KELUAR DARI ZONA NYAMAN: DAMPAKNYA TERHADAP MASA DEPAN SESEORANG
Karya: Vina Enjelita Puspitasari
Kita semua mengejar masa depan yang lebih baik. Namun ironisnya, kita memilih untuk tetap diam di tempat yang membuat kita nyaman hari ini. Zona nyaman memang menenangkan, tetapi ia juga merupakan penjara paling halus bagi masa depan.
Perkenalkan, saya Vina, lulusan SMA tahun 2026. Di usia peralihan seperti sekarang, saya menyaksikan sendiri bagaimana zona nyaman dapat menjadi penghambat terbesar bagi perkembangan diri dan masa depan seseorang.
Perjalanan ini bermula sejak saya duduk di bangku Sekolah Dasar. Sejak saat itu, cita-cita saya adalah menjadi seorang dokter. Setiap kali ditanya, saya selalu menjawab dengan keyakinan yang sama. Namun, keyakinan itu mulai goyah ketika saya memasuki kelas XII semester akhir.
Selama masa Sekolah Dasar hingga SMA, saya selalu berada di dalam zona nyaman. Saya tidak memiliki pencapaian signifikan yang dapat mendukung saya untuk meraih cita-cita tersebut. Ketika tiba waktu Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi atau SNBP, karena status saya eligible, saya menjadi lengah dan terlalu percaya diri. Nyatanya, sikap naif itu membuahkan hasil yang sesuai dengan usaha saya. Pada pengumuman pukul 15.00 WIB, nama saya tertera dalam warna merah. Saya dinyatakan gagal.
Dahulu saya sering meremehkan orang-orang yang mengatakan bahwa kelas XII adalah fase kehilangan arah. Namun hari itu membuktikan bahwa pernyataan tersebut benar adanya. Saya benar-benar kehilangan arah. Bahkan sempat terlintas keinginan untuk gap year dan bekerja. Akan tetapi, orang tua saya menolak dan terus menyemangati saya agar tidak menyerah.
Akhirnya, saya mencoba kembali melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Tes atau SNBT. Dalam kurun waktu satu bulan, saya belajar secara otodidak tanpa bimbingan les, hanya mengandalkan buku dan video pembelajaran di media sosial. Hasilnya tetap sama, saya kembali gagal.
Itu adalah fase yang tidak akan pernah saya lupakan. Rasa kecewa terhadap diri sendiri memang besar, tetapi yang jauh lebih menyakitkan adalah melihat harapan orang-orang di sekitar saya perlahan memudar. Sejak saat itulah saya menjadi sulit untuk menceritakan rencana saya kepada orang lain. Saya tidak sanggup menanggung rasa sedih orang lain akibat kegagalan saya.
Kita selalu berkata, "Beri aku jeda." Namun hidup tidak pernah menjawab, "Baiklah, aku akan menunggu." Begitulah hidup terus berjalan, bahkan saat kita belum siap untuk melangkah.
Lagi-lagi saya berniat untuk gap year, tetapi orang tua saya sangat berharap saya dapat melanjutkan kuliah di tahun ini. Harapan terakhir saya saat itu adalah melalui jalur mandiri, namun biayanya jauh lebih besar. Di tengah kebimbangan itu, saya akhirnya memutuskan untuk melepaskan mimpi saya sejak kecil, karena suatu alasan yang tidak memungkinkan saya untuk mengambil jurusan Kedokteran melalui jalur mandiri.
Saya mendaftar ke beberapa universitas melalui jalur mandiri. Rasanya lelah mengisi formulir berulang kali, hanya untuk menerima deretan kata "mohon maaf". Namun, di tengah tumpukan penolakan itu, akhirnya saya menerima satu kalimat "selamat". Lega. Meskipun saya harus berkuliah di jurusan dan universitas yang tidak pernah ada dalam daftar keinginan saya sebelumnya, saya bersyukur. Saya percaya bahwa Allah adalah sebaik-baiknya penulis skenario.
Dari seluruh proses itu, saya belajar banyak hal. Saya berjanji pada diri saya sendiri, selama masa kuliah nanti saya akan keluar dari zona nyaman. Saya akan mengambil setiap kesempatan yang sebelumnya saya lewatkan karena rasa takut.
Untuk adik-adik dan teman-teman di luar sana yang saat ini masih berada di dalam zona nyaman, segeralah keluar. Jangan menunggu hari esok. Ingatlah bahwa hari ini adalah hari esok yang dulu kamu janjikan. Jika mimpimu besar, maka usahamu pun harus besar. Raih semua kesempatan yang dapat membawamu lebih dekat pada mimpi itu.
Saya memahami betul rasa takut untuk keluar dari zona nyaman. Maka dari itu, jangan tunggu rasa takut itu hilang. Lakukan saja, meskipun dengan gemetar dan ketakutan.
Mari bersama-sama tumbuh menjadi pribadi terbaik versi kita.
Sekian dari saya. Semoga cerita ini dapat menjadi motivasi bagi kita semua untuk berani melangkah.
—
