Inspirasi

Oleh : Asna Layyinatus Syifa

Asna Layyinatus Syifa, yang akrab dipanggil Syifa. Gadis yang cerdas dan penuh semangat.  Sejak kecil aku memiliki mimpi besar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Aku ingin sekali kuliah di Universitas Diponegoro (UNDIP), salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia, bahkan aku meminta izin kepada kedua orang tua untuk mondok di sebuah pesantren selama 3 tahun, agar bisa lebih fokus belajar dan mempersiapkan diri untuk masuk ke UNDIP. 

Aku bekerja keras selama masa SMA untuk mencapai mimpi dan selalu menjadi siswa yang berprestasi serta aktif di berbagai kegiatan sekolah. Aku yakin dengan tekad dan kerja keras, akan diterima di UNDIP. Setelah bertahun-tahun belajar dengan tekun dan giat. Akhirnya aku mengikuti tes masuk perguruan tinggi. Mengerjakan soal-soal dengan penuh keyakinan dan optimisme. 

Namun, takdir berkata lain. Aku tidak lolos seleksi di UNDIP, baik melalui jalur SNBP maupun SBUB. Kekecewaan melanda, namun aku tidak akan menyerah dan terus berusaha mencari peluang lain untuk melanjutkan pendidikan.

Setelah melalui perjuangan panjang dan melelahkan, akhirnya aku mendapatkan hasil SNBT. Namun, mimpi untuk kuliah di UNDIP pupus dan tidak lolos pada seleksi tersebut.

Rasa kecewa dan sedih menyelimutiku. Merasa semua usahaku sia-sia, tidak tahu harus berbuat apa selanjutnya.

Aku mencoba untuk tetap tegar dan tidak larut dalam kesedihan. Aku masih memiliki beberapa pilihan lain untuk melanjutkan pendidikannya.

Ayah menyarankanku untuk mencoba mendaftar di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS), sebuah sekolah kedinasan yang bergengsi. Aku mengikuti tes dengan penuh harap, namun hasilnya belum maksimal.

Setelah itu, aku mencoba mendaftar di beberapa perguruan tinggi negeri lainnya. Namun, lagi-lagi aku belom lolos pada seleksi tersebut.

Kekecewaan tersebut semakin bertambah. Aku mulai meragukan kemampuanku sendiri dan merasa bahwa tidak cukup pandai untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

Di tengah rasa kecewaan, aku menemukan secercah harapan. Aku membaca informasi tentang program beasiswa untuk kuliah di luar negeri.

Meskipun awalnya ragu, akhirnya aku memutuskan untuk mencoba mendaftar beasiswa tersebut. Dengan didorong oleh semangat untuk terus belajar dan meraih mimpinya. Aku merasa bahwa ini adalah kesempatan bagiku untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan meraih mimpi.

Aku mengikuti proses seleksi beasiswa dengan tekun dan penuh semangat serta mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya dan berusaha untuk menunjukkan kemampuan yang terbaik.

Aku mendaftar beasiswa untuk kuliah di Mesir dan Tunisia. Prosesnya tidak mudah, harus mengikuti berbagai tes dan wawancara, bahkan aku harus mempelajari bahasa Arab untuk mempersiapkan diri di luar negeri.

Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya aku mendapatkan kabar gembira. Dinyatakan lolos seleksi beasiswa untuk kuliah di Tunisia! Rasa bahagia dan haru bercampur aduk di hatiku. Aku tidak menyangka bermimpi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi akan terwujud dengan cara yang tak terduga.

Namun, kebahagiaan tidak berlangsung lama. Orang tuaku, terutama ayah, tidak mengizinkanku untuk pergi ke Tunisia karena khawatir dengan keselamatannya. Aku mencoba meyakinkan ayah, namun tetap teguh pada pendiriannya.

Aku dilanda dilema. Di satu sisi, aku ingin sekali meraih mimpi untuk kuliah di luar negeri. Di sisi lain, aku tidak ingin mengecewakan kedua orangtuaku yang telah banyak berjasa dalam hidupnya. Aku harus memilih antara mengikuti mimpinya atau mematuhi orang tua. 

Di tengah kebimbangan, aku teringat pepatah “Carilah ilmu meskipun di negeri Cina, karena mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” Pepatah itu memberikanku kekuatan dan tekad untuk terus berusaha.

Aku memutuskan untuk berbicara kembali dengan ayah, menjelaskan alasan ingin kuliah di luar negeri dan meyakinkan bahwa aku akan aman dan terjaga di sana.

Aku juga menceritakan tentang program beasiswa yang kudapatkan, yang akan membantuku untuk meringankan beban biaya pendidikan.

Akhirnya, setelah melalui perdebatan yang panjang, ayahpun tetap  kukuh tidak mengizinkanku untuk kuliah di luar negeri. Dan akupun mnenerima nasihat dan perkataan ayah.

Pada suatu hari, saat mendapatkan informasi dari grup WhatsApp alumni pondok, aku menemukan informasi tentang Beasiswa Santri PBSB. Beasiswa ini memberikan kesempatan bagi santri berprestasi dan dibuktikan minimal mondok 3 tahun untuk belajar di Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang tanpa biaya.

Aku langsung tertarik dengan Beasiswa Santri PBSB. Aku merasa bahwa beasiswa ini lebih sesuai dengan mimpiku untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Tanpa pikir panjang, aku mendaftarkan diri untuk Beasiswa Santri PBSB dan mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk mengikuti proses seleksi yang sangat ketat.

Proses seleksi Beasiswa Santri PBSB tidak mudah. Aku harus bersaing dengan banyak mahasiswa berprestasi dari seluruh Indonesia. Namun, tidak gentar, aku yakin dengan kemampuanku dan tekad yang kuat.

Setelah melewati beberapa tahap seleksi yang menegangkan, akhirnya aku mendapatkan kabar gembira dan lolos seleksi Beasiswa Santri PBSB!

Perasaan bahagia dan haru bercampur aduk di hatiku. Aku tidak menyangka bahwa mimpiku untuk belajar di dalam negeri akan terwujud dengan cara yang tak terduga.

Aku segera memberitahukan kabar gembira ini kepada kedua orang tua. Merekapun sangat bahagia dan bangga atas pencapaianku. Mereka mendukung penuh keputusan tentang ini.

Di UIN Walisongo, aku disambut dengan hangat oleh para dosen dan staf. Dan juga bertemu dengan banyak teman baru yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. 

Akusangat menikmati masa perkuliahan di UIN Walisongo. Aku  belajar dengan tekun dan aktif mengikuti berbagai kegiatan UKM di kampus. Aku juga berkesempatan untuk mengikuti program pertukaran pelajar ke luar negeri.

Aku juga mengajar ngaji di pondok dan juga mengajar ngaji anak kelas 5 SD di rumahnya. Aku   sangat bersyukur atas semua pencapaianku. Aku tidak pernah menyangka bahwa diriku yang berasal dari keluarga sederhana bisa mencapai kesuksesan seperti sekarang.