Saya merupakan lulusan SMK jurusan Tata Boga yang kini berkuliah di salah satu perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia dengan jurusan Hukum. Perjalanan ini mungkin terdengar tidak biasa karena banyak orang bertanya: “Kenapa berpindah sejauh itu?” Menurut saya, hal tersebutlah yang menjadi makna dari perjalanan saya, di mana saya bisa menemukan jati diri, berani mengambil keputusan, dan tetap teguh di saat semua orang meragukan.
Dulu, saya memilih masuk SMK Tata Boga bukan karena rencana yang besar, melainkan karena hobi yang sederhana, yaitu memasak. Saya menikmati setiap prosesnya, mulai dari mempersiapkan bahan hingga menyajikan hidangan. Namun, seiring berjalannya waktu, saya mulai menyadari sesuatu. Menikmati suatu hal tidak selalu berarti ingin menjadikannya sebagai masa depan. Kesadaran itu datang perlahan, tetapi cukup kuat untuk membuat saya berpikir ulang tentang arah hidup saya. Titik balik itu terjadi saat saya duduk di kelas 11. Untuk pertama kalinya, saya tertarik pada dunia hukum. Awalnya hanya rasa penasaran kecil, tetapi semakin saya mencari tahu, semakin besar ketertarikan saya. Saya mulai membaca, menonton, dan mempelajari berbagai hal tentang hukum. Di situlah, saya merasa menemukan sesuatu yang benar-benar membuat saya tertantang dan ingin berkembang. Sejak saat itu, saya memutuskan bahwa saya ingin melanjutkan studi di jurusan hukum.
Saat pengumuman eligible di kelas 12, nama saya tercantum sebagai salah satunya. Kesempatan itu tidak saya sia-siakan. Saat hari pendaftaran SNBP tiba, dengan penuh keyakinan, saya memilih jurusan hukum sebagai pilihan pertama, meskipun saya sadar peluangnya sangat kecil dan banyak yang menganggap pilihan saya terlalu berani, bahkan mustahil. Namun, saya percaya bahwa mimpi tidak harus selalu terasa realistis untuk diperjuangkan.
Sambil menunggu pengumuman SNBP, saya mulai mempersiapkan diri untuk SNBT. Namun, waktu saya miliki hanya sekitar sebulan lebih dan saya menyadari bahwa kemampuan saya belum cukup memuaskan untuk bersaing dengan puluhan ribu peserta SNBT. Alih-alih memaksakan diri, saya mengambil keputusan besar untuk gap year. Bagi saya, keputusan ini bukanlah hal yang mudah karena saya harus menghadapi berbagai komentar, keraguan, bahkan penilaian dari orang-orang terdekat saya. Ada yang menganggap saya membuang waktu, ada pula yang meragukan pilihan saya. Namun, untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasa benar-benar tahu apa yang saya inginkan dan hal tersebutlah yang membuat saya bertahan.
Selama satu tahun, saya mendisiplinkan diri sepenuhnya. Saya belajar dengan lebih terarah, memanfaatkan waktu seefektif mungkin, dan terus mengevaluasi diri melalui berbagai try out. Tidak hanya itu, saya juga dipertemukan dengan lingkungan pertemanan yang suportif. Mereka yang memiliki tujuan yang sama dengan saya, saling menyemangati, dan tumbuh bersama. Pertemanan itu juga yang menjadi salah satu faktor yang menjaga semangat saya tetap menyala.
Hari demi hari saya jalani dengan satu tujuan: lolos ke jurusan Hukum yang saya impikan. Saya belajar, berusaha, dan tidak lupa berdoa. Saat hari ujian tiba, saya mengerjakan dengan mengeluarkan apa yang sudah saya pelajari selama ini sambil terus berharap. Setelahnya, selama sekitar satu bulan, saya menunggu hasil dengan perasaan campur aduk antara cemas dan optimis.
Hingga akhirnya, pengumuman itu datang. Saya dinyatakan lolos di Program Studi Ilmu Hukum Universitas Padjadjaran. Perasaan haru dan bahagia tidak bisa saya gambarkan dengan kata-kata. Semua usaha, pengorbanan, dan keraguan yang pernah saya hadapi terasa terbayarkan.
Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa tidak ada jalan yang benar-benar sia-sia selama kita mau belajar. Berani mengubah arah bukanlah suatu kesalahan, melainkan bagian dari proses menemukan jati diri. Kisah ini tidak hanya tentang berpindah jurusan, tetapi juga tentang keberanian untuk memilih, keteguhan untuk bertahan, dan keyakinan bahwa setiap orang berhak mengejar apa yang benar-benar mereka inginkan. Terimakasih.
oleh : Elsabet Irawati Siregar

