Bukan Mimpiku, tapi Rencana-Nya
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)
Aku pernah berdoa agar tidak menjadi seorang bidan. Selama bertahun-tahun aku yakin telah memilih jalan yang tepat bagi masa depanku. Aku menyusun rencana, menentukan tujuan, dan percaya bahwa masa depanku tidak akan pernah bersinggungan dengan profesi itu. Namun, semakin keras aku menghindarinya, semakin dekat Allah menuntunku ke sana. Saat itu, aku belum benar-benar memahami makna firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 216.
Saat duduk di bangku kelas XI SMA, aku mulai memikirkan jurusan kuliah yang ingin kupilih. Banyak orang mengatakan bahwa aku cocok berada di bidang kesehatan. Akan tetapi, di dalam hatiku, aku justru ingin menjadi seorang guru SD atau TK. Aku menyukai dunia anak-anak. Melihat mereka belajar, bermain, dan bertumbuh selalu menghadirkan kebahagiaan yang sulit dijelaskan. Di sisi lain, kedua orang tuaku juga menyarankan agar aku memilih bidang kesehatan. Saran serupa juga datang dari beberapa teman dekatku. Ketika kebingungan menentukan pilihan, aku meminta pendapat mereka.
Salah seorang di antaranya berkata, "Kenapa tidak jadi bidan saja? Ibumu juga bidan."
Aku spontan menjawab, "Jangan. Apa pun jurusannya, asal jangan kebidanan."
Penolakanku saat itu benar-benar datang dari lubuk hati yang paling dalam.
Alasannya bukan karena aku membenci profesi tersebut. Justru karena aku terlalu dekat dengannya. Ibuku adalah seorang bidan. Sejak kecil aku melihat bagaimana profesi itu menuntut waktu, tenaga, dan pengorbanan yang luar biasa. Saat teman-temanku pulang bersama orang tua mereka, aku sering kali masih duduk di sekolah menunggu ibu datang. Ada kalanya beliau terlambat menghadiri rapat sekolah, bahkan beberapa kali tidak dapat hadir sama sekali karena harus membantu persalinan atau menangani pasien. Sebagai seorang anak, aku belum memahami bahwa saat itu ibuku sedang menyelamatkan kehidupan orang lain. Yang kupahami hanyalah rasa kecewa karena ingin ditemani. Pengalaman-pengalaman kecil itulah yang membuatku semakin yakin bahwa aku tidak ingin menjadi seorang bidan. Aku tidak ingin anakku kelak merasakan hal yang sama.
Memasuki kelas XII, aku memperoleh kesempatan mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi. Bersama guru BK, aku memilih Program Studi Kesehatan Masyarakat sebagai pilihan pertama dan Keperawatan sebagai pilihan kedua di Universitas Jember. Saat itu aku benar-benar yakin bahwa jalan hidupku bukanlah kebidanan. Beberapa hari setelah pendaftaran SNBP, sekolah menerima informasi mengenai pembukaan jalur prestasi Poltekkes Kemenkes Malang. Awalnya aku sama sekali tidak tertarik. Bahkan ketika banyak teman mengatakan bahwa kriterianya sangat sesuai denganku, aku tetap merasa tidak perlu mendaftar. Dalam pikiranku saat itu, SNBP pasti akan menjadi jalanku.
Dua hari menjelang penutupan pendaftaran, keyakinanku berubah. Entah mengapa, muncul dorongan yang sangat kuat untuk mencoba mendaftar. Aku menemui guru dan meminta pendapat beliau. Keesokan harinya aku datang membawa seluruh berkas persyaratan. Proses pendaftaran berjalan lancar hingga tiba pada kolom pilihan program studi. Aku terdiam beberapa saat menatap layar di hadapanku. Kolom itu masih kosong, sementara aku sendiri belum benar-benar memutuskan jurusan yang ingin kupilih.
“Jurusan apa, Mbak?” tanya guru.
Entah mengapa, tanpa sempat mempertimbangkannya lagi, aku menjawab pelan, “Sarjana Terapan Kebidanan, Pak.”
Guru segera mengetik pilihan tersebut. Beberapa detik kemudian aku justru terpaku. Aku bertanya-tanya kepada diriku sendiri mengapa aku memilih jurusan yang selama ini paling kutolak. Rasanya seperti keputusan itu bukan lahir dari perhitungan logika, melainkan datang begitu saja tanpa mampu kujelaskan.
Dua minggu kemudian hasil seleksi diumumkan. Hari itu aku menjalani aktivitas seperti biasa. Aku bahkan hampir lupa bahwa pengumuman telah keluar. Setelah pulang ke asrama, makan siang, dan beristirahat, tiba-tiba seorang utusan guru datang untuk menyampaikan pesan dari guru untuk menyampaikan kabar dari guru bahwa aku dinyatakan lolos di Poltekkes Kemenkes Malang. Teman-teman sekamarku mengucapkan selamat dengan wajah penuh kebahagiaan. Aku pun tersenyum, tetapi di balik senyum itu air mataku justru mengalir. Aku bukan menangis karena tidak bersyukur, melainkan karena dipenuhi pertanyaan tentang masa depan. Bagaimana jika SNBP-ku juga diterima? Bagaimana jika aku salah memilih jalan?
Dalam kebingungan itu aku menemui sahabatku. Setelah mendengarkan semua kegelisahanku, ia berkata bahwa mungkin inilah jalan yang tuhan pilihkan. Ia mengingatkanku bahwa aku tidak harus memahami seluruh rencana Tuhan pada hari itu juga. Yang perlu kulakukan hanyalah menjalani setiap proses dengan ikhlas. Keesokan harinya aku menghubungi kedua orang tuaku. Tanpa diduga, mereka menyampaikan pesan yang hampir sama. Mereka memintaku berhenti mencemaskan hal-hal yang belum terjadi dan mulai mempercayai jalan yang telah Tuhan bukakan.
Sejak saat itu aku memilih menjalani setiap tahapan dengan sungguh-sungguh. Tes kesehatan kulalui. Pemberkasan kuselesaikan. Hingga akhirnya aku resmi diterima sebagai mahasiswa Sarjana Terapan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Malang. Saat itu aku belum sepenuhnya memahami mengapa Tuhan membawaku ke jalan ini. Aku hanya berusaha menjalani setiap proses dengan ikhlas, sambil percaya bahwa suatu hari nanti aku akan mengerti alasan di balik semua ini.
Hari-hari sebagai mahasiswa kebidanan perlahan mengubah cara pandangku. Aku tidak lagi mempelajari kebidanan hanya dari buku atau ruang kelas. Aku mulai melihat secara langsung bagaimana seorang bidan bekerja. Saat menjalani praktik klinik, aku menyaksikan seorang ibu berjuang menahan nyeri persalinan, sementara keluarganya hanya bisa menggenggam tangan dan memanjatkan doa. Di sampingnya, seorang bidan tetap berdiri dengan tenang, memberikan semangat, memastikan setiap tindakan dilakukan dengan tepat, hingga akhirnya tangisan pertama sang bayi memenuhi ruangan. Seketika suasana yang semula dipenuhi kecemasan berubah menjadi haru dan syukur. Saat itulah aku menyadari bahwa seorang bidan bukan sekadar membantu proses kelahiran, tetapi juga menghadirkan harapan bagi sebuah keluarga.
Di momen itulah pikiranku melayang kepada sosok yang selama ini begitu dekat denganku, ibuku. Aku tiba-tiba teringat mengapa beliau sering pulang larut malam. Mengapa beliau beberapa kali tidak sempat menghadiri acara sekolahku. Mengapa setiap panggilan darurat selalu membuatnya bergegas meninggalkan rumah, bahkan ketika kami sedang berkumpul bersama.
Dulu aku mengira profesi bidan telah mengambil banyak waktu seorang ibu dariku. Kini, ketika menoleh ke belakang, aku akhirnya memahami bahwa tidak semua doa dijawab sesuai dengan keinginan kita. Ada kalanya Allah justru mengarahkan kita ke jalan yang paling kita hindari, karena di sanalah kita akan menemukan pelajaran yang paling berharga. Saat itulah aku benar-benar berdamai dengan masa kecilku. Aku tidak lagi melihat ibuku sebagai seseorang yang sering datang terlambat. Aku melihatnya sebagai perempuan yang berkali-kali memilih hadir bagi kehidupan orang lain, meskipun itu berarti harus mengorbankan sebagian waktunya bersama keluarga.
Hari itu aku menyadari bahwa penolakanku terhadap profesi bidan selama ini lahir dari sudut pandang seorang anak yang belum memahami arti pengabdian. Tuhan tidak mengubah masa kecilku. Namun, Dia mengubah cara pandangku terhadap setiap kenangan yang pernah ada. Dari sanalah aku belajar bahwa memahami seseorang sering kali membutuhkan perjalanan panjang.
Kini aku memahami bahwa tidak semua doa dijawab sesuai dengan keinginan kita. Ada kalanya Allah justru mengarahkan kita ke jalan yang paling kita hindari, karena di sanalah kita akan menemukan pelajaran yang paling berharga.
Mungkin benar, ini bukan mimpiku.
Namun sejak awal, inilah rencana-Nya.

Keren bgt, relate sama ceritaku dulu pas masuk kuliah sampe sekarang udah jadi bidan
MaasyaAllah keren banget dek… insyaAllah habis lulus jadi bidan yang banyak menebar manfaat jugak
Waah menginspirasi sekali, semangat yaa
Masya Allah keren banget, semangat terus mbak sangat menginspirasi
Aku terharu bacanya
I proud of you… ✨❤
I hope you enjoy your life, I support you girlies!
MasyaAllah keren sekali. Relate dengan ceritaku tapi dgn profesi yg berbeda. Saat ini masih pun mempertanyakan. Tapi mencoba menjalani dan ikhlas karena sudah menjadi sebuah pilihan yg sedang dilaksanakan. Semangat teruss Nailah
Words for heal, keren banget inspiring. Thanks ya uda nulis ini
Masyaallah keret bangettttt
MasyaAllah, baarakallahu fiik Dek.
Semangaaaat! Bermaanfaat untuk ummat yaaa
Tauu kann kenapa Allah ngasih pilihan ituu, I proud of youu girlss
wihhh kerenn sister hanummmasyaallah bnget perjalanan untuk menempuh pendidikan kesehatan tetap semangat yaa sister jangan pantang menyerah, tidak ada yng tau perjalanan yang baik untukmu.pokoknya semngattprond of you sisterr
masyaAllah, very inspiring
MasyaAllah, setelah baca tulisanmu sampai selesai, aku benar-benar ikut hanyut dalam setiap bait ceritanya. Caramu menyampaikan setiap prosesnya terasa jujur dan ngena. Mungkin karena aku juga pernah merasakan hal yang hampir sama. Ada banyak hal yang dulu tidak pernah kita pahami saat masih tinggal di rumah. Baru ketika merantau dan menjalani kehidupan sendiri, aku sadar bahwa ternyata di balik setiap pengorbanan orang tua selalu ada kasih sayang yang tidak pernah mereka ucapkan.
Tulisanmu bukan sekadar menceritakan perjalanan memilih jurusan, tapi juga mengajarkan bahwa sering kali Tuhan membawa kita ke jalan yang paling kita hindari, justru karena di sanalah kita akan bertumbuh dan menemukan makna yang selama ini tidak kita mengerti.
Semangat terus ya, Dek. Teruslah belajar, berproses, dan jangan pernah berhenti bermimpi. memang ini adalah jalan u, dan di balik itu semua rencana nya memang indah yg tak sanggup kau imajinasikan.
Teruslah melangkah dengan penuh keyakinan. I truly believe that one day you’ll become not only an exceptional practitioner, but also an inspiring educator who dedicates knowledge and compassion for the benefit of many umat. Keep your faith, trust God’s timing, because His plans are always more beautiful than anything we could ever imagine. Proud of you, always. ✨
Sumpah sii keren bangett masyaallah, Allah is the best plan ✨
Masyaallah,,,kalau Allah yg menghendaki siapapun gak ada yg bisa menghalangi. Semangat dan terus berjuang untuk memperoleh kemerdekaan.