Tiga Tahun Menunggu Kesempatan
Perjalanan Meksi Krisna Sora Menggapai Bangku Perguruan Tinggi
Hari itu, aku, Meksi Krisna Sora, calon mahasiswa D3 Teknik Sipil Politeknik Negeri Kupang, tersenyum haru saat melihat namaku dinyatakan lulus melalui jalur SNBT 2026. Air mata yang selama ini kutahan akhirnya jatuh. Bukan karena perjalanan ini mudah, tetapi karena aku tahu betapa panjang jalan yang harus kulalui untuk sampai pada titik ini.
Tiga tahun yang lalu, saat masih menjadi siswi SMK, aku memiliki mimpi sederhana. Setelah lulus, aku ingin langsung melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Saat itu aku bercita-cita mengambil Program Studi Ilmu Komputer. Aku percaya bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah masa depan keluargaku.
Namun, kenyataan berkata lain. Setelah lulus, kondisi ekonomi keluarga membuatku harus menunda kuliah. Ibuku memintaku berhenti selama satu tahun karena kami belum memiliki biaya untuk melanjutkan pendidikan. Meski kecewa, aku memahami keadaan itu.
Selama masa penundaan tersebut, aku bekerja di sebuah toko perabot untuk membantu keluarga. Di sela-sela kesibukan bekerja, aku tetap melayani di gereja. Dari situ aku belajar bahwa menunggu bukan berarti berhenti. Aku tetap berusaha menjadi pribadi yang berguna sambil menyimpan harapan bahwa suatu hari nanti aku juga akan mengenakan jaket almamater sebagai seorang mahasiswa.
Memasuki tahun berikutnya, aku kembali berharap bisa mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi. Akan tetapi, cobaan yang jauh lebih berat datang. Ayahku jatuh sakit. Aku menyaksikan sendiri bagaimana para dokter berjuang memberikan pelayanan terbaik demi kesembuhan beliau. Dari pengalaman itulah lahir impian baru dalam hatiku. Aku ingin menjadi seorang dokter agar suatu hari nanti dapat menolong orang lain seperti mereka telah berusaha menolong ayahku.
Namun Tuhan memiliki jalan yang berbeda. Tepat ketika pendaftaran SNBT dan jalur mandiri dibuka, ayahku dipanggil pulang. Kehilangan beliau menjadi luka terdalam dalam hidupku. Saat itu, bahkan untuk membayar biaya pendaftaran ujian masuk perguruan tinggi pun aku tidak memiliki uang. Mimpi menjadi dokter pun harus kukubur karena aku sadar biaya pendidikannya terlalu besar bagi kondisi keluargaku.
Meski begitu, aku tidak ingin menyerah. Aku percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang terus berusaha.
Tahun 2026 menjadi kesempatan terakhirku mengikuti SNBT. Aku belajar dengan kemampuan yang kumiliki, berdoa, dan menyerahkan semua hasilnya kepada Tuhan. Penantian selama tiga tahun akhirnya terbayar. Aku dinyatakan lulus di Politeknik Negeri Kupang sebagai calon mahasiswa Program Studi D3 Teknik Sipil.
Saat mengetahui biaya registrasi sekitar Rp1.000.000, aku kembali bersyukur. Bagiku, jumlah itu tetap merupakan perjuangan, tetapi Tuhan sekali lagi menunjukkan bahwa selalu ada jalan bagi orang yang tidak berhenti berharap.
Kini perjuanganku belum berakhir. Aku sedang mendaftar beasiswa agar dapat melanjutkan pendidikan dan mengejar cita-citaku tanpa menjadi beban yang terlalu berat bagi keluargaku. Aku ingin memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin, belajar dengan sungguh-sungguh, dan suatu hari nanti kembali menjadi berkat bagi banyak orang.
Perjalanan ini mengajarkanku bahwa mimpi memang bisa tertunda, tetapi tidak harus berakhir. Kehilangan, keterbatasan ekonomi, dan berbagai rintangan bukan alasan untuk menyerah. Justru semua itu membentukku menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih sabar, dan lebih percaya kepada penyertaan Tuhan.
Aku, Meksi Krisna Sora, percaya bahwa setiap perjuangan memiliki waktunya sendiri. Jika hari ini jalanmu terasa berat, jangan berhenti melangkah. Teruslah berusaha, teruslah berdoa, dan percayalah bahwa Tuhan mampu membuka jalan yang mungkin belum pernah kita bayangkan sebelumnya.
