Kampus Swasta

Karya : Rossa Merry

Di bawah langit senja bagaikan lukisan indah yang digradasi dengan warna jingga yang mempesona, aku  duduk sambil menatap betapa indahnya Mahakarya Tuhan yang bisa kunikmati saat ini. Sudah menjadi sebuah kebiasaanku, menikmati indahnya matahari terbenam yang sangat memanjakan mata.

Senyum indah yang ku pancarkan pun redup seiring memudarnya cahaya senja dari pelupuk mataku. Jiwaku meronta. Ingin sekali rasanya aku mendekap senja dan meninggalkan semua beban di pundakku. Namun, entahlah senja pun tak mau berlama-lama denganku. Lihat saja, ia langsung pergi tanpa pamit.

Namaku Ocha. Si gadis yang suka berimajinasi namun minim aksi. Setiap hari aku berkhayal menjadi sosok cendekiawan yang berpengaruh. Terkadang, aku juga membayangkan diriku menjadi seorang CEO perusahaan, Pengacara bahkan menteri. Entahlah, aku sangat bahagia ketika membayangkan diriku berada di posisi itu. Namun, setelah kupikir-pikir kembali jika aku minim aksi, apapun tak akan terjadi. Imajinasiku hanyalah ilusi.

Menginjak kelas 3 SMA adalah hal yang cukup memberatkan. Berulang kali aku berpikir, kemana aku akan melangkah selanjutnya. Haruskah aku tetap berimajinasi atau mulai beraksi? 

Tepat pada hari itu aku dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa namaku terpampang menjadi peringkat pertama eligible di bidang Ilmu Pengetahuan Sosial. Apakah aku senang? Tentu saja. Tapi, dibalik itu ada suatu beban berat yang kupikul di pundak. Memenuhi ekspektasi pihak sekolah, orangtua, dan teman-teman seperjuanganku, adalah hal yang menjadi beban terbesarku saat itu. Bagaimana jika si peringkat pertama eligible tidak diterima di salah satu Perguruan Tinggi Negeri? Terkesan sedikit memalukan, bukan?

Keraguan memilih jurusan yang tepat menjadi tugasku saat itu. Jurusan apa yang cocok untukku? Si Introvert yang lebih memilih untuk menutup diri ini. Kutulis beberapa jurusan yang relevan dengan kemampuan dan karakterku. Kutulis Psikologi dan Pendidikan Bahasa Inggris di peringkat pertama dan kedua. Sangat tidak masuk akal bukan? Si introvert ini memilih jurusan yang mengharuskannya untuk berkomunikasi dan bertemu orang banyak dengan karakter yang berbeda-beda. 

Beberapa hari setelahnya, timbul pula keraguan di dalam hatiku terkait jurusan yang sangat membingungkan ini. Ku Urungkan niatku untuk mengambil jurusan psikologi, dan menggantinya dengan jurusan Hubungan Internasional. Mungkin, ini adalah jalanku untuk mewujudkan salah satu mimpiku sebagai menteri luar negeri? Who knows?

Kupersiapkan semua data-data yang diperlukan untuk mendaftar. Kupilih Universitas Riau menjadi tujuan utamaku dan Hubungan Internasional menjadi perisaiku. Karena diwajibkan untuk memilih jurusan dan perguruan tinggi di provinsi asal, akhirnya kupilih Universitas Negeri Medan dengan jurusan Bahasa Inggris. Setidaknya, salah satu dari kedua elemen ini ada yang berpihak kepadaku.

Kulampirkan sertifikat olimpiade bahasa inggris, dimana aku mendapat medali perak dalam olimpiade tingkat internasional tersebut. Berharap, sertifikat ini akan membantuku untuk tembus Perguruan Tinggi Negeri melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi tersebut.

Kubaca sebuah berita yang menyatakan bahwa seleksi penerimaan mahasiswa baru melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi tersebut akan segera diumumkan tanggal 28 Maret. Sontak, aku sangat kaget setelah mengetahuinya. Mengingat tanggal 28 Maret adalah hari pertambahan umurku yang ke-18. Aku hanya berharap kepada Tuhan, agar Ia memberikanku kado dengan pengumuman lolos seleksi nanti. 

Hari demi hari, minggu demi minggu pun berlalu. 28 Maret sudah sangat dekat. Ia akan datang secepatnya. Kuharapkan ia membawa hadiah dan  kabar baik untuk merayakan pertambahan umurku. Hanya itu yang kuinginkan. Aku tidak ingin Birthday Cake, Coklat ataupun buket bunga yang indah sebagai hadiah ulang tahunku. Hati kecilku berkata “Layar biru berpihaklah kepadaku” 

Di pagi yang indah terdengar suara burung berkicau membangunkanku dari tidur yang lelap. Aku bangun dan mengambil sikap berdoa, memohon agar Tuhan memberkatiku di umur yang baru ini. Kudoakan kedua orang tua ku agar tetap ada disampingku dalam menghadapi dunia yang keras ini. Aku berdoa dengan penuh kerinduan memohon agar Tuhan memberikanku kesempatan untuk bisa menembus Perguruan Tinggi Negeri.

Beberapa jam berlalu, tepatnya di pukul 3 sore adalah pengumuman Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi yang dapat diakses melalui laman SNPMB. Degup jantungku berdebar dua kali lipat lebih kencang dari biasanya, menanti pengumuman yang masih abu-abu itu.

Menit demi menit dan detik demi detik pun berlalu. Aku melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 3 sore. Ini adalah penentu apakah aku akan menjadi mahasiswa baru di Perguruan Tinggi yang kutuju, atau aku akan berjuang lebih untuk mengikuti Jalur ujian? Hanya Tuhan yang tahu jawabannya. Aku hanya bisa pasrah dengan kehendaknya. Dukungan dan dorongan dari kedua orang tuaku pun membuatku berani untuk membuka pengumuman itu.

Kuisi Nomor Induk Peserta beserta Tanggal lahir yang sudah diminta sebelumnya. Saat aku selesai mengisinya, aku kembali ke posisi awal, takut untuk membuka pengumuman yang sangat menegangkan itu. Tapi, mau tidak mau aku harus membukanya sekarang. Dengan keberanian, aku menekan tombol masuk dan terlihat jelas pengumuman apakah aku diterima atau ditolak. Biru untuk diterima dan Merah untuk ditolak. 

Kubuka perlahan kedua mataku yang refleks tertutup tanda enggan melihat hasilnya. Saat aku membuka kedua mataku, warna pekat itu langsung menjadi sasaranku. Merah. Warna merah pekat dengan tulisan “Anda tidak lulus seleksi SNBP 2023. Masih ada kesempatan mendaftar dan mengikuti SNBT 2023 atau seleksi mandiri PTN” 

Deg. Aku terduduk lemas dengan tatapan kosong yang menyiratkan keputusasaanku. Diam dalam hening, aku membaca kembali tulisan takdir yang datang tanpa diundang. Sebaris kalimat membekukan mimpiku, menyayat harapan yang sempat terbang tinggi di angkasa. Jalan yang kupercaya akan menuntunku pada cahaya, kini terkubur dalam gelapnya penolakan.

Air mataku jatuh tanpa henti membuat kedua orang tuaku datang dan memelukku hangat. Tak dibiarkannya aku putus asa karena kekalahan yang kuterima saat itu. Namun, dalam lubuk hati terdalam aku sangat kecewa karena belum bisa membuat mereka bangga. Mereka memberikan motivasi tentang banyaknya jalan menuju kesuksesan. Tidak perlu terlalu kecewa, mungkin Tuhan sudah menyiapkan sebuah rancangan yang lebih indah setelah ini. 

Aku pun sedikit tenang dengan motivasi yang kedua orangtuaku berikan. Namun, ketika kulihat kembali teman-temanku yang dinyatakan lolos seleksi dan masuk ke Universitas yang mereka tuju, rasanya sakit sekali melihat diriku yang sangat diharapkan oleh sekolah bisa menembus Perguruan Tinggi Negeri. Namun, apa daya Tuhan memiliki rencana lain bagiku. Mungkin bukan Universitas Riau jawaban dari penantianku selama ini.

Kala teman-temanku bertanya apakah aku lolos seleksi atau tidak. Aku hanya menjawabnya dengan tersenyum sambil menggelengkan kepalaku. Mereka paham betul apa maksudnya. 

