Inspirasi

By: Nurul Fahirin

Tepat di penghujung masa putih abu-abu saat aku berusia 18 tahun. Aku dihadapkan pada pilihan untuk masa depan, ke mana selanjutnya langkah ingin berlabuh? Pilihan yang sulit kata banyak temanku, aku pun merasa demikian. Masuk dalam daftar siswa eligible pada urutan ke-27 seperti  menuntut pandangan orang lain untuk mengeluarkan pendapat bahwa aku perlu realistis dalam memilih. Hanya saja, aku memilih mempertaruhkan kesempatan untuk melawan risiko, kita tidak akan pernah tahu hasil dari sesuatu jika kita hanya menginginkannya dalam ketakutan, bukan? Yang aku tahu aku punya keinginan dan takdir punya kenyataan, tetapi bagaimana aku tahu kenyataan takdir akan sesuai dengan keinginanku jika aku tidak mencobanya. 

“Yakin pilih unhas [Universitas Hasanuddin] Rin?” Rania, salah satu temanku bertanya sembari menatap ke arahku.

“Iya, coba saja dulu. Hidup kan tidak terduga” jawabku dengan tersenyum.

“Saya juga mau unhas, tetapi tidak saya pilih karena banyak sekali peminatnya.”

“Coba saja dulu, SNBP [Seleksi Nasional Berbasis Prestasi] kan jalur hoki, katanya.”

“Mauka realistis saja, Rin. Cukup sadar diri untuk tidak pilih unhas.”

Aku sering bahkan terbilang selalu mengajak teman-temanku untuk mencoba pilihannya dalam setiap kesempatan. Itulah alasan mengapa aku diberi julukan manusia idealis. 

Aku ingin perjuanganku menempuh jarak 17 kilometer selama 3 tahun dan berusaha meraih nilai akademis tinggi pada masa SMA [Sekolah Menengah Atas] berakhir dengan mencoba apa yang menjadi pilihanku. Bukankah terlalu dini untuk melepaskan apa yang menjadi pilihan tanpa perlawanan usaha. Aku selalu mengatakan bahwa kesempatan untuk memperjuangkan apa yang menjadi pilihan adalah keberuntungan dari kenyataan yang tidak semua orang dapatkan dalam kehidupan.

Banyak dari keluargaku yang juga turut bertanya, “Mau lanjut di kampus mana?”

Dengan lantang aku berujar, “Insyaallah Universitas Hasanuddin, jurusan Psikologi.”

Malam hari sebelum memutuskan untuk mengisi pendaftaran pada laman web SNPMB, aku berbicara kepada Bapak, “Unhas saya pilih, Bapak. Kecil peluangnya karena banyak peminatnya, tetapi itu mau saya pilih.”

Bapak tidak melihat ke arahku, masih fokus memakan pisang di depannya. Sesaat aku mendengar Bapak berujar dengan cepat. “Pilih yang kita mau.”

“Siapji merantau? Tidak mau yang dekat saja?” Bapak melanjutkan dengan bertanya.

Aku tahu bahwa jika aku ingin, Bapak pun sangat ingin aku memilih kampus yang tidak mengharuskan aku merantau, tetapi hebatnya aku memiliki kedua orang tua yang tidak pernah memaksakan keinginannya, bahkan jika mereka tahu aku punya ingin yang berbeda, mereka akan memberikan kepercayaan kepadaku.

“Tidak ada jurusan Psikologi di kampus yang dekat, Bapak.” 

Bapak kini melihat ke arahku sambil berucap, “Berarti pilih unhas, coba saja.”

“Meski pun kecil peluangnya, Bapak?

“Kita tidak pernah tahu kalau tidak dicoba, Nak.”

Emak datang dari arah luar, aku kembali berkata, “Unhas saya pilih, Mak. Jurusan Psikologi.”

“Pilih yang kita mau, karena kita mau jalani.”

Sebetulnya, jurusan Psikologi tidak mendapatkan penolakan atau pun persetujuan dari kedua orang tuaku, hanya kepercayaan untuk mencoba apa yang menjadi pilihanku.

Dengan kepercayaan dan harapan itu pula aku memilih.

Hari pengumuman tiba, seperti mimpi buruk yang terwujud aku mendapatkan penolakan. Aku menatap laman web pengumuman yang bertuliskan “ANDA DINYATAKAN TIDAK LULUS SELEKSI SNBP 2024.” Background merah mewarnai tulisan tersebut, kecewa? Tentu saja. Meskipun sudah memikirkan risiko dari pilihan, aku tidak bisa pungkiri bahwa aku adalah anak yang cengeng, tetap saja menangis. 

Sejak SMP [Sekolah Menengah Pertama] aku tahu betul bagaimana susahnya memperjuangkan pendidikan di tengah kondisi ekonomi yang tidak mendukung, mulai saat itu aku punya tujuan ingin menjadi seseorang yang dapat memotivasi banyak anak-anak desa untuk memperjuangkan pendidikan, apa pun profesi yang kelak akan aku jalankan. Aku ingin bisa membuka peluang untuk membantu anak-anak desa yang punya cita-cita besar, namun terhalang ekonomi. Dan aku pikir jawaban untuk tujuan itu bermuara pada jurusan Psikologi.

UAS [Ujian Akhir Semester] terakhir dilaksanakan tepat sehari setelah pengumuman SNBP. Selama menjalankan ujian aku turut merangkai kembali rencana untuk ke depannya. Aku sempat bimbang dalam memutuskan untuk melanjutkan kuliah atau bekerja lebih dulu, karena keadaan ekonomi yang sulit. Sakit yang Bapak derita pada kakinya pun belum kunjung sembuh setelah sekian lama, tetapi Bapak masih selalu pergi ke sawah. 

“Tetapma daftar SNBT [Seleksi Nasional Berbasis Tes] Bapak?”

“Daftar saja, Nak.”

Sehari sebelum pendaftaran SNBT ditutup, aku mendaftarkan diri. Kembali dengan pilihan yang sama dan juga kepercayaan yang sama, jurusan Psikologi di Universitas Hasanuddin. 

Selama kurang lebih satu bulan aku belajar berjam-jam setiap harinya, membuka banyak platform media sosial yang bisa membantuku dalam belajar materi UTBK [Ujian Tulis Berbasis Komputer], melakukan banyak tryout UTBK dan mengulas kembali materi yang belum aku kuasai. Setiap pagi belajar agar aku dapat menuntaskan buku persiapan UTBK yang setebal harapan itu, memenuhi dinding kamarku dengan sticky note berisi rumus-rumus penting, kalimat motivasi, dan tenggat waktu menuju pelaksanaan UTBK.

“Kamu enak, Ririn, karena pintar.” 

Bukan kali pertama aku mendengar ucapan seperti itu. Berlagak tenang untuk berusaha menyebarkan energi semua akan baik-baik saja dan pasti bisa justru malah membuat beberapa temanku berpikir bahwa aku terlalu santai, karena aku sudah pintar. Siapa sangka bahwa aku juga penakut, aku juga yang paling keras memikirkan bagaimana jika aku tidak berhasil. Hanya saja, aku juga selalu belajar dan membangun kepercayaanku.

Aku berangkat ke Makassar seorang diri menaiki mobil sewa. Kala itu tidak ada yang bisa menemani, karena kaki Bapak sedang sakit dan Emak juga sering pusing. 

“Doakanka, semoga bisa.” Ucapku dengan cepat saat menyalami tangan Emak dan Bapak secara bergantian. Air mata yang berusaha aku tahan pada akhirnya keluar juga.

“Iya, hati-hati, Nak.” Emak menjawab.

“Semangat, Ririn.” Aku semakin menahan tangis begitu Bapak mengucapkannya sambil tersenyum.

Pada tanggal 14 Mei 2024, aku melaksanakan UTBK di Universitas Hasanuddin pada ruangan Lab CBT Farmasi [A] lantai 5. 

Hal paling menyakitkan hadir saat harapan diberikan kepercayaan besar, tetapi gagal untuk dibuktikan. Kecewa dan rasa bersalah menjadi alasan untuk melampiaskan luka pada kenyataan yang ternyata tak sesuai dengan keinginan. Ya, 31 hari berlalu dan waktu pengumuman kembali tiba. Alih-alih mendapatkan selamat aku justru mendapatkan penolakan untuk kali kedua. 

“JANGAN PUTUS ASA DAN TETAP SEMANGAT.”

Penolakan untuk kali kedua bukan hanya merampas harapan untuk aku bisa menyandang gelar S.Psi dan kuliah di Universitas Hasanuddin, tetapi juga seperti merampas semangatku sampai habis. Aku kecewa dan merasa semua usaha yang aku kerahkan menjadi sia-sia. Aku berandai-andai, apa jika aku berusaha lebih keras aku akan berhasil?

Aku gagal, rupanya.

“Sudah, tidak apa-apa, bukan rezeki.” Bapak berucap saat aku menangis dalam pelukannya.

“Tetap putus asa dan jangan semangat, Ririn.” Tidak heran seorang Kakak dijuluki manusia memyebalkan. Lihat saja, Kakakku mengucapkannya dengan senyum mengejek menjengkelkannya itu, tetapi aku tahu bahwa kalimat tersebut bermaksud menghibur agar aku kembali semangat.

Aku tidak tahu harus ke mana lagi, aku hanya berpikir berhari-hari, tetapi dalam keadaan meratapi nasib. Aku melewatkan banyak rutinitas harian, seperti melakukan olahraga pagi, membaca buku, dan belajar. Bagaimana selanjutnya? Aku tidak tahu.

“Wah, sangat luar biasa, Ririn. Ini hidupmu dan kamu tidak tahu?” Benakku berbisik demikian.

Lagi pula, aku masih bernapas. Itu artinya hidup masih berlanjut.

Tiba-tiba, hari lebaran Iduladha tiba. Jika diingat-ingat cukup menyebalkan urutan waktu pengumuman dari SNPMB ini, sebelum hari raya Idulfitri ketolak lewat jalur SNBP, eh sebelum hari raya Iduladha juga ketolak jalur SNBT. Lengkap sudah kenyataan untuk membuatku hanya bisa tidak tahu.

“Lanjut di mana, Ririn?” 

“Mampus.” Ucapku dalam hati saat salah satu Tanteku bertanya di waktu kumpul keluarga.

“Belum tahu, Tante. Tidak diterimaka PTN [Perguruan Tinggi Negri].”

“Kenapa bisa?”

“Ada yang nilai UTBK-nya pasti lebih tinggi, Tante. Jadinya saya tidak menjadi bagian dari 53 orang yang diterima untuk jurusan Psikologi.” 

Aku masih belum sekurang ajar itu untuk mengatakan, Tanyakan saja sama operatornya.”

“Kampus apa memang Ririn pilih?”

“Unhas, Tante.”

“Oh pantas. Susah memang masuk Unhas orang kalau tidak pintar sekali.”

Aku hanya cengengesan dan menggaruk tengkuk mendengarnya. Sedikit menyentuh hati juga, ya. Hanya sedikit.

Aku tidak menyangka bahwa takdir menawarkan jalan yang berbeda dari keinginanku lewat kenyataannya. 

Masih di hari Iduladha, aku meminta maaf kepada Emak dan Bapak. Aku juga masih sangat ingat betul bagaimana aku berusaha mengeluarkan suara lirih untuk berucap, “Bapak, minta maafka. Gagalka masuk Perguruan Tinggi Negri.”

“Tidak apa-apa, Nak.” Isak tangis yang aku tahan mati-matian pada akhirnya keluar juga saat Bapak memeluk dan terus berkata tidak apa-apa.

“Sudahmi berusaha, Nak. Bukan rezeki,” Emak mencoba menenangkan saat melihat tangisku semakin kencang.

Aku adalah salah satu anak beruntung itu. Anak yang lahir dari kedua orang tua yang peduli betapa pentingnya pendidikan, anak yang dibesarkan oleh dua manusia hebat yang akan selalu mengupayakan segala kemungkinan agar anaknya bisa mendapatkan pendidikan. Anak yang lahir dan tumbuh di salah satu desa di Kabupaten Bone.

Baiklah, ingin dan angan tetap harus sampai tujuan meski beda jalan, bukan?

“Sebuah rencana hanya berguna jika dapat bertahan dari kenyataan. Dan masa depan yang penuh hal-hal yang tidak diketahui adalah kenyataan setiap orang.” Kalimat ini aku temukan ketika membaca e-book The Psychology Of Money, aku berpikir bahwa aku masih terlalu muda untuk tidak mencoba banyak hal sehingga semua usaha dan percobaan yang aku lakukan seharusnya tidak pernah sia-sia. Rencana dan harapan yang aku punya layak untuk diwujudkan, aku tidak bisa berhenti hanya di sini.

 “Lihat coba kampus ini,” salah satu kakakku menyodorkan handphone ke arahku setelah sebelumnya menerobos masuk ke kamarku.

“Ririn, waktu itu berjalan. Kau tidak bisa cuman tinggal bersedih saja terus,” lanjutnya.

“Banyak kesempatan lain, sukses itu diraih dengan usaha.” Aku menyimak kakakku yang sedang berusaha memotivasi, ah iya, jangan lupakan nada suaranya yang justru seperti memarahi.

“Kalau mau, mendaftar cepat sebelum tutup pendaftarannya. Jangan menunggu-menunggu, waktu itu cepat berlalu.”

Aku mencari, melihat, dan memutuskan memilih. Perlu waktu yang cukup lama.

Rupanya jurusan yang tadinya aku kira menjadi tempat ingin dan anganku bermuara, tidak ada. Iya, jurusan Psikologi tidak ada di kampus ini.

Melewati banyak keraguan, aku berusaha mengintip segala ketakutan untuk jalan lain. Itu semakin membuatku takut seolah aku akan mempertaruhkan semuanya, tetapi aku masih sama. Masih menjadi manusia idealis, semua akan selalu baik-baik saja, bukan?

Salam kenal, aku kembali untuk tujuan yang masih sama. Kini aku menyandang status sebagai Mahasiswi Baru S-1 Ilmu Keperawatan UIM [Universitas Islam Makassar]

Tidak mudah untuk memutuskan, tidak mudah untuk menerima bahwa mempertahankan rencana untuk tetap sampai nantinya, aku harus melewati jalan yang lain. Tidak mudah juga merasakan kecewa yang harus dibalut tawa. 

“Wah, kenapa bisa di UIM?”

“Ternyata kamu di kampus buangan juga, ya?”

“Saya tidak menyangka akhirnya kau di UIM, Rin.”

Impian? Mungkin memang awalnya bukan di sana, tetapi sebelum memilihnya itu berarti telah menjadi impian, karena aku mau mewujudkan mimpiku dengan bersamanya. Aku mau sampai pada tujuanku nanti dengan melewatinya.

Pertanyaan pertama untuk diriku, “Kenapa akhirnya pilih PTS padahal tahu kalau biaya yang dibutuhkan lebih tinggi?” karena aku tahu orang tuaku sangat ingin aku tetap bisa melanjutkan pendidikan pada jenjang perkuliahan, dan sejauh ini dengan segala kepercayaan yang mereka berikan, aku yang selanjutnya dan seharusnya berusaha, bukan? 

Tadinya aku sempat berpikir, kenyataan bahwa aku berakhir berada pada salah satu PTS [Perguruan Tinggi Swasta] cukup menyakitkan dan bukan bagian dari cerita yang bisa memotivasi. Aku banyak melihat orang lain dengan segala kegagalan untuk masuk PTN, tetapi akhirnya tetap masuk PTN. Rupanya itu kesalahan dan kegagalan yang aku lakukan untuk kali ketiga setelah 2 kali gagal pada jalur masuk PTN. Aku tidak menghargai usahaku sendiri, aku seharusnya tetap bangga dengan kepercayaan yang aku punya, karena aku tetap percaya aku bisa melakukan yang terbaik di mana pun itu. Dan aku juga sepatutnya mengapreasi keberanianku dalam mencoba. Sudah sepantasnya  aku merasa bahwa apa yang aku lakukan adalah perjuangan yang tidak pernah sia-sia. 

Berhenti menoleh pada kehidupan orang lain, terima dan bersyukur di mana pun kita berada tanpa harus melihat penderitaan orang lain terlebih dahulu. 

Kalau kata Profesor NYU Scott Galloway, “Nothing is as good or as bad as it seems.”

“Coba itu bukan unhas kau pilih waktu jalur SNBP, pasti diterimako.”

“Andai bukan jurusan Psikologi kau pilih, Rin.”

Sampai saat ini masih ada beberapa orang yang akan mengatakan kalimat serupa, pada awalnya kalimat seperti itu sangat menyerang penyesalanku untuk memancingnya muncul ke permukaan. Namun, anehnya setiap aku mencoba berpikir untuk menyalahkan diri sendiri karena rasa kecewa akibat penolakan yang didasari oleh pilihan yang menurut sebagian orang tidak mungkin saat itu; aku tidak berhasil melakukannya. Saat aku mencoba untuk berandai-andai aku justru menemukan penyesalan itu berada di sana, di tempat dan di waktu di mana jika aku tidak pernah memilih untuk mencoba.

“Eh, tetapi apa memang benar dulu itu tidak mungkin, ya? Kan aku punya bukti kegagalannya.” Masih sama, aku masih menjadi yang tidak tahu. Rahasia, menurut takdir. Kemampuan kita kan merencanakan dengan doa dan usaha.

Sejauh ini untuk banyak peristiwa, aku menjadi tahu bahwa tidak ada yang perlu saling ditentang dalam keputusan menjadi idealis atau pun realistis, tidak ada yang salah dari keduanya. Melainkan bukti bahwa kita punya pikiran yang berbeda, karena tumbuh dari pengalaman yang berbeda pula sehingga setiap keputusan yang kita ambil hanya berdasarkan apa yang cocok menurut kita.

Aku masih belum punya segudang prestasi seolah kegagalan yang dulu mengantarkanku pada  banyak pencapaian dalam semalam. Aku masih belajar. Aku hanya menjadi berani untuk mencoba. “Bukankah sudah dari dulu?” pikiranku memang senang bertanya, iya sudah dari dulu, tetapi mungkin kali ini percobaan lain dan juga dengan daya juang dan daya tahan yang lebih tinggi, harusnya. 

Aku sedang senang banyak hal, melatih hobi menulis yang searah dengan tujuan memotivasi orang lain; mengikuti lomba menulis puisi dan cerpen, merencanakan kegiatan di dunia perkuliahan, dan tentunya mencari; aku mencoba banyak kesempatan beasiswa dengan harapan pertama dapat meringankan beban orang tua. 

“Tulisan ini tidak akan ada dan bisa seperti sudah selesai jika aku tidak pernah gagal.” Wah, yang ini tidak boleh terlewatkan, aku menulis cerita ini untuk kali kedua dan dari awal setelah tulisan kali pertama tiba-tiba hilang setelah aku sampai pada epilog. Entah sudah kegagalan yang ke berapa, tetapi ingat ini, “Kalah dan lelah tidak boleh membawamu menyerah,” Yang ini kataku.

Dan aku tahu kita semua tahu bahwa tidak ada yang pernah benar-benar selesai saat hidup masih berjalan.

Sampai nanti pada banyak percobaan kesempatan berikutnya.

Semoga jiwa yang sering mengatakan tidak lagi sanggup tetap memilih untuk hidup, selalu.

 

TAMAT