Cemerlang pada Masanya

“Belajar yang betul ya, kamu yang paling diusahakan sekolahnya.” Sebuah kalimat singkat dari bunda yang kerap kali terlintas di pikiranku setiap lelah dengan tugas sekolah yang menumpuk. Kalimat itu melekat erat di ingatan karena aku merupakan anak yang paling mencolok kemampuan akademiknya di keluarga sekaligus anak yang paling besar memberikan beban biaya pendidikan bagi orang tua.

Mengupayakan mencari biaya agar aku dapat terus menempuh pendidikan SMA di salah satu sekolah asrama terbaik di provinsi Aceh dan mengikuti bimbingan belajar yang bagus merupakan salah satu perjuangan orang tua dalam mendukung pendidikanku. Hal ini membuatku selalu berharap dapat membanggakan mereka dengan setiap prestasi yang kuraih.

Ikut serta dan meraih kejuaraan di berbagai lomba cerdas cermat, olimpiade, pidato, dan menulis merupakan usahaku untuk membahagiakan kedua orang tuaku. Aku ingin membuat mereka menyadari bahwa anak yang mereka limpahkan dengan harapan ini memang layak diperjuangkan.

“Jadi bagusnya kita pilih kampus mana ya?” Tanya bunda dengan semangat setelah mendapatkan kabar bahwa aku berhasil menjadi salah satu siswa eligible di sekolah. Saat itu bunda menelpon guru lesku, tante, hingga teman-temannya untuk meminta saran terbaik untuk kampus yang sebaiknya aku pilih. Saat itu aku berada di fase yang sangat bahagia karena mendapatkan kesempatan untuk masuk PTN di jalur SNBP. Menurutku jalur ini merupakan kesempatan emas yang tidak akan aku lewatkan dikarenakan apabila aku lulus melalui jalur SNBP aku dapat menikmati sisa waktu di masa SMA dan menghadapi UAS dengan tenang tanpa harus terbebani dengan UTBK yang berada di depan mata.

Kemudian aku menjatuhkan pilihan pada jurusan SITH-R di ITB. Mungkin terdengar nekat bagi sebagian orang mengingat ITB sendiri merupakan kampus terkemuka dengan peminat yang tinggi. Bahkan, tidak hanya bagi orang lain tapi aku sendiri juga masih memiliki keraguan untuk memilih kampus besar yang terkesan terlalu idealis untuk dipilih ini. Namun dengan dukungan penuh dari orang tua serta pertimbangan yang matang terkait nilai rapor, tka, sertifikat, peringkat eligible, peringkat sekolah, jumlah bangku yang tersedia, hingga rekam jejak kelulusan alumni membuatku merasa bahwa setidaknya pilihan ini dibuat dengan pertimbangan yang terukur.

Meskipun aku menyadari pilihan tunggal di kampus ini memiliki resikonya tersendiri, tetapi kesadaran ini masih belum cukup untuk menghilangkan harapanku untuk lulus di jalur SNBP. Apalagi semangat dan keyakinan keluarga, guru, dan teman akan kelulusanku membuatku semakin merasa memiliki harapan. Namun sayangnya harapan tersebut hilang ketika sebuah tulisan tebal dengan latar merah di laman pengumuman SNBP memenuhi layar hp ku.

“Anda dinyatakan tidak lulus seleksi SNBP 2026” Sebuah kalimat singkat ini meruntuhkan harapanku. Saat itu aku merasa kecewa pada diri sendiri. Aku merasa malu pada semua orang yang mendoakanku terutama orang tuaku. Kemudian berbagai penyesalan datang silih berganti “Kenapa nggak coba ambil pilihan yang lebih aman?” atau “Kenapa sih ngerasa sok mampu banget?” “Sekarang kalau begini apa gunanya nilai rapor dan sertifikat yang dikumpulin itu kalau ujung-ujungnya nggak dipakai?” dan “Orang tuamu pasti kecewa banget.”

Saat itu aku sempat terjebak di fase pesimis dan kehilangan keyakinan pada diri sendiri dan masa depan. Pengumuman SNBP yang beberapa hari sebelum ulang tahunku ini selalu kudoakan untuk memberikan hasil terbaik agar menjadi kado terbaik untuk diriku sendiri. Akan tetapi ternyata tuhan mempunyai rencana lain. Beberapa hari setelah pengumuman tersebut tepatnya di tanggal ulang tahunku, kedua orang tuaku datang berkunjung ke asrama dan membawakan minuman dan sekotak besar kue brownies buatan bunda untuk dibagi-bagikan kepada teman-teman dalam rangka ulang tahunku.

Saat itu aku benar-benar dikuasai rasa bersalah karena meskipun aku gagal dan mengecewakan, tetapi mereka masih berusaha hadir di hari pentingku. Mereka menyuruhku untuk meminta doa dari teman-teman agar mendapatkan kelancaran dalam SNBT. Saat itu pula aku sadar bahwa dunia akan terus berjalan, walaupun perasaanku masih terjebak pada kekecewaan akan kegagalan tetapi aku sendiri tetap tidak memiliki kemampuan untuk mengubah apapun. Satu-satunya hal yang dapat kulakukan di saat itu adalah berusaha memastikan bahwa masa depanku akan jauh lebih baik dari masa lalu.

