Rencana tuhan akan selalu indah pada waktunya, itulah sebuah motivasi yang selalu ku tanamkan dalam kehidupanku. Perkenalkan aku Aula Nafilah seorang mahasiswa semester 7 pada program studi Pendidikan Agama Islam dari Universitas Islam Sultan Agung Kota Semarang. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara dan merupakan sarjana pertama di keluargaku. Ayahku lulusan sekolah dasar yang berprofesi sebagai tukang kayu sedangkan ibuku lulusan SMA dan sekarang menjadi pedagang di pasar. Menjadi mahasiswa Pendidikan Agama Islam tidak pernah terbayangkan sebelumnya di benakku, saat SMA aku membayangkan bahwa nanti aku akan berkuliah di universitas negeri dengan jurusan impianku yaitu teknik informatika.
Saat kelas 12, sekolah mengumumkan bahwa aku berhasil masuk siswa eligible dan memenuhi syarat untuk mendaftar di kampus negeri lewat jalur SNMPTN (sekarang SNBP). Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk mengikuti seleksi dan mendaftar di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta jurusan Teknik Informatika. Namun aku dinyatakan tidak lolos seleksi dijalur tersebut, awalnya aku kecewa tapi aku tidak menyerah karena masih ada jalan lain untuk masuk ke universitas impian. Aku lulus dari SMA di tahun 2020 dan merupakan angkatan pertama yang lulus saat pandemi covid-19.
Setelah lulus dari SMA aku mendaftar di Perguruan Tinggi Negeri dengan jalur SBMPTN atau UTBK. Aku mendaftar dengan melampirkan Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan karena itu aku tidak perlu membayar biaya tes. Namun karena aku pemegang KIP, aku tidak bisa mendaftar di UIN dan akhirnya aku mendaftar di Universitas Diponegoro dengan jurusan yang sama. Saat UTBK atau Ujian Tertulis Berbasis Komputer aku memilih tempat tes di Universitas Diponegoro. Aku diantar bapak ke tempat UTBK dan sebelum masuk ke ruangan, bapakku berpesan kalau beliau ingin melihat aku berkuliah disini. Perasaan campur aduk di sisi lain aku tidak yakin akan lolos seleksi ini, tapi di sisi lain aku ingin melihat orang tuaku bangga dengan pencapaianku. Namun takdir berkata lain, di hari pengumuman aku dinyatakan tidak lolos dari seleksi tersebut.
Perjuangan tidak berhenti disini aku mencoba lagi untuk mendaftar di jalur UMPTKIN yakni jalur tes untuk Perguruan Tinggi Islam Negeri (UIN). Pada seleksi ini aku mendaftar di jurusan Pendidikan Agama Islam, Sejarah Kebudayaan Islam dan perbandingan mazhab di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Aku mengikuti tes secara online karena covid-19. Singkat cerita hari pengumuman itu tiba dan lagi-lagi aku dinyatakan tidak lolos di seleksi ini. Perasaan kecewa dan sedih sangat kurasakan. Aku juga merasa sangat insecure dan gelisah karena sampai saat ini aku belum mendapatkan lampu hijau untuk masuk di Universitas Negeri sementara teman-temanku sudah mulai mempersiapkan ospek.
Aku kembali mengikuti seleksi mandiri di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan mengambil jurusan impianku yaitu teknik informatika. Seleksi mandiri ini menggunakan hasil dari nilai UTBK yang pernah aku ikuti. Dan kejadian yang tidak menyenangkan kembali terulang, aku tidak lolos lagi di seleksi ini. Aku hampir menyerah dan berniat untuk mendaftar di salah satu Universitas swasta di Kota Semarang. Namun karena akreditasi pada jurusan teknik informatika di Universitas tersebut kurang baik aku mengurungkan niat tersebut. Ibu memberi saran untuk aku gapyear dan mendaftar kuliah di tahun depan. Dengan berat hati aku mengikuti saran dari ibuku tersebut. Selama satu tahun menunggu, aku mempertimbangkan banyak hal dan memutuskan untuk tidak lagi mengikuti seleksi di Perguruan Tinggi Negeri. Banyak saudaraku yang memberi saran untuk aku masuk di jurusan Pendidikan Agama Islam, dan akhirnya aku mendaftar di salah satu Universitas Islam swasta di Kota Semarang pada jurusan tersebut.
Saat pertama kali mengikuti pembelajaran di jurusan PAI, aku merasa sangat tidak bersemangat karena hal ini tidak pernah terbayangkan di benakku dan ini tidak sesuai dengan rencanaku. Tidak pernah terpikirkan bahwa aku akan menjadi mahasiswa di jurusan kependidikan. Namun, aku merasa nyaman dengan lingkungan disekitarku. Aku tidak perlu beradaptasi lebih karena lingkungan perkuliahan sangat sesuai denganku yang terlahir dari keluarga religius dan dari kecil aku belajar di sekolah dengan basis pesantren. Berbeda dengan ketika aku SMA, aku bersekolah di SMA Negeri dan hal itu membuat aku harus beradaptasi dan sempat mengalami culture shock dengan lingkungan disana. Selama satu tahun perkuliahan dilakukan secara daring karena pandemi.
Setelah mengalami berbagai pengalaman perkuliahan selama 3 semester, aku mulai nyaman dengan jurusan yang aku ambil. Aku banyak bertemu teman yang baik dan disini tidak pernah kutemukan satupun dosen killer. Saat memasuki semester keempat, aku mendaftar beasiswa dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Semarang. Berbagai seleksi berhasil aku ikuti dengan baik dan aku berhasil mendapatkan beasiswa tersebut. Dari hasil beasiswa selama satu tahun aku bisa membeli laptop sendiri dan dapat meringankan beban orang tua.
Memasuki semester 5 aku berhasil mengikuti program Kampus Mengajar dan selama satu semester ditugaskan di sebuah Sekolah Dasar Negeri. Selama mengikuti program tersebut, banyak pelajaran dan pengalaman yang aku dapatkan. Aku banyak mengetahui tentang dunia persekolahan yang sangat berguna untukku sebagai guru dimasa depan. Aku belajar tentang bagaimana cara mengajar yang baik serta menerapkan pembelajaran yang efektif. Ketika melihat siswa yang kita ajar dapat memahami materi dengan baik, disitu ada kepuasan tersendiri dalam hati bahwa kita dapat bermanfaat untuk orang lain. Selama kurang lebih empat bulan, aku bertemu dengan guru-guru hebat di sekolah tersebut dan teman-teman dari latarbelakang universitas dan jurusan yang berbeda. Aku menyadari bahwa menjadi seorang pendidik merupakan pekerjaan yang sangat mulia. Sebagaimana pada proses pembelajaran tidak hanya bersifat transfer of knowledge namun juga terjadi transfer of value, dimana seorang guru juga harus menanamkan nilai karakter yang baik bagi siswa. Hal yang paling kuingat adalah pesan dari saudaraku ketika aku bimbang dalam menentukan jurusan. Beliau berpesan bahwa menjadi guru agama tidak hanya memberikan manfaat ketika di dunia, namun amal jariyah yang telah kita berikan kepada siswa akan menyelamatkan kita di akhirat kelak.
Hari demi hari kujalani sesuai takdir yang telah ditetapkan oleh-Nya. Aku mulai nyaman dengan apa yang aku lakukan saat ini dan aku mulai bisa untuk mengambil hikmah dari setiap apa yang sudah kulalui. Aku mulai sadar bahwa tidak semua hal yang kita rencanakan akan berjalan sesuai keinginan kita, ada kalanya sesuatu yang keluar dari rencana menjadi bagian terindah dalam hidup kita. Terimakasih telah mendengarkan sebuah cerita singkat dari penggalam kehidupanku. Semoga dari cerita ini dapat memberikan manfaat bagi kalian yang sedang membacanya.
See you ~ Aula Nafilah