Berhari-hari aku tidak membuka Aplikasi Whatsapp dengan tujuan menghindari pertanyaan yang sangat tidak ingin kujawab itu. Aku pun memilih untuk menghibur diri walaupun kedua mataku sembab dan mengeluarkan air mata terus menerus. Kutonton acara stand up comedy berharap aku bisa tertawa dan melupakan hasil pengumuman itu sejenak. Namun, ternyata tidak mempan sama sekali. Bahkan jokes yang dilontarkan oleh salah satu komedian pun tak bisa membuatku tersenyum. Entahlah, pertama kalinya dalam sejarah aku tidak bereaksi apapun pada acara stand up comedy ini. Kekecewaan yang teramat besar mungkin menutupi segalanya.

Hampir tiga hari aku mengurung diri di rumah dan tidak bersosialisasi dengan siapapun. Aku belum siap untuk mendengar pembahasan teman-temanku terkait Perguruan Tinggi, jurusan dan hal apapun yang berhubungan dengan Seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri. Aku memilih untuk menenangkan diriku yang terlampau kecewa ini.

Dengan menonton video motivasi dari Merry Riana, aku pun sedikit demi sedikit membuka diri dan menerima kenyataan atas kekalahan yang kuterima. Kuingat pesan yang mengatakan “masih banyak jalan menuju Roma” yang artinya masih banyak peluang, kesempatan, dan jalan menembus Perguruan Tinggi Negeri. Ingat jika sekarang gagal, berarti Tuhan sudah siapkan yang lebih baik untukmu.

Setiap air mata yang jatuh adalah benih keberanian, setiap kecewa menjadi pondasi tekad yang lebih kokoh. Dari kekalahan, aku bangkit, dengan langkah yang lebih kuat, menantang dunia dengan semangat yang tak lagi mudah untuk pudar. Sebab aku tahu, jatuh bukanlah kegagalan, melainkan pijakan untuk terbang lebih tinggi.

Kuhadapi dunia yang mempertanyakan kemampuan dan kredibilitasku. Kujawab semua pertanyaan terkait pengumuman seleksi itu. Ku kuatkan tekadku, kubulatkan tujuanku, dan kubangkitan semangat yang membara dari dalam diri ini untuk membuktikan bahwa aku bisa menggapai asa dan meraih cita. 

Kekalahan kemarin membuatku bertekad untuk membuktikan diriku di Seleksi Nasional Berbasis Test, yang dimana aku akan menghadapi  salah satu ujian yang tergolong sulit. Tapi aku percaya tidak ada yang mustahil bagi orang yang mau berusaha dan mengandalkan sang Pencipta. 

Kumulai dengan berdoa dan menyusun rencana belajar persiapan SNBT. Kutanamkan di dalam diriku bahwa aku mampu, aku sanggup, aku bisa menghadapi semuanya. Kucari video pembelajaran dan pembahasan mengenai soal-soal prediksi yang akan muncul di ujian nanti. Kutulis semuanya di dalam sebuah buku catatan kosong yang nantinya akan menjadi saksi perjalanan dan proses untuk menjadi orang yang berhasil kelak.

Setiap hari kuhabiskan waktu untuk belajar. Kadang kala aku menangis kala melihat tingkat kesulitan soal yang tergolong masih prediksi ini. Aku juga sempat putus asa kala mendapat nilai try out dan simulasi di bawah nilai yang kuharapkan. Namun, ku ingat kembali bahwa apa yang kulakukan saat ini tidak akan sia-sia. Aku percaya ia akan membuahkan hasil yang memuaskan.

Kudekatkan diri kepada Tuhan. Kuceritakan apa yang menjadi keluh kesah, kesulitan dan apapun yang memberatkan jiwaku. Aku yakin ia mendengarkan seruan seorang anak yang berharap kepada-Nya. Kubantu kedua orang tuaku, berharap mereka selalu mendoakan setiap prosesku. Walaupun aku yakin mereka tak jemu-jemu mendoakan keberhasilan ku setiap hari.

Hari demi hari, minggu demi minggu pun berlalu. Persiapanku sudah matang. Tak lupa aku tetap belajar dimanapun dan kapanpun. Saat aku keluar, aku tetap menonton video pembelajaran yang setidaknya membahas dua atau tiga soal. Aku juga menyetel alarm yang akan mengingatkanku untuk belajar persiapan ujian. 

Akhirnya, hari yang kutunggu pun tiba. Aku akan menghadapi Ujian untuk Seleksi Nasional berbasis Test. Aku dan kedua orang tuaku pun berdoa agar ujianku nanti dapat berjalan dengan baik dan nantinya akan membuahkan hasil yang memuaskan. Aku yang ditemani oleh Ibu pun memasuki area untuk pelaksanaan ujian. Tepat pada pukul 10 pagi di tanggal 11 Mei 2023, aku pun memasuki ruangan ujian dengan langkah penuh harapan. Aku tahu itu akan sulit, tapi aku percaya bahwa Tuhan ada dan ia akan menolongku.

Aku pun diarahkan untuk duduk di depan pengawas dengan monitor yang tersedia. Aku pun mengawali semua dengan berdoa kepada Tuhan, meminta kelancaran untuk ujianku kali ini. Kuikuti arahan dari pengawas dan aku pun mulai untuk mengerjakan tes yang di total berisi 155 soal itu. Dengan beberapa subtes yakni Kemampuan Penalaran Umum, Kemampuan Kuantitatif, Kemampuan Pengetahuan dan Pemahaman Umum, Kemampuan memahami bacaan dan menulis, Penalaran Matematika, Literasi Bahasa Indonesia dan Literasi Bahasa Inggris.

Kukerjakan dengan sungguh-sungguh dan kupahami tipe soal yang diujikan. Aku sangat bersyukur bahwa soal prediksi yang beberapa minggu yang lalu aku pelajari ternyata sesuai dengan soal ujian kali ini. Aku sudah memahami langkah-langkahnya dan dengan yakin aku menjawab soal demi soal. Terdapat satu kesulitan yang kualami pada saat mengerjakan ujian yakni tingkat kecerahan komputer yang sangat tinggi membuat kedua mataku sakit. Setiap perpindahan subtes, akupun mengistirahatkan indra penglihatanku  dengan menatap pensil yang telah kusediakan sebelumnya, berharap kedua mataku masih bisa menahan tingkat kecerahan komputer yang tidak bisa diperbaiki saat ujian berlangsung sampai selesai. 

Kedua mataku sangat berat saat berada di subtes terakhir yakni Kemampuan Kuantitatif. Dimana soal-soal tersebut membutuhkan tingkat kefokusan yang tinggi. Namun, ku tetap bertahan demi menyelesaikan ujian ini walaupun Kedua mata dan kepalaku terasa sangat sakit. Kuyakinkan diriku bahwa aku bisa menghadapi kesulitan ini. Beberapa menit berlalu, dan ujian pun selesai. Aku pun menitikkan air mata sambil berdoa kembali untuk mengucapkan terima kasih atas kelancaran yang Tuhan berikan. Aku hanya bisa berusaha semampuku, namun selebihnya biar Tuhan yang menentukan. Kuingat sebuah kutipan yang sampai sekarang menjadi motto hidupku “Do your best, Let God do rest”

Aku pun segera keluar dari ruangan setelah mengucapkan terimakasih kepada para pengawas. Kulihat Ibuku yang sudah menunggu sejak tadi. Aku yakin, saat aku mengerjakan soal-soal, ia tak henti-hentinya mendoakanku. Aku percaya doa Ibu akan menembus langit.Kupeluk hangat ibuku, sekedar meringankan beban ujian yang kuhadapi tadi. Saat itu, aku sangat lega karena telah selesai mengerjakan ujian. Aku hanya dapat berdoa untuk mendapat hasil yang memuaskan di pengumuman kedua yang tak kalah menegangkan itu.

Setelah ujian selesai, aku menyibukkan diriku untuk membantu orangtua dan meningkatkan potensi diriku. Kuubah cara ku berpikir tentang banyak hal, kuucapkan hal yang positif terhadap diriku sendiri.

“Ocha bisa, Ocha mampu, Ocha sukses, Ocha Anak Tuhan, Ocha anak yang berbakti, Ocha anak yang rajin, Ocha pasti bisa menggapai semua impian”

Aku yakin kata-kata yang kuucapkan adalah doa. Aku memilih untuk melakukan self talk positif  yang membangkitkan semangat dan keyakinan dalam diriku. Tak lupa ku libatkan Tuhan dalam segala hal dan perkara, karena hanya Ia lah yang akan membantuku dalam setiap musim kehidupan. Manis dan Pahit, Gelap dan Terang, Up and down, aku percaya Ia akan selalu ada.

Tepat pada tanggal 20 Juni 2023, Ini adalah hari pengumuman Seleksi Nasional Berdasarkan Tes akan diumumkan. Aku mempersiapkan diriku terlebih dahulu. Aku beribadah kepada Tuhan agar ia memberikanku ketenangan pada saat membuka hasil, dan melihat pengumumannya. Sudah ada kedua orang tuaku yang setia menemani. Mereka selalu tersenyum, agar anaknya ini dapat dengan yakin bahwa kali ini adalah waktunya. Aku akan lolos.

Tepat di jam 3 sore, aku pun memberanikan diri untuk membuka laman dan mengisi kembali data yang diperlukan. Walaupun masih teringat dengan hal yang sama pada saat Pengumuman Seleksi berdasarkan Prestasi. Jantungku menari dalam irama yang tak pasti, antara harapan dan keraguan yang bergelut di dada. Kuyakinkan diriku untuk membuka pengumuman seleksi itu.

Dan saat aku membuka kedua mataku, aku melihat layar biru yang bertuliskan “Selamat! Anda dinyatakan lulus seleksi SNBT SNPMB 2023.. Universitas Singaperbangsa Karawang. Prodi Pendidikan Bahasa Inggris” Melihat pengumuman tersebut kedua bola mataku membulat. Memastikan kembali apakah tulisan tersebut bukanlah mimpi. Saat Ibu dan Ayahku membaca pengumuman itu, mereka pun bersorak-sorai. Mereka dengan cepat memelukku dan memberi selamat. Sementara aku yang masih kebingungan. Aku sedang tidak bermimpi kan? 

Aku pun memastikan sekali lagi dengan memuat ulang laman itu dan mengisi data-dataku kembali. Ternyata benar! Aku lolos. Aku pun menangis terharu sambil memeluk kedua orangtuaku. Aku sangat berterima kasih kepada Tuhan yang memberikanku kesempatan yang luar biasa ini. Apa yang kuyakini benar adanya. Tuhan sudah menyiapkan seluruhnya, dan ia akan memberikannya di waktu yang tepat.

Hari ini, aku belajar bahwa sesulit apapun yang kita hadapi saat ini, percayalah semua kesulitan itu akan berganti dengan kebahagiaan. Gagal bukanlah akhir, namun menjadi awal dari sebuah perjalanan yang hebat. 

Di sore harinya, aku pun terduduk sambil kembali menatap sahabatku yang sudah lama tak kusapa. Aku memilih untuk tidak berinteraksi dengannya, sebelum aku memberitahu kemenanganku. Kubisikan terima kasih kepada senja yang senantiasa setia menampilkan keindahan yang tiada tara. Aku tersenyum hangat kala ia bertahan lebih lama dari sebelumnya. Tampaknya, ia sedang ikut merayakan kemenanganku hari ini. 

Dari dalam lubuk hati, aku sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan atas apa yang aku terima saat ini. Ia memberikanku sebuah pelajaran berharga atas kegagalan yang kuterima kemarin. Ia ingin aku lebih dekat dan mengandalkan-Nya dalam setiap waktu. Ia juga ingin aku bertumbuh menjadi pribadi yang memiliki tekad yang tinggi. Tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata seberapa besar Cinta Kasih-Nya kepadaku. Aku percaya kemenanganku kali ini adalah Dari Tuhan, Oleh Tuhan, dan Untuk Tuhan.

Bionarasi

 

Rossa Merry Paskalia Lumbantoruan gadis kelahiran 2005 ini mulai terjun ke dunia literasi sejak tahun 2019. Rossa aktif menulis cerita di aplikasi Wattpad, dan cerita pertamanya telah dibaca sebanyak 18 ribu kali. 

 Ayo berteman dengan Rossa melalui

IG: @rossamerry.pl