Lalu, sembari menata hati aku belajar untuk ikhlas karena sejatinya memang tidak semua yang kita inginkan akan kita dapatkan. Saat itu aku menyadari bahwa aku tidak punya cukup waktu untuk kecewa karena UTBK sudah di depan mata. Kali ini aku berjuang lebih keras lagi, belajar lebih gigih lagi, berkorban lebih besar lagi, dan berdoa lebih taat lagi. Di kesempatan ini aku lebih menerapkan semua nasihat orang tuaku terutama pesan mereka untuk lebih melibatkan tuhan dalam setiap proses yang aku jalani.

Membawa buku UTBK setiap waktu, mengerjakan berbagai soal, bertanya pada guru dan teman yang lebih paham, serta mengurangi waktu tidur, makan, bahkan menetap di bimbel sedari pagi hingga malam selama berhari-hari merupakan perjuangan yang kujalani di masa itu. Kondisi finansial keluarga yang tidak memadai membuatku menyadari bahwa SNBT merupakan satu-satunya harapan terakhirku untuk menduduki bangku kuliah di tahun ini mengingat keluargaku tidak mampu menanggung biaya jika aku harus masuk kuliah dari jalur mandiri. Oleh karena itu, totalitasku dalam perjuangan ini benar-benar aku tingkatkan apalagi mengingat aku merupakan calon sarjana pertama dalam keluarga membuatku berusaha untuk mengupayakan kelulusan ini semaksimal mungkin.

Akhirnya di kesempatan ini tuhan memberikan jawaban dari doa-doaku. Setelah berbagai proses yang telah aku lalui, akhirnya aku mendapatkan kabar baik di pengumuman SNBT ini. “Selamat! Anda dinyatakan lulus seleksi SNBT SNPMB 2026” Seruan haru serta mata berkaca-kaca bunda menyapa penglihatanku setelah melihat laman pengumuman ini. Di saat itu pula senyuman lega menghisi wajah ayah yang tampak bangga pada putri sulungnya ini. Saat itu kebahagiaan dan kehangatan memenuhi keluarga kami. Kebahagian luar biasa hadir dalam diriku saat aku kembali bisa membahagiakan kedua orang tuaku.

Jurusan Bioteknologi Universitas Brawijaya merupakan pilihan pertamaku di SNBT ini. Kemudian tuhan dengan segala rencana indahnya mewujudkan impian dan doaku serta menjadikanku sebagai mahasiswa baru dari salah satu universitas terkemuka di Indonesia ini. Meskipun ini bukan kampus yang pertama kali aku pilih dalam berbagai seleksi masuk PTN tetapi aku merasa ini sudah sangat lebih dari cukup untukku. Aku percaya bahwa apa yang ditakdirkan oleh tuhan itulah yang terbaik. Saat ini aku sedang menunggu waktu pelaksanaan ospek raja brawijaya di kampus ini.

Sampai sekarang rasa haru, syukur, dan tidak menyangka masih kerap menghampiriku. Aku merasa beruntung bisa lulus dan berhasil menjadi satu dari sekian banyak orang yang melangitkan bangku di kampus ini di dalam doa. Rasa semangat akan pengalaman yang nantinya kudapatkan di sini, materi yang nantinya aku pelajari, dan orang-orang hebat yang nantinya akan menjadi temanku membuatku semakin bahagia dan bangga atas perjalanan yang sudah kulalui ini.

Aku bangga karena meski sempat terhenti sejenak tetapi aku tetap tidak menyerah dan memilih berusaha untuk meraih impianku sekali lagi. Meski masih menanggung beban kegagalan, kecewa, dan pesimis tetapi aku bangga karena masih memilih untuk tangguh dan berjuang. Serta yang paling kubanggakan adalah aku memiliki orang tua yang tidak hanya sanggup menguatkan mental, semangat, dan tekadku tetapi juga sanggup merayu tuhan di setiap malamnya untuk memudahkan perjuangan putrinya.

Perjuangan itu mengajarkanku untuk terus berusaha hingga akhir karena seberapa buruk pun yang terjadi di masa lalu tetap saja tidak ada jaminan bahwa masa depan akan sama buruknya. Oleh karena itu aku belajar untuk tidak kalah sebelum bertanding dan tidak menutup pintu kesempatan untuk diri sendiri. Aku belajar untuk menguatkan tekad dan konsisten dalam memperjuangkan keinginanku. Serta aku belajar untuk semakin yakin bahwa takdir dan rezeki yang sudah ditakar tidak akan pernah tertukar.

Berbagai pembelajaran inilah yang akhirnya menghasilkan diriku yang sekarang. Saat ini aku berhasil menjadi Vita Nisrina yang merupakan mahasiswa baru Universitas Brawijaya, aku berhasil mendapatkan beasiswa pendidikan sejak semester satu kuliah, berhasil lolos di berbagai seleksi beasiswa, berhasil selangkah lebih dekat menjadi calon sarjana pertama dalam keluarga, menjadi anak yang dibanggakan orang tua, dan menjadi kakak yang diteladani oleh adik-adikku.

Meski saat ini masih banyak hal-hal yang harus aku pelajari dan tingkatkan untuk menjadi versi terbaik dari diriku tapi aku yakin bahwa aku akan dapat terus bertumbuh dan berproses seiring bertambahnya waktu. Sebab aku memiliki guru-guru yang hebat, teman yang suportif, dan orang tua yang doanya dapat mendobrak pintu langit bahkan di hal-hal yang kukira tidak akan berhasil kudapatkan.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *