Kisahku Menemukan Jalan di Ujung Perjuangan

By Dwi Apri

Pendidikan adalah jalan yang senantiasa kuupayakan dengan sepehuh hati, sebagai bekal yang paling berharga untuk masa depan yang lebih baik. Di tahun 2020, masa-masa akhir SMP, aku lebih menyukai pelajaran IPS dibandingkan IPA. Dulu aku merasa tertinggal di pelajaran matematika dan biologi, sehingga minatku pada rumpun ilmu pengetahuan alam pun belum tumbuh. Saat lulus SMP, aku bercita-cita masuk salah satu SMA favorit di kotaku. Meski bukan lulusan dengan nilai tertinggi, aku merasa nilaimu sudah cukup untuk meraihnya. Namun harapan itu harus berhadapan dengan kenyataan, orang tuaku tidak mengizinkan dan hanya memperbolehkanku bersekolah di tempat yang dekat dengan rumah agar mereka lebih mudah mengurusku.

Tahun 2021 aku resmi masuk SMA di dekat rumah. Di tengah kekecewaan, aku mengambil keputusan yang tak terduga dengan memilih jurusan MIPA. Aku sadar ini adalah bidang yang dulunya menjadi kelemahanku, namun aku memotivasi diri bahwa "Kelemahan itu bukanlah kekurangan, ketika kelemahan itu diasah dengan sungguh-sungguh, ia justru akan menjadi kekuatan terbesarmu." Saat aku baru masuk SMA, ayahku sedang sakit di tengah pandemi COVID-19. Kepatuhanku pada keinginan orang tua dan harapanku untuk membanggakan ayah menjadi alasan kuat aku membulatkan tekad. Awalnya aku bercita-cita masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Aku mulai membangun lingkungan belajar yang positif, mengerjakan tugas daring dengan serius, menyusun skala prioritas, dan menyusun strategi belajar untuk meraih kampus impian.

Pelajaran matematika yang dulunya aku hindari, kini aku pelajari lebih dulu di rumah sebelum materi diajarkan di kelas terutama karena di jurusan MIPA ada dua mata pelajaran matematika matematika wajib dan matematika minat. Perlahan aku mulai menyukainya aku menyimak penjelasan guru dengan saksama, berani mengoreksi jika ada penjelasan yang keliru, dan tak ragu bertanya saat merasa bingung. Hal yang sama terjadi pada fisika, kimia, dan biologi mata pelajaran yang dulu tak pernah kubayangkan akan kusukai. Puncaknya, saat rapor keluar nilai biologiku mencapai 95. Aku begitu bangga mata pelajaran yang dulunya menjadi ancaman, kini menjadi pelajaran favoritku. Aku juga aktif mengikuti berbagai lomba dan olimpiade secara daring. Hingga tahun kedua SMA, aku berhasil mempertahankan peringkat 1 di kelas, sekaligus terpilih sebagai kandidat Ketua OSIS.

Di masa ini cita-citaku mulai berubah, aku tertarik masuk PKN STAN. Bukan hanya karena prospek lulusannya, tapi karena lingkungan belajarnya yang sportif dan saling mendukung, serta kedisiplinan yang mengajak kita bersungguh-sungguh. Apalagi ada aturan dimana mahasiswa dengan IPK di bawah 2,75 akan dikenakan sanksi, bahkan putus studi. Namun aku masih memliki harapan untuk lolos di jalur SNBP, aku pun kembali berjuang sekuat tenaga demi lolos jalur SNBP, belajar dari pagi hingga larut malam. Tahun ketiga SMA, aku tetap bersyukur mempertahankan peringkat 1 dan terus meningkatkan nilai setiap semester. Hingga akhirnya tahun 2024, aku lulus sebagai lulusan terbaik jurusan MIPA di angkatanku. Aku juga mampu menyeimbangkan waktu antara belajar dan berorganisasi selama SMA aku aktif di OSIS, PMR, Pramuka, serta organisasi di luar sekolah.

Sumber: Dokumentasi Pribadi Sumber: Dokumentasi Pribadi

Lulus SMA adalah awal babak baru dalam perjuangan mencari kampus impian. Sebagai peringkat paling memenuhi syarat di jurusan MIPA, aku mendaftar jalur SNBP dengan pilihan pertama dan kedua sama yaitu Pendidikan Biologi di Universitas Negeri Yogyakarta. Aku begitu yakin dengan persiapanku. Hari pengumuman tiba pada 26 Maret 2024 pukul 15.00 WIB, disaksikan langsung oleh ayahku. Namun takdir berkata lain, hasilnya tidak lolos. Saat itu hatiku hancur lebur. Aku merasa telah mengecewakan orang-orang yang mendukungku selama ini, terutama orang tua dan guru-guru yang sering bertanya hasil seleksiku. Perjuangan tiga tahun, belajar tanpa henti, sertifikat lomba dan olimpiade yang kukumpulkan, rasanya seperti sia-sia.

Namun aku tak berhenti di situ. Satu bulan berikutnya aku belajar sekuat tenaga untuk persiapan SNBT, membaca buku tebal dan menonton materi pembelajaran. Kali ini aku memilih Manajemen di Universitas Negeri Semarang sebagai pilihan pertama, dan Akuntansi di Universitas Negeri Yogyakarta sebagai pilihan kedua. Mengingat aku juga menyukai pelajaran ekonomi dan mendapatkan nilai akhir 91. Sekali lagi hasilnya belum berpihak padaku. Saat itu aku justru mendapatkan tawaran beasiswa jalur undangan di Universitas Mercu Buana Yogyakarta di jurusan Manajemen. Namun hatiku belum siap masuk kampus swasta, cita-citaku masih tertuju pada perguruan tinggi negeri dan kedinasan, sehingga aku membiarkan kesempatan itu berlalu. Bukan bermaksud menyia-nyiakan, aku hanya belum siap.

Perjuangan berlanjut aku mendaftar seleksi administrasi PKN STAN namun gagal di tahap awal, lalu mencoba seleksi CPNS 2024 dan terhenti di ujian SKD. Setiap malam aku berdoa memohon jalan terbaik, namun rasa sedih, takut mengecewakan orang lain, dan takut tak bisa bermanfaat bagi orang lain terus menghantui. Akhirnya aku memutuskan merantau dan bekerja sambil mempersiapkan seleksi tahun depan. Pagi hari aku bekerja, malam hari aku belajar, rutinitas ini kujalani setiap hari. Satu tahun berlalu, saat waktunya persiapan UTBK tiba, aku justru jatuh sakit Demam Berdarah Dengue di perantauan. Aku terbaring lemah selama sebulan dan harus pulang ke rumah, sehingga kehilangan kesempatan itu. Perasaan kecewa dan sedih kembali menyelimuti, padahal persiapanku, mental dan materi sudah jauh lebih matang dibanding tahun lalu.

Tahun 2025 aku kembali mencoba mendaftar PKN STAN, namun kali ini aku mulai berdamai dengan keadaan dan membuka hati untuk kampus swasta. Aku mulai mengenali potensi dan minatku yang sebenarnya, serta berjanji tak akan menyia-nyiakan kesempatan apa pun yang datang. Pada waktu yang hampir bersamaan aku mengikuti ujian seleksi kompetensi dasar PKN STAN di BKN Yogyakarta dan tes masuk kampus swasta. Sebelum berangkat aku meminta doa restu orang tua, ternyata mereka lebih meridhoi jika aku kuliah di kampus yang dekat dengan rumah. Sekali lagi aku gagal lolos PKN STAN dengan selisih nilai yang tipis. Namun pada akhirnya, takdir tidak pernah salah jalan, ia hanya menunda untuk memberikan jalan yang jauh lebih tepat, akhirnya aku tersenyum. Aku diterima di UMP jurusan Hukum dengan beasiswa penuh. Perlahan aku mulai ikhlas dan menerima, inilah jalan yang sudah disiapkan Tuhan untukku. Aku memulai semua dengan ikhlas dan niat yang tulus.

Dulu aku berpikir kegagalan berarti berakhirnya perjuangan. Namun kini aku paham, tidak ada satu pun usahaku yang sia-sia. Segala penolakan, rasa sakit, dan kesulitan telah menempa mental dan mengajarkanku arti pantang menyerah. Kutipan Michael Jordan selalu menjadi pengingatku bahwa "Saya telah gagal dan gagal dan gagal dalam hidup saya dan itulah sebabnya saya berhasil." Perjuangan masuk kampus impian belum berakhir dengan cara yang kubayangkan, tapi ia telah membentukku menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih ikhlas, dan siap melangkah lebih jauh di mana pun aku berada. Aku tidak menyerah begitu saja saat memperjuangkan mimpiku, namun penuh jerih payah dalam memperjuangkannya. Sampai berada di titik dimana penerimaan itu sudah ada, memang inilah jalannya, memang inilah takdirku. Pengalaman adalah guru yang terbaik, kupastikan aku tidak akan salah arah dalam menentukan jalanku kedepan.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *