Saat Tuhan Membelokkan Impian Masa Kecilku"

Dulu waktu umurku masih di usia 8 tahun, aku hanya tinggal bersama nenek, kakek, dan bibiku yang seumuran denganku. Orang tuaku berada jauh dariku. Ayah terlibat perselisihan dengan tetangga yang membuat ayah dan ibuku harus pergi meninggalkan desa, menitipkan aku sendirian di bawah asuhan nenek dan kakek, sehingga aku pun tumbuh besar tanpa kehadiran mereka. Seringkali aku merasa iri dengan teman-temanku yang selalu diberikan kasih sayang penuh oleh orang tuanya, sedangkan aku tidak bisa

Namun, di tengah rasa sepi dan rindu yang aku pendam, aku mencoba mencari kekuatan lewat sebuah mimpi besar. Di usia yang masih sangat muda itu, aku menanamkan tekad menjadi seorang dokter. agar aku bisa menyelamatkan nyawa orang lain dan membuktikan bahwa aku bisa menjadi orang yang berguna bagi orang banyak.

Seiring waktu berjalan, aku selalu giat belajar agar cita-citaku tercapai, walaupun aku tahu menjadi seorang dokter itu tidaklah mudah untuk diraih.

Ketika umurku menginjak 11 tahun, nenekku wafat karena sakit gagal ginjal. Saat itu rasa sedihku tak terbendung atas kepergian nenek sehingga membuatku sakit demam. Namun di balik duka itu, Ibu pun pulang ke desa sendiri tanpa Ayah, karena mengingat Ayah masih menjadi buronan polisi. aku pun mengerti dengan keadaan saat itu,dengan hati yang bahagia, akhirnya aku bertemu Ibu yang selama ini meninggalkanku merantau jauh.

Namun kebahagiaan itu hanya bertahan sebentar. Ibuku harus pergi lagi menemani Ayah di perantauan karena Ayah cuma sendirian di sana. Aku harus memahami itu, walaupun merasa sedih karena harus ditinggal lagi. Aku dipaksa dewasa oleh keadaan untuk kembali memahami mereka.

Lima bulan kepergian nenek, aku pun dinyatakan lulus sekolah dasar.Saat yang lain sibuk mendaftar sekolah SMP, aku hanya bisa diam karena kakekku hanya bisa mendaftarkan satu orang saja, yakni bibiku. Biaya untuk melanjutkan SMP saat itu sangat besar.

Aku berusaha mencari informasi melalui saudara sepupu Ibu agar aku bisa menelepon Ibu untuk menanyakan apakah ada uang untuk mendaftarkanku SMP atau tidak nantinya.

Setelah berusaha mencari informasi nomor telepon ibu di saudara sepupu ibu akhirnya aku bisa menghubungi ibuku. Aku bertanya kepada ibu apakah aku bisa melanjutkan sekolah ke jenjang SMP. Tapi Ibuku bilang, untuk masuk ke sekolah SMP itu biayanya besar, sedangkan Ibu tidak punya uang di sana dan hanya cukup untuk makan saja karna selama di rantau ayah belum berkerja Mendengar perkata an ibu. Aku sangat merasa bersalah karna sudah membuat ibu sedih karna belum bisa memenuhi ke inginan ku untuk lanjut bersekolah

Malam nya ketika aku melaksana kan ibadah solat aku selalu kepikiran sehingga membuat ku tidak khusuk, setelah solat itu aku pun berdoa kepada Tuhan dalam doa dan tangis ku aku meminta agar aku bisa bersekolah sama seperti teman teman ku,

Ternyata Tuhan menjawab doaku. Akhirnya ada satu orang yang memberikan solusi untuk masuk ke pondok pesantren. Lalu dengan hati yang senang dan agak sedikit ragu untuk bicara dengan kakek, soal hal itu, akhir nya aku memberani kan diri untuk bertanya ke kakek apakah aku boleh melanjutkan menuntut ilmu di sana? Setelah aku membicarakan nya denganKakekku ia pun menyetujuinya karena dari informasi yang didapatkan, masuk ke sana tidak begitu banyak biaya yang harus dikeluarkan. Dengan rasa bahagia dan syukur, akhirnya aku bisa melanjutkan sekolah, walaupun di sisi lain aku harus mandiri jauh dari kakek dan bibiku.

(poto bersama temen asrama dan anak kiayi di masjid ponpes sabilillah Kayuagung)

Selama di pesantren, semuanya berjalan seperti pondok biasa seiring waktu berjalan. Tekadku tak pernah berubah untuk menjadi seorang dokter. Tiba masanya aku melihat ketidakadilan yang terjadi pada temanku. Dia sama sepertiku, jauh dari orang tua, saudara, dan teman-teman. Tetapi dia diperlakukan tidak adil oleh teman sebaya. Mereka mengejeknya karena mengingat temanku ini adalah orang yang penuh dengan keterbatasan.

Dari peristiwa tersebut, akhirnya aku mencoba berbicara kepada pengasuh pondok pesantren. Aku bilang, "Mengapa temanku diperlakukan setidakadilnya oleh mereka? Padahal kita kan sama di sini." Tetapi pihak pondok pesantren hanya diam saja, tidak ada sedikit pun respons dari mereka

Di situ aku merasa begitu sedih dan kecewa sampai membuat ku mengguma di dalam hati.

Setelah waktu berlalu, akhirnya kami lulus Mts dan ingin melanjutkan ke SMA. Di situlah aku kembali terduduk,dan berpikir apakah aku masih bisa untuk melanjutkan pendidikan ku ke jenjang SMA,mengingat biayanya pasti jauh lebih besar. Dadaku sesak sekali.makan ku mulai tidak ter atur karna dulu ketik masuk pondok pesantren, Kakek harus menurunkan harga dirinya, mengetuk pintu tetangga demi berutang agar aku bisa sekolah.rasa nya Aku tidak mau membebani Kakek lagi.tetapi bagimana dengan cita cita ku jika aku tidak melanjutkan SMA ini gimma ku di dalam hati.

Namun, di tengah keputus assan itu, Allah justru memberikan kemudahan jalan yang membuat jantungku berdesir. Tanpa pernah kuminta, Kakek tiba-tiba datang dan bertanya, " Elia apakah kamu mau masuk sekolah SMA Negeri, sama seperti bibimu?" Kek memanggil nama ku

Seketika Air mataku hampir tumpah, dan dengan anggukan cepat, aku menyetujuinya. Tuhan maha baik, Kakek sedang diberi rezeki yang lapang saat itu. Ketika aku mulai sekolah sangat bersemangat mengambil jurusan ipa di sekolah

(SMA 4 Kayuagung :jurusan ipa)

Bukan itu aja aku dan bibik ku aktif mengikuti perlombaan di luar sekolah,

(Waktu ikut lomba tahun 2018) di binduk kajang kayuagung dalam rangka ulang tahun kapaten.

. . . . . . . .

Setelah 1 semester aku lewati. Semakin lama lingkungan sekolah ku menyuguhkan kekejaman yang membuat darahku mendidih. Beda dari pondok pesantren yang mana aku hanya melihat satu temanku yang di-bully, di SMA ini perundungan terjadi di mana mana dan itu terjadi tanpa memandang bulu, baik laki-laki maupun perempuan. Hingga di suatu momen, jantungku berdegup kencang menyaksikan seorang anak laki-laki dipukuli, diejek, dan dihina habis-habisan oleh sesama siswa. Dia hanya bisa menangis tersedu-sedu karena dia begitu lemah tak berdaya.

Kasus itu akhirnya digiring ke ruang BK. Aku,teman-temanku, dan bibiku berdiri di luar, mengintip dan menyaksikan mereka masuk ke ruangan itu. Kami berharap keadilan tegak di sana. Namun, kenyataan di dalam ruangan itu menampar logikaku. Bukannya mendapatkan pembelaan, laki-laki yang babak belur di-bully itu malah dinyatakan bersalah di mata guru BK! Guru BK menuduhnya selalu bikin onar, padahal tidak sama sekali! Laki-laki malang itu hanya dijadikan kambing hitam atas kebiadaban orang lain.

Melihat itu, hatiku bergejolak hebat antara marah dan sedih. Mengapa dunia terasa begitu kejam dan tidak adil bagi orang yang lemah? Mengapa orang yang lemah selalu dipaksa tersakiti? Kenapa kekuasaan dan kebenaran hanya berpihak pada orang-orang kaya? Padahal di muka bumi ini, kita semua sama-sama manusia yang terlahir tidak punya apa-apa!

