Elvany Rose Damayanti
Institut Pertanian Bogor
Di zaman sekarang, mendapatkan sesuatu tidaklah gratis. Kita bisa mengorbankan hal-hal yang susah untuk dilepas, seperti waktu, pikiran, dan tenaga. Hal-hal tersebut merupakan bagian yang melekat pada diri. Setiap hari harus berjuang dengan banyaknya kandidat yang lain. Rasa lelah dan pasrah seringkali menjalar dalam jiwa, namun karena ego yang bergejolak memaksa diri ini untuk terus bertahan dan berjalan rata dengan kandidat lainnya.
Setiap hari harus bergumul dengan pikiran dan isi hati, takut akan kegagalan. Gagal mendapatkan sesuatu itu hal yang mengerikan bagi semua kandidat yang berjuang. Di balik semua itu, kami para kandidat di sekolah yang dulu berjuang dengan rata dan saling mendukung. Hal tersebut membuat pikiran dan hati yang overthinking ini luntur perlahan.
Banyak pelajaran dan pemahaman yang kadang sulit untuk dimengerti oleh akal. Pelajaran yang didapat padahal terusan dari tingkat yang sebelumnya. Hambatan ini membuat diri ini kadang meringkuk kembali dalam ruangan hitam. Memikirkan apa yang salah dalam diri.
Waktu mengalir tanpa terasa, para kandidat saling bahu-membahu membangun mimpinya. Kami saat itu bimbang menentukan di mana tempat yang menjadi tempat menamba ilmu dan raih masa depan. Kami sering berdiskusi menentukan mana yang cocok, ada juga kandidat yang menyembunyikan tempatnya karena takut tempat pilihannya memilih kandidat tersebit. Hal tersebut wajar karena di akhir kami akan benar-benar ditentukan nasib.
Semakin berakhir semakin lengket, itulah yang kami rasakan saat itu. Pembelajaran mulai kurang kondusif karena banyaknya kegiatan dari sekolah. Kami tetap enjoy dengan hal tersebut, kareana kegiatan ini justru membangun lebih erat tali bonding kami semuanya. Terasa kurangnya jika satu sari kami menghilang karena izin atau sakit. Kami kadang denial untuk apa yang akan terjadi ke depannya.
Setelah kegiatan tersebut, kami sibuk dengan tujuan tempat yang ingin dicapai. Waktu untuk berdiskusi bersama mulai berkurang dan membuat kami menjadi egois. Belajar tanpa henti kami lakukan untuk mendapatkan peringkat yang menjadi jembatan (SNBP) untuk meraih tempat menimba ilmu yang kami cita-citakan. Pasrah dengan nilai yang ada dan berharap pintu yang terang dating kepada kami semua.
Hasil pengumuman pun tiba, banyak kandidat yang gugur. Ada dua suasana yang menyelimuti kami semua, yaitu duka dan bahagia. Saya merupakan salah satu yang mendapatkan suasana Bahagia, sedangkan kakak kembar saya mendapatkan dukanya. Tidak mudah bagi saya untuk menyelaraskan saat itu. Saya senang dan tidak karena bisa merasakan apa yang dia rasakan. Akhirnya, saya pendam rasa bahagia itu dan ikut dalam selimut duka.
Tidak bisa dipungkiri, sesaat saya lepas dari selimut duka itu dan bergabung dengan bahagia. Di sekolah, kami dikumpulkan untuk di data. Saya bisa melihat kandidat yang mendapat susana bahagia ini. Wajah sumringah kami tampilkan di depan para guru, seolah terbayar oleh pengorbanan yang diberikan.

