Karya

Kala itu kemarau, seringkali kepanasan, tak luput pula kekeringan. Bukan sekadar hitungan bulan, ia berlangsung menahun tanpa kepastian, sembari menanti datangnya hujan. Namun sungguhlah percuma, karena rumahku berada di atas tandusnya gurun.

Aku terus bertanya, tentang mungkinkah menjadi subur? Akankah taman dapat terbangun? Atau sekadar berlarian di tengah sejuknya tetes hujan? Tak satupun yang dapat memberi jawab. Karena sejatinya kemarauku bukanlah sekadar musim yang akan lewat, ia adalah kemiskinan. Wujud nyata sang pembunuh mimpi-mimpi besar yang terbangun sejak kecil, melindas paksa bayangan kemewahan. Tak kurang dari itu, ia senang membuat lapar akan kebutuhan. Aku takkan pernah lupa betapa mewahnya ayam goreng dan baju yang hanya didapat bila datang lebaran, jarang yang dibayar tunai, ia didapat dengan berapa kali tempo tagihan.

Tahun-tahun berlalu, aku tumbuh bersama tanya yang juga telah beralih menjadi keyakinan untuk berada dalam kondisi yang tak perlu lagi kupertanyakan, bilapun tak menjadi apa yang pernah kuharapkan, maka aku kan tumbuh dengan ribuan pembelajaran. Aku hanya menjalani apa yang datang dengan sebaiknya, mengusahakan lebih untuk semua hal yang tak mudah, dan menyingkirkan keluh akan hidup yang nyatanya memang tak mudah  bagi semua orang. Satu hal yang kutahu, hanya aku yang mampu mengusahakan diriku.

Tak lama, masa peralihan pun datang kemudian, tahun kelulusanku di masa SMA. Bohong bila aku tak menaruh banyak harap, sebab yang kutahu tak ada yang mampu mengubah keadaan selain pendidikan. Bila aku tak yakin, maka selamanya kan menetap dalam gersang.  Haruslah mencoba, bilapun jatuh maka aku tak akan hidup dalam penyesalan. Aku mencoba peruntungan dengan status eligible yang kudapatkan, harap-harap cemas akan kampus top 3 yang kumasukkan dalam pilihan. Aku tahu persentasenya takkan sebesar itu, sebab sekolahku bukanlah sekolah unggulan, hanya sekolah negeri yang berada di pelosok kabupaten. Namun tak pernah ada yang salah dari mencoba, meski pada akhirnya buah yang kudapat adalah kegagalan.

Tak mau larut dalam kegagalan, aku mencoba lagi dengan jalur masuk yang berbeda. Kali ini melalui ujian skala nasional yang jumlah pesertanya ribuan. Mereka sama denganku, mengupayakan masa depan. Aku kembali mempelajari materi-materi yang akan diujikan, membuka lembar demi lembar yang tak hanya memuat soal, tapi juga sebuah pertaruhan. Tak sembarang bertaruh, aku berpegang pada keyakinan bahwa tak ada yang mustahil di tangan Tuhan. Takkan sejauh ini Ia membawaku, bila ujungnya kegagalan.

Beberapa minggu menjelang ujian, aku kembali hujami rasa takut dan ketidakyakinan. Aku yang waktu itu menempati rumah sendirian, sebab keluargaku tinggal di kebun untuk bertani dan hanya pulang sebulan sekali. Aku tak berani memberi tahu orang tua akan ujian masuk yang akan diselenggarakan di pusat kota. Tempat yang jauh dari rumahku, butuh waktu 5 jam untuk sampai di sana. Bukan masalah waktu yang ku cemaskan, ketidakmampuan akan biayalah yang kutakutkan. Lebih dari sekadar tes, aku perlu uang untuk membayar registrasi akun, transportasi ke kota, penginapan, makan dan biaya yang tak bisa kupersiapkan sendirian.