Setelah kejadian itu tidak ada lagi perundungan di sekolah,sampai lah waktu saat aku menginjak kelas 3 SMA, masa di mana kelulusan akan dimulai. Sebelum kelulusan resmi diumumkan, Kepala Sekolah berdiri di depan mimbar, mengumumkan ada beberapa universitas yang memberikan beasiswa. Detik itu juga, semangatku yang sempat padam kembali membara. Aku mengejar beasiswa itu mati-matian demi mimpi masa kecilku menjadi seorang dokter.

Setelah melewati serangkaian tes yang menegangkan, tibalah hari pengumuman. Jantungku serasa mau copot. Dan ketika namaku disebut… aku dinyatakan lulus program undangan di salah satu universitas kota dengan jurusan Kedokteran! Aku sangat bahagia sekali, rasanya dunia berpihak padaku. Dengan hati yang gembira dan langkah berlari, aku membawa surat undangan itu pulang, menunjukkannya kepada Kakek.

"Kek, apakah aku boleh melanjutkan kuliah di universitas ini?" tanyaku penuh harap.

Namun, jawaban Kakek seketika meremukkan hatiku. Impian yang kujaga sejak usia 8 tahun hancur berkeping-keping dalam satu detik. Dengan tatapan nanar, Kakekku bilang,

"Tidak cukup banyak biaya untuk belajar di sana, Elia" Walaupun kamu dapat beasiswa kuliah, tapi untuk biaya makan, minum, dan hidup di sana perlu uang yang lebih. Sedangkan Kakek tidak punya uang sebanyak itu."

Kalimat itu menyudahi segalanya. Dengan rasa sedih yang mencekik dan kekecewaan yang teramat dalam, dan kesedihan aku terpaksa menerima kenyataan pahit itu. Aku mengubur mimpi besarku menjadi dokter dalam-dalam di tanah kemiskinan keluarga.

Namun di balik air mata itu, Tuhan seolah memberi pelipur lara. Setamat SMA, aku melihat Ayah dan Ibu pulang dari rantauan. Ayah sudah berdamai dengan tetangga yang dulu berselisih. Rasa sedih karena gagal jadi dokter sedikit terobati oleh rasa senang melihat orang tuaku berkumpul kembali. Kami sempat merasakan hangatnya sebuah keluarga.

(Poto pertamakali jalan barang ayah ibu dan keluarga ibu) tempat wisata palembang.

. . . . . .

Tapi, kebahagiaan itu nyatanya hanya fatamorgana. Tepat setahun setelah berkumpul, rasa bahagia itu berbalik menjadi trauma yang begitu dalam hingga membuatku depresi berat. Dunia runtuh seketika ketika aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Ayah malah bermain perempuan dan berselingkuh! Perbuatan bejad itu meremukkan hatiku dan menyayat perasaan Ibu sedalam-dalamnya.

Setiap hari rumah selalu diguncang keributan yang luar biasa. Rumah yang seharusnya menjadi pelindung, kini berubah menjadi tempat yang paling menakutkan dan membuatku gelisah sepanjang malam. Puncaknya, aku pun ikut dipukuli ayah hanya karena membela ibu Merasa jiwa dan fisikku terancam, aku mengambil keputusan nekat: pergi ke kota untuk mencari kerja.Di kota perantauan,hanyamem bawah uang 20.000 rupiah dan hanya 1 helai baju di badan aku nekat mencari kerja kesana kemari beruntungnya berkat usaha dan izin tuhan mendapatkan pekerjaan sebagai admin. Selama bekerja aku di berikan mes sementara dan baju oleh istri bos ku.

Selama bekerja di sana, semuanya berjalan tenang sesuai keinginanku, sampai suatu hari, aku bertemu dengan seorang laki-laki. Dia adalah seorang mahasiswa yang kuliah di salah satu universitas besar. Sifatnya yang manis berhasil meluluhkan hatiku. Kami menjalin asmara. Aku begitu menyayanginya, karena di dalam dirinya, aku menemukan sosok dan gambaran seorang ayah yang selama ini kucari dalam hidupku.

Namun, untuk kesekian kalinya, kebahagiaanku dihancurkan tanpa sisa. Aku mendapati dia mencintai perempuan lain di belakangku. Dengan sisa-sisa harga diri yang rapuh, aku memberanikan diri bertanya, "Di mana letak salahku?"

Dan dengan suara yang lantang tanpa perasaan, dia menjawab, "Kamu itu anak desa, tidak pantas rasanya mencintai seorang mahasiswa sepertiku! Lagipula selama ini aku menyukaimu hanya sebatas suka, bukan karena cinta. Orang tuaku juga tidak menyukaimu. Mereka lebih memilih aku bersama perempuan yang punya pendidikan tinggi dan karier yang bagus, bukan sepertimu!"

Kalimat itu menghantam jantungku hingga hancur lebur. Aku menangis sejadi-jadinya dengan rasa sakit dan sesak di dada, aku bergegas pulang

dalam kamar kos yang sepi. Rasa sakitnya begitu luar biasa hingga membawaku pada depresi yang sangat berat. Pikiran buruk berputar di kepalaku, membuat fokus kerjaku hancur berantakan. Apapun yang kukerjakan menjadi salah, hingga akhirnya… aku dipecat dari pekerjaan itu. Tangisan ku selalu terjadi ber ulang setiap malam.

Di dalam kosan yang kecil, gelap, dan pengap itu, aku ambruk. Aku bentangkan sajadahku dengan tubuh gemetar, lalu aku sholat dan berdoa. Di atas kain suci itu, aku mengeluh kepada Tuhan sambil menangis histeris. Dalam tangis yang sesak, aku bahkan menyalahkan Sang Maha Kuasa. "Mengapa tidak ada keadilan dalam hidupku?! Kenapa kebahagiaan itu sulit sekali aku dapatkan?! Dari kecil Engkau selalu memberikan cobaan yang besar kepadaku… Mengapa Engkau tidak sayang padaku?!" seruku menyalahkan Tuhanku karena saat itu aku benar-benar buta arah. Aku tidak tahu harus ke mana lagi. Pekerjaan hilang, dan rumah tempatku pulang pun sedang berantakan.malam berganti pagi.

Keesokan harinya, dengan sisa air mata dan rasa sedih yang membatu, aku memberanikan diri pulang ke rumah, berpura-pura menganggap tidak terjadi apa-apa di sana demi menutupi hancurnya

Dunia ku. Dengan cepat aku mengemasi baju baju yang aku dapat kan dari kerja keras ku lalu aku masukan kedalam koper. Aku pu pulang kerumah

(Poto ini di potret oleh teman kerja ku yang menghantarkan ku menjadi bis untuk pulang )

. . . . . . . .

Satu bulan berlalu dalam kesunyian,rumah yang tadi ribut kini sudah meredah. sampailah suatu hari, jemariku tidak sengaja menemukan sebuah brosur kuliah lewat internet. Aku membaca brosur itu secara cermat,di sebuah universitas swasta

Yakni Universitas islam ogan komering ilir. Dengan harga yang terjangkau dan spp bisa di cicil akhir nya aku memberani kan diri untuk mendaftar kuliah itu di sana aku melihat beberapa jurusan namun aku tidak menemukan jurusan impian ku.walau pun begitu niat dan tekat ku sudah bulat untuk kuliah.

Aku berjalan menuju tempat penyimpananku, membuka isi tabungan yang selama ini kukumpulkan sedikit demi sedikit dari keringatku bekerja sebagai admin. Dengan jiwa yang nekat dan modal uang tabungan itu, aku melangkah menuju kampus UNiSKi. Didepan meja pendaftaran itu, aku resmi mengambil Jurusan Hukum dan melupakan impian masa kecilku menjadi dokter.walau begitu

Aku tidak menyerah! Semangatku membara lebih hebat dari sebelumnya. Aku menanamkan tekad di dalam dada: Jika aku tidak bisa menjadi dokter untuk menyembuhkan fisik manusia, maka aku akan menjadi seorang Pengacara yang hebat yang bisa melindungi dan menolong orang-orang yang lemah! Aku akan menjadi garda terdepan untuk mereka yang tertindas!

Dengan hati yang bahagia impian memakai almamater kuliah akhir nya terwujud

(Poto awal jadi maba)

Alhamdulillah dengan kerja keras dan kesabaran akhir nya aku bisa merasakan bangku kuliah sampai di semester 7 ini semoga nanti aku lulus tepat waktu dan mendapatkan biasiswa s2 amin 🤗

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *