tidak perlu mengikuti mata pelajaran yang tidak disuka. Tetapi, tak berlangsung lama, kecemasan mulai muncul. Kecemasan akan ke mana arah selanjutnya. Di titik ini, banyak sekali orang yang bingung dengan apa yang mereka inginkan. Berbagai pertanyaan bermunculan, seperti, "Aku harus ambil jurusan apa ya?" atau "Apakah jurusan ini menjanjikan? Atau beralih yang lain? Tapi, apa?" Beberapa orang telah memiliki rencana dan dapat mengambil keputusan akan memilih melanjutkan jurusannya, namun di baliknya pasti ada saat-saat di mana kita ragu atau goyah. Beberapa orang lagi menentukan jurusan sesuai pilihan orang tua untuk membahagiakan mereka, namun pertanyaan kembali muncul, "Apakah ini memang pilihanku?" "Apakah ini memang yang aku suka dan aku mau?" Di sisi lain, beberapa orang tidak dapat memilih jurusan yang mereka suka karena faktor finansial. Beberapa orang lagi memiliki finansial yang stabil, namun mereka merasa bingung dan tidak ada bidang yang benar-benar menarik menurut mereka. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi dan membuat kita goyah dalam memutuskan dua pertanyaan singkat; kuliah di mana dan jurusan apa?

Untuk orang-orang yang masih hilang arah, mungkin jawabannya adalah kenali lebih dalam tentang diri sendiri dan usahakan apa pun yang masih bisa diusahakan. Karena selama masih ada waktu, tidak ada salahnya untuk berusaha. Bagi beberapa orang yang sudah memiliki ketertarikan pada sebuah jurusan, namun masih ragu apakah bisa atau tidak, cobalah. Salah satu alasan mengapa momen ini membuatku begitu berkesan adalah karena aku belajar tentang kegigihan pada saat itu.

Aku menginginkan jurusanku bukan karena aku yakin dengan segalanya. Justru sebaliknya, aku belum yakin. Aku belum yakin apakah aku bisa, apakah aku cukup mampu, dan apakah ini benar-benar pilihan yang tepat. Namun, aku memilih tetap melangkah. Rasanya seperti pasrah, tetapi tetap berusaha. Pasrah bukan berarti berhenti, melainkan menerima bahwa hasil akhirnya berada di luar kendaliku, sementara usahaku tetap menjadi tanggung jawabku.

Saat itu aku tertolak berkali-kali dari jalur rapor, tes, ataupun mandiri. Setiap kali pengumuman keluar, aku selalu membuka hasil seleksi dengan perasaan campur aduk. Ada harapan kecil yang selalu kubawa, tetapi juga ada rasa takut jika hasilnya kembali sama. Dan benar saja, berkali-kali aku harus menerima kenyataan bahwa namaku belum ada di daftar mereka yang diterima. Rasanya kecewa, tentu saja. Aku sempat berpikir, apakah aku memang tidak sanggup meraih jurusan itu? Apakah jurusanku terlalu tinggi untukku? Karena sejauh ini, aku hanya mendaftarkan satu jurusan yang sama di berbagai kesempatan.

Di tengah proses itu, tidak sedikit orang yang bertanya, "Sudah dapat kampus?" atau mencoba menenangkan dengan mengatakan bahwa mungkin memang ada jalan lain yang lebih baik. Aku memahami maksud mereka, tetapi saat itu bahkan aku sendiri belum bisa memberikan kepastian. Aku hanya tahu bahwa aku belum ingin menyerah. Setelah kecewa, aku kembali mencari informasi pendaftaran berikutnya, kembali belajar, kembali mengikuti tes, dan kembali mencoba. Mungkin terlihat sederhana, tetapi mengumpulkan keberanian untuk mencoba lagi setelah gagal ternyata tidak sesederhana itu.

