“Yang Dijahit Ibu Bukan Hanya Pakaian”

(Andrean Yoga Pratama)

"Setiap mimpi memiliki caranya sendiri untuk bertumbuh. Mimpiku memilih dini hari sebagai rumahnya."

Pukul dua dini hari.

Sebagian besar rumah di kampungku masih diselimuti gelap. Lampu-lampu telah padam, jalanan lengang, dan udara dini hari masih menyisakan dingin yang menusuk kulit. Saat orang-orang sedang terlelap menikmati mimpinya, alarm kecil di samping tempat tidurku bergetar pelan. Bukan suara nyaring yang memaksa bangun, melainkan pengingat kecil bahwa ada mimpi yang sedang menungguku untuk diperjuangkan.

Aku membuka mata, meraih air wudu, lalu berjalan perlahan menuju ruang tengah.

Lampu ruang itu sudah lebih dulu menyala.

Seperti hampir setiap dini hari yang kuingat sejak bertahun-tahun lalu, ibu masih duduk di depan mesin jahitnya. Jemarinya begitu terampil menggerakkan kain, sementara roda mesin terus berputar menghasilkan irama yang sangat akrab di telingaku.

Tak… tak… tak…

Suara itu mungkin terdengar biasa bagi orang lain. Namun bagiku, suara mesin jahit itu adalah suara perjuangan. Suara yang mengajariku bahwa setiap impian selalu dibayar dengan kerja keras.

Ibu adalah seorang penjahit rumahan. Ketika banyak orang telah memejamkan mata, beliau masih menyelesaikan pesanan pelanggan yang harus dikirim esok hari. Di sela-sela kesibukannya, beliau selalu menoleh ketika melihatku datang membawa beberapa buku pelajaran.

"Sudah bangun, Le?" tanyanya sambil tersenyum.

"Iya, Bu."

"Belajarnya semangat, ya."

Kalimat itu sederhana. Tidak panjang. Tidak terdengar seperti pidato motivasi.

Namun setiap kali mendengarnya, aku selalu merasa memiliki alasan untuk terus membuka buku.

Di ruangan kecil itulah aku tumbuh.

Diiringi suara mesin jahit.

Diiringi doa-doa yang tidak pernah diucapkan dengan lantang.

Diiringi keyakinan bahwa pendidikan mampu mengubah kehidupan.

Banyak teman bertanya mengapa aku memilih belajar pada pukul dua dini hari.

Bukankah lebih mudah belajar saat malam hari? Bukankah lebih nyaman belajar pada sore hari?

Aku tidak pernah benar-benar tahu bagaimana kebiasaan itu bermula. Yang kuingat, sejak duduk di bangku sekolah dasar aku selalu merasa dini hari adalah waktu terbaik untuk berdamai dengan diriku sendiri. Pada jam-jam itu dunia terasa begitu tenang. Tidak ada suara televisi, tidak ada notifikasi telepon genggam, tidak ada keramaian yang mengganggu konsentrasi.

Yang ada hanyalah suara mesin jahit ibu, lembar-lembar buku pelajaran, dan doa-doa yang diam-diam kupanjatkan di sela waktu belajar.

Malam selalu kugunakan untuk beristirahat dan merefleksikan apa yang telah kulalui sepanjang hari. Aku percaya bahwa tubuh yang beristirahat dengan cukup akan lebih siap menyambut pagi. Karena itulah aku memilih tidur lebih awal, lalu bangun ketika sebagian besar orang masih memeluk mimpinya.

Aku menyukai sunyi. Sebab di sanalah aku belajar mendengarkan suara hatiku sendiri.

Aku lahir dan tumbuh di sebuah desa di Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Desaku tidak seramai kota-kota besar. Jalanannya sederhana, sawah masih terbentang di beberapa sudut. Di sanalah aku menghabiskan masa kecil yang penuh cerita.

Ayah bekerja keras setiap hari demi menghidupi keluarga. Sementara ibu menerima pesanan menjahit dari tetangga maupun warga sekitar.

Aku tumbuh bukan di tengah kemewahan. Namun aku tumbuh di tengah keluarga yang selalu percaya bahwa pendidikan adalah investasi terbaik yang bisa diberikan kepada anak-anaknya.

Satu kalimat sederhana yang selalu aku ingat hingga sekarang,

"Sekolah yang rajin, ya. Pendidikan adalah bekal yang tidak akan habis dimakan waktu."

Dulu aku hanya mengangguk setiap kali mendengarnya.

Kini, semakin dewasa, aku mulai memahami bahwa kalimat sederhana itu ternyata adalah warisan paling berharga yang pernah kuterima.

Sebab ilmu memang tidak pernah berkurang ketika dibagikan. Justru semakin bertambah nilainya.

Namaku Andrean Yoga Pratama.

Sebagian orang memanggilku Yoga.

Sebagian lainnya mengenalku sebagai Andrean.

Apa pun panggilannya, aku hanyalah seorang anak desa yang memiliki mimpi sederhana.

Aku ingin menjadi seorang guru.

Mimpi itu tidak datang secara tiba-tiba.

Aku masih mengingat bagaimana guru-guruku di sekolah dasar selalu menyambut kami dengan senyum setiap pagi. Mereka mengajarkan membaca, berhitung, menulis, sekaligus mengajarkan bagaimana menghormati orang lain, berani mencoba, dan tidak menyerah ketika mengalami kesulitan.

Aku pernah menjadi anak yang malu berbicara di depan kelas.

Ketika guru meminta kami maju untuk bercerita, aku sering kali menundukkan kepala.

Namun guru-guruku tidak pernah menyerah.

Mereka terus memberiku kesempatan.

Terus menyemangatiku.

Hingga perlahan aku mulai percaya bahwa setiap anak memiliki potensi untuk berkembang ketika ada seseorang yang percaya kepadanya.

Dari situlah aku memahami satu hal.

Guru bukan hanya mengajarkan pelajaran.

Guru juga menumbuhkan harapan.

Dan aku ingin menjadi bagian dari harapan itu.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, cita-citaku tidak pernah berubah.

Aku ingin menjadi guru sekolah dasar.

Memasuki bangku SMP, rasa penasaranku terhadap dunia pendidikan semakin besar.

Aku mulai mencari informasi mengenai berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Setiap kali memiliki kesempatan mengakses internet, aku membaca profil kampus, program studi, hingga pengalaman para mahasiswa yang menceritakan kehidupan mereka selama kuliah.

Sampai suatu hari, aku menemukan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Surabaya.

Entah mengapa, sejak saat itu aku merasa sangat dekat dengan nama tersebut.

Aku membaca kurikulumnya.

Melihat berbagai kegiatan mahasiswanya.

Membayangkan bagaimana rasanya mengenakan almamater biru kebanggaan Universitas Negeri Surabaya.

Mimpi itu terasa begitu jauh.

Namun anehnya, aku tidak pernah merasa takut untuk memimpikannya.

Aku percaya bahwa setiap tujuan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil.

Dan langkah kecilku dimulai setiap pukul dua dini hari.

Sejak saat itu, setiap kali alarm berbunyi dan suara mesin jahit ibu kembali terdengar, aku selalu mengingat satu hal.

Aku sedang mempersiapkan diri untuk sebuah tempat yang bahkan belum pernah kukunjungi.

Aku belum mengenakan almamater biru itu.

Aku belum duduk di ruang kuliahnya.

Aku bahkan belum mengetahui bagaimana perjalanan menuju Surabaya akan kulalui.

Tetapi setiap lembar buku yang kubaca dan setiap doa yang kupanjatkan perlahan sedang membawaku semakin dekat ke sana.

Aku tidak tahu bagaimana akhirnya nanti.

Yang kutahu hanya satu.

Aku ingin memperjuangkan mimpi itu sekuat yang aku bisa.

Sebab bagiku, mimpi bukan sesuatu yang cukup didoakan.

Mimpi harus diperjuangkan.

Dan perjuangan itu baru saja dimulai.

Ada satu hal yang mulai kusadari ketika menginjak bangku sekolah menengah atas.

Ternyata, memiliki mimpi saja tidak cukup.

Mimpi membutuhkan persiapan. Mimpi membutuhkan kedisiplinan.

Dan yang paling penting, mimpi membutuhkan kesetiaan untuk terus diperjuangkan, bahkan ketika hasilnya belum terlihat.

Aku memasuki masa SMA dengan satu tujuan yang sudah tertanam kuat sejak SMP.

Aku ingin menjadi mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Surabaya.

Bukan kampus lain. Bukan jurusan lain.

Aku sudah menemukan tempat yang ingin kutuju.

Karena itu, tiga tahun di bangku SMA bukan sekadar perjalanan menuju kelulusan. Bagiku, tiga tahun itu adalah masa untuk mempersiapkan tiket menuju kampus impianku.

Aku mulai memahami bahwa salah satu jalur yang paling kuinginkan adalah Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi atau SNBP.

Sejak saat itu, setiap semester memiliki arti yang berbeda.

Setiap nilai rapor bukan lagi sekadar angka.

Ia adalah langkah kecil yang menentukan apakah aku akan semakin dekat atau justru semakin jauh dari impianku.

Teman-temanku mungkin mengenang masa SMA sebagai masa yang penuh cerita bersama sahabat, tugas kelompok, atau kegiatan sekolah.

Aku juga memiliki semua kenangan itu.

Aku tertawa bersama teman-teman.

Mengikuti berbagai kegiatan sekolah.

Bercanda saat jam istirahat.

Mengobrol setelah pelajaran selesai.

Namun di balik semua itu, ada satu kebiasaan yang tidak pernah berubah.

Pukul dua dini hari.

Alarm kecil itu kembali berbunyi.

Aku bangun. Mengambil air wudu. Menunaikan salat.

Lalu duduk di ruang tengah bersama buku-buku pelajaran.

Dan seperti biasa…

Suara mesin jahit ibu telah lebih dahulu menyambutku.

Tak… tak… tak…

Mungkin bagi orang lain, dini hari adalah waktu yang sunyi.

Namun bagiku, dini hari selalu dipenuhi suara perjuangan.

Semakin mendekati kelas XI, aku mulai menyusun target-target kecil untuk diriku sendiri.

Aku ingin menjaga nilai rapor tetap stabil.

Aku tidak ingin hanya memperoleh nilai yang baik pada satu semester, lalu menurun pada semester berikutnya.

Bagiku, menjaga konsistensi jauh lebih sulit daripada sekadar meraih nilai tinggi sekali.

Karena itu, setiap selesai pembagian rapor, aku tidak pernah langsung merasa puas.

Aku justru membuka kembali setiap nilai yang kuterima.

Mata pelajaran mana yang meningkat?

Mana yang masih perlu diperbaiki?

Apa yang harus kulakukan agar semester berikutnya menjadi lebih baik?

Buku catatan kecil mulai menjadi teman baru.

Aku menuliskan target-target sederhana.

Bukan target yang muluk-muluk.

Hanya target untuk menjadi lebih baik dibandingkan diriku kemarin.

Aku percaya, mimpi besar selalu dibangun oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Selain menjaga nilai akademik, aku juga mulai berusaha memperkaya pengalaman.

Aku mengikuti berbagai perlombaan yang dapat kuikuti.

Aku mencoba berbagai ajang olimpiade.

Tidak semua berakhir dengan kemenangan.

Ada yang membuatku pulang membawa pengalaman.

Ada pula yang mengajarkanku menerima kekalahan dengan lapang dada.

Dulu aku sering menganggap kegagalan sebagai akhir.

Namun perlahan aku belajar bahwa setiap kompetisi selalu mengajarkan sesuatu.

Tentang keberanian. Tentang persiapan. Tentang menerima hasil dengan dewasa.

Dan yang paling penting, tentang bangkit untuk mencoba lagi.

Aku mulai memahami bahwa prestasi bukan sekadar piala maupun medali yang terpajang.

Prestasi adalah proses panjang yang membentuk karakter seseorang.

Memasuki kelas XII, suasana berubah.

Semua terasa lebih serius.

Obrolan di kelas tidak lagi hanya tentang tugas sekolah.

Kini mulai muncul pertanyaan yang sama hampir setiap hari.

"Mau kuliah di mana?"

"Mau ambil jurusan apa?"

"Sudah punya pilihan?"

Teman-temanku mulai sibuk mencari informasi mengenai berbagai universitas.

Ada yang menyiapkan dua pilihan.

Ada yang tiga.

Bahkan ada yang masih terus berubah-ubah.

Aku ikut mendengarkan berbagai cerita mereka.

Namun setiap kali pertanyaan itu sampai kepadaku, jawabanku selalu sama.

"PGSD Universitas Negeri Surabaya."

"Pilihan kedua?"

Aku hanya tersenyum.

"Nanti dulu."

Padahal, jauh di dalam hati, jawabannya sudah sangat jelas.

Aku memang tidak sedang mencari pilihan kedua.

Menjelang pelaksanaan SNBP, aku semakin disiplin mengatur waktu.

Walaupun target utamaku adalah lolos melalui jalur prestasi, aku tetap mempersiapkan diri menghadapi SNBT.

Bagiku, belajar tidak pernah ada yang sia-sia.

Setiap latihan soal yang kukerjakan akan tetap menambah pengetahuan.

Setiap materi yang kupelajari akan tetap menjadi bekal.

Karena itu, pagi sebelum berangkat sekolah sering kuisi dengan latihan soal.

Sore hari kugunakan untuk mengulang materi yang belum kupahami.

Malam hari menjadi waktu untuk beristirahat.

Dan pukul dua dini hari…

Aku kembali bertemu dengan buku-buku pelajaran.

Siklus itu terus berulang.

Hari demi hari.

Minggu demi minggu.

Bulan demi bulan.

Sampai akhirnya tanpa kusadari, kebiasaan itu telah menjadi bagian dari diriku.

Aku tidak lagi bangun karena terpaksa.

Aku bangun karena tahu ada mimpi yang sedang menungguku.

Lalu tibalah hari yang selama ini kutunggu.

Pengumuman siswa eligible.

Suasana sekolah terasa berbeda.

Semua berharap nama mereka termasuk dalam daftar.

Aku mencoba tetap tenang.

Namun siapa yang bisa benar-benar tenang ketika masa depan terasa begitu dekat?

Ketika daftar itu akhirnya diumumkan, mataku mencari namaku perlahan.

Baris demi baris.

Hingga akhirnya…

Aku menemukannya.

Namaku tercantum sebagai salah satu siswa yang berhak mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi.

Aku menarik napas panjang.

Bukan karena perjuanganku telah selesai.

Melainkan karena pintu pertama akhirnya terbuka.

Sepulang sekolah hari itu, aku pulang dengan langkah yang lebih ringan.

Sesampainya di rumah, ibu masih menjahit seperti biasa.

Aku menghampirinya.

"Bu…"

Ibu menghentikan mesin jahitnya.

"Iya, Le?"

"Alhamdulillah… aku eligible."

Beliau tersenyum lebar.

Tanpa berkata banyak, beliau mengusap bahuku pelan.

"Alhamdulillah."

Hanya satu kata.

Namun di balik kata sederhana itu, aku merasakan doa-doa yang selama ini beliau simpan akhirnya mulai menemukan jalannya.

Malam itu, ketika pukul dua dini hari kembali datang, aku duduk seperti biasa di ruang tengah.

Mesin jahit ibu kembali berbunyi.

Tak… tak… tak…

Aku menatap buku yang terbuka di hadapanku.

Lalu tersenyum kecil.

Perjalanan menuju kampus impianku kini benar-benar telah dimulai.

Aku masih mengingat hari ketika portal pendaftaran SNBP akhirnya dibuka.

Di layar komputer sekolah, berbagai informasi mulai bermunculan. Teman-temanku tampak sibuk berdiskusi mengenai program studi yang akan dipilih. Ada yang masih bimbang antara dua jurusan, ada pula yang berkonsultasi dengan guru karena takut salah menentukan pilihan.

"Aku pilih dua saja. Biar ada cadangan."

"Kalau pilihan pertama tidak lolos, masih ada yang kedua."

Kalimat-kalimat seperti itu berkali-kali kudengar.

Dan memang benar.

Secara logika, memiliki pilihan cadangan terdengar lebih aman.

Namun sejak beberapa tahun sebelumnya, aku telah berjanji pada diriku sendiri bahwa jika suatu hari kesempatan itu datang, aku ingin memperjuangkan mimpi yang benar-benar kuinginkan.

Bukan sekadar memilih tempat yang kemungkinan diterimanya lebih besar.

Malam sebelum mengisi data SNBP, aku kembali bangun pukul dua dini hari.

Rumah masih sunyi.

Lampu ruang tengah kembali menjadi satu-satunya cahaya yang menemani kami.

Ibu masih menjahit.

Sejenak aku merenung. Bagaimana jika aku gagal?

Bagaimana jika semua usaha yang kulakukan selama ini belum cukup?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berdatangan.

Seolah ingin menguji seberapa besar keyakinanku terhadap mimpi yang telah kurawat bertahun-tahun.

Aku menutup mata sejenak.

Lalu tanpa sadar pandanganku tertuju kepada ibu.

Beliau masih fokus menjahit.

Jarum mesin terus naik turun.

Benang demi benang saling mengikat.

Tiba-tiba aku berpikir…

Jika ibu tidak pernah memilih jalan yang mudah demi keluarganya, mengapa aku harus memilih jalan yang paling aman hanya karena takut gagal?

Malam itu aku tidak menemukan jawaban dari siapa pun.

Aku menemukannya dari suara mesin jahit yang tak pernah berhenti.

Keesokan harinya, proses pengisian data dimulai.

Satu per satu kolom kuisi dengan hati-hati.

Sampai akhirnya aku tiba pada bagian yang paling menentukan.

Pilihan Program Studi.

Aku menarik napas panjang.

Kursor berkedip pelan.

Kolom pertama masih kosong.

Kolom kedua juga masih kosong.

Entah berapa menit aku memandangi layar itu.

Bukan karena aku bingung memilih.

Justru karena aku sudah terlalu yakin dengan apa yang ingin kupilih.

Aku mengetik perlahan.

Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Lalu memilih universitas yang sejak lama menjadi tujuan langkahku.

Universitas Negeri Surabaya.

Selesai.

Kini tinggal satu kolom lagi.

Pilihan kedua.

Beberapa teman kembali mengingatkanku.

"Yoga, isi saja pilihan kedua. Tidak ada ruginya."

Aku tersenyum.

Mereka tidak salah.

Saran itu bahkan sangat masuk akal.

Namun ada sesuatu dalam diriku yang berkata bahwa mimpi ini layak diperjuangkan sepenuh hati.

Aku tidak ingin memilih jurusan lain hanya sebagai pelarian jika gagal.

Aku ingin menjadi guru sekolah dasar.

Dan jika harus kuliah, aku ingin belajar di Universitas Negeri Surabaya.

Tidak ada tempat lain yang sejak SMP terus memenuhi doaku selain kampus itu.

Aku menatap kolom pilihan kedua cukup lama.

Lalu…

Aku membiarkannya kosong.

Hari itu mungkin menjadi salah satu keputusan paling berani yang pernah kuambil.

Bukan karena aku merasa pasti diterima.

Justru karena aku sadar kemungkinan gagal tetap ada.

Tetapi aku memilih mempercayai proses yang telah kubangun selama bertahun-tahun.

Aku percaya pada setiap pagi yang kuawali pukul dua dini hari.

Aku percaya pada setiap nilai yang kujaga dengan sungguh-sungguh.

Aku percaya pada setiap perlombaan yang memberiku pelajaran.

Aku percaya pada setiap doa yang dipanjatkan ayah dan ibu.

Dan yang paling penting… Aku percaya bahwa mimpi tidak pernah meminta jaminan.

Mimpi hanya meminta keberanian untuk diperjuangkan.

Hari-hari setelah pendaftaran terasa berjalan lebih lambat daripada biasanya.

Aku tetap berangkat sekolah.

Tetap belajar.

Tetap mempersiapkan diri menghadapi SNBT.

Karena aku tahu, apa pun hasil SNBP nanti, hidup tidak boleh berhenti.

Namun, ada satu kebiasaan yang tidak pernah berubah.

Pukul dua dini hari.

Aku tetap bangun.

Aku tetap belajar.

Dan ibu…

Masih tetap menjahit.

Kadang aku tersenyum sendiri.

Mungkin beginilah rasanya menunggu sesuatu yang sangat kita harapkan.

Hari-hari terasa panjang.

Tetapi harapan justru semakin tumbuh.

Hingga akhirnya…

Hari yang kutunggu itu benar-benar datang.

Hari pengumuman SNBP.

Sejak pagi, jantungku berdetak lebih cepat daripada biasanya.

Aku mencoba menyibukkan diri agar tidak terlalu memikirkan hasilnya.

Namun setiap kali melihat jam, rasanya waktu berjalan begitu lambat.

Menjelang pengumuman, aku sudah berada di rumah.

Aku membuka laman pengumuman.

Memasukkan nomor pendaftaran.

Tanggal lahir.

Lalu menekan tombol Lihat Hasil.

Layar memuat beberapa detik.

Bagiku, beberapa detik itu terasa seperti beberapa tahun.

Tanganku mulai dingin.

Aku menggenggamnya erat.

Di belakangku, ayah dan ibu berdiri tanpa banyak bicara.

Kami sama-sama menatap layar.

Lalu…

Tulisan itu muncul.

Selamat! Anda dinyatakan lulus Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi.

Aku terpaku.

Kubaca sekali lagi. Lalu sekali lagi.

Takut kalau-kalau mataku salah melihat.

Namun tulisan itu tidak berubah.

Aku benar-benar diterima.

Di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Universitas Negeri Surabaya.

Aku menoleh kepada ibu.

Beliau tersenyum sambil mengusap air mata yang perlahan jatuh di pipinya.

Ayah menepuk pundakku pelan.

Tidak ada sorak-sorai.

Tidak ada teriakan.

Yang ada hanyalah rasa syukur yang begitu besar memenuhi rumah kecil kami.

Di tengah keheningan itu, aku menyadari satu hal.

Perjuangan yang selama ini kami rajut bersama akhirnya mengantarkanku melewati gerbang pertama menuju mimpi.

Namun aku belum tahu…

Bahwa gerbang itu ternyata bukan garis akhir.

Ia baru saja menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih panjang.

"Selamat! Anda dinyatakan lulus Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi."

Kalimat itu masih tersimpan rapi di galeri telepon genggamku.

Bukan karena aku ingin terus mengingat keberhasilannya.

Melainkan karena setiap kali melihatnya, aku selalu teringat pada perjalanan panjang yang mengantarkanku hingga titik itu.

Aku berhasil.

Aku diterima di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Surabaya, kampus yang selama bertahun-tahun hanya berani kubayangkan dalam doa-doa dini hari.

Hari itu menjadi salah satu hari paling membahagiakan dalam hidup kami. Mimpi yang selama ini kujaga sejak bangku sekolah dasar akhirnya mulai menemukan jalannya. Aku diterima di jurusan dan kampus yang telah lama menjadi tujuan perjuanganku.

Namun, perjalanan menuju kampus impian ternyata belum sepenuhnya berjalan mulus.

Beberapa waktu setelah pengumuman SNBP, hasil seleksi KIP Kuliah diumumkan. Dengan penuh harap, aku membuka laman pengumuman dan mencari namaku berulang kali. Aku berharap bantuan tersebut dapat meringankan beban biaya pendidikan keluargaku.

Akan tetapi, hasil yang kutemukan tidak sesuai dengan harapan. Namaku tidak tercantum sebagai penerima KIP Kuliah.

Aku terdiam cukup lama di depan layar. Rasa syukur karena diterima di kampus impian masih memenuhi hati, tetapi di saat yang sama muncul kegelisahan yang sulit kuabaikan. Aku memahami kondisi ekonomi keluargaku. Karena itu, penolakan KIP Kuliah sempat membuatku ragu. Aku takut kebahagiaanku diterima di Universitas Negeri Surabaya justru menjadi beban bagi ayah dan ibu.

Malam itu, aku memberanikan diri berbicara dengan kedua orang tuaku. Dengan suara pelan, aku menyampaikan kekhawatiranku tentang biaya kuliah dan kemungkinan untuk tetap melanjutkan pendidikan.

Ayah mendengarkan dengan tenang, sementara ibu menggenggam tanganku sambil berkata, “Kalau memang niatmu mencari ilmu, jangan takut melangkah. Rezeki sudah Allah yang mengatur. Tugas kita adalah berusaha dan berdoa.”

Ayah kemudian menambahkan, “Tetap lanjutkan kuliahmu. Apa pun hasilnya nanti, kita hadapi bersama.”

Kalimat sederhana itu kembali menumbuhkan keberanian dalam diriku. Aku menyadari bahwa diterima di kampus impian bukan berarti semua tantangan telah selesai. Justru sejak saat itulah aku mulai belajar bahwa mimpi harus terus diperjuangkan, meskipun jalannya tidak selalu sesuai dengan harapan.

Dengan keyakinan tersebut, aku memutuskan untuk tetap melangkah. Aku belum mengetahui bagaimana jalan ke depan akan terbuka, tetapi aku percaya bahwa setiap usaha yang disertai doa akan menemukan jalannya pada waktu yang tepat.

Perjalanan sebagai mahasiswa akhirnya benar-benar dimulai. Aku datang ke Surabaya dengan membawa harapan besar, tetapi juga berbagai keterbatasan. Salah satu tantangan yang harus kuhadapi adalah aku belum memiliki laptop.

Pada masa awal kuliah, telepon genggam menjadi perangkat utama yang menemaniku belajar. Sebagian besar tugas perkuliahan kukerjakan melalui layar kecil di genggamanku itu. Ketika ada tugas yang mengharuskan menggunakan laptop, aku meminjam milik teman atau kerabat.

Kondisi tersebut tidak selalu mudah. Ada kalanya aku merasa kesulitan menyelesaikan tugas karena keterbatasan fasilitas. Namun aku berusaha untuk tidak menjadikan keterbatasan itu sebagai alasan untuk berhenti berkembang.

Aku mulai aktif mengikuti berbagai kegiatan di kampus. Aku bergabung dalam organisasi, mengikuti kegiatan kerelawanan, serta terlibat dalam program-program pengembangan diri. Sebagai mahasiswa PGSD, aku juga memiliki kesempatan untuk terjun langsung mendampingi dan membina murid sekolah dasar.

Di tengah berbagai aktivitas tersebut, aku tetap berusaha mencari peluang beasiswa. Perjalanan mencari beasiswa tidak selalu berjalan lancar. Ada kegagalan yang harus kuterima, tetapi setiap proses mengajarkanku untuk terus memperbaiki diri dan mempersiapkan diri dengan lebih matang.

Hingga akhirnya, perjuangan itu membuahkan hasil. Aku dinyatakan sebagai Awardee Beasiswa Unggulan. Kabar tersebut menjadi hadiah yang sangat berarti bagi diriku dan keluargaku, karena menjadi bukti bahwa usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh tidak pernah sia-sia.

Kini, setiap kali alarm kembali berbunyi pada pukul dua dini hari, aku selalu teringat pada perjalanan panjang yang telah kulalui. Aku teringat pada ruang tengah rumah kami yang sederhana, pada buku-buku pelajaran yang menemaniku belajar, dan pada suara mesin jahit ibu yang setia mengiringi setiap langkah perjuanganku.

Dari ruang kecil itulah aku belajar bahwa mimpi tidak dibangun dalam semalam. Mimpi dirawat melalui kerja keras yang dilakukan berulang-ulang, doa yang tidak pernah putus, serta keyakinan untuk tetap melangkah meskipun jalan yang ditempuh tidak selalu mudah.

Perjalanan ini membawaku melewati berbagai fase: diterima di kampus impian, menghadapi penolakan KIP Kuliah, menjalani perkuliahan dengan keterbatasan, hingga akhirnya memperoleh kesempatan sebagai Awardee Beasiswa Unggulan. Semua pengalaman itu mengajarkanku bahwa keberhasilan bukan hanya tentang hasil akhir, melainkan tentang keberanian untuk terus bangkit dan berusaha.

Jika suatu hari nanti aku berdiri di depan kelas sebagai seorang guru, aku ingin menjadi pribadi yang mampu menumbuhkan harapan pada setiap muridku. Sebab aku memahami betul bahwa harapan dapat tumbuh dari tempat yang paling sederhana, dari doa-doa yang dipanjatkan dengan tulus, dan dari dukungan keluarga yang tidak pernah berhenti percaya.

Akhirnya, aku menyadari bahwa yang dijahit ibu selama ini memang bukan hanya pakaian. Melalui setiap helai benang yang beliau rapikan, setiap malam yang beliau korbankan, dan setiap doa yang beliau selipkan dalam diam, beliau sedang menjahit harapan, keteguhan, dan masa depan anaknya.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *