Inspirasi

Qori Alfiani Hakiki

“Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.”

Qori Alfiani Hakiki, bukan sekadar serangkaian kata, melainkan sebuah nama yang berisi doa abadi dan berbagai harapan kedua orang tua kepada anaknya. Kelayu, desa kecil yang terletak di pulau Lombok, tempat di mana aku lahir dan dibesarkan. Di sini, di pelosok pulau nan indah, dengan membawa harapan kedua orang tua, aku mulai membangun satu persatu mimpi dan mulai melangkah maju. 

Meski tumbuh di tempat yang jauh dari gemerlap kota, mimpiku tidak pernah terasa kecil. Semua orang berhak bermimpi, setinggi apapun dan sebesar apapun. Tidak ada batasan untuk membayangkan masa depan yang lebih cerah, bahkan ketika dunia di sekitar kita tampak membatasi dan merendahkan. Di mata beberapa orang, mimpi-mimpiku mungkin terdengar terlalu tinggi dan tampak mustahil untuk dicapai. Namun, aku percaya bahwa dengan usaha dan doa, tidak akan ada mimpi yang mustahil untuk dicapai.

Kesukaanku terhadap matematika sejak kecil semakin memupuk mimpi besar dalam diriku untuk masuk jurusan statistika dan kemudian menjadi seorang data analyst. Bagi sebagian orang, angka hanyalah deretan simbol dan sesuatu yang ketika dilihat membuat mata terasa sakit dan kepala menjadi pening, namun bagiku, angka adalah kumpulan cerita menarik yang menunggu untuk diceritakan. Setiap kali aku mempelajari berbagai hal di bidang matematika, ada daya tarik tersendiri yang membuatku semakin yakin untuk menjadi seorang data analyst. Kemudian, di sisi lain, sebuah negara dengan julukan “negeri matahari terbit” berhasil membuatku jatuh cinta dan mulai berani bermimpi lebih jauh. Kemajuan pendidikan, perkembangan teknologi, kedisiplinan, budaya, dan segala pesonanya yang semakin aku jelajahi lebih dalam semakin menguatkan keinginanku untuk belajar dan berproses di sana. Hal ini aku impikan karena nantinya aku ingin mengaplikasikan ilmu yang telah aku dapatkan di tanah kelahiranku dan menjadi seorang ahli di bidang data analyst. 

Menjelang kelulusan SMA, aku mulai mempersiapkan langkah-langkah untuk mewujudkan mimpi-mimpiku. Melalui jalur SNMPTN, aku berkesempatan mendaftar ke perguruan tinggi negeri yang kuinginkan. Di saat yang bersamaan, aku juga mencoba peruntungan dengan mendaftar beasiswa MEXT, beasiswa S1 ke Jepang yang selama ini kudambakan.

Namun kenyataan tidak selalu seindah harapan. Aku dinyatakan tidak lolos SNMPTN. Kegagalan pertama itu mengejutkan, tapi aku tidak menyerah. Aku mencoba lagi melalui jalur SBMPTN, hasilnya tetap sama. Penolakan demi penolakan menghampiri. Meski diliputi rasa kecewa, aku terus mencoba berbagai jalur, termasuk jalur mandiri. Sayangnya, kegagalan masih saja mengikutiku.

Pertanyaan demi pertanyaan mulai menyeruak di benakku, “Apakah langkah yang aku pilih sudah benar? Mengapa aku selalu gagal dan mimpiku terasa semakin jauh? Apakah langkah yang selalu ku iringi dengan doa belum cukup untuk menggapai mimpi itu? Atau, apakah aku tidak layak untuk bermimpi setinggi langit? Jika demikian, harus seperti apakah aku agar aku layak untuk bermimpi?” 

Di tengah keputusasaan, satu-satunya pilihan yang tersisa adalah menunda kuliah atau masuk ke perguruan tinggi swasta. Di satu sisi, aku merasa terjebak dalam stigma seolah masuk perguruan tinggi negeri adalah satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Tidak hanya itu, ada ketakutan akan biaya dan kualitas pendidikan di perguruan tinggi swasta yang menurutku tidak akan lebih membanggakan jika dibandingkan dengan pendidikan di perguruan tinggi negeri. 

Di tengah kegelapan rasa putus asa dan keinginan untuk menyerah, Allah menyelipkan secercah harapan yang menyalakan kembali semangat dalam diriku. Tanpa pernah kuduga, aku dinyatakan lolos tahap pertama beasiswa MEXT, beasiswa yang selama ini menjadi salah satu mimpi terbesar dalam hidupku. Saat membaca pengumuman, aku hampir tak percaya. Seolah-olah harapan yang nyaris padam kembali menyala dengan kekuatan penuh.

Aku mulai memahami bahwa Allah tidak pernah memberikan ujian yang melampaui batas kemampuan hamba-Nya. Setiap ujian yang datang adalah tanda bahwa kita mampu menghadapinya. Di saat orang lain mungkin belum tentu bisa menyelesaikan tantangan yang sama, Allah percaya bahwa hanya akulah yang pantas untuk melalui ujian ini. Ujian itu bukan hukuman, melainkan bukti bahwa aku terpilih, dipercaya untuk tumbuh lebih kuat.

Tanpa berpikir panjang, aku segera mempersiapkan segala hal untuk mengikuti ujian tulis di Surabaya. Setiap langkah kujalani dengan keyakinan, setiap persiapan kugapai dengan harapan. Hari demi hari terasa begitu panjang, namun penuh dengan doa-doa yang kupanjatkan dan keluargaku panjatkan. Ketika hari ujian tiba, aku menjalani semuanya dengan penuh rasa syukur, berharap bahwa ini adalah bagian dari jalan yang Allah siapkan untukku.

Namun setelah menunggu dengan harap-harap cemas, kenyataan kembali menguji kekuatanku, aku gagal mendapatkan beasiswa tersebut. Tetapi, aku tidak menyerah, perlahan-lahan aku mulai sadar bahwa kegagalan ini bukanlah akhir. Allah pasti memiliki rencana yang lebih indah, rencana yang belum mampu aku pahami sepenuhnya pada saat itu.

Alih-alih putus asa, aku menemukan kembali semangat dalam diriku dan memutuskan untuk kuliah di jurusan Informatika di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), jurusan yang, sejujurnya, tidak pernah ada dalam daftar mimpi-mimpiku. Informatika? Sangat berbeda dengan apa yang selama ini aku impikan bukan? Namun, kenyataan ternyata lebih indah dari dugaanku. Jurusan yang tak pernah terlintas dalam pikiranku dan tidak pernah ada dalam lembaran mimpi-mimpiku ternyata membawa kebahagiaan yang tak terduga.

Tanpa pernah aku sadari sebelumnya, Informatika ternyata adalah dunia yang menyenangkan dan penuh dengan hal-hal baru yang menantang dan mengasyikkan. Setiap hari, aku belajar sesuatu yang baru, dan perlahan-lahan, aku mulai jatuh cinta pada bidang ini. Quote yang telah aku cantumkan di awal tulisan ini benar-benar menggambarkan perjalananku hingga saat ini. Keberanianku untuk bermimpi setinggi langit, keinginanku untuk menjadi seorang data analyst, dan kegagalanku masuk ke jurusan yang kuinginkan justru membawaku ke pilihan yang berkali lipat lebih tepat.

Pilihan yang selama ini kuanggap terbaik, belum tentu terbaik di mata Allah. Sementara itu, pilihan Allah selalu menjadi yang terbaik. Allah menuntunku untuk jatuh bukan ke dasar kegelapan, tetapi di antara bintang-bintang. Di sinilah aku menemukan jurusan yang benar-benar aku nikmati. Kegagalan itu, pada akhirnya, adalah nikmat yang tidak akan aku rasakan apabila aku tidak gagal. Allah memberiku kesempatan untuk belajar di jurusan yang tepat, yang justru membuka jalan baru untuk mewujudkan impianku menjadi seorang data analyst bahkan menjadi jalan bagi impianku untuk menempuh pendidikan lanjut di Jepang nantinya. Sejak saat itu hingga hari ini, aku semakin yakin bahwa jalan yang aku tempuh ini adalah bagian dari rencana-Nya yang jauh lebih baik daripada rencanaku sendiri.