Setelah Harapan Itu Runtuh
“Sekolah kita jarang ada yang masuk kampus top tiga. Pilih yang lebih realistis saja.”
Kalimat itu mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang. Namun, bagiku, kalimat itu pernah menjadi tembok yang menghalangi langkahku. Saat itu, aku adalah seorang siswi madrasah yang diam-diam menyimpan mimpi untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas Gadjah Mada atau Institut Teknologi Bandung. Aku tahu jalan menuju sana tidak mudah, tetapi aku percaya bahwa mimpi tidak seharusnya dibatasi oleh ketakutan. Sayangnya, setelah mendengar kalimat tersebut, keyakinanku mulai goyah. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Apakah aku terlalu tinggi bermimpi? Apakah aku harus berhenti berharap? Apakah latar belakang sekolahku membuat mimpiku menjadi tidak masuk akal?
Sejak saat itu, ada rasa kecewa yang sulit dijelaskan. Aku menangis. Aku merasa harapanku perlahan runtuh. Bahkan pernah terlintas dalam pikiranku untuk tidak terlalu memikirkan kuliah. Rasanya lebih mudah menyerah daripada terus berharap pada sesuatu yang belum tentu bisa kugapai. Namun, di balik kegelisahan itu, aku memiliki perjuangan lain yang jauh lebih besar dalam hidupku.
Aku Nay, salah seorang santri tahfizh di salah satu pondok pesantren berbasis boarding school di Blitar. Menjelang kelulusan, aku masih memiliki tanggungan tiga juz hafalan yang harus kuselesaikan. Sejak awal, aku telah menanamkan target dalam diriku. Sebelum lulus sekolah, hafalan Al-Qur’anku harus selesai 30 juz. Karena aku ingin ketika memasuki dunia perkuliahan nanti, fokusku bukan lagi mengejar setoran hafalan, tetapi menjaga dan mengulang apa yang sudah berhasil kuhafal.
Hari-hariku dipenuhi dengan murojaah, menambah hafalan, memperbaiki bacaan, dan mempersiapkan masa depan dalam waktu yang bersamaan. Tidak jarang aku merasa lelah. Tidak jarang juga mataku basah. Ada malam-malam ketika aku bertanya-tanya apakah semua usaha ini akan menemukan ujung yang indah. Ada saat-saat ketika aku merasa tertinggal dibandingkan teman-teman lain yang tampak begitu yakin dengan arah hidup mereka. Namun waktu mengajarkanku bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan skenario yang kita rancang sendiri.
Lambat laun, aku mulai berpikir lebih tenang. Aku menyadari bahwa keberhasilan tidak hanya dimiliki oleh mereka yang berkuliah di kampus tertentu. "Kuliah tidak harus di UGM atau ITB," kataku kala itu. Perlahan, aku belajar menerima bahwa jalan yang baik tidak selalu sama dengan jalan yang pertama kali kuimpikan. Sejak saat itu, aku mulai membuka diri terhadap berbagai kemungkinan. Saat itulah aku memandang Universitas Brawijaya dengan cara yang berbeda, bukan lagi sebagai pilihan alternatif, melainkan sebagai tempat yang juga menyimpan banyak peluang untuk bertumbuh dan berkembang. Kampus yang sebelumnya tidak pernah benar-benar ada dalam daftar impianku itu ternyata menyimpan begitu banyak peluang. Aku mulai mencari informasi, mengenal lingkungan akademiknya, dan mempertimbangkan jurusan yang sesuai dengan minatku.
Setelah melalui banyak pertimbangan, aku memilih Program Studi Fisika. Pilihan itu lahir dari keyakinanku sendiri. Aku memahami risikonya, mempelajari peluangnya, dan memutuskan bahwa inilah jalan yang ingin kutempuh. Meski sempat ragu, aku memilih untuk percaya pada keputusan yang kubuat.
Hingga tibalah hari pengumuman SNBP. Berbeda dengan kebanyakan teman yang tidak sabar membuka hasil seleksi mereka, aku justru tidak memiliki keberanian untuk melihatnya sendiri. Aku menyerahkan posisiku kepada teman-teman pondok dan membiarkan mereka yang membuka pengumuman terlebih dahulu.
Saat itu, aku tidak terlalu larut dalam rasa penasaran. Entah karena sudah terlalu lelah memikirkan berbagai kemungkinan atau karena aku merasa telah melakukan apa yang bisa kuusahakan. Salah satu hal yang memberiku harapan adalah sertifikat tahfizh yang kucantumkan dalam pendaftaran. Saat itu, hafalanku telah mencapai 27 juz, dan aku mengetahui bahwa Universitas Brawijaya memberikan apresiasi khusus bagi calon mahasiswa yang memiliki sertifikat tahfizh 20 hingga 30 juz.
Tak lama kemudian, suara teman-temanku memecah suasana. Aku dinyatakan diterima di Program Studi Fisika Universitas Brawijaya. Aku tersenyum. Tidak ada teriakan histeris ataupun tangis yang pecah seketika. Yang kurasakan saat itu adalah kelegaan. Seolah-olah Allah sedang berkata bahwa setiap usaha, doa, dan proses yang telah kulewati selama ini tidak pernah sia-sia. Aku memang tidak berakhir di kampus yang dulu paling sering kusebut dalam doa-doaku, tetapi ternyata aku sedang diarahkan menuju tempat yang telah dipersiapkan-Nya dengan begitu baik.
Ada satu hal yang baru kusadari setelah melewati semua perjalanan ini. Dulu aku sangat sibuk memikirkan kampus mana yang akan menerimaku. Aku takut gagal. Aku takut tertinggal. Aku takut masa depanku tidak sebaik yang kubayangkan. Padahal selama ini, fokus terbesarku justru bukan kampus. Fokus terbesarku adalah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an. Aku menghabiskan banyak waktu untuk menjaga ayat demi ayat tetap tinggal dalam ingatan. Saat sebagian orang sibuk mengejar dunia, aku sedang berusaha menuntaskan harapanku dan keluargaku yang menurutku jauh lebih penting. Dan ternyata, di situlah aku belajar pelajaran yang tidak akan pernah kulupakan. Ketika aku berusaha mengejar akhirat, Allah tidak melupakan urusan duniaku.
Menjelang kelulusan, target yang selama ini kuperjuangkan akhirnya tercapai. Aku berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz dan diwisuda dengan selempang Tahfizhul Qur’an 30 Juz Bil Ghaib. Tidak hanya itu, aku juga memperoleh penghargaan sebagai Siswa Berprestasi Akademik MIA serta Siswa Berprestasi Non-Akademik tingkat madrasah. Hal-hal yang dulu terasa begitu jauh ternyata datang satu per satu tanpa pernah kuduga. Dan perjalanan itu tidak berhenti ketika aku diterima di Universitas Brawijaya. Di kampus ini, aku bertemu banyak orang yang menginspirasiku untuk terus berkembang. Aku mendapatkan kesempatan untuk berkontribusi dalam berbagai kegiatan, memperoleh apresiasi atas prestasi yang kuraih, serta berkesempatan hadir dalam berbagai acara yang mempertemukanku dengan banyak sosok hebat. Sedikit demi sedikit, aku mulai memahami bahwa kampus bukanlah tujuan akhir, melainkan tempat untuk bertumbuh.
Hari ini, ketika menoleh ke belakang, aku tidak lagi sedih karena tidak berakhir di UGM atau ITB. Sebaliknya, aku bersyukur. Sebab aku belajar bahwa tidak semua mimpi harus terwujud persis seperti doa yang kita langitkan. Kadang-kadang, Tuhan menunda hal yang indah untuk menjadikannya lebih indah lagi.
Aku pernah mengira bahwa keberhasilan adalah tentang berhasil masuk kampus yang paling kuimpikan. Namun kini aku memahami bahwa keberhasilan yang sesungguhnya adalah tetap melangkah meskipun jalan berubah, tetap berusaha meskipun harapan sempat runtuh, dan tetap percaya bahwa setiap takdir yang Allah pilih selalu memiliki alasan terbaik. Ternyata ketika aku berusaha mengejar akhirat, dunia pun ikut menyusul dengan cara yang begitu indah. Dan mungkin, itulah pelajaran paling berharga dari seluruh perjalanan ini. Bahwa apa yang dititipkan kepada Allah tidak akan pernah benar-benar hilang. Ia hanya akan kembali pada waktu yang paling tepat, dalam bentuk yang sering kali lebih baik daripada yang pernah kita bayangkan.
