Karya: Cahaya Ramadhani Gumelar
“Anak dari sekolah umum harus berkelahi dengan arab gundul!?”
Suara mesin motor mengiringi senja yang perlahan ingin pergi. Aku berkendara di jalan utama kota. Jalanan sore pada saat itu terlihat lenggang. Angin lembut menyusup masuk di sela-sela jaketku. Perjalanan itu di hiasi deretan pohon dan gedung bertingkat serta kedai-kedai kecil yang mulai menyiapkan tempatnya untuk berjualan di malam hari.
Meskipun pandangan ku fokus ke depan. Namun, di balik helm yang sedikit longgar di kepalaku. Aku sesekali memikirkan beberapa gedung-gedung mewah Universitas yang ku lewati. Membayangkan diri ku yang mengenakan jas almamater, mengisi waktu kosong dengan organisasi kampus, dan berdiskusi layaknya orang dewasa di kelas.
Universitas mana yang terbaik untukku? Apa menjadi dewasa semenakutkan itu?.
Setelah fase remaja ku telah usai, aku dipaksa memasuki tahap awal pendewasaan. Awal dewasa ini bukan harus menjadi perempuan yang tinggi 170 cm atau punya berat badan yang ideal. Tetapi aku dituntut untuk menjadi perempuan yang kuat fisik dan mental, selain itu pemikiran yang kritis, luas serta terbuka. Menurutku menjadi perempuan yang tinggi 170 cm tidak terlalu buruk dibandingkan harus memenuhi syarat menjadi perempuan dewasa.
Hampir 3 bulan lamanya, aku libur setelah lulus dari seragam putih abu-abu. Tak sadar, tubuhku yang mungil ini sebentar lagi berhadapan dengan umur kepala dua. Pagi senin yang terasa berbeda dari biasanya, tak ada lagi acara baris berbaris sembari menyanyikan lagu Indonesia raya di lapangan, tak ada lagi jam kosong yang menjadi kebahagiaan besar, dan tak ada lagi pura-pura izin ke toilet padahal berbelok ke arah kantin ujung atau sekedar berjalan luntang lantung.
Kuliah menjadi pilihan utama orang tuaku sebagai jembatanku sebelum memasuki dunia kerja. Rasa syukur pun bisa kurasakan lantaran banyak sekali orang diluar sana bahkan temanku sendiri pun ingin berkuliah namun terhalang ekonomi. Di tengah rasa syukur muncul rasa bimbang menentukan Universitas. Aku tidak mencari Universitas terbaik atau terfavorit, dimanapun itu aku tetap ingin menjalaninya. Namun, sekarang aku berdiri di jalan pertigaan yang aku sendiri tidak tau harus belok ke arah mana.
Malam yang dingin, terasa sangat kontras dengan hangatnya kamar yang diterangi lampu tidur. Aku tersandar di sudut dinding, di kelilingi coretan-coretan kertas bertuliskan setiap nama Universitas di daerahku. Kepalaku berputar senada dengan bunyi jarum jam.
Di tengah bising pikiran itu, aku menyiapkan beberapa pertanyaan sebelum melangkah ke kamar Bapak dan Ibuku. Berharap setelah keluar dari kamar itu bisa mendapatkan jawaban dari segala pertanyaan yang berputar-putar tanpa henti di kepalaku.
“Ibu, kalo kaka pengen masuk Universitas Lambung Mangkurat boleh ga? kebetulan kan kaka masuk siswa eligible jadi bisa masuk jalur rapot.” Tanyaku pada Ibuku sambil sedikit memijit lembut kakinya.
“Dimanapun itu, Ibu selalu dukung maunya kaka dimana. Tapi mau ambil jurusan apa Ka?.” Tanya lanjut Ibuku.
“Kaka maunya jurusan S1 Psikologi Bu.” Jawabku dengan penuh harapan.
“Hmm yang lain aja ka, Ibu ga sanggup bayar UKTnya, belum lagi Psikologi harus lanjut S2 kan baru bisa buka praktek.” Jawab Ibuku dengan nada rendahnya berusaha memberikan ku pemahaman.
“Kalo menurut Bapak, kaka cari jurusan yang sepi peminat jadi bisa membuka kesempatan yang luas buat kerja nanti.” Celetuk Bapaku tiba tiba.
“Bagusnya sih kalo kaka cari jurusan Ilmu Perpustakaan aja, bagian arsip2 gitu banyak di cari orang di kantor.” Ucap Bapaku melanjutkan saran darinya.
“HAA!? Kaka gamau jurusan itu.” Jawabku dengan penuh penolakan. Pupil mataku membesar, dan tanganku sedikit gemetar seolah tak percaya apa yang di ucapkan Bapakku.
Aku tidak ingin bekerja di perpustakaan karena sangat berbanding terbalik dengan potensiku. Aku langsung membayangkan diriku yang duduk di suatu perpustakaan yang hening, ditemani susunan buku yang rapi, dan bunyi bisik-bisik manusia. Betapa membosankannya bagi diriku yang suka kemana-mana dan berbicara dengan orang lain. Ditambah aku yang tidak terlalu suka membaca buku. Bukan berarti aku menghina pustakawan yang bekerja, tetapi diriku yang tidak mampu berada dalam posisi itu.
Perlahan ku buka handphone, mencari jurusan yang tersedia di Universitas untuk siswa terpilih eligible. Dari semua jurusan, Bapakku tidak setuju aku masuk ke salah satu jurusan yang tersedia. Bapakku tetap kuat pendiriannya untuk mencarikan jurusan Ilmu perpustakaan untukku.
Ibuku mendapat pesan dari temannya pada saat itu. Dimana, ibu setuju untuk menyarankanku masuk salah satu Universitas Islam yang ada jurusan Ilmu perpustakaan di dalamnya. Universitas itu bernama Universitas Islam Negeri Antasari. Mataku terbelalak, Leherku terasa tercekat, seolah tertancap duri yang menusuk tenggorokan.
“Bapak setuju, disana juga jurusan Ilmu perpustakaan gedungnya ga terlalu jauh dari rumah kita. Jadi kaka ga perlu nge kos.” Ucap Bapakku sembari meyakinkan ku untuk masuk jurusan Ilmu perpustakaan.
Aku menunduk agar orang tua ku tak melihat perubahan di wajahku dan mataku yang mulai berkaca-kaca. Berusaha tegar dibalik keputusan yang sangat diluar prediksi ku.
“Tapi kan di UIN rata-rata anaknya lulusan pondok, belum lagi disana banyak keagaamannya, ada Bahasa arabnya, Kaka gabisa Bu, Pak.” Ucapku sembari ketakutan karena aku dulunya lulusan sekolah SMA umum yang cukup jauh dari persoalan agama terutama Bahasa arab. Belajar sekali pun tidak pernah.
“Namanya juga kuliah, kuliah tujuannya kan belajar.” Ucap Ibuku dan Bapakku yang mengangguk setuju pendapat ibu.
Aku kembali melangkah ke kamar tidurku dengan menopang air mata yang ingin segera turun. Setelah berjam-jam berfikir, Akhirnya aku memutuskan untuk menyetujui segala keputusan Bapak dan Ibuku. Alasannya, karena aku yakin pilihan orang tua itu pasti yang terbaik untuk anaknya. Kembali ku buka handphone ku untuk mendaftar kuliah di UIN Antasari melalui UM-PTKIN atau jalur tes. Tertera jadwal tes pada saat itu. Jantungku mulai berdegup kencang. Pasalnya aku belum menyiapakan berkas dan belajar untuk tes.
Seminggu kemudian, hari yang kupikir akan menakutkan itu pun tiba. Tak ada teman satupun yang ku kenal, karena hampir sebagian teman-teman SMA ku memilih kuliah di Univeritas Lambung Mangkurat atau Universitas di luar daerah.
Setelah menunggu lama, seorang staf menyebut nomor sesi ujianku, tandanya aku harus bergegas masuk ke ruang ujian. Di ruang ujian yang sunyi, hanya terdengar suara ketikan komputer dan sesekali staf memberikan inormasi waktu pengerjaan soal.
“Ha, ada Arab gundul!?, semua yang ku pelajari sama sekali ga ada yang keluar dari soal!.” Bisikku dalam hati, sembari melihat Aksara Arab tanpa harakat dan beberapa kalimat Bahasa Inggris yang tampak seperti kalimat asing tanpa arti. Namun, aku hanya berserah diri kepada Tuhan dengan memakai jurus cap cip cup.
Bagaimana tidak anak putih abu-abu harus berkelahi dengan soal-soal arab gundul.
Sebulan setelah perjuangan tes. Aku dinyatakan lulus, terbukti namaku tertera di bagian akhir nama mahasiswa yang lulus jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam. Bapak dan Ibuku pun turut bergembira dan merayakan kelulusan ku dengan makan bakso bersama.
Sebulan, dua bulan, hingga satu tahun sudah aku menjalani jurusan yang sama sekali tak terbayang di hidupku sebelumnya. Ternyata pilihan orang tuaku tak seburuk itu. Aku mendapat teman-teman yang seru dan pengalaman yang luar biasa. Sampai saat ini aku masih berusaha belajar mencintai jurusan Ilmu perpustakaan. Meskipun mencintai jurusan ini terasa berat, namun aku yakin niat dalam jalur ikhlas karena Allah dan untuk membanggakan orang tua, maka akan menambah nilai keberkahan dalam setiap usahaku. Dari situ, aku juga yakin kebahagiaan akan tercipta dengan sendirinya hingga kesuksesan akan menyapa pada waktunya.