Di situlah Tuhan ikut campur tangan, beasiswa KIP menjadi penolong yang Ia lapangkan. Aku tak perlu membayar biaya registrasi akun sepeser pun. Kini tersisa akomodasi yang mau tak mau harus kudiskusikan dengan orang tuaku. Ya, aku terlalu takut memberi beban atas mereka yang bahkan terlalu keras untuk diri sendiri. Dalam keluargaku, bercerita bukanlah hal yang lumrah. Beban hanya diketahui dari dalamnya tatapan, tak pernah melalui lisan. Hingga saat itu, untuk pertama kalinya aku menceritakan apa yang sedang kuupayakan. Aku tak berharap banyak, bila saja jawabannya adalah penolakan. Namun jauh dari semua, yang kudengar adalah hangatnya sambutan hingga haru yang menyeruak diam-diam. Harapan-harapan besar yang selama ini mereka titipkan, semuanya mengalir dalam hangatnya percakapan.    Lebih dari itu, mereka beri semua dukungan yang ku butuhkan. Lantas bersegeralah aku menyelesaikan semua alur registrasi, serta menyiapkan rencana akomodasi hari-H ujian.

Tersisa dua hari lagi menuju ujian, aku penuh suka cita untuk memulai perjalanan ke kota, ditemani kakakku yang menjadi penuntun arah. Itu kali ketiga aku menginjakkan kaki di Kota Pempek, setelah bertahun-tahun lamanya. Setibanya di sana, kami mendatangi universitas yang akan menjadi tempat pelaksanaan ujian besok. Menata rencana sedemikian rupa agar tak tertinggal ataupun terjadi kendala. Esok datang dengan cepatnya, aku bersiap masuk ke ruang ujian dengan penuh penyerahan diri kepada Tuhan, bahwa hanya Dialah yang akan memberiku jawaban atas daya upaya. Kukerjakan sebisanya, dan berserah sepenuhnya. Hari-hari berlalu begitu cepat, dan tersisa hitungan jam menuju pengumuman hasil ujian. Aku tak dapat tertidur tenang, yang terbayang hanyalah sekelibat gambaran penerimaan bilamana hasilnya juga tak sesuai keinginan.

Dan hari itu tiba, dengan penuh haru dan tangisan. Tuhan tak membawaku pada kegagalan, melainkan doa yang selama ini kupanjatkan. Tapi tak berhenti di situ, aku kembali dihantam kenyataan pahit tentang biaya-biaya yang tak pernah benar-benar kumiliki, aku tak memiliki laptop untuk menunjang perkuliahan atau sekadar menyewa kos-kosan. Aku merasa buntu, tak tahu bagaimana nasib akan membawaku. Kemudian mampir kesempatan lain yang ditawarkan, yakni beasiswa penuh dari salah satu perusahaan tambang terbesar di daerahku. Tak sekadar uang saku dan semesteran, beasiswa itu turut memfasilitasi uang asrama hingga laptop yang ku pakai untuk mengetikkan kisah ini.  Lengkap dengan kesempatan besar yang ditawarkan, aku harus mengikuti ujian lagi dengan kampus tujuan yang berbeda dari sebelumnya.

Ya, rencana Tuhan memang tak pernah salah. Ia memberi apa yang kubutuhkan, meski harus melepas jurusan dan kampus impian. Kini aku mulai membangun lagi mimpi yang tak pernah kubayangkan dalam hidupku, menjadi mahasiswa IT alih-alih Ilmu Komunikasi. Bohong bila tak ada kecewa, aku perlu beberapa waktu untuk benar-benar rela. Seiring waktu berjalan, kecewa itu tergantikan dengan penuh rasa syukur di dada. Bila saja bukan dengan kesempatan ini, maka aku tak akan benar-benar merasakan hujan di atas tanah gersang yang ku tempati. Aku meresapi tiap tetesnya, merasakan sejuk udara yang menghujamiku dengan ribuan pengalaman yang takkan pernah ku rasa sebelumnya. Tak perlu berlindung di balik payung, kini aku menari di bawah hujan.

Tiga tahun berlalu sejak  itu, aku berhasil membangun tamanku sendiri. Di dalamnya tersemaikan bibit keberanian, pohon pengalaman, dan pupuk pembelajaran. Sungguh, semua itu tak akan pernah tumbuh bila bukan dengan pendidikan.

Itulah kisah perjuanganku, Wisudawati pertama sekaligus pemangku harapan keluarga. Salam perjuangan, selalu ada jalan bagi siapapun yang mengusahakannya.

Ditulis oleh Viona Anatasya alumni Politeknik Negeri Sriwijaya 2025.