Lalu aku mencoba lagi. Aku yakin suatu hari aku akan mendapatkan jurusan itu, meskipun aku tidak tahu kapan dan di mana. Keyakinanku bukan karena aku merasa hebat, melainkan karena aku percaya bahwa selama masih ada kesempatan, aku masih ingin mengetuk pintu yang sama. Dan setelah beberapa kali mengikuti tes, akhirnya aku dinyatakan lolos dengan skor yang setara passing grade, tepatnya di perguruan tinggi swasta. Saat melihat hasil itu, rasanya lega sekaligus tidak percaya. Semua penolakan yang pernah datang sebelumnya tidak lagi terasa sebagai kegagalan yang sia-sia, tetapi menjadi bagian dari perjalanan yang akhirnya mengantarkanku sampai di titik ini.

Meskipun perlu selalu mencoba, meskipun perlu berusaha lebih, meskipun perguruan tinggi swasta alih-alih perguruan tinggi negeri, aku tidak pernah menyesali fakta bahwa akhirnya aku mendapatkan jurusanku, dan aku bangga atas itu. Dari pengalaman tersebut aku belajar bahwa kegigihan bukan tentang tidak pernah gagal, melainkan tentang tetap berjalan meskipun berkali-kali harus menghadapi kegagalan.

Beberapa orang masih menyesali karena mereka tidak lolos pada perguruan tinggi yang mereka inginkan. Padahal sebenarnya ada hal yang lebih penting dibandingkan tempat. Belajar bukan tentang di mana kita belajar, tetapi tentang apa yang kita pelajari dan dengan siapa kita belajar. Tempat memang dapat memberikan kesempatan yang berbeda, tetapi bagaimana kita memanfaatkan kesempatan itu tetap bergantung pada diri kita sendiri.

Mungkin beberapa orang masih bingung dengan arah dan jurusan. Jawaban yang mereka temukan selalu saja kembali kepada diri mereka sendiri. Memang, satu-satunya yang tahu jawabannya adalah diri kita sendiri. Namun, bagaimana kita bisa memutuskan ketika kita belum mengenal diri dan distraksi datang dari begitu banyak arah? Kita mungkin berpikir bahwa bercerita kepada orang lain pun tidak akan memberi solusi. Seolah kita tahu bahwa jawaban itu ada pada diri kita sendiri, tetapi kita tetap membutuhkan arah. Kita membutuhkan petunjuk.

Dan jawabannya tetap sama, hanya kamu yang tahu. Namun, kamu bisa mulai dengan mengenali dirimu sendiri. Cobalah mengajukan pertanyaan sederhana, "Apa bidang yang aku minati?" "Apa bidang yang membuatku tertarik?" Cobalah menjawabnya tanpa berpikir terlalu jauh tentang apakah bidang tersebut menjanjikan atau tidak. Karena sebenarnya, siapa yang menjanjikan siapa? Dunia terus berubah dengan cepat dan sulit diprediksi. Tempat dan jurusan hanyalah wadah untuk berkembang, tetapi bagaimana bentuk perkembangan itu tetap bergantung pada dirimu sendiri. Pertimbangkan keuntungan dan risikonya, namun jangan hanya mencari keuntungan yang besar. Carilah keuntungan yang masih baik dengan risiko yang masih bisa kamu terima. Misalnya, apakah keuntungan mendapatkan jurusan yang dianggap menjanjikan sebanding dengan risiko bahwa jurusan itu bukan passion-mu? Di sinilah kita belajar mengambil keputusan.

Kegigihan adalah kekuatan yang membuat kita bertahan. Selama masih ada kegigihan, selalu ada harapan. Dan suatu hari nanti, ketika kita menoleh ke belakang, mungkin kita akan menyadari bahwa perjuangan menuju kampus impian bukan hanya mengantarkan kita ke sebuah universitas, tetapi juga membentuk diri kita menjadi pribadi yang lebih kuat. Ingatlah bahwa semua pembelajaran di dunia ini berguna. Mungkin yang sedang dibentuk bukan hanya jalanmu menuju kampus impian, tetapi juga dirimu sendiri.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *