Inspirasi

Halo, namaku Ade, mahasiswa semester 5 dari Program Studi Ilmu Komputer Universitas Negeri Medan. Aku punya kisah perjuangan meraih kampus impian. Sewaktu kecil, aku tidak tahu apa sebenarnya cita-citaku. Aku tidak tahu impianku. Ketika ditanya oleh orang tuaku, aku menjawab belum terpikir. Ketika memasuki bangku sekolah dasar, guruku menyuruh siswanya untuk memperkenalkan diri, dan salah satu yang harus diucapkan adalah cita-cita. Aku mengucapkan cita-cita yang sama dengan cita-cita teman sebangkuku. Begitu juga saat awal masuk SMP dan SMA, aku selalu mengucapkan cita-cita yang sama dengan yang diucapkan temanku, padahal sedikit pun tak terpikir olehku pada profesi itu.

Daripada memikirkan cita-cita, aku lebih tertarik memikirkan strategi untuk menyelesaikan game yang aku mainkan. Ya, aku lebih suka bermain game daripada belajar. Yang aku suka setiap hari adalah saat aku sampai di rumah ketika pulang dari sekolah untuk bermain game.

Sewaktu kecil, aku juga tidak tahu untuk apa aku sekolah. Aku selalu berpikir ketika aku SD aku harus lulus agar bisa SMP, dan ketika SMP aku harus lulus agar bisa masuk SMA. Aku tidak tahu sebenarnya tujuanku apa. Aku bukan anak yang pintar di sekolah, tetapi aku selalu menyelesaikan tugas-tugas sekolahku semata-mata untuk menyenangkan hati orang tuaku, agar mereka tahu anaknya tidak punya masalah dalam pendidikannya. Ya, orang tuaku adalah alasan utama untuk aku menyelesaikan sekolahku.

Sampailah aku di masa di mana aku mulai memikirkan mau jadi apa aku nanti. Waktu itu aku baru saja naik ke kelas 12 di SMA. Tahun ajaran baru telah dimulai, tetapi kelas diadakan secara daring dikarenakan virus corona. Di suatu hari di bulan Agustus tahun 2020, wali kelasku menugaskan kami untuk memikirkan jurusan dan PTN mana yang akan kami tuju, dan keesokan harinya dia akan menanyakan.

Siang itu juga aku mencari-cari di internet tentang jurusan kuliah dan kampus di Indonesia. Tapi aku merasa tidak ada yang cocok denganku. Sampailah aku melihat suatu artikel tentang penghasilan yang didapatkan oleh game Among Us. Ya, saat itu game Among Us sangat populer sekali. Melihat penghasilan yang sangat fantastis sekali, aku jadi ingin membuat gamaku sendiri—game yang bisa dimainkan semua orang di muka bumi ini, dan game yang bisa menghasilkan banyak uang untukku. Ya, memang pikiranku tidak realistis sekali di sini, tetapi aku punya keyakinan berlebih terhadap diriku.

Aku yang awam ini mulai mencari-cari bagaimana menjadi seorang pembuat game. Aku pun berpikir apakah orang yang membuat game itu kuliah juga atau tidak? Jika iya, apa jurusan kuliah seorang pembuat game? Aku pun mencari di internet dan mengetahui bahwa ada jurusan kuliah yang bisa menciptakan seorang game developer. Jurusan kuliah itu adalah jurusan kuliah di bidang IT.

Aku pun mencari di internet kampus dengan jurusan IT terbaik di Indonesia. Aku berpikir pastinya game besar diciptakan dari tempat terbaik. Dan saat itu menurut beberapa sumber yang aku baca, kebanyakan menyebut bahwa Institut Teknologi Sepuluh Nopember adalah kampus dengan jurusan IT terbaik di Indonesia. Dari situ aku mendeklarasikan dalam hati bahwa, “Aku harus masuk ke jurusan Teknik Informatika di kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember.”

Waktu kurang dari 1 tahun lagi untukku mempersiapkan diri tes ke kampus itu. Aku tidak berharap banyak pada jalur tes SNMPTN yang dikenal sebagai jalur prestasi. Aku sadar nilai ku di sekolah tidak terlalu tinggi, dan aku juga belum tahu apakah aku termasuk dalam siswa yang eligible dari sekolahku untuk mencoba di jalur SNMPTN.

Aku berfokus pada jalur SBMPTN, yaitu jalur tes mengerjakan soal-soal. Aku mulai belajar dari buku soal yang aku beli juga dari internet. Namun, aku memiliki kendala waktu. Dengan banyaknya tugas sekolah, aku harus membagi waktu belajar SBMPTN dan mengerjakan tugas sekolah.

Hari-hari berlalu, tahun pun berganti ke tahun 2021. Tibalah saatnya pengumuman siswa eligible dari sekolahku, dan aku tidak masuk ke dalamnya. Namun, beberapa hari sebelum pendaftaran SNMPTN dari operator sekolah ditutup, salah seorang guruku menelponku dan memberitahuku bahwa beberapa siswa yang eligible mengundurkan diri untuk tidak mencoba SNMPTN dengan alasan jika mereka lulus SNMPTN, mereka tidak dapat lagi mencoba tes di sekolah kedinasan. Aku merupakan salah satu siswa yang dipanggil untuk menggantikan mereka yang mengundurkan diri tadi.

Dengan begitu, pedenya aku langsung memilih jurusan Teknik Informatika di ITS pada pilihan pertama. Dan lebih gilanya lagi, aku tidak memikirkan kampus di pilihan kedua. Aku membiarkan pilihan keduaku kosong, karena aku berpikir jika aku lulus pada pilihan kedua, aku tidak dapat mencoba lagi di SBMPTN. Aku begitu pengennya masuk di jurusan dan kampus itu, karena aku merasa aku harus berada di kampus terbaik untuk bisa memaksimalkan jurusanku. Kelak, ketika aku sudah menjadi mahasiswa, aku mulai menyadari betapa bodohnya ideku ini. Ketika hari pengumuman hasil SNMPTN tiba, sudah jelas hasilnya aku dinyatakan tidak lulus SNMPTN.

Beberapa hari setelahnya, aku mendaftar di SBMPTN. Aku mulai sedikit menurunkan egoku. Kali ini, pilihan keduaku tidak kosong. Di pilihan pertama aku tetap memilih jurusan Teknik Informatika di ITS, dan di pilihan kedua, dengan saran dari orang tuaku untuk berkuliah di daerahku saja yaitu Kota Medan, aku memilih jurusan Ilmu Komputer di Universitas Sumatera Utara. Jujur saat itu aku tidak begitu tertarik dengan pilihan keduaku, entah kenapa aku hanya ingin pilihan pertama saja. Ya, saat itu aku sungguh percaya diri sekali. Kelak, aku menertawakan pilihanku yang tidak realistis ini. Di USU, jurusan Ilmu Komputer adalah salah satu jurusan terfavorit, apalagi di ITS. Ya, sangat berat sebenarnya untuk masuk ke salah satu kampus pilihanku ini.

Hari ujian pun tiba. Dengan persiapan belajar yang sangat kurang, aku pun dengan kepercayaan diri yang tinggi mulai mengerjakan ujian. Saat selesai ujian, aku merasa pede kalau aku bakal lulus, setidaknya pada pilihan kedua. Aku merasa dapat mengerjakan soal-soal melebihi harapanku. Hari pengumuman pun tiba. Ketika aku buka pengumumannya, ya, aku dinyatakan tidak lulus SBMPTN tahun 2021. Perasaanku sedih sekali dan juga kecewa kepada diriku. Itu adalah pertama kalinya aku patah semangat dikarenakan impian.

Hari-hari setelah pengumuman SBMPTN, aku masih merasa kecewa. Orang tuaku menyuruhku agar aku mendaftar jalur mandiri saja di USU. Aku tidak terlalu tertarik sebenarnya. Pilihan keduaku di SBMPTN adalah pilihan orang tuaku, bukan pilihanku. Pilihanku cuma satu, yaitu Teknik Informatika ITS. Akan tetapi, orang tuaku selalu menyuruhku untuk mendaftar jalur mandiri di USU dan jika tidak lulus juga, orang tuaku akan memasukkan aku ke kampus swasta. Orang tuaku juga bertanya apakah tidak ada jurusan selain jurusan IT bagiku? Dan ya, bagiku tidak ada. Aku yakin sekali aku akan mencintai jurusan IT ini, karena aku juga sudah pernah sedikit mencoba mengoding dan menurutku itu menyenangkan, jadi aku yakin aku pas di jurusan ini.

Saat itu yang kumau cuma satu, yaitu mencoba tahun depan dan tanpa kuliah satu tahun, atau biasa disebut gap-year. Tetapi orang tuaku tidak setuju dengan ideku ini. Orang tuaku lebih setuju dengan aku masuk kuliah dulu di kampus swasta satu tahun lalu silahkan kalau ingin mencoba lagi di tahun 2022. Orang tuaku pun kembali menyuruhku untuk mendaftar jalur mandiri di USU. Akupun akhirnya setuju untuk mendaftar, dengan perjanjian jika aku tidak lulus juga pada tes jalur mandiri ini, aku boleh untuk gap-year. Orang tuaku pun setuju dengan itu dan daftarlah aku pada jalur mandiri di USU dengan pilihan pertama jurusan Ilmu Komputer dan pilihan kedua jurusan Teknologi Informasi.

Persiapanku sama sekali tidak ada untuk mengikuti ujian ini. Aku hanya bermain game selama masa-masa sebelum tes. Saat hari ujian, aku pun menjawab dengan apa adanya dan sangat cepat aku selesaikan ujiannya. Aku bisa pastikan bahwa aku adalah peserta yang paling cepat selesai di ruangan itu. Saat ujian berlangsung, sayangnya harus menunggu waktu habis agar boleh keluar ruangan. Untuk mengisi kebosananku menunggu waktu ujian selesai, aku mulai berpikir tentang rencana-rencana apa yang akan aku lakukan satu tahun ke depan untuk lulus di SBMPTN 2022.

Di perjalanan pulang setelah ujian, aku memberitahu orang tuaku rencanaku jika aku tidak lulus dalam tes mandiri ini. Aku menginginkan agar aku masuk ke bimbel khusus gap-year untuk memperkuat belajarku, dan orang tuaku setuju.

Di hari pengumuman hasil ujian mandiri USU, sudah jelas aku tidak lulus. Aku tidak terkejut dengan hasilnya dan mungkin bisa dibilang sesuai yang aku harapkan. Aku berharap tidak lulus karena begitu inginnya saat itu aku masuk ke jurusan Teknik Informatika di ITS, mesikpun harus menunggu dan berjuang satu tahun lagi, aku siap menjalaninya. Kelak aku berpikir bahwa aku ini aneh sekali karena mengharapkan aku tidak lulus.

Sebulan kemudian, aku sudah mendapatkan bimbel untuk belajar selama satu tahun ke depan dalam persiapan menghadapi SBMPTN 2022. Dimulailah kehidupan gap year-ku. Teman-temanku ada yang menyayangkan pilihan yang kuambil ini. Mereka menganggap aku menyia-nyiakan satu tahun. Begitu juga dengan beberapa keluarga besarku yang menyarankan agar aku kuliah saja dulu, dan kalau mau mencoba lagi tahun depan, silakan. Alasannya, biar ada pengalaman. Namun, aku tetap teguh pada pilihanku dan bertekad membuktikan bahwa jalan yang kupilih adalah yang paling tepat untukku.

Hari pertama masuk bimbel, aku sangat tertarik. Dalam hati, aku bertanya-tanya seperti apa yang akan aku dapatkan selama setahun ini. Apakah aku akan mencapai tujuanku? Apakah ini pilihan yang tepat? Semua itu akan terjawab dalam satu tahun ke depan.

Hari-hari menjalani kehidupan gap year, aku belajar banyak hal. Tidak hanya pelajaran untuk SBMPTN, tetapi juga pelajaran hidup dari kakak-kakak tentor dan teman-teman yang juga pernah gagal dalam SBMPTN. Pengalaman itu membuka pikiranku bahwa masih banyak hal di dunia ini yang belum aku ketahui. Bisa dibilang, aku lebih banyak belajar tentang kehidupan selama masa gap year.

Selain itu, persiapanku untuk ujian juga semakin matang. Aku merasa pengetahuanku jauh lebih baik daripada sebelumnya untuk menghadapi SBMPTN kali ini. Namun, hasil try out tiga kali masih belum menunjukkan aku diterima di PTN pilihanku. Di setiap try out, aku tetap memilih jurusan Teknik Informatika ITS di pilihan pertama dan Teknologi Informasi USU di pilihan kedua.

Pada try out keempat, aku mencoba mengganti pilihan kedua menjadi Ilmu Komputer di Universitas Negeri Medan, dan hasilnya, aku dinyatakan lulus menurut hasil try out pada pilihan kedua di jurusan Ilmu Komputer Universitas Negeri Medan. Aku mulai berpikir, apakah kampus ini yang sesuai dengan kemampuanku? Apakah aku benar-benar harus melepaskan ITS?

Pada try out kelima, yang juga merupakan try out terakhir sebelum SBMPTN 2022, aku mengganti pilihan pertama menjadi jurusan Teknologi Informasi di USU dan pilihan kedua tetap Ilmu Komputer di UNIMED. Hasilnya, aku kembali dinyatakan lulus pada pilihan kedua di jurusan Ilmu Komputer Universitas Negeri Medan.

Aku semakin bimbang. Waktu pendaftaran SBMPTN 2022 semakin dekat dan aku masih belum memutuskan pilihanku. Apakah aku harus melepaskan mimpiku berkuliah di ITS? Aku sangat bingung. Aku pun meminta saran kepada orang tuaku, kakakku, dan tentor di bimbel. Akhirnya, aku memutuskan untuk mendaftar SBMPTN 2022 dengan pilihan pertama di jurusan Teknologi Informasi USU dan pilihan kedua di Ilmu Komputer UNIMED. Ya, aku melepaskan mimpiku berkuliah di ITS, dan juga melepaskan tujuan utamaku menjalani gap year ini. Ada perasaan sedih dan kecewa, serta rasa percaya diriku pun mulai menurun.

Menjelang hari ujian, aku semakin takut. Aku takut gagal lagi. Namun, aku terus berdoa, memohon petunjuk dan pertolongan Tuhan. Hari ujian pun tiba, dan semua yang kupelajari selama satu tahun ini kukerahkan. Saat ujian berlangsung, aku merasa banyak soal yang tidak bisa aku jawab. Setelah ujian selesai, aku pulang ke rumah sendirian, dengan perasaan hancur, sedih, kecewa, dan takut. Semuanya bercampur menjadi satu.

Tiga minggu menunggu pengumuman, aku hanya bisa berserah kepada Tuhan. Tiga minggu itu terasa lama, dan selama itu, aku tidak terlalu bersemangat melakukan aktivitas. Kebanyakan waktu kuhabiskan berbaring di kamar sambil bermain ponsel. Di saat ini, aku hanya berharap bisa menunjukkan hasil dari gap year-ku kepada orang tuaku.

Dulu, aku punya impian yang sangat tinggi untuk berkuliah di ITS, bahkan tidak melihat pilihan lain. Sekarang, harapanku berbeda. Kuliah di kampus mana pun tidak masalah, asalkan aku bisa lulus SBMPTN ini. Setidaknya ada hasil yang bisa kulihat dan bisa kubanggakan kepada orang tua dan orang-orang di sekitarku. Orang tuaku mungkin merasa kasihan melihatku bersedih setelah perjuanganku selama ini, dan setelah mengorbankan satu tahun penuh.

Hari pengumuman SBMPTN 2022 pun tiba. Aku dan orang tuaku bersiap melihat hasilnya bersama-sama. Sebelum membuka pengumuman, aku berkata kepada mereka, “Apapun hasilnya, tidak ada yang sia-sia dari semua yang aku lalui tahun ini. Aku belajar banyak hal. Kalau pun tidak lulus, tidak apa-apa.” Aku mengatakan itu untuk menguatkan diri dan menenangkan hati orang tuaku yang pasti khawatir padaku.

Akhirnya, aku membuka pengumuman. Hasilnya? Aku LULUS SBMPTN 2022 di Program Studi Ilmu Komputer Universitas Negeri Medan. Aku menangis, menangis karena lega akhirnya aku bisa menunjukkan bahwa jalan yang kupilih selama ini tidak sia-sia. Meskipun bukan di kampus impianku, aku tetap menganggap ini sebagai sebuah keberhasilan. Aku sangat senang karena berhasil lulus SBMPTN.

Sekarang, aku sudah menjadi mahasiswa Ilmu Komputer di Universitas Negeri Medan. Jujur saja, dari kecil aku tidak pernah membayangkan akan kuliah di sini. Bahkan ketika menemukan jurusan impianku, aku tidak pernah membayangkan bahwa kampus ini akan menjadi tempat belajarku. Namun, di sinilah aku sekarang, menjalani kehidupanku sebagai mahasiswa. Sudah lebih dari dua tahun dan sekarang aku menjalani semester kelima.

Aku sangat senang dengan lingkungan kampusku. Aku memiliki teman-teman yang saling mendukung dan juga memiliki mimpi yang sama. Aku juga sangat menyukai jurusanku. Bisa dibilang, aku berhasil lepas dari ungkapan “salah jurusan” yang sering melekat pada banyak mahasiswa. Soal membuat game? Aku semakin dekat dengan itu. Aku yakin, aku pasti bisa menggapai impianku tersebut. Meskipun aku tidak pernah membayangkan berada di sini sebelumnya, sekarang aku bisa mengatakan bahwa aku bahagia berada di sini.

Aku kembali pada pertanyaan dalam hatiku di hari pertama masuk bimbingan belajar. Apa yang aku dapatkan selama masa gap year itu? Banyak, sangat banyak yang aku dapatkan, seperti yang sudah aku katakan sebelumnya. Apakah aku berhasil meraih tujuanku? Tujuan utamaku memang tidak tercapai, tapi ada sesuatu yang berhasil kucapai, dan itu pun sudah aku jelaskan. Dan apakah ini adalah pilihan yang tepat untukku? Aku pernah bilang bahwa aku ingin membuktikan bahwa jalan yang kupilih adalah jalan yang paling tepat buatku. Tapi ternyata, sekarang aku tidak tahu apakah ini benar-benar jalan yang paling tepat.

Aku berandai-andai, jika aku berada di kampus ITS, USU, atau kampus lainnya, apakah aku akan mendapatkan teman-teman sebaik di sini? Atau mungkin teman-teman yang lebih baik? Aku tidak tahu. Aku juga berandai-andai, jika pada tahun 2021 aku memilih kuliah di kampus swasta, apakah aku akan memiliki wawasan yang lebih luas tentang kehidupan? Aku tidak tahu. Dan apakah jika aku memilih jurusan lain, aku bisa mengikuti dan meminati jurusan tersebut? Aku juga tidak tahu.

Apakah jalan yang kupilih adalah jalan yang paling tepat buatku? Aku tidak tahu. Yang aku tahu adalah aku bahagia dengan pilihanku.