“Aku Yatim?!”
Dua kata tanya itu berdengung hebat dan bergaung hampa di benakku, tepat setelah hembusan napas terakhir ayahku. Saat itu, aku masih berseragam abu-abu, duduk di bangku kelas sebelas Sekolah Menengah Atas. Selama dua tahun lamanya, aku menghabiskan masa remajaku untuk merawat pahlawan pertamaku yang tergolek lemah tak berdaya di atas ranjang. Masa-masa itu adalah masa di mana aku harus belajar membelah diri dan pikiran. Di sela-sela jam pelajaran sekolah yang saat itu diadakan secara daring, aku harus tau dan peka kepada diri dalam mencerna penjelasan guru sembari menyuapi ayahku, menyeka tubuhnya yang mulai ringkih, dan berhati-hati mengganti perban lukanya.
Ada keringat, air mata, dan rentetan doa panjang yang menyertai setiap detik perjuangan itu. Dengan segala pengorbanan dan jerih payah untuk menyeimbangkan antara kewajiban pendidikan dan bakti pada orang tua, aku mendambakan sebuah akhir yang bahagia. Namun nyatanya, Tuhan memiliki skenario yang tak terlintas di benakku, yaitu perpisahan yang menyayat hati. Ayah berpulang. Meski begitu, di balik duka yang mendalam, aku sadar ada sebuah gerbang baru yang terbuka paksa di hadapanku.
“gerbang kedewasaan”
Di usiaku yang baru akan menginjak tujuh belas tahun saat itu, pertanyaan-pertanyaan eksistensial mulai meronta di benak. Sudahkah aku siap? Sudahkah aku memiliki cukup ilmu untuk mengarungi dunia tanpa pelindung? Sudahkah aku memiliki cukup tabungan untuk bertahan hidup?
"Belum!"
Itu adalah kata pertama yang dengan lantang memekik di kepalaku, sekaligus menjadi jawaban paling jujur atas ketidaksiapanku. Sebagai seorang manusia biasa, aku linglung melangkah tanpa adanya arahan dari seorang kepala keluarga. Dengan terbukanya gerbang kedewasaan ini, aku harus apa? Haruskah aku mengambil alih tanggung jawab merawat ibu? Haruskah aku mengubur mimpiku dan mulai bekerja? Ataukah aku masih berhak egois untuk melanjutkan pendidikan? Keputusasaan itu sempat membelengguku dalam ruang gelap bernama ketidakpastian.
Hingga satu tahun berlalu setelah kepergian ayah, secercah cahaya menembus ruang gelap tersebut. Namaku tercantum sebagai salah satu siswa eligible yang berhak mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Hatiku berdesir.
"Apakah ini saatnya?"
Tanyaku dalam hati. Siang dan malam, kulangitkan doa dan kuserahkan segala ketidakberdayaan ini kepada Yang Maha Kuasa.
"Ya Tuhan, tunjukkanlah jalan yang Engkau ridhoi. Aku ingin meringankan beban orang tuaku dan saudara-saudaraku, tetapi di lubuk hatiku, aku juga ingin mengangkat derajat keluargaku."
Tak banyak waktu yang kumiliki untuk meratapi keadaan, kupasrahkan semua hal di luar kendaliku sepenuhnya pada kehendak-Nya.
Hari pengumuman tiba. Dua kata yang paling menggambarkan perasaanku hari itu adalah
"Alhamdulillah" dan "Astagfirullah".
Alhamdulillah, aku dinyatakan lolos seleksi masuk kampus impianku. Sebuah kebanggaan yang luar biasa. Namun, senyum itu seketika luntur menjadi "Astagfirullah" saat melihat layar monitor yang menyala menampilkan nominal Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar Rp 9,7 juta. Sebuah angka yang fantastis dan terasa mencekik di tengah kondisi finansial keluarga kami. Kebimbangan hebat kembali menyerang.
“Lanjut kuliah, atau menyerah pada realita?”
Dalam keraguan yang memuncak, aku meyakini satu hal: Tuhan yang menuntunku sampai ke titik ini, maka Dia pulalah yang akan membukakan jalan keluar. Tokoh perlawanan dan mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela, pernah berkata,
"Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat kamu gunakan untuk mengubah dunia."
Kutipan ini menguatkan tekadku. Tuhan menuntunku untuk mengambil lompatan iman tersebut. Aku memilih untuk berjuang, melanjutkan langkahku memasuki jurusan Elektronika di kampus impianku.
Di sinilah, di bangku perkuliahan, babak baru kehidupanku benar-benar berubah. Kampus bukan hanya sekadar gedung tempat mentransfer teori akademis, melainkan kawah candradimuka bagi akal budiku. Aku belajar banyak hal baru, bukan hanya keilmuan tentang sirkuit atau arus listrik, tetapi juga pola dan cara berpikir sistematis yang terus terasah. Daya pikir yang matang perlahan membantuku merangkai kepingan-kepingan teka-teki masa laluku.
Aku akhirnya memahami mengapa Tuhan menuntunku ke kampus ini, mengapa Tuhan memanggil ayahku lebih cepat, dan mengapa Ia menaruhkan beban takdir yang sempat kurasa kurang adil ini ke pundakku. Epictetus, seorang filsuf Stoikisme, pernah berpesan,
"Bukan hal-hal yang terjadi pada kita yang melukai kita, melainkan pandangan kita tentang hal-hal tersebut."
Pesan itu menamparku. Saat itu juga, aku mulai bisa berdamai dengan luka dan masa laluku satu per satu.
Dulu, aku mengira bahwa ilmu murni hanya didapatkan dari bangku akademik dan pembelajaran hidup lahir dari sekumpulan pengalaman semata. Ternyata, itu hanyalah permukaannya saja. John Dewey, seorang tokoh pendidikan tersohor, menegaskan,
"Kita tidak belajar dari pengalaman… kita belajar dari refleksi atas pengalaman tersebut."
Kini aku sadar, pembelajaran hidup yang sejati kita raih dari bagaimana cara kita memposisikan berbagai perspektif saat menghadapi suatu masalah, dan bagaimana kita berjuang mencari solusinya. Ilmu yang utuh bukan sekadar hasil dari apa yang kita alami, tetapi lahir dari kemampuan kita melihat potensi, melakukan evaluasi, dan memetik hikmah di balik badai pengalaman itu. Perjuanganku meraih kampus impian tidak hanya memberiku kursi di kelas perkuliahan, tetapi juga memberiku ruang untuk bertumbuh dan memeluk takdirku dengan rasa syukur.
Kesadaran yang kini tumbuh di dalam diriku nyatanya bukanlah sebuah garis akhir, melainkan kunci pembuka gerbang baru menuju dimensi pemahaman yang jauh lebih tinggi dan superior dari sebelumnya. Jika dulu aku memandang kesulitan sebagai bentuk ketidakadilan takdir, kini dengan pemikiran yang lebih matang, aku melihatnya sebagai batu loncatan esensial untuk menaikkan level mentalku. Pemahaman tingkat tinggi ini mengubah cara pandangku secara radikal; menyadarkanku bahwa ketangguhan sejati tidak lahir dari jalan hidup yang mulus, melainkan ditempa di dalam tungku ujian dan keputusasaan yang berhasil kita taklukkan. Melalui gerbang kesadaran baru inilah, aku tidak lagi meraba dalam gelap sebagai remaja yang kehilangan arah, melainkan melangkah mantap sebagai jiwa yang lebih tangguh, siap merengkuh masa depan dengan kejernihan akal dan kelapangan dada.
(https://www.jatimnetwork.com/nasional/pr-433733326/biografi-dan-profil-bj-habibie-perjalanan-karir-prestasi-hingga-kisah-cintanya-dengan-ainun)
Terimakasih atas segala motivasi yang pernah bapak berikan pada kepingan jantung yang hampir kehilangan daya geraknya untuk meneruskan ilmu yang wajib dituntut hingga akhir hayat.
Karya Faizal
