Karya

Kisahku menuju kampus UIN Alauddin Makassar mungkin berbeda dari banyak orang. Saat banyak yang fokus pada strategi dan rencana yang tertata, aku justru memulai perjalanan ini dengan langkah yang mendadak. Keputusan untuk mendaftar sebenarnya hanya pilihan spontan yang terkesan ‘asal,’ tetapi rupanya, keputusan yang aku ambil tanpa banyak pertimbangan itu justru membawa aku ke titik yang sangat kusyukuri saat ini.

Awal Keraguan

Masa-masa akhir di bangku SMA adalah waktu yang sangat menguras mental. Aku melihat teman-teman-temanku begitu giat mempersiapkan diri dengan berbagai strategi, mulai dari riset mendalam soal jurusan hingga rutin mengikuti try out. Di tengah keriuhan itu, aku justru merasa asing dan tersesat. Semakin lama aku cari, semakin bingung pula diriku tentang apa yang sebenarnya kuinginkan. Puncaknya, saat waktu pendaftaran, aku sempat merasa kalut dan hanya bisa berserah diri lewat doa lalu memberanikan diri untuk mendaftar SMPTN (jalur undangan) dan menembak jurusan Ilmu Komunikasi sebagai pilihan pertamaku di UIN Alauddin Makassar.

Keputusan itu lahir begitu saja. Tidak ada riset panjang, tidak ada konsul mendalam. Bagiku saat itu, UIN Alauddin Makassar adalah sebuah simbol kebaikan dan keberkahan. Aku hanya ingin berada di lingkungan yang baik, terlepas dari jurusan apa yang akhirnya aku pilih. Aku sadar, tindakan itu beresiko. Namun, didalam hati, ada secercah keyakinan bahwa jika Allah merestui, jalan itu akan terbuka.

Proses yang Tidak Pernah Berbohong

Setelah menekan tombol kirim, aku sempat didera kecemasan yang luar biasa. Aku bertanya-tanya, apakah pilihan impulsif ini adalah kesalahan fatal? Namun, hari demi hari setelahnya aku jalani dengan cara yang berbeda. Aku belajar tidak lagi untuk mengejar ambisi pribadi, melainkan untuk membekali diri agar siap ditempatkan dimana saja.

Hari pengumuman pun tiba. Layar laptop menampilkan tulisan yang mengubah segalanya: “SELAMAT”. Aku diterima di UIN Alauddin Makassar. Aku hanya terdiam dan siap menjalani kehidupan baru. Orang tuaku bangga bukan hanya karena aku diterima di universitas islam negeri, tetapi karena mereka tahu betapa kerasnya aku bergalut dengan keraguan selama ini. Ternyata, “asal menembak” yang aku lakukan bukan berarti aku tidak tidak berusaha. Di balik pilihan itu, ada doa yang tidak pernah putus dan usaha keras yang aku lakukan tanpa memperdulikan hasil akhirnya nanti.

Menemukan Rumah di Samata

Ternyata takdir Allah jauh lebih indah dari rencana manusia. Kini, aku tidak lagi merasa bahwa jurusanku adalah pilihan yang “asal”. Aku justru menemukan passion yang luar biasa didalamnya. Menjadi mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar adalah perjalanan yang membentukku secara utuh.

Setiap hari, berjalan di area kampus, aku merasakan atmosfer keislaman yang sejuk, dan menimbah ilmu dari dosen-dosen hebat yang tidak hanya mengajar teori, tetapi juga menanamkan adab, membuat aku sadar bahwa aku memang dipilihkan ke tempat yang tepat.

Bahkan di kampus ini aku dipertemukan dengan orang-orang hebat yang menjadi mentor sekaligus kakak yang suportif. Aku belajar banyak hal, mulai dari diskusi akademik hingga hangatnya ikatan persaudaraan di luar kelas seperti canda tawa dan diskusi santai bersama kakak tingkat tentang pengalaman organisasi naupun masa depan pascakampus. Momen-momen saat berbagi cerita, saling menyemangati dalam perkembangan karier, hingga obrolan hangat tentang kehidupan di luar kampus, menyadarkanku bahwa UIN Alauddin Makassar bukan hanya tempatku menuntut ilmu, tetapi juga ‘rumah’ dimana aku tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.”

Ditulis oleh : Auliyah Diaunnisa