Karya

Saat itu, aku bermimpi. Bermimpi memakai almamater impian dengan iringan prestasi. Namun, takdir tidak berpihak padaku. Aku harus melepaskan kesempatan emas, hanya untuk berlabuh pada keinginan orang tuaku. Katanya, terdaftar sebagai siswa eligible dengan peringkat tiga besar itu sangat beruntung. Namun, aku melepaskannya begitu saja bagaikan tak ada artinya. Perjuangan yang aku tumpahkan demi kampus impian, kini berujung pada keikhlasan untuk melepaskannya.

Aku tidak menyesal karena menjadi bagian dari mahasiswa kampusku saat ini. Aku hanya sedikit kecewa pada perjuanganku yang kuhempas begitu saja selama masa sekolah, untuk kampus impianku. Andaikan manusia bisa memilih takdir, aku ingin tidak terdaftar pada siswa eligible pada saat itu. Bukan karena aku tidak bersyukur, melainkan karena tidak ingin membuang kesempatan emas itu dengan percuma.

Namun, tatkala aku sudah menjadi mahasiswa di kampus bukan impianku saat ini, aku tersadar akan suatu hal. Tuhan merencanakan perjalanan pendidikanku seperti, hanya untuk membentuk diriku menjadi pribadi yang lebih baik. Selama aku kuliah, selalu saja diri ini menuai beberapa kesan bagi orang sekitar. Pada hari pertama aku berinteraksi pada teman kuliahku, aku berpikir. Mereka pasti berada di kampus yang sama dengan alasan beraneka ragam. Begitu banyak dari mereka, yang bahkan untuk melakukan presentasi dan mengerjakan makalah tidak mengerti. Pada awalnya, aku merasa heran dengan mereka semua. Namun, lambat laun aku tersadar. Mungkin hadirku di sekitar mereka, mampu untuk membuat diri mereka lebih berkembang.

Hari-hari berlalu, diriku mencoba menerima pada takdir yang telah Tuhan berikan. Aku menjalani kuliah di kampus dengan ikhlas dan penuh akan tujuan. Aku berpikir dalam diamku selama ini, ketika aku tidak diizinkan untuk memeluk kampus impianku, maka aku akan menunjukkan bahwa diri ini mampu membawa perubahan pada kampusku saat ini. Banyak sekali dosen yang mengenaliku karena terlihat aktif dan berprestasi. Hingga pada suatu waktu, dari sekian ratus mahasiswa semester lima dan enam, salah satu dosen memilihku untuk menjadi perwakilan kampus melaksanakan presentasi jurnal dengan bahasa inggris. Aku bangga, karena rasa kecewaku yang lalu itu dapat terobati oleh kampus yang bukan impianku.

Namun dibalik diri ini yang menebar sisi positif selama kuliah, aku selalu mendapat pesan dan perkataan yang tidak beretika. Katanya, menjadi perempuan tidak boleh ambis dan sok tahu segalanya. Mereka tidak sadar, bahwa pendidikan utama itu berasal dari seorang ibu. Dan aku, suatu saat akan menjadi seorang ibu. Sudah sepantasnya, perempuan tidak dianggap rendah lagi. Aku tidak mengubrisnya, melainkan membiarkan kalimat-kalimat tidak beretika itu terus menyerbuku. Hingga akhirnya, tidak ada lagi kalimat itu yang menyelimutiku. Semua itu aku lakukan untuk diriku sendiri, bukan haus validasi. Sebab, orang yang beretika dan paham akan ilmu, akan tau mana yang pantas untuk di timpali dan mana yang tidak.

Banyak sekali pengalaman baru bagi diri ini. Walau bukan di kampus impianku, diri ini akan menunjukkan kepada dunia. Bahwa aku bisa berkembang bukan hanya sekadar “katanya”, namun “nyatanya”. Selalu ada ruang keberhasilan, untuk diri ini yang mencoba ikhlas dan menerima takdir Tuhan.

Oleh: Griselda Tri Elika