Inspirasi

Tahun 2018 merupakan tahun awal bagiku membuka lembaran baru, mengukir cerita dalam menggapai cita sebagai salah satu siswi di Madrasah Aliyah Negeri 4 Tangerang.  Sekolahku terletak di pelosok daerah, namun hal tersebut sama sekali tidak menjadi penghalang bagi siswa/siswi di sekolah tersebut untuk berprestasi. Hal ini dibuktikan dengan pajangan piala – piala yang memenuhi lobi sekolah. Sejak resmi diterima menjadi salah satu siswi di sekolah tersebut, aku sudah memiliki rencana untuk menjadi siswi yang berprestasi, memiliki relasi yang luas, dan mengikuti organisasi siswa tertinggi di sekolah, yaitu OSIS. Hal tersebut bukanlah tanpa sebab, karena dengan hal tersebut aku dapat memiliki peluang lebih besar untuk melanjutkan Studi S1 dengan jalur rapot dan prestasi. Selain hal tersebut, ketika SD sampai MTs, aku merupakan orang yang sangat introvert, sulit bergaul, dan tidak memiliki banyak teman. Hingga suatu hari aku bertekad untuk berubah menjadi orang yang lebih baik lagi, memiliki relasi yang luas dan tidak takut untuk menghadapi tantangan. 

Ketika memasuki awal tahun ajaran baru, menyandang status baru sebagai siswi di Madarasah Aliyah Negeri, aku berusaha untuk beradaptasi dengan perubahan yang ada, mulai dari mata pelajaran, jadwal sekolah, hingga pertemanan. Tentunya aku juga tidak melupakan tujuan awalku untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Saat pendaftaran OSIS tiba, aku sangat ragu untuk mendaftar, walaupun aku tahu, menjadi pengurus OSIS merupakan salah satu tujuanku. Keraguanku semakin kuat ketika aku meminta pendapat dari teman – temanku terkait keputusanku untuk mendaftar sebagai pengurus OSIS. Ketika itu, hampir semua teman – temanku menyarankan kepadaku untuk tidak mendaftar OSIS, mereka berpandangan bahwa menjadi pengurus OSIS akan membuatku tidak fokus dengan pelajaran di kelas. Sehingga hal tersebut dapat berpengaruh terhadap nilai rapot nantinya.

Aku tahu, mereka berkata seperti itu karena mereka melihat pengurus OSIS selalu menjadi siswa yang pulang paling terakhir bahkan larut malam untuk menyiapkan acara sekolah, dan sekaligus dituntut menjadi siswa yang berangkat sekolah tepat waktu, tentunya hal ini sudah menjadi rahasia umum. Namun terlepas dari segala konsekuensi yang ada, aku tetap memilih untuk mempertahankan tujuanku yang sudah aku rencanakan. Menghadapi berbagai tehapan seleksi yang ada, akhirnya aku dinyatakan lolos sebagai pengurus OSIS periode 2018/2019. Aku merasa bangga karena aku berhasil mencapai salah satu tujuanku, namun aku lebih bangga terhadap diriku yang telah berhasil mengalahkan segala keraguan yang ada dalam diri dan tetap berpegang teguh terhadap tujuan yang telah direncanakan.

Mengampu dua amanah yaitu, sebagai siswi dan sebagai pengurus OSIS tidaklah mudah, banyak rintangan yang dihadapi, dan tentunya masih banyak tujuan yang perlu dicapai selama menjadi siswi. Oleh karena itu, aku berusaha untuk menyeimbangkan tugasku dalam organisasi dan juga tugasku sebagai siswi. Setelah dinyatakan lolos sebagai salah satu pengurus OSIS, rapat menjadi rutinitas yang dilakukan setelah bel pulang berbunyi. Hal ini sangat berbeda dengan teman – temanku yang lain, ketika bel pulang berbunyi, seluruh teman – temanku sibuk merapikan buku dan alat tulis mereka, dan bersiap untuk pulang. Sedangkan aku, hanya bisa menatap mereka dari kejauhan, melihat mereka mulai menghilang satu persatu berjalan di koridor sekolah, menuju tempat parkir. Terkadang aku merasa lelah, dan ingin kembali menjalani rutinitas seperti siswa normal biasanya, namun aku tetap yakin dan konsisten dengan tujuan yang telah aku susun sebelumnya. 

Ketika aku menjadi siswi di kelas, aku berusaha untuk mengikuti pelajaran, mengerjakan tugas, dan ujian dengan sungguh – sungguh. Begitupun ketika aku menjadi pengurus OSIS aku berusaha untuk menjalankan tanggungjawab dengan sungguh – sungguh. Ketika pulang sekolah larut malam, aku selalu berusaha untuk belajar ataupun mengerjakan tugas sekolah dengan baik. Walaupun lelah, aku berusaha untuk memberikan yang terbaik disetiap tugas yang aku kerjakan. Tentunya hal ini tidak terlepas dari tujuanku yang lain, yaitu menjadi siswi beprestasi dengan nilai yang memuaskan. Hingga tibalah hari pembagian rapot, dari 35 siswa dikelas, aku mendapatkan peringkat ke-2. Tentunya hal tersebut merupakan pencapaian yang sangat baik, aku sangat bangga dengan upayaku, begitupun kedua orang tuaku. Namun tentunya, aku masih memiliki ambisi untuk mendapatkan peringkat satu di semester berikutnya.

Walaupun memiliki jadwal yang padat, aku berusaha lebih keras dalam belajar dan organisasi, terutama untuk mendapatkan peringkat 1 di kelas. Selama 6 bulan aku berusaha untuk menambah waktu belajar dan mengurangi waktu tidurku. Ketika hari pembagian rapot, aku berhasil mendapatkan peringkat 1 di kelas. Aku sangat bangga, akhirnya seluruh pengorbanan yang aku lakukan dalam 6 bulan terakhir, tidak sia – sia. Aku sangat puas dengan hasil yang aku dapatkan, karena aku berhasil mencapai tujuanku yang lain yaitu menjadi siswi yang berprestasi. Setelah aku mencapai tujuanku tersebut, memasuki tahun ke-2 sekolah aku mulai memberikan kesenggangan waktu belajar kepada diriku sendiri, aku belajar, mengerjakan tugas, dan ujian tidak segiat dan setekun dahulu. Ketika itu aku merasa bahwa kerja kerasku tahun kemarin masih bisa mengantarkanku mendapatkan peringkat 1 lagi untuk tahun ini. Hingga tibalah hari aku disadarkan oleh kenyataan, ketika tiba hari pembagian rapot, aku mendapatkan peringkat 4. Saat itu, aku hanya bisa diam dan merenungi segala waktu dan potensi yang telah aku buang secara percuma dalam 6 bulan terakhir. Ketika memberitahukan hal tersebut kepada kedua orang tuaku, aku tidak bisa berfikir dengan jernih, aku memberikan alasan bahwa temanku yang mendapat peringkat 3 besar membuka buku sata ujian, oleh sebab itulah aku mendapat peringkat 4. 

Seharian aku merenungi peristiwa tersebut, dan mencoba untuk berfikir lebih jernih. Akhirnya aku menemukan jawaban bahwa peringkat yang aku dapatkan merupakan 100% tanggung jawab diri sendiri. Tidak ada campur tangan dari siapapun, dan tidak seharusnya aku menyalahkan keadaan ini dengan mengatakan bahwa teman – temanku melakukan kecurangan saat ujian. Sejak saat itu, aku bertekad untuk kembali menata strategi dan belajar lebih tekun dan giat. Namun, pada awal 2020 terjadi pandemi sehingga seluruh kegiatan pembelajaran dilakukan secara daring. Hal tersebut aku jadikan peluang untuk menambah jam belajarku, karena banyak waktu luang yang tersedia. Aku mulai mencari informasi – informasi lomba melalui Instagram yang dapat aku ikuti. Berbagai lomba aku ikuti, mulai dari lomba esai sampai berbagai olimpiade aku ikuti, tentunya saat awal – awal mengikuti lomba selalu kalah, namun hal tersebut tidak mematahkan semangat untuk terus mengikuti lomba lainnya. Selain untuk mengasah kemampuan, tujuanku untuk mengikuti berbagai lomba adalah untuk mengumpulkan sertifikat – sertifikat yang nantinya dilampirkan ketika SNMPTN, sehingga dapat memberbesar peluang kelulusan.

Setelah banyak lomba diikuti dengan berbagai kegagalan yang ada, akhirnya aku berhasil memenangkan 3 olimpiade geografi bergengsi, diantaranya juara 3 Olimpiade Geografi yang diselenggarakan oleh Indonesian Olympics (2020), Peringkat 13 Olimpiade Geografi yang diselenggarakan oleh FMIPA USU (2020), dan Finalis Olimpiade Geografi yang diselenggarakan oleh Indonesia Student Olympiad (2020). Selain itu, di tahun yang sama aku juga dipercaya sebagai perwakilan sekolah untuk mengikuti Olimpiade Sains Madrasah tingkat Nasional di bidang Geografi, walaupun tidak lolos ke tahap selanjutnya, aku sangat bangga karena untuk menjadi perwakilan sekolah harus melewati berbagai tes dan bimbingan olimpiade yang menguras waktu dan tenaga. Pada saat hari pembagian rapot, akhirnya aku dinyatakan sebagai peraih peringkat pertama, tentunya hal ini merupakan capaian yang sangat membanggakan karena setelah terpuruk di peringkat ke-4, aku berhasil mendapatkan peringkat 1 kembali dengan berbagai usaha dan kerja keras yang aku lakukan.

Ketekunan dan kerja keras ini aku lanjutkan hingga aku menyelesaikan pendidikanku dibangku Madrasah Aliyah, dan mempertahankan peringkat 1 hingga akhir. Hari pendafataran SNMPTN telah tiba, aku mempersiapkan berbagai berkas yang diperlukan dan tidak lupa menyertakan sertifikat – sertifikat juara olimpiade yang telah aku dapatkan. Hingga saat pengumuman tiba, akhirnya aku dinyatakan lolos SNMPTN sebagai mahasiswi baru di Universitas Negeri Semarang jurusan Ilmu Geografi tahun 2021. Setelah perjuangan 3 tahun di Madrasah Aliah, dengan jatuh bangun yang dilalui, akhirnya aku bisa menyelesaikan seluruh tujuan yang aku rancang sebelum memasuki Madrasah Aliyah. Mulai dari menjadi pengurus OSIS, menjadi siswi berprestasi, memenangkan berbagai perlombaan, hingga lolos SNMPTN pada pilihan pertama. Pada saat hari wisuda, karena masih pandemi, wisuda dilakukan secara hybrid, setiap kelas hanya mengirimkan 2 orang peringkat teratas di kelas tersebut sebagai perwakilan untuk mengikuti wisuda secara offline. Aku menjadi salah satu wisudawan yang dapat menghadiri wisuda secara offline, rasa syukur yang tiada henti kepada Allah SWT dan bangga kepada diri sendiri tidak dapat terbendung. Aku sangat bangga dengan diriku terutama dengan segala dedikasi dan pantang menyerah yang dilakukan selama duduk di bangku Madrasah Aliyah, hingga mengantarkanku pada titik saat ini. Seluruh jerih payah, lelah, dan ketekunan yang dilakukan terbayarkan sudah. 

Dokumentasi

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi

Sumber Gambar : Dokumentasi  Pribadi  

 

Sumber Gambar : Dokumentasi  Pribadi