Perkenalkan, aku seorang gadis dengan inisial N. Aku lahir dan menetap di sebuah kota yang selalu diromantisasi banyak orang, Kota Kembang. Sejak kecil, pertanyaan klasik seperti “Jika besar nanti, kamu mau jadi apa?” Selalu menyapa telingaku. Dengan polos, aku sering berganti jawaban, mulai dari aktris, astronot, hingga profesi lainnya, mengikuti angan yang berubah dengan seiring waktu. Bukankah kita semua pernah berada di fase yang sama? Fase di mana dunia terasa begitu luas dan penuh kemungkinan, sebelum akhirnya realita mulai menyempitkan pilihan kita.
Saat duduk di bangku SMP, aku menempuh pendidikan di sebuah Islamic Boarding School. Saat itu, satu-satunya peta masa depanku adalah terbang ke Timur Tengah. Aku bermimpi menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar, Kairo Mesir. Alasannya sederhana; karena aku terpukau oleh sosok kakak kelas dan guru-guruku di sana. Aku ingin memperlajari agama Islam secara utuh. Kala itu, aku bahkan tidak punya bayangan untuk melanjutkan pendidikan tinggi di universitas mana pun di Indonesia.
Namun, waktu beranjak tanpa permisi. Segalanya berubah. Aku justru melanjutkan SMA di sebuah sekolah negeri yang sebelumnya tidak pernah terlintas dalam benakku. Ketika pertanyaan klasik itu datang di masa SMA aku tak lagi bias menjawab dengan mudah dan mimpiku berkuliah di Timur Tengah pun perlahan telah sirna. Isi kepalaku bergulat hebat, kebingungan merayap.Hingga akhirnya, aku memilih dua jawaban: Diplomat atau Jurnalis. Aku mencintai isu sosial, aku ingin menjadi perwakilan negara yang menjaga hubunagn diplomatik, atau menjadi mata dunia yang mampu menyuarakan aspirasi masyarakat yang terpinggirkan.
Ambisi itu tumbuh menjadi bahan bakar. Aku aktif di organisasi dan ekstrakurikuler. Saat kelas 12, ketika ujian kian dekat, aku menghabiskan waktu berjam-jam untuk belajar. Sepulang dari segala kegiatan sekolah, aku langsung meluncur ke tempat les. Aku sering merasa bersalah jika tidak membuka buku sedikit pun. Tak jarang, rasa burnout datang, namun aku tetap menjaga kondisi tubuhku dengan tidur yang cukup dan menjaga pola makan, walau kadang tetap saja ciran merah sering keluar dari hidungku. Tak jarang ketika teman kelas sedang bermain, bertukar tawa, menonton di kelas aku memisahkan diri entah diam di meja sendiri atau pergi ke Perpustakaan sendiri untuk belajar.
Di balik ambisi yang tampak megah itu, terselip satu keinginan sunyi yaitu menyambangi daerah pelosok negeri, mengamati sengkarut pendidikan dan menjadi perantara bagi mereka yang suaranya tak terdengar. Hingga akhirnya pengumuman eligible datang, dan namaku ada di sana. Sejak kelas 10, mimpiku sudah tertambat di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Aku memantapkan hati untuk memilih jurusan Manajemen Komunikasi dan Jurnalistik.
Namun, aku memiliki sebuah kebiasaan unik, aku sering berbisik pada semesta, “In another life aku mau jadi guru. Aku ingin membuat semua anak di Indonesia bias sekolah tanpa terhalang ekonomi atau pun sulitnya akses jalan atau daerah yang terpencil. Impian sunyi itu sering aku katakan pada teman-teman kelasku.
Hari itu, 31 Maret, pengumuman SNBP muncul. Hasilnya berwarna merah yang artinya aku tak lolos. Sedih? Tentu. Aku merasa telah mengecewakan keluarga. Namun, aku sudah menyiapkan hati yang lapang sebelumnya. Keesokan harinya, aku bangkit. Aku belajar lebih keras lagi untuk UTBK, dan kali ini aku mengubah pilihanku aku menempatkan pilihan Jurnalistik di pilihan pertama, menaruh Manajemen Produksi Media di pilihan kedua lagi-lagi dari kampus Universitas Padjadjaran. Tapi bedanya aku juga menaruh pilihan yang tak ada dalam rencana awal, bahkan tak pernah kusertakan dalam doa-doaku yang spesifik.
Delapan belas tahun terlewati. Di bulan kelahiranku, pengumuman tes pun keluar. Aku lolos. Tapi anehnya, alih-alih membuatku merasa tenang, hatiku justru diliputi gurat gusar. Nama kampus dan jurusan yang tertera di layar bukanlah apa yang selama ini aku tulis dan aku doakan. Segalanya meleset dari rencana pribadiku, justru sangat presisi dalam rencana Tuhan.
Terkadang aku masih merutuki diri, bertanya apakah usahaku kurang maksimal, doaku kurang serius. Namun, saat kurenungkan kembali, bukankah sejak SMA aku telah berikrar untuk memperjuangkan pendidikan anak bangsa? Meskipun kini jalanku melenceng jauh dari rencana awal dan harapanku sejak kelas 10 aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak berhenti. Karena aku tersadar jalan yang aku dapatkan adalah mimpi seseorang di luar sana.
Aku akan tetap mewujudkan harapan-harapanku yang lainnya; terus berburu beasiswa, mengikuti berbagai event luar kampus yang memperluas koneksi, serta terus mengasah diri. Lebih jauh lagi, aku bermimpi kelak dapat membangun sebuah toko roti dan bunga yang tidak hanya sekadar bisnis, tetapi juga menjadi wadah pemberdayaan bagi para lansia dan teman-teman disabilitas. Semua ini kulakukan sembari terus berusaha mewujudkan impian agar setiap anak di negeri ini memiliki kesempatan yang layak untuk menempuh pendidikan. Dan membuat pendidikan layak bukan lagi kemewahan bagi anak-anak negeri.
Aku kini sedang belajar berdamai dengan semesta. Jika jalan yang kutempuh hari ini adalah cara Tuhan menjawab bisikan "in another life" yang dulu sering kuucapkan tanpa sadar, maka aku akan menjalaninya dengan sepenuh hati. Aku tidak lagi melihat ini sebagai rencana yang gagal, melainkan sebagai panggilan yang baru saja dimulai. Dan mungkin ini juga sebuah sapaan dari semesta bahwa ada jalan yang lebih bijak untukku bertumbuh.
Terkadang Tuhan tidak memberi apa yang kita inginkan, bukan karena untuk mengecewakan atau kita tak layak, melainkan untuk menjaga kita untuk tetap berada pada jalur yang paling tepat bagi jiwa kita.
Untuk kalian yang sedang berjuang, berusahalah semampu yang kalian bisa, namun jangan lupa untuk berhenti sejenak dan berterima kasih pada diri sendiri. Apapun hasil yang kalian terima, percayalah bahwa setiap manusia memiliki porsinya sendiri untuk bersinar, dengan caranya masing-masing, di tempatnya masing-masing.
Terkadang, jalan memutar justru membawa kita pada pemandangan yang jauh lebih indah daripada yang sanggup kita bayangkan sebelumnya.
