Empat Jam Menuju Mimpi

Perjalanan Seorang Anak Kampung Meraih Kampus Impian

“Bagaimana kalau aku gagal lagi?”

Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku ketika bus yang kutumpangi mulai meninggalkan kampung halaman. Aku duduk di dekat jendela, menggenggam erat kartu peserta SBMPTN yang mulai kusut karena terlalu sering kubuka. Perjalanan menuju lokasi ujian membutuhkan waktu sekitar empat jam. Bagi sebagian orang mungkin itu hanyalah perjalanan biasa, tetapi bagiku perjalanan itu terasa seperti mempertaruhkan masa depan.

Aku mencoba mengalihkan pandangan ke luar jendela. Hamparan sawah, pepohonan, dan rumah-rumah kecil perlahan menjauh. Namun, pikiranku tidak ikut pergi. Bayangan kegagalan beberapa bulan sebelumnya terus menghantuiku. Tanpa kusadari, air mata jatuh satu per satu. Aku segera mengusapnya agar tidak ada penumpang lain yang melihat.

Di dalam bus itu aku sendirian. Tidak ada ayah yang mengantarku hingga terminal aku hanya di antar kedua orngtuaku sampai depan pintu rumah. Tidak ada ibu yang menggenggam tanganku sebelum ujian. Yang kubawa hanyalah doa mereka dan harapan bahwa perjalanan empat jam ini akan membawaku lebih dekat kepada kampus impianku.

(Gambar diambil pribadi milik penulis)

Aku adalah siswi SMA Negeri 1 Raya. Sejak kecil, aku bercita-cita bekerja di bidang kesehatan. Keinginan itu tumbuh karena ayahku mengidap penyakit jantung dan diabetes. Melihat beliau menjalani pemeriksaan dan menggunakan berbagai alat kesehatan membuatku bertanya-tanya siapa yang menciptakan alat-alat itu dan bagaimana teknologi mampu membantu seseorang bertahan hidup.

Sejak itu aku sering melihat beliau keluar masuk rumah sakit, menjalani pemeriksaan, dan bergantung pada berbagai alat kesehatan. Sebagai anak, aku sering bertanya dalam hati, siapa yang menciptakan alat-alat itu? Bagaimana teknologi dapat membantu seseorang bertahan hidup?

Rasa penasaran itu perlahan berubah menjadi impian. Aku ingin belajar di bidang yang menggabungkan teknologi dan kesehatan agar suatu hari nanti dapat berkontribusi menciptakan inovasi yang bermanfaat bagi banyak orang.

Saat mencari perguruan tinggi, aku menemukan Program Studi Teknik Biomedis di Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Kampus itu menjadi impianku karena masih berada di Pulau Sumatera sehingga aku tidak perlu menyeberang ke Pulau Jawa, sekaligus menawarkan bidang yang benar-benar ingin kupelajari: rekayasa alat kesehatan, organ buatan, hingga penelitian.

Rasa penasaran itu membawaku memilih Program Studi Teknik Biomedis di Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Kampus itu menjadi impianku karena menawarkan bidang yang ingin kupelajari: alat kesehatan, organ buatan, inovasi, dan penelitian.

Namun, ada satu kenyataan yang selalu mengikutiku. Aku berasal dari keluarga sederhana. Karena itu, masuk perguruan tinggi bukan sekadar impian, tetapi harapan agar biaya kuliah lebih terjangkau.

Sejak kelas X SMA, aku berusaha meningkatkan nilai setiap semester agar menjadi siswa eligible. Aku bangun pukul lima pagi untuk belajar sebelum sekolah. Namun, hari Sabtu selalu berbeda.

Sejak pukul empat pagi, aku membantu ibu menyiapkan dagangan untuk dijual di pasar. Setelah semuanya siap, aku bergegas ke sekolah. Tak jarang aku terlambat, tetapi aku tidak pernah menyesali waktu yang kuhabiskan untuk membantu ibu.

Aku percaya, perjuangan tidak selalu dilakukan di ruang kelas. Kadang perjuangan dimulai dari dapur rumah, dari tangan yang membantu orang tua sebelum mengejar mimpi sendiri.

(Gambar diambil pribadi milik penulis)

Usaha itu akhirnya membuahkan hasil. Namaku akhirnya masuk daftar eligible, aku sangat bersyukur.

Dengan penuh semangat aku pun mendaftar SNMPTN dan KIP Kuliah. karena aku sadar bantuan itu dapat meringankan beban kedua orang tuaku.

Hari pengumuman SNMPTN akhirnya tiba.

Tanganku gemetar saat membuka laman hasil seleksi.

Namun, harapan itu belum menjadi kenyataan.

Aku dinyatakan tidak lolos.

Rasanya seluruh perjuangan selama tiga tahun di bangku SMA runtuh dalam hitungan detik.Namun hasil SNMPTN tidak sesuai harapan. Aku gagal.

Aku menangis seharian di kamar. Aku merasa semua perjuanganku sia-sia. Air mataku terus mengalir tanopa henti, untuk pertamakalinya aku merasa telah mengecewakan kedua orangtuaku. Taklama kemudian pintu kamarku terbuka ternyata yang ibuku memenemuiku. Aku berkata “ bu.. aku gagal .”

Saat itulah ibu datang memelukku dan berkata bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia. Kalimat sederhana itu membuatku bangkit katanya ; "Nak, tidak ada perjuangan yang sia-sia. Kalau jalan ini belum terbuka, bukan berarti Tuhan menutup semua jalanmu."

Pelukan itu menjadi titik balik dalam hidupku.

(Gambar diambil pribadi milik penulis)

Sebulan berikutnya kuhabiskan untuk belajar lebih keras. Aku mengerjakan latihan soal, mengulang materi, dan memperbaiki kelemahanku.

Ketika lokasi ujian diumumkan, aku harus berangkat ke ibu kota provinsi yang berjarak sekitar empat jam dari rumah.

Aku pergi sendirian menggunakan bus.

Setibanya di lokasi ujian, aku melihat banyak peserta datang bersama kedua orang tuanya. Ada yang diantar menggunakan mobil, ada yang dibonceng sepeda motor, bahkan ada orang tua yang rela menunggu di depan gedung hingga ujian selesai.

Aku hanya berdiri seorang diri.

Sesaat aku merasa iri.

“Andai keadaan keluargaku berbeda, mungkin ayah dan ibu juga ingin berada di sana.” Sebutku dalam hati

Namun kemudian aku tersenyum kecil. Aku sadar, meski mereka tidak berada di sampingku, doa mereka telah mengantarkanku sampai sejauh ini.Aku memutuskan mencoba SBMPTN. Selama sebulan aku kembali belajar lebih keras. Lokasi ujian berada sekitar empat jam dari rumah sehingga aku harus berangkat sendirian menggunakan bus.

Setelah ujian selesai, aku pulang ke kampung halaman dan kembali menjalani aktivitas seperti biasa sambil terus berdoa.

Hari pengumuman SBMPTN akhirnya tiba. Karena masih dihantui kegagalan sebelumnya, aku memilih masuk ke kamar sendirian.

Di ruang tamu, ayah duduk sambil menonton televisi. Sesekali beliau melirik ke arah kamarku. Ibu tampak mondar-mandir dari dapur. Kami semua menunggu.

Tepat pukul tiga sore.

Aku membuka laman pengumuman.

Beberapa detik terasa begitu panjang.

Lalu muncul satu kalimat yang sudah lama ku tunggu tunggu.

"Selamat! Anda dinyatakan lulus."

Aku menutup mulutku dengan kedua tangan. Air mata mengalir lagi.

Namun kali ini bukan karena kecewa.

Aku berlari keluar kamar. Kata ku "Pak… Bu… aku lolos Teknik Biomedis ITERA!"

Ayah langsung berdiri, beliau tersenyum lebar.

Senyum yang mungkin tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku.

Rumah kecil kami sore itu dipenuhi tangis syukur

Di balik kebahagiaan itu, aku masih melihat kegelisahan di mata ayah dan ibu.

Mereka tentu memikirkan biaya kuliahku. Aku hanya berkata, "Kita masih punya harapan. Aku sudah mendaftar KIP Kuliah."

Tiga hari kemudian, aku kembali membuka sebuah laman, tanganku kembali gemetar. Ketika namaku dinyatakan lolos sebagai penerima KIP Kuliah, aku langsung memeluk kedua orang tuaku.

(Gambar diambil pribadi milik penulis)

Aku melihat wajah ayah yang kembali tersenyum. Senyum itu bukan sekadar karena aku diterima di kampus impian, tetapi karena beliau tahu mimpiku kini memiliki jalan untuk diwujudkan.

Hari ini aku sedang berada di penghujung perjalanan sebagai mahasiswa Teknik Biomedis ITERA. Aku belajar tentang teknologi kesehatan, alat kesehatan, dan penelitian. Bahkan skripsiku berfokus pada pengembangan patch transdermal berbasis pektin kulit jeruk sebagai penghantar ekstrak andaliman sebagai bagian dari upaya pengembangan inovasi di bidang kesehatan.

Setiap kali menghadapi revisi, eksperimen yang gagal, atau rasa lelah di laboratorium, aku selalu mengingat perjalanan empat jam di dalam bus itu.

Aku teringat gadis SMA yang bangun sebelum matahari terbit untuk belajar, membantu ibunya berdagang, menangis karena gagal, lalu bangkit untuk mencoba sekali lagi.

Kini aku sadar, perjalanan empat jam itu bukan sekadar perjalanan menuju lokasi ujian.

Itu adalah perjalanan menuju masa depan.

Perjalanan yang mengajarkanku bahwa mimpi tidak pernah meminta kita untuk menjadi sempurna. Mimpi hanya meminta kita untuk terus melangkah, bahkan ketika langkah itu terasa berat.

Dan jika hari ini ada seorang anak yang sedang membaca kisah ini sambil merasa mimpinya terlalu jauh, izinkan aku mengatakan satu hal:

Jangan menyerah. Karena suatu hari nanti, kamu mungkin akan menoleh ke belakang dan menyadari bahwa setiap air mata, setiap kegagalan, dan setiap langkah kecil yang pernah kamu lalui ternyata sedang mengantarkanmu menuju tempat yang selama ini kamu impikan.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *