CERITA SINGKAT TENTANG PERJUANGAN MENGEJAR KAMPUS IMPIAN DAN JURUSAN IMPIAN
setiap orang pasti memiliki mimpi dan cita cita nya masing masing, Bahkan sejak kecil kita sudah punya banyak mimpi dan pada saat SMA kita mulai punya universitas impian. Begitupun dengan saya, nama saya Yunita Viranka biasa dipanggil Yuni atau Yunita, nama yang cukup pasaran memang, namun mengandung banyak doa dan makna, mari kita fokus ke perjalanan bagaimana saya menggapai kampus dan jurusan impian.
Sejak kecil saya sangat ingin menjadi seorang dokter, bagi saya dokter adalah sosok hebat yang berhati mulia. Sejak kecil saya juga suka hal hal yang berbau tentang alam, bagaimana mereka bekerja dan selalu bertanya tentang bagaimana mereka tumbuh.saya suka membaca buku buku yang terkesan itu adalah hal yang membosan kan tapi menurut saja itu hal yang sangat menarik, selain itu saya juga suka menulis sebuah puisi.
Kita masuk ke masa putih abu abu saya, dulu ada beberapa SMA favorit atau unggulan didaerah saya dan pada saat saya kelas 9 SMP saya mendapatkan jalur undangan di SMA unggulan nomer 1 didaerah saya, lalu saya juga lulus seleksi masuk melalui prestasi ke SMA unggulan nomer 2 didaerah saya. Namun 2 SMA tersebut harus saya relakan dikarenakan terhalang restu orang tua hingga akhirnya saya menjalani masa putih abu abu saya di SMA biasa di salah satu kabupaten tempat saya tinggal.
Awalnya semua berjalan tidak menyenangkan dan flat namun seiring berjalan nya waktu saya mulai menikmati dan menjadi salah satu siswa berprestasi, hingga tiba lah saat kelas 12. Pada awal kelas 12 saya berkonsultasi dengan guru fisika saya mengenai mimpi saya, dan dia menyarankan untuk belajar lebih awal untuk tes dan jangan terlalu berharap ke seleksi melalu prestasi atau familiar disebut SNBP. Ada kalimat yang akan saya kenang seumur hidup saya yang beliau ucapkan yaitu "kejarlah apapun mimpimu dan daftarlah seleksi masuknya namun ketika kamu selesai mendaftar anggap lah kamu telah ditolak 99%, agar ketika kamu diterima rasa senangmu 99% dan ketika kamu ditolak rasa kecewamu hanya 1%"
Kalimat tersebut bukan untuk pesimis namun itu menjadi pembatas untuk saya siap akan kemungkinan terburuk yang akan terjadi ketika saya melsayakan pendaftaran di seleksi masuk PTN baik secara prestasi maupun tes. Dan saya bisa fokus belajar untuk seleksi masuk alternatif lain nya.
Mulai saat itu saya mulai serius belajar baik dari buku atau pun dri YouTube, namun saya memilih untuk tidak mengikuti les atau bimbel untuk seleksi tes masuk PTN, dikarenakan saya tipe yang tidak dapat mengikuti kegiatan seperti tes atau bimbel.
Tiba lah saat pengujung semester 1 kelas 12, peringkat eligible telah diumumkan, dan nama saya muncul di bagian atas sebagai siswa yang menduduki eligible pertama di SMA saya, dengan nama serta nilai terpampang jelas dipapan pengumuman "Yunita Viranka ( 91,…). saat saya melihat pengumuman tersebut saya tidak merasa bangga ataupun tertawa senang, bukan karena saya tidak bahagia, namun justru saya khawatir bagaimana jika saya terlalu menaruh harapan karena melihat nilai saya.
Saat itu saya sadar nilai saya tidak cukup untuk memilih prodi kedokteran, tetapi saya tetap mengambil resiko dengan memilih prodi tersebut demi memenuhi rasa penasaran saya. Tetapi setelah pendaftaran saya melupakan hal tersebut dan fokus belajar, tidak ada 1 pun pernah yang tau pilihan prodi saya selain teman dekat saya 2 orang, guru BK serta guru fisika saya.
Tiba hal dihari pengumuman saat itu kami sedang melaksanakan ujian akhir semester 2 dan ujian akhir dimasa putih abu abu kami. Pengumuman dibuka pukul 3 sore dan saya membuka pengumuman tersebut setelah magrib dengan didampingi ibu saya. Dan ya pengumuman tersebut berwarna merah dengan tulisan tebal capslock " TIDAK LULUS ". Ibu saya nampak sedih melihatnya, namun saya justru tertawa ringan melihat nya karena saya telah menduga hal tersebut. Setelah pengumuman tersebut pada dini hari nya saya langsung mendaftar seleksi tes dan juga mendaftar ke Poltekkes jalur tes.
Singkat cerita selama 1 bulan terakhir sebelum tes saya benar benar fokus belajar demi mengejar kedokteran, sejujurnya Poltekkes tidak pernah ada diplan kehidupan saya terutama jurusan kebidanan. Dikarenakan saya mendaftar tes di 2 tempat berbeda dan berada dalam naungan yang berbeda maka saya melsayakan 2 kali tes, tes pertama di Poltekkes dan tes kedua di PTN memalui jalur SNBT.
Pada tes pertama saya didampingi oleh ibu pergi dari kabupaten tempat saya tinggal ke ibu kota provinsi tempat saya melaksanakan tes, saya dan ibu saya menginap sementara di kos kakak sepupu saya yang telah berkeluarga, sekitar 1 malam 2 hari, jujur saya merasa sedih dan hati saya bergetar saat melihat ibu saya, itu pengalaman pertama kami berdua, ibu saya kebingungan karena dia tidak bisa mengantar saya, jadi dia hanya mengantar sampai depan pintu kos melihat saya berangkat ke lokasi tes bersama kakak sepupu saya. Setelah tes dipagi hari hingga siang hari, pada sore harinya saya dan ibu saya langsung pulang kerumah.
Di tes kedua saat saya tes di PTN saya pergi bersama kakak sepupu saya naik kereta tanpa didampingi oleh kedua orang tua saya dikarenakan mereka ada urusan serta merasa tidak enak harus menumpang di kos kakak sepupu saya.
Singkatnya hasil tes poltekkes telah diumumkan dan alhamdulilah saya lulus tahap tes cbt seleksi masuk poltekes. Dan saya pergi berangkat untuk tes kesehatan sendiri menaiki travel dari rumah ke ibu kota provinsi saya. Ada sedikit rasa sedih dan iri ketika saya melihat teman teman saya yang lain ditemani oleh orang tuanya saat tes kesehatan , sementara saya mengurus semuanya sendiri, mulai dari membayar biaya tes kesehatan sendiri hingga menjalani setiap rangkaian nya tanpa dampingan orangtua, kakak sepupu saya hanya mengantar saya ke lokasi tes dan pergi bekerja setelah itu, saya semakin sedih saat ada ibu ibu yang sedang mendampingi anaknya dan kebetulan bersamaan saat membayar biaya tes kesehatan, ibu tersebut berkata "nak biar ibu nya aja yang urus kamu duduk disitu aja" ujar ibu tersebut sambil menunjuk lokasi ruang tunggu dengan kursi yang disusun rapi, lalu saya tersenyum tipis sambil menjawab "saya sendiri ibu" , ibu tersebut nampak kaget "berani sekali kamu, nginep dimana?", ujarnya dengan beragam pertanyaan nya, " heheheh iya ibu, kebetulan ada kakak sepupu disini ibu" jawab saya dengan senyum ringan. Telah selesai sudah tes kesehatan yang saya jalani saya pulang dengan dipesan kan gojek oleh kakak sepupu saya. Alhamdulilah saat pengumuman tes kesehatan poltekkes saya kembali lulus di tes kesehatan dan langsung diarahkan untuk melsayakan daftar ulang, saya berangkat daftar ulang sendiri dari rumah ke Poltekkes tepat dihari ulang tahun saya, saya jalani proses daftar ulang tanpa didampingi, saya datang ke kampus jurusan kebidanan, berjalan sendiri tanpa seorang teman dan pulang dengan tangan kosong tanpa berkenalan dengan teman baru, saya sudah menunggu hampir 2 jam di depan gerbang namun saya tidak menemukan orang yang satu prodi dan teman dihari pertama saya. Sedikit sedih namun saya tetap berusaha cuek dan tegar serta berfikir positif.
Disatu sisi saya senang diterima di Poltekkes namun saat yang bersamaan saya sedih karena saya ditolak di PTN dengan jurusan kedokteran impian saya, saya harus mengubur mimpi saya sebagai seorang dokter.
Saya berusaha legowo dan berpikir klo memang rezeki serta akan mencoba ditahun depan nya sembari menjalani kehidupan kampus dijurusan kebidanan sementara saya menjadi mahasiswa semi gap year.
Namun itu tidak selalu sesuai dengan rencana, saat ini saya telah menjalani hampir selesai 2 semester di Poltekkes dan tidak mendaftar di tes SNBT di tahun ini, bukan karena yg tidak ingin lagi
Tetapi Karena kesibukan, saya tidak sempat belajar untuk tes SNBT, sehingga saya memutuskan untuk tidak mendaftar daripada ketika saya mendaftar saya melsayakan tes tanpa persiapan dan kembali gagal.
Dan ini lah saya saat ini sejujurnya saya masih belum bisa mencintai jurusan saya namun saya tetap menikmati dan berusaha menjalani nya dengan baik. Mungkin itulah yang bisa saya sampaikan namun disclaimer bukan bearti saya tidak bersyukur atas nikmat yang saya dapatkan saya sangat sadar ada banyak orang yang menginginkan posisi saya, tetapi mungkin saya masih butuh waktu untuk mengikhlaskan mimpi saya.
Demikian cerita singkat saya saat mengejar kampus impian, saya mohon maaf atas kesalahan dalam ketikan ataupun hal lain yang termuat dalam tulisan saya, pada tuhan saya mohon ampun, ambil hikmahnya dan buang buruknya, semoga kita semua bisa selalu bahagia